Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding ūüėÄ

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! ūüėÄ

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera ūüėÄ

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

One Thing At A Time, Data Mining, and Kindle

IMG_5102

Ok, sorry for the photo

 

Guess what? I’m currently in the middle of my reading and choose to take a break just to write this post. I’m reading Data Mining – Practical Machine Learning Tools and Techniques (some people recommended this one, so I give it a try), written by the practitioners of WEKA, one of the¬†powerful softwares to mine data, and I expect this book is really practical just like mentioned in its title. I spent several hours to reach half of this book (around 250 pages) and I think it’s pretty fast, because I was not skimming, but really reading it comprehensively. Why so? How could I do that?

Recently, I’m practicing to apply a method, that may be very common to all of you, but not everyone doing it: “One Thing At A Time” method. Started when a friend of mine telling me something about healthy eating behavior. She said that, if we have to choose between bathing and eating, what should be done first, it’s better for us to do bathing first and eating afterward. Why? Because when doing food digestion, our body needs to focus and not distracted by any other activities. She even said that, bad digestion can produce toxic. So when we eat, it’s not recommended to double the job by reading books, watching movies, checking social medias, stalking your ex-es, or so on. And I think it’s also relevant generally. People nowadays are crazily obsessed by multi-tasking, like we have to accomplish so many things at a time. The question is: is it really work? I personally think that it is a toxic (at least for me). Instead of being a benefit, it usually becomes a threat. When we’re doing jobs and keep moving from one to another, most likely we end up by not finishing them all well. Or worse, none of them is finished. Well, some people might say that they can deal with that, but me, even without distraction, my mind is often branched far off the topic, so it’s best to get rid of all unrelated stuff. And to make it more powerful, I even wrote the sentence in a big sheet of paper and put it on my wall: ONE THING AT A TIME. Whuff~

So, done with the method and back to the book. I finally chose to take a break because after finish half of it, I found that this book is veryyyyyyy…….. useless ūüėź (I give the link below this post if you want to download the PDF and read it too). The authors waste my time by babbling about data mining application in different industries until page 90, which not necessary needed. And when they move into technical chapters, I found them not easy to understand, unless data mining is already in you (with that advanced statistics, complicated formula, and well programming skills), and you just read this book as a supplement. So, I think I will shift to another book: Mining of Massive Datasets, and decide whether this one is better or judge that these books are typical.

511pKebJTTL._SX258_BO1,204,203,200_

Lets see…

 

Talking about books, usually in weekdays I spend 1-2 hours for reading. But in the¬†weekend like this, I can spend so many hours only for consuming words and extracting information from books, and now I’m starting to worry. Not because of the reading, but the medium. You know, of course I do love physical books. But since my reading is dominated by English books (which are not cheap to collect them all physically, and not all of them are provided in near places either), my books now are mostly in digital form, and I read them all through gadgets. We can imagine, even without reading books on a¬†laptop, I spend my time staring at the screen for so long, for improving skills, coding, doing tasks, emailing, and other activities. And when I want to relax and doing what I love, which is reading, I still have to torture my eyes with shiny lights from LCD? Oh My….

So now I’m seriously considering about using Kindle. But because it is not officially sold in Indonesia, perhaps I have to find a way how to get it. Well, surely those local marketplaces are selling it, but, are there some issues to be concerned about? Or is it just okay to buy from the local seller with a¬†higher price? Will there be any trouble with US credit card payment? Oh, please, for any of you who have experience, do share with me, I will be¬†very appreciate it. Meanwhile, I’ll be using this laptop or smartphone and aching in tears when it takes too long. Huhuhu…

61shyF063PL._SL1000_

Craving for thisss!

 

 

In the mid-day, when all my eyes want to see are green leafs and prairie,

hope that I will never have to use reading glasses in my whole life

 

 

Download PDF:

Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques – Ian H. Witten & Eibe Frank

Mining of Massive Datasets – Anand Rajaraman & Jeffrey David Ullman

Hal-Hal Random Tentang Tokyo Yang Kamu Harus Tahu (Dan Cara Ke Jepang Gratis!)

tokyo_6492

Hello, Japan!

