Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! šŸ˜€ Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

Advertisements

Bertemu Pak Yanuar Nugroho

WhatsApp Image 2017-05-18 at 2.42.47 PM

Pak Yanuar Nugroho, Kepala Deputi II KSP (Kantor Staf Presiden)Ā RI

 

Saya ingat betul pertama kali “berkenalan” dengan Pak YN itu adalah tahun 2011, lewat postingan di blog-nya om Bukik, praktisi psikologi yang blog-nya senang saya kunjungi karena memang membahas berbagai hal menarik dari sudut pandang yang berbeda. Waktu itu bercerita tentang sosok Pak YN dari sisi yang lebih personal, dan kisahnya memang inspiratif. Thanks to twitter!, akhirnya saya pun jadi punya kesempatan berinteraksi langsung dengan Pak YN dan menyimak cuitan-cuitan beliau yang insightful, baik tentang kehidupannya sebagai researcher di Inggris, berbagai info menarik, dan pandangannya tentang Indonesia. (Jujur, ini salah satu yang masih bikin saya heran, kenapa banyak orang suka lock akun twitter-nya, karena kalau dimanfaatkan dengan betul, bisa buka banyak sekali kesempatan)

Mungkin Pak YN juga tidak sadar kalimat-kalimat sederhananya bisa berdampak bagi saya. Salah satunya adalah bahwa tulisan-tulisannya yang akhirnya dulu menyelamatkan beliau ntuk mendapatkan kesempatan membantu seorang profesor di Manchester. Waktu itu saya jadi makin yakin bahwa menulis itu penting, karena orang-orang di luar (sepertinya) lebih menghargai orang-orang yang bisa menulis. Mungkin karena dianggap berkontribusi kepada masyarakat melalui buah pikiran? Bisa jadi. Yang jelas, saya juga jadi semangat untuk tidak pernah berhenti belajar menulis. (Anw, Pak YN juga bahkan sampai sekarang, selain tulisan ilmiah, kadang-kadang masih ngeblog loh)

Waktu berlalu, saya masih sesekali menyimak berita-beritanya, salah satu risetnya juga tentang dinamika masyarakat dan media (menarik karena background formil Bapak adalah teknik), lalu tak disangka ternyata tiba-tiba berpapasan jalan di KSP. Beliau yang ternyata sekarang sudah menjadi Kepala di Deputi II, sejujurnya juga jadi salah satu excitement tersendiri untuk saya masuk institusi ini. Kesibukannya tentu jauh lebih ekstrim sehingga kesempatan bertemu pun ya hanya jika beruntung saja. Apalagi karena memang ternyata tim saya ada di Deputi I dan operasionalnya dilaksanakan di gedung yang berbeda.

Akhir kata, saya pikir tahapan karir sekarang bukan persis yang dicita-citakan dan direncanakan matang oleh beliau dari dulu (karena toh KSP juga ada karena bentukan presiden periode ini) dan beliau masih sangat memiliki jiwa sebagai seorang peneliti, walau memang konsentrasinya banyak konvergen di kebijakan publik. Poinnya, saya juga jadi terbayang saya tidak tahu persis akan jadi apa saya 10-15 tahun lagi. Tapi ya semoga seperti Pak YN, ilmu dan kepeduliannya bisa disalurkan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat banyak. Semoga.

 

Siang hari di kota Jakarta,

sambil menyusunĀ notulensi dari Forum Komunikasi Publik untuk Rancangan Perpres kemarin >,<

 

PS: Public speaking-nya Bapak juga ternyata bagus loh. Worth to learn.

Hal-Hal Random Tentang Tokyo Yang Kamu Harus Tahu (Dan Cara Ke Jepang Gratis!)

tokyo_6492

Hello, Japan!

