Otot Baca dan #KelasMenengahNgehe

resize-buat-blog

Dapet langsung dari dan ditandatangan mas Siwo pas beliau ke Bandung.

 

Ceritanya aku baru beres baca buku Consumer 3000, yang sebenernya udah mulai dibaca dari November 2012. Mennn, 4 tahun yang lalu!! Buset >,< Orang bilang buku bisnis & marketing itu cepet banget outdate-nya, karena saking dinamisnya bidang ini. But for the sake of finish what I started, aku tetep pengen nyelesein ni buku. Ya kali kali masih ada insight yang relevan dan bermanfaat. Perasaan sih (yaelah, perasaan :p) beberapa tahun yang lalu tu aku udah baca sampe halaman 100-an lah, tapi entah kenapa berhenti tengah jalan. Dan tiba-tiba semalem, pas aku baca ulang, bener-bener dari awal lagi, I can finish this in only one sitting! Alias bisa baca sekali dan langsung selesai! (257 halaman). Eitss, bukan skimming dan fast reading juga ya. Aku tetep berusaha bacanya secara komprehensif. I read word by word, dan bener-bener berusaha paham. Caranya gimana? Adalah dengan ngebayangin kita harus ngajarin orang lain lagi tentang apa yang kita pelajari. Sehingga mau gak mau kita jadi berusaha untuk kitanya sendiri harus bener-bener ngerti dulu. Apalagi aku emang pengennya, tiap abis baca buku, sebisa mungkin nulis resume atau ulasannya. Biar kita gak cuma mengkonsumsi, tapi juga berpikir dan memproduksi sesuatu.

So, balik lagi ke judul, kenapa sekarang aku bisa one sitting reading, hmm.. aku pikir ini cukup membuktikan tentang yang disampaikan oleh para neuro-scientist tentang apa yang disebut “otot membaca”. Jadii.. menurut penelitian mereka, singkatnya, membaca itu memang bukan termasuk kemampuan alamiah manusia. Beda dengan melihat, bernafas, ngomong, itu semua terjadi lebih natural. Sedangkan membaca, itu kayak kita lagi cardio, yang kalo otot-ototnya mau jadi, ya berarti kita butuh banyak exercise. Dan karena reading habit aku sudah jauh lebih teratur (I read every single day min.1 hour), rasanya kayak hari ke hari ototnya jadi lebih kuat aja kalo mau sprint, baca buku tebel, essay panjang, jadi gak gampang capek dan cepet berhenti tengah jalan. And I think it is very useful, since reading is one of important skills that make me survive in life until now. So, I really recommend you to do also your routine exercise, no matter the duration. Just keep exercising. There are uncountable sources of knowledge out there waiting for us to learn, dan baca buku itu bagaimana pun beda dengan baca artikel, berita online, apalagi sekadar status teman di media sosial. Literasiiii… penting! #keukeuh X’D

Lalu.. Kelas menengah ngehe! Haha…

Sebenernya buku Customer 3000 ini fokus ke pembahasan tentang fenomena kelas menengah di Indonesia yang lagi tumbuh aja. Yang menariknya masyarakat (terutama netizen) nyatanya udah cukup punya pandangan sendiri juga tentang karakter dari si salah satu kelas ekonomi ini. Dan banyak dari mereka yang mencuitkan pendapatnya dengan hashtag #KelasMenengahNgehe.

Berikut adalah beberapa twit” “lucu” terkait #KelasMenengahNgehe:

This slideshow requires JavaScript.

 

Sedikit banyak cuitan-cuitan di atas cukup menggambarkan tentang kondisi kelas menengah di Indonesia, yang memang mayoritas tinggal di perkotaan. Mereka adalah yang secara pendapatan tidak merasa lagi dirinya orang susah, kebutuhan primer sudah terpenuhi, sehingga gaya konsumsinya agak naik level, walaupun sebenarnya tetap berhitung untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi dengan pengeluaran paling sedikit. High-value oriented, kalo di buku #C3000 dibilang. Dan kenapa mereka sangat menarik sampe harus dibahas khusus? Adalah karena jumlahnya yang kini dominan, market potensial yang sedang tumbuh subur (kalo mau bikin bisnis baru, menarget kelas ini, pasarnya bagus!), tapi dengan karakteristik yang khas, dan perannya juga besar untuk membawa bangsa menjadi suatu kekuatan ekonomi di dunia. Pendapatan $3000/tahun per kapita adalah ambang batas suatu negara memasuki fase baru dalam perkembangannya, sehingga buku ini diberi judul Consumer 3000. Dan mas Siwo (panggilan Pak Yuswohadi, sang penulis) dengan lembaga risetnya ternyata sudah mempelajari fenomena ini dari tahun 2010 lalu. Cukup menarik pembahasannya dengan contoh-contoh konkret yang memang beliau temui dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masih bisa diperbaharui secara ilmiah di sana-sini. Setidaknya berikut adalah poin-poin yang bisa didapat:

  1. Dengan GDP >$3000 sebenarnya dari beberapa tahun lalu Indonesia sudah tidak bisa lagi dikatakan masih negara berkembang.
  2. Kalo ngikutin ADB (Asia Development Bank) tahun 2005 sih, kelas menengah adalah yang pengeluaran per kapita-nya $2-20/hari.
  3. Tapii.. “It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it’s to jump from middle income to a high-income economy”. Dan faktor penting penyebabnya adalah: SDM & RnD
  4. Semoga Indonesia gak kena Middle Class Trap kayak Malaysia, yang mentok sebagai negara berpendapatan menengah. Beda dengan Korea Selatan yang akhirnya berhasil bertransformasi menjadi negara maju baru.
  5. Kelas menengah akan jadi tulang punggung ekonomi Indonesia karena kekuatan konsumsinya. Proyeksi di tahun 2020 kita bisa jadi urutan tertinggi ke-8 di dunia, dan di tahun 2030 posisi ke-4 stlh Jepang, Jerman, dan Rusia.
  6. Kemajuan Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dunia (yang diproyeksikan masuk 7 besar di tahun 2050) tidak lepas dari kebangkitan kelas menengah kita.
  7. Kunci kesuksesan Inggris memimpin dunia abad 18/19 pun adalah karena mereka, “The Great England Middle Class”.
  8. Bedanya kelas menengah Indonesia & Cina: di Cina, golongan middle of middle class-nya yang dominan, dan banyaknya orang desa, sedangkan Indonesia masih didominasi kelas menengah bawahnya, dan rata2 orang kota.
  9. Kelas menengah Cina ternyata menarik. Mereka jadi makin rakus dengan merk-merk terkenal, bahkan mulai menggeser Jepang sebagai pasar terbesar barang mewah di dunia, banyak disebut sebagai “Chinese Dream”.
  10. Cinta produk lokal jadi makin penting. Karena kalo konsumsi domestik terserap oleh industri & barang-barang impor, yang maju berkembang ya bukan kita, tapi mereka.
  11. Karakter kelas menengah masih sama, fokusnya bukan semata-mata harga (seperti kelas bawah) atau justru brand (kayak kelas atas), tapi lebih banyak di value.
  12. Kenapa kelas menengah penting: 1.Ada kelas wirausaha baru, 2.Karakter konsumennya, 3.Mengurangi kesenjangan, 4.Demand barang naik, 5.Punya kekuatan politik.
  13. Kelas menengah naik, OKB (Orang Kaya Baru) makin banyak. Bukan orang kaya beneran, tapi yang bergaya kaya. Mereka yang konsumsi barang-barang/jasa bukan lagi karena kebutuhan, tapi kadang cuma pengen.
  14. Karena ngerasanya “gak hidup susah lagi”, shopping exuberance merajalela, apa yang dibeli bermnfaat atau nggak bukan jadi isu utama mereka.
  15. Dengan makin umumnya kartu kredit, KPR dll, budaya konsumtif dan budaya ngutang makin tumbuh dan berbahaya, bisa bawa Indonesia ke krisis kayak di AS.
  16. Golongan yang lebih cerdas, akan merubah banking behavior-nya. Saat dana berlebih, tidak sekadar menabung, mereka akan mencoba berinvestasi lewat berbagai pilihan produk, seperti saham, reksadana, properti, emas, dll.
  17. Beberapa industri yang tumbuh subur = perbankan, kecantikan, kesehatan, MAL (dimana Jakarta juga adalah kota dengan mal terbanyak di dunia).
  18. Mereka sangat erat dengan narcism dan kebutuhan akan Social Experience.
  19. Peran sentral kelas menengah: 1.Sebagai konsumen, 2.Sebagai pelaku ekonomi, khususnya entrepreneur pencetak lapangan kerja, 3.Pelaku politik, mendorong demokrasi.
  20. Catatan untuk pemasar yang membidik pasar ini: make horizontal mobile marketing. Bukan cuma broadcast tapi raise engagement. Get permission, don’t interrupt.

Nah.. begitulah kira-kira tentang kelas menengah kita. Untuk yang tinggal di kota, pasti sangat menyadari eksistensi mereka di tengah-tengah kita. Yang jelas, buat aku pribadi sih, setelah baca buku ini dan buku-buku sejenis yang lain, manfaatnya adalah bisa maksa diri untuk lebih berkaca aja, bikin mawas diri biar lebih cerdas dalam mengelola mindset dan prioritas keuangan. Supaya gak jadi korban zaman, apalagi jadi beneran “ngehe”, sampe merelakan hidup susah demi gaya hidup (keliatan) mewah. Karena sesungguhnya yang penting bukanlah penampilan, tapi laporan keuangan sungguhan dan isi buku tabungan, ya nggak?? Dan cerdas berinvestasi! Duuh.. PR banget nih. Semangat!!!

 

Siang hari, sambil agak kelaparan di kantor,

tapi semoga makin pinter bedain keinginan dengan kebutuhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s