Haha..
Kalo kalian kerap kali baca blog aku, pasti nyadar bahwa banyak tulisan aku yang judulnya “Hal-Hal Random”: Hal-hal random tentang Adelaide, hal-hal random¬†tentang bisnis, tentang kehidupan sehari-hari, yang bahkan ada sekuelnya, berseri dari #1 sampe ke #sekian. Karena kenyataannya, emang aku suka merhatiin hal-hal yang kayaknya sepele, tapi karena banyak, jadi pengen dikompilasiin aja dan ditulis biar gak lupa (selain otaknya juga emang suka random). Dan sekarang adalah gilirannya ngomongin hal-hal random tentang Tokyo, ibukota Jepang! ūüėÄ

Jepang sendiri aslinya adalah salah satu negara impian aku dari kecil, selain Inggris (yang sampe sekarang masih belom kesampean dikunjungin, hiks). Ya you know lah.. karena kita banyak nonton anime dan baca komik Jepang, yang bikin ni negara rasanya udah akraaabb banget. Negara yang maju keren secara teknologi, tapi tetep mengakar dan lestari budayanya, beuuhhh, Jepang banget! Segala aktivitas dan wisatanya pun bahkan kita kayak udah hafal gitu, ya ikebana lah, origami lah, tradisi minum teh, sampe budaya mandi bareng di onsen, hihi…

Kelihatannya sihh, segala aktivitas itu kayaknya akan sangat jauh lebih nikmat lagi kalo sedang wisata ke Jepang, atau emang beneran punya kesempatan tinggal lama di sana. Sedangkan aku, yang ke Jepang untuk urusan kerjaan, bagian terbaiknya adalah, ngamatin gimana orang-orang di negara ini. Dan well, default kepribadian mereka tetap akan bikin kita ngerasa wow sama Nippon.

 

1. Berbisnis dengan Jepang

dsc_0281

Di MONO, salah satu pusat teknologi.di Tokyo

Bahasan tentang poin ini akan sangat panjang, makanya akan aku tulis di postingan berikutnya, lengkap dengan gimana cara aku bisa bantu kalian yang ingin mengembangkan bisnis ke negeri sakura. Tapi yang jelas, dalam berbisnis, orang Jepang memang sangat based on trust, personal attachment or reference, akan lebih bagus kalo kita punya mutual relation sama mereka. Mungkin pernah sekolah di Jepang, kenal sama pihak Jepang, punya hubungan baik dengan sosok tertentu, itu bisa di-share untuk menimbulkan kepercayaan. Kalo itu bisa diwujudkan, apalagi nihongo kita lumayan, mereka akan sangat kooperatif, dan loyalitas orang Jepang itu sangat tinggi. Sekali kerjasama dengan kita, mereka akan stay ke kita. Dan dari segi bisnis, ini sangat bagus, karena masyarakatnya juga termasuk big spender, asal kita mawas aja, jangan sampe melenceng, atau mungkin mengecewakan, karena standar mereka tinggi dan toleransi sama kesalahannya agak minim, hehe.. Jadi harus lebih serius dan presisi.

 

2. Gak ada tempat sampah!

img_2801
Gila, percaya gak sih, dari bandara sampe hotel aku di Hamamatsucho, aku hampir gak liat tempat sampah sama sekali. Susahnya minta ampun. Tapi orang-orang gak pada nyampah, men! Semuanya tetep bersih aja gitu. Pas aku tanyain sama orang setempat, ada yang bilang sih mereka sempet parno sama kejadian bom yang pernah ditaro di tempat sampah, yang hasilnya yaudah, sampah diurus sendiri aja sampe kalo ada tukang sampah dateng. Whatt??! Tapi tetep bersihhh.

 

3. Budaya ngantrinya, juara dunia!

13510838_10157143132600078_2722866177227354191_n

Panjang betull

Ini pas mereka ngantri di elevator stasiun sampe sepanjang itu. Kalo liat sendiri, pasti bikin ngerasa “HOW AMAZING JAPAAN!!”. Karena menurut aku, ngantri itu bukan cuma sekedar menunjukkan aktivitas, tapi juga refleksi kualitas para manusianya yang kompleks. Emejing! *bow

 

4. Doyan amat sama karaoke

img_2795

Salah satu jalanan yang ada gedung2 Big Echo yang warna merah itu loh.