Haha..
Kalo kalian kerap kali baca blog aku, pasti nyadar bahwa banyak tulisan aku yang judulnya “Hal-Hal Random”: Hal-hal random tentang Adelaide, hal-hal randomĀ tentang bisnis, tentang kehidupan sehari-hari, yang bahkan ada sekuelnya, berseri dari #1 sampe ke #sekian. Karena kenyataannya, emang aku suka merhatiin hal-hal yang kayaknya sepele, tapi karena banyak, jadi pengen dikompilasiin aja dan ditulis biar gak lupa (selain otaknya juga emang suka random). Dan sekarang adalah gilirannya ngomongin hal-hal random tentang Tokyo, ibukota Jepang! šŸ˜€

Jepang sendiri aslinya adalah salah satu negara impian aku dari kecil, selain Inggris (yang sampe sekarang masih belom kesampean dikunjungin, hiks). Ya you know lah.. karena kita banyak nonton anime dan baca komik Jepang, yang bikin ni negara rasanya udah akraaabb banget. Negara yang maju keren secara teknologi, tapi tetep mengakar dan lestari budayanya, beuuhhh, Jepang banget! Segala aktivitas dan wisatanya pun bahkan kita kayak udah hafal gitu, ya ikebana lah, origami lah, tradisi minum teh, sampe budaya mandi bareng di onsen, hihi…

Kelihatannya sihh, segala aktivitas itu kayaknya akan sangat jauh lebih nikmatĀ lagi kalo sedangĀ wisata ke Jepang, atau emang beneran punya kesempatan tinggal lama di sana. Sedangkan aku, yang ke Jepang untuk urusan kerjaan, bagian terbaiknya adalah, ngamatin gimana orang-orang di negara ini. Dan well, default kepribadian mereka tetap akan bikin kita ngerasa wow sama Nippon.

 

1. Berbisnis dengan Jepang

dsc_0281

Di MONO, salah satu pusat teknologi.di Tokyo

Bahasan tentang poin ini akan sangat panjang, makanya akan aku tulis di postingan berikutnya, lengkap dengan gimana cara aku bisa bantu kalian yang ingin mengembangkan bisnis ke negeri sakura. Tapi yang jelas, dalam berbisnis, orang Jepang memang sangat based on trust, personal attachment orĀ reference, akan lebih bagus kalo kita punya mutual relation sama mereka. Mungkin pernah sekolah di Jepang, kenal sama pihak Jepang, punya hubungan baik dengan sosok tertentu, itu bisa di-share untuk menimbulkan kepercayaan. Kalo itu bisa diwujudkan, apalagi nihongo kita lumayan, mereka akan sangat kooperatif, dan loyalitas orang Jepang itu sangat tinggi. Sekali kerjasama dengan kita, mereka akan stay ke kita. Dan dari segi bisnis, ini sangat bagus, karena masyarakatnya juga termasuk big spender, asal kita mawas aja, jangan sampe melenceng, atau mungkin mengecewakan, karena standar mereka tinggi dan toleransi sama kesalahannya agak minim, hehe.. Jadi harus lebih serius dan presisi.

 

2. Gak ada tempat sampah!

img_2801
Gila, percaya gak sih, dari bandara sampe hotel aku di Hamamatsucho, aku hampir gak liat tempat sampah sama sekali. Susahnya minta ampun. Tapi orang-orang gak pada nyampah, men! Semuanya tetep bersih aja gitu. Pas aku tanyain sama orang setempat, ada yang bilang sih mereka sempetĀ parno sama kejadian bom yang pernah ditaro di tempat sampah, yang hasilnya yaudah, sampah diurus sendiri aja sampe kalo ada tukang sampah dateng. Whatt??! Tapi tetep bersihhh.

 

3. Budaya ngantrinya, juara dunia!

13510838_10157143132600078_2722866177227354191_n

Panjang betull

Ini pas mereka ngantri di elevator stasiun sampe sepanjang itu. Kalo liat sendiri, pasti bikin ngerasa “HOW AMAZING JAPAAN!!”. Karena menurut aku, ngantri itu bukan cuma sekedar menunjukkan aktivitas, tapi juga refleksi kualitas para manusianya yang kompleks. Emejing! *bow

 

4. Doyan amat sama karaoke

img_2795

Salah satu jalanan yang ada gedung2 Big Echo yang warna merah itu loh.