Di satu baris jalan aja, aku bisa nemuin lebih dari satu gedung BIG ECHO tempat orang karaoke. Doyan amat yak. Agak relatif murah juga kayaknya tarifnya buat mereka. Satu gedung aja buat aku kegedean o.O

 

5. Same Guys Anywhere

dsc_0306
Sering berada di tengah para pekerja kantoran Tokyo, aku malah semakin ngerasa mereka semua keliatan sama. Kenapa? Karena pakaiannya agak default, rapih necis celana kain dan kemeja plus jas item, itu aja udah seragaman. Biar gak ribet kali ya. Kayak Mark Zuckerberg atau Steve Jobs yang bajunya itu-itu aja.

 

6. Vending Machine

13483065_10206808139297654_3351217060216193635_o

Beberapa ratus yen per botol.

Yah.. terbukti, seperti yang orang-orang bilang, Japan is the country of vending machines. Tiap berapa meter selalu ada vending machine, dan yang dijual macem-macem banget, dari cemilan sampe daleman, semua ada. Tinggal siapin duitnya aja deh udah.

 

7. Ukuran rumah dan toilet.

dsc_0362

“JAPAN”. Gambarimashou!

Selain emang harga tanah mahal (banget), kayaknya mindset mereka juga emang fokus ke fungsionalitas. Rumah gak usah gede-gede amat, mending compact dan jelas efektif. Tapi yang pastinya, teknologi harus terdepan doongg.. termasuk di toilet! Untuk transportasi, moda pribadi lebih banyak yang milih pake sepeda, karena katanya yang naik mobil itu orang kampung ^^

dsc_0201

Hadiahnya kopi aja.

Nyambung ke soal fungsionalitas ruang, kalo ngasih oleh-oleh ke orang Jepang juga¬†jadinya mending jangan barang-barang yang bakal makan tempat, kayak hiasan meja, hiasan dinding, kipas batik, wayang, atau apa lah. Mending kasih yang beneran berguna atau bisa dikonsumsi aja, kayak kopi Indonesia misalnya ūüôā

 

8. Temuin hal-hal yang asalnya cuma diliat di Youtube!

Aku gak inget tahun kapan aku nonton video soal sistem underground bike parking di Jepang, yang menurut aku keren banget. Dan pada saat hal-hal kayak gitu beneran ditemuin, rasanya kok senengg banget gitu loh. “Eh, ini kan yang waktu itu aku tonton! Haha XD”.

 

9. Tokyo gitu lowhh!!

13528191_10206818373153494_6826805267364467797_o

Little Liberty

Bener kata temen aku, bahkan liat orang lalu lalang di Jepang pun rasanya udah sesuatu. Apalagi di Tokyo. Itu persimpangannya aja Shibuya kan sampe beken banget gitu XD padahal cuma tempat orang nyebrang, yang aslinya sih gak selalu rame banget juga. Dan khusus soal enaknya di Tokyo adalah, banyak banget spot yang terkenalnya, jadi keliling kota pun kita udah bisa eksplor banyak. Di Shibuya ada patung Hatchiko. Terus bisa liat Gundam, ke kuil Asakusa, belanja di Ginza, jalan-jalan ke Harajuku, liat SkyTree, Tokyo Tower, foto di patung Liberty-nya Odaiba, main ke Akihabara, terus nongkrong di Cafe AKB48, ah banyak deh.

dsc_0547

Oi! Oi! Oi!

 

10. Sewa Wifi

Ini beneran hal random aja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Tokyo, itu di bandara banyak yang nyewain alat hotspot wifi, jauh lebih murah dibanding ganti kartu SIM sana, apalagi kalo kita gak sendiri, jatohnya lebih hemat untuk ramean. Tapiii.. transaksi harus pake kartu kredit, gak bisa cash sama sekali. So please prepare your credit card.

 

11. Yang Bisa Pake CC

Jadi inget soal kartu kredit, di Tokyo akan lebih aman deh emang pokoknya kalo punya CC. Kalo tiba-tiba handphone rusak pun, kalian bisa sewa smartphone di salah satu tokonya Softbank, dan lagi-lagi sewanya harus pake CC. Balikin hapenya sih bahkan bisa ntar aja ngasih orang mereka di bandara pas kita mau pulang Indo.

 

12. Hape Jepang

dsc_0529

Pas di toko hape sekon.

Bahas soal smartphone, kayaknya setiap aku di dalem kereta di Tokyo, aku juga perhatiin hape orang-orang mayoritas pada pake iPhone (dikit yang pake hape asli Jepang). Gak mau pada pake produk Korea karena urusan histori kali ya? v^_^

 

13. Basic Japanese will be useful

DSC_0118.JPG

With my Japanese friends from tech startup every2nd, like airbnb for toilets. Yes, toilet!

Nah ini nih, sejujurnya kalo mau survive lama di sini sih, bisa bahasa Jepang itu kayaknya penting lah. Karena keinget pertama kali aku ke Jepang. Jadi ceritanya.. aku kan lagi naik kereta, terus ada pengumuman was wes wos, lalu di stasiun berikutnya temen aku tiba-tiba bilang kami harus turun dan ganti kereta, padahal yang aku tahu kami belum nyampe. Lalu temen aku ngasih tau, “Han, pengumuman tadi tu ngabarin kalo kereta ini akan ganti jalur. Jadi kita harus pindah ke kereta yang lain”. So, can you imagine me?? I was like, “Whatt??…. Dude, seriously, if you don’t tell me, I will never know”. Belum lagi kalo lagi nyari makan, dan tempat makanannya tertutup gitu, gak keliatan dia di dalem jualan apa. Sedangkan di luar cuma ada kumpulan tulisan Jepang yang kita ngeliatnya cuma kayak cacing goyang-goyang. Tiap kalo udah begitu, pasti¬†ujung-ujungnya cuma beli onigiri dkk di convenience store :))

dsc_0418

Asakusa Temple + Tokyo Skytree Tower in a frame.

 

Ahh.. tapi pokoknya Jepang selalu ngangenin banget deh! Dan aku pengeennn banget untuk yang berikutnya aku bisa murni liburan gituu, tapi yang disponsorin juga, haha >,< #ngarep. Dann.. pokoknya jelas harus ngunjungin kota-kota yang lain! Osaka, Kyoto, Kobe, Shizuoka, Sapporo, semuwah! Masa aku cuma di Tokyo sama Yokohama doang ūüėź

Apalagi sekarang aku udah dapet info dan familiar sama HIS Travel Indonesia, ekspert travel yang holistik banget servis-nya, dari booking flight + hotel, ngurusin activities, bisa atur sewa mobil juga, dan bisa bantu sewa wifi! (penting deh ni pokoknya, apalagi buat yang gak megang CC). Pengeenn banget bisa ke Jepang pas festival musim semi, nikmatin indahnya semerbak bunga sakura, beuuhhh!!! Semoga HAnavi mau ngajakin aku :”D

amazing-sakura-01

#HISAmazingSakura

Dan anywayyy.. katanya sihhh.. mereka sekarang lagi ngadain lomba blog untuk yang mau dapetin paket wisata persis pas musim sakura itu loohh! Wow >,< Pas lagi mahal-mahalnya tuh. Tinggal cek ke link ini dan ikutin langkah per langkah yang ada disitu. Ikutan ahh XD

Pokoknya, aku yakin Jepang akan selalu jadi tempat yang sangat berkesan untuk siapapun. Dann didoain semoga yang baca blog ini semua punya kesempatan juga untuk ngerasain sendiri main ke sana. Ganbattee!! \^,^/

 

Malem hari sambil dengerin lagu Utada Hikaru,

jadi inget pastry-nya Jepang yang enak banget juga

 

Baca juga: Opini Tentang Makanan Halal

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googling lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated master‚Äôs. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience ‚ÄĒ consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cek kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihat disini (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber: micromasters.mit.edu

Otot Baca dan #KelasMenengahNgehe

resize-buat-blog

Dapet langsung dari dan ditandatangan mas Siwo pas beliau ke Bandung.