Di satu baris jalan aja, aku bisa nemuin lebih dari satu gedung BIG ECHO tempat orang karaoke. Doyan amat yak. Agak relatif murah juga kayaknya tarifnya buat mereka. Satu gedung aja buat aku kegedean o.O

 

5. Same Guys Anywhere

dsc_0306
Sering berada di tengah para pekerja kantoran Tokyo, aku malah semakin ngerasa mereka semua keliatan sama. Kenapa? Karena pakaiannya agak default, rapih necis celana kain dan kemeja plus jas item, itu aja udah seragaman. Biar gak ribet kali ya. Kayak Mark Zuckerberg atau Steve Jobs yang bajunya itu-itu aja.

 

6. Vending Machine

13483065_10206808139297654_3351217060216193635_o

Beberapa ratus yen per botol.

Yah.. terbukti, seperti yang orang-orang bilang, Japan is the country of vending machines. Tiap berapa meter selalu ada vending machine, dan yang dijual macem-macem banget, dari cemilan sampe daleman, semua ada. Tinggal siapin duitnya aja deh udah.

 

7. Ukuran rumah dan toilet.

dsc_0362

“JAPAN”. Gambarimashou!

Selain emang harga tanah mahal (banget), kayaknya mindset mereka juga emang fokus ke fungsionalitas. Rumah gak usah gede-gede amat, mending compact dan jelas efektif. Tapi yang pastinya, teknologi harus terdepan doongg.. termasuk di toilet! Untuk transportasi, moda pribadi lebih banyak yang milih pake sepeda, karena katanya yang naik mobil itu orang kampung ^^

dsc_0201

Hadiahnya kopi aja.

Nyambung ke soal fungsionalitas ruang, kalo ngasih oleh-oleh ke orang Jepang jugaĀ jadinya mending jangan barang-barang yang bakal makan tempat, kayak hiasan meja, hiasan dinding, kipas batik, wayang, atau apa lah. Mending kasih yang beneran berguna atau bisa dikonsumsi aja, kayak kopi Indonesia misalnya šŸ™‚

 

8. Temuin hal-hal yang asalnya cuma diliat di Youtube!

Aku gak inget tahun kapan aku nonton video soal sistem underground bike parking di Jepang, yang menurut aku keren banget. Dan pada saat hal-hal kayak gitu beneran ditemuin, rasanya kok senengg banget gitu loh. “Eh, ini kan yang waktu itu aku tonton! Haha XD”.

 

9. Tokyo gitu lowhh!!

13528191_10206818373153494_6826805267364467797_o

Little Liberty

Bener kata temen aku, bahkan liat orang lalu lalang di Jepang pun rasanya udah sesuatu. Apalagi di Tokyo. Itu persimpangannya aja Shibuya kan sampe beken banget gituĀ XD padahal cuma tempat orang nyebrang, yang aslinya sih gak selalu rame banget juga. Dan khusus soal enaknya di Tokyo adalah, banyak banget spot yang terkenalnya, jadi keliling kota pun kita udah bisa eksplor banyak. Di Shibuya ada patung Hatchiko. Terus bisa liat Gundam, ke kuil Asakusa, belanja di Ginza, jalan-jalan ke Harajuku, liat SkyTree, Tokyo Tower, foto di patung Liberty-nya Odaiba, main ke Akihabara, terus nongkrong di Cafe AKB48, ah banyak deh.

dsc_0547

Oi! Oi! Oi!

 

10. Sewa Wifi

Ini beneran hal random aja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Tokyo, itu di bandara banyak yang nyewain alat hotspot wifi, jauh lebih murah dibanding ganti kartu SIM sana, apalagi kalo kita gak sendiri, jatohnya lebih hemat untuk ramean. Tapiii.. transaksi harus pake kartu kredit, gak bisa cash sama sekali. So please prepare your credit card.

 

11. Yang Bisa Pake CC

Jadi inget soal kartu kredit, di Tokyo akan lebih aman deh emang pokoknya kalo punya CC. Kalo tiba-tiba handphone rusak pun, kalian bisa sewa smartphone di salah satu tokonya Softbank, dan lagi-lagi sewanya harus pake CC. Balikin hapenya sih bahkan bisa ntar aja ngasih orang mereka di bandara pas kita mau pulang Indo.

 

12. Hape Jepang

dsc_0529

Pas di toko hape sekon.

Bahas soal smartphone, kayaknya setiap aku di dalem kereta di Tokyo, aku juga perhatiin hape orang-orang mayoritas pada pake iPhone (dikit yang pake hape asli Jepang). Gak mau pada pake produk Korea karena urusan histori kali ya? v^_^

 

13. Basic Japanese will be useful

DSC_0118.JPG

With my Japanese friends from tech startup every2nd, like airbnb for toilets. Yes, toilet!

Nah ini nih, sejujurnya kalo mau survive lama di sini sih, bisa bahasa Jepang itu kayaknya penting lah. Karena keinget pertama kali aku ke Jepang. Jadi ceritanya.. aku kan lagi naik kereta, terus ada pengumuman was wes wos, lalu di stasiun berikutnya temen aku tiba-tiba bilang kami harus turun dan ganti kereta, padahal yang aku tahu kami belum nyampe. Lalu temen aku ngasih tau, “Han, pengumuman tadi tu ngabarin kalo kereta ini akan ganti jalur. Jadi kita harus pindah ke kereta yang lain”. So, can you imagine me?? I was like, “Whatt??…. Dude, seriously, if you don’t tell me, I will never know”. Belum lagi kalo lagi nyari makan, dan tempat makanannya tertutup gitu, gak keliatan dia di dalem jualan apa. Sedangkan di luar cuma ada kumpulan tulisan Jepang yang kita ngeliatnya cuma kayak cacing goyang-goyang. Tiap kalo udah begitu, pastiĀ ujung-ujungnya cuma beli onigiri dkk di convenience store :))

dsc_0418

Asakusa Temple + Tokyo Skytree Tower in a frame.

 

Ahh.. tapi pokoknya Jepang selalu ngangenin banget deh! Dan aku pengeennn banget untuk yang berikutnya aku bisa murni liburan gituu, tapi yang disponsorin juga, haha >,< #ngarep. Dann.. pokoknya jelas harus ngunjungin kota-kota yang lain! Osaka, Kyoto, Kobe, Shizuoka, Sapporo, semuwah! Masa aku cuma di Tokyo sama Yokohama doang šŸ˜

Apalagi sekarang aku udah dapet info dan familiar sama HIS Travel Indonesia, ekspert travel yang holistik banget servis-nya, dari booking flight + hotel, ngurusin activities, bisa atur sewa mobil juga, dan bisa bantu sewa wifi! (penting deh ni pokoknya, apalagi buat yang gak megang CC). Pengeenn banget bisa ke Jepang pas festival musim semi, nikmatin indahnya semerbak bunga sakura, beuuhhh!!! Semoga HAnavi mau ngajakin aku :”D

amazing-sakura-01

#HISAmazingSakura

Dan anywayyy.. katanya sihhh.. mereka sekarang lagi ngadain lomba blog untuk yang mau dapetin paket wisata persis pas musim sakura itu loohh! Wow >,< Pas lagi mahal-mahalnya tuh. Tinggal cek ke linkĀ iniĀ dan ikutin langkah per langkah yang ada disitu. Ikutan ahh XD

Pokoknya, aku yakin Jepang akan selalu jadi tempat yang sangat berkesan untuk siapapun. Dann didoain semoga yang baca blog ini semua punya kesempatan juga untuk ngerasain sendiri main ke sana. Ganbattee!! \^,^/

 

Malem hari sambil dengerin lagu Utada Hikaru,

jadi inget pastry-nya Jepang yang enak banget juga

 

Baca juga: Opini Tentang Makanan Halal

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googlingĀ lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated masterā€™s. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience ā€” consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cekĀ kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihatĀ disiniĀ (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber:Ā micromasters.mit.edu

INNOCAMP 2016: Awal Seleksi & Kurangnya Imajinasi

img_9671

20 besar di 1st Camp. Ada yang individu, ada yang memang nge-tim berdua.

 

Tadaaa…!! Here I am again, in a tech-based business competition. Can you believe it? me not XD Sejujurnya sih… di masa-masa ini… aku kayaknya udah agak segan gitu ikut kompetisi-kompetisi lagi. Rasanya udah pengen bener-bener fokus jalanin bisnis aja. Konsen.. fokus.. Karena kenyataannya pun, juara di lomba itu beda dengan juara di dunia nyata, hehe.. Mungkin kalianĀ juga paham maksudnya.

Tapiii.. godaan datang saat liat video ini! :B

Huaaa… Gimana cobaaa…

Ikut. Nggak. Ikut. Nggak. Ngitung kancing gak beres-beres, akhirnya, “nothing to lose aja deh.. lagian pede amat belum tentu lolos juga”, lol.

Lalu.. yang akhirnya bikin aku ikut itu kayaknya utamanya karena 3 hal: juri+mentornya keren-keren, hadiahnya juga oke (ke Google Jepang!), dan ini emang khusus untuk anak muda (sampe 35 tahun siihh), yang jelas kan kita gak akan muda selamanya! Jadi ayolah, selagi masih termasuk muda, mari kita manfaatkan šŸ™‚

Maka akhirnya aku submit lah aplikasi ke mereka dan juga bikin video, mepeeeettt banget sama deadline. Temanya adalah berhubungan dengan bisnis teknologi, yang waktu itu pengajuan aku adalah tentang Home Solar Leasing, atau kredit solar panel untuk rumahan. Karena kebetulan itu salah satu lini bisnis yang memang ingin aku garap, dan kegiatan ini juga digagas oleh Adira, salah satu perusahaan multi-finance terbesar di Indonesia.

capture-20161206-090128

Sumber: innocamp2016.com

 

Singkat kata, amazingly, dari (lupa) berapa ratus, aku dapet email bahwa aku lolos tahap 1, dan mereka ngadain seleksi tahap 2 berupa interview via video call. Aku bener-bener gak tau kami mau ngomongin apa. Dan ternyata di hari H, ada dua orang dari pihak penyelenggara yang munculĀ di layar hape yang malah nanyain pertanyaan-pertanyaan absurd!

Continue reading

Belajar Soal Bisnis Wine

71

Mister dan nyonya pemilik tempat.

 

Beberapa hari yang lalu aku dan temen sekelas di Flinders Uni kunjungan lapangan seputar bisnis ke salah satuĀ winery, kebun anggur dan tempat pembuatan wine di Adelaide, namanya Sinclairs Gully. Lumayan jauh dari city, entah berapa lama di jalan, yang jelas rasanya di bis aku sampe bisa ngobrol lama dan liat berbagai tempat. Kebetulan tuannya adalah sepasang suami istri yang juga jalanin eco-tourism di Sumatra Utara, Indonesia (makanya mungkin agak relate kalo ketemu orang Indo). Untuk yang suka wine, pasti seneng banget main ke sini, nyobain berbagai macam wine. Tapi walaupun aku gak minum, tetep banyak yang bisa dipelajari dari bisnisnya kok. Ya selain karena memang “dipaksa” harus bisa begitu sih, haha.. karena setiap habis kunjungan, kami selalu harus bikin summary, nemuin key ideas-nya, apa yang bisa diimplementasikan di bidang masing-masing, didiskusiin di kelompok, dan lalu dipresentasiin di depan semua orang.

This slideshow requires JavaScript.

Menurut empunya, wilayah ini adalah milik keluarga yang luasnya mencapai 26 acre (atau sekitar 12 hektar?). Tapi walaupun bersifat pribadi, dalam pengelolaannya mereka tetap diawasi oleh pihak kementrian, sudah dimintakan izin, dan mereka berjanji bahwa ini akan tetap bisa jadi cagar alam atau wisata lindung. Komunitas di sekitarnya pun diberdayakan dalam menjalankan usaha, dari pemetikan anggur, pengolahan, dan pembotolan higga bisa jadi produk siap jual. Karena dikerjakan bersama, maka semua yang terlibat pun harus memegang value yang sama, ya itu tadi, agar menjaga supaya wilayah ini bisa tetap sebagaimana mestinya (keep sustainable).

20

“Hani was here”

 

Katanya sih, istimewanya wine produksi sini adalah, karena udah dikategorikan sebagai bio-dynamic wine, levelnya udah di atas wine organik, karena prosesnya dilakukan dengan alam (sumpah aku juga gak ngerti-ngerti amat sih, pokoknya anggep aja wine premium lah ya >,< #kali). Dan seperti sering disebut di film-film, makin lama wine disimpen, rasanya akan makin enak. Si mister sempet cerita dia bahkan punya wine dari edisi tahun kapan tau (dan si Hani makin gak ngerti).

25

Numpang mejeng doang di bar-nya.

 

Setelah para temen aku “minum-minum” di bar-nya, dan borong sekian botol (mumpung dikasih harga bagus juga), kami lanjut ke kebun dan hutan. Menarik, karena dikasi liat berbagai vegetasi khas Ostrali. Di hutan, pohonnya putiiiihh semua, jadi beneran kayak hutan hantu. Sepanjang batang sampe ranting, kulit kayunya emang warna putih, dan si mister pasang beberapa kamera di badan pohon. Katanya sih, untuk ngerekam dan motret fauna yang pada muncul dan sering lewat. Di hari itu, kami juga liat kangguru dan koala (ya walaupun sejak tinggal di sini liat kangguru udah kayak liat kucing di kampung sih). Tapi si mister justru paling tertarik motret burung-burungnya. Apalagi katanya, menurut penelitian, beberapa jenis burung kecil tertentu, akan punah dalam waktu 20 tahun karena cuaca di sini.

29

Mulai masuk hutannya.

32

Si mister ngejelasin ada apa aja di sini.

43

“pohon hantu”

38

trap camera

 

Di tengah perjalanan, kami juga diliatin area outdoor-nya yang biasa dia sewain untuk acara, pernikahan dan berbagai event (suasananya jadi ngingetin sama nikahannya Bella Swan sama si vampir di film Twilight!). Ini bisa jadi tambahan pendapatan juga, sebagai kompensasi kalo musim untuk bisnis utamanya lagi kurang bagus. Bagian dari rumah kediamannya juga sering dia sewain jadi guest house, untuk turis-turis dari berbagai negara. Apalagi yang lagi penelitian, atau banyaknya adalah orang-orang yang tertarik dengan berbagai spesies burung di sini, karena memang (katanya) banyak burung di sini yang gak akan ada di belahan dunia lain (jadi ngomongin burung lagi deh).

50

foto kunjungan

 

Mmmm… jadi kalo liat proses bisnisnya sih ya, mereka ni gak cuma jualan produk, tapi memang ahli di bidang eco-tourism, yang kuncinya adalah: great memory, gimana caranya menjual momen sama konsumen. Sekembalinya kami ke area rumah, gantian si nyonya yang cerita proses dari awal mereka bangun industri ini. Bahwasanya, produk itu memang gak harus selalu berupa fisik, tapi bisa juga berupa pengalaman berkesan. Contohnya ya tur kebun anggur mereka, orang jadi bisa metik langsung, nyentuh, dan ngalamin sendiri, bahkan bantu proses produksi yang sebenernya nguntungin pihak pemilik. Sangat personal, sangat berorientasi ke manusianya. Si nyonya bahkan pas cerita soal kehidupannya di Sumatra, dia sampe nangis juga, dan bikin kami semua terharu (walaupun di otak sadar aku mikir, “wah, emang bisa banget nih doi “nyentuh” konsumennya”).

52

Nyonya lagi cerita.

 

Selain itu, yang bikin aku tertarik adalah, karena mereka adalah suami istri yang menjalankan usaha bersama. Makanya aku juga jadi penasaran gimana caranya biar urusan rumah tangga sama kerjaan gak terlalu nyampur, apalagi jadi destruktif. Dan dia jawab sih, ya so far so good. Paling kalo ada “sesuatu” terjadi, mereka fokus kerjaan masing-masing aja, dimana dia lebih banyak ngerjain back office, ngurusin website, booking, itinerary, dll, sedangkan suaminya ngerjain yang “outside job”, hohoho ^_^

57

presentation time

64

Mbuh ngarane, mbuh rasane. Mending minum jus2 buah yang sehat aja.

 

Begitulah kira-kira.

A Coming Venture Capital for Social Entreprises From Indonesia

Image

Holla! An info again šŸ˜€

Me &Ā Ngadu IdeĀ team just get introduced to Timothy Francis by mas @DondiHananto n do some discussion. Tim is a representative of Village Capital (www.vilcap.com), a non-profit organization that based in New York, n he’s on mission here to be sure.

In brief, they intend to provide a venture capital for some social entreprises in Indonesia (yes, only the social one). The programĀ itself is already run for several years and applied in several countries (you can check http://www.vilcap.com and see the winners profile there as reference). Anyway, I guess i dont have to mention any kinds of business that categorized as social entreprise here, since that term is also not clearly defined in this country. But the point is; a business that empower people and has social impact to the community.

Unfortunately, if what you have is only an idea, u’r not eligible to join, coz they require business that already run, has a revenue, n handled full time. But in contrary, if u hv anything that they need to see, it will be a good chance for u, coz they will select 15 teams all over Indonesia, get them all to the business incubator for 3-5 months, and the 2 winning teams will given funding until US$ 50,000 each.

Well, I cant directly tell u when this program will be started, coz Tim is still also look for some insights about our potentials in this field. But if u feel interested, u can ask me his email or skype and contact him directly to ask any questions about it (and he’s single btw).

Hmmm.. i think thats it for today. Its a quite exhausting day, and i’m not really please to see October to go too soon. And eventhough we’re not celebrate today, but since Tim has forced me to remember what day it is, so… Happy Halloween, people!

Do You Wanna Captured By International Photographer? B))

Hey, I have an info! :3

Image

Hey, i hv an info! :3

I just hv a meetup with Francoise Huguier. She’s one of the most reputable photographers in France. She got a World Press Photo, worked as a mode photographer for Vogue Magazine & New York Times, and also did so many projects in almost all genres of photography while roaming around the world (u can visit en.francoisehuguier.com for details).

Now she’s in Bandung and plan to make her personal project here, about… hijaber! Ha!! After discussion, i think its gonna be a vry fun project to capture portraits of our people wearing hijab, then make a serie of it. Sooo.. I wanna invite u all, anyone, to join with us, being the “model”, n feel the joy to collaborate with her. I need around 15-20 women aged 15-30 who are daily wear hijab n we’ll make a photoshoot in this weekend (2-3 Nov). The theme itself is “elegant”, doesnt mean so glamorous, but reflect the best of u in mode that comfort u as well šŸ˜€

If u feel interested, u can contact me n send a message on facebook, twitter (@haniwww), email (hanirosidaini@gmail.com), or anything. Or if u think that ur fren/family will glad to know about it, just simply reshare, coz i’ll wait for ur response til the end of October.

To make it clear, we dont need “real model”, but ordinary women who simply want to contribute. Yea.. just like me. She told me that i’m also allowed to take poses if i want to. Haha.. But hey, chill, i’m still considering bout it since fashion is not sumtin i’m really fond of. But perhaps i’ll join with u at the day. So, see you soon! :*