 

Ceritanya aku baru beres baca buku Consumer 3000, yang sebenernya udah mulai dibaca dari November 2012. Mennn, 4 tahun yang lalu!! Buset >,< Orang bilang buku bisnis & marketing itu cepet banget outdate-nya, karena saking dinamisnya bidang ini. But for the sake of finish what I started, aku tetep pengen nyelesein ni buku. Ya kali kali masih ada insight yang relevan dan bermanfaat. Perasaan sih (yaelah, perasaan :p) beberapa tahun yang lalu tu aku udah baca sampe halaman 100-an lah, tapi entah kenapa berhenti tengah jalan. Dan tiba-tiba semalem, pas aku baca ulang, bener-bener dari awal lagi, I can finish this in only one sitting! Alias bisa baca sekali dan langsung selesai! (257 halaman). Eitss, bukan skimming dan fast reading juga ya. Aku tetep berusaha bacanya secara komprehensif. I read word by word, dan bener-bener berusaha paham. Caranya gimana? Adalah dengan ngebayangin kita harus ngajarin orang lain lagi tentang apa yang kita pelajari. Sehingga mau gak mau kita jadi berusaha untuk kitanya sendiri harus bener-bener ngerti dulu. Apalagi aku emang pengennya, tiap abis baca buku, sebisa mungkin nulis resume atau ulasannya. Biar kita gak cuma mengkonsumsi, tapi juga berpikir dan memproduksi sesuatu.

So, balik lagi ke judul, kenapa sekarang aku bisa one sitting reading, hmm..¬†aku pikir ini cukup membuktikan tentang yang disampaikan oleh para neuro-scientist tentang apa yang disebut “otot membaca”. Jadii.. menurut penelitian mereka, singkatnya, membaca itu memang bukan termasuk kemampuan alamiah manusia. Beda dengan melihat, bernafas, ngomong, itu semua terjadi lebih natural. Sedangkan membaca, itu kayak kita lagi cardio, yang kalo otot-ototnya mau jadi, ya berarti kita butuh banyak exercise. Dan karena reading habit aku sudah jauh lebih teratur (I read every single day min.1 hour), rasanya kayak hari ke hari ototnya jadi lebih kuat aja kalo mau sprint, baca buku tebel, essay panjang, jadi gak gampang capek dan cepet berhenti tengah jalan. And I think it is very useful, since reading is one of important skills that make me survive in life until now. So, I really recommend you to do also your routine exercise, no matter the duration. Just keep exercising. There are uncountable sources of knowledge out there waiting for us to learn, dan baca buku itu bagaimana pun beda dengan baca artikel, berita online, apalagi sekadar status teman di media sosial. Literasiiii… penting! #keukeuh X’D

Lalu.. Kelas menengah ngehe! Haha…

Sebenernya buku Customer 3000 ini fokus ke pembahasan tentang fenomena kelas menengah di Indonesia yang lagi tumbuh aja. Yang menariknya masyarakat (terutama netizen) nyatanya udah cukup punya pandangan sendiri juga tentang karakter dari si salah satu kelas ekonomi ini. Dan banyak dari mereka yang mencuitkan pendapatnya dengan hashtag #KelasMenengahNgehe.

Berikut adalah beberapa twit” “lucu” terkait #KelasMenengahNgehe:

This slideshow requires JavaScript.

 

Sedikit banyak cuitan-cuitan di atas cukup menggambarkan tentang kondisi kelas menengah di Indonesia, yang memang mayoritas tinggal di perkotaan. Mereka adalah yang secara pendapatan tidak merasa lagi dirinya orang susah, kebutuhan primer sudah terpenuhi, sehingga gaya konsumsinya agak naik level, walaupun sebenarnya tetap berhitung untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi dengan pengeluaran paling sedikit. High-value oriented, kalo di buku #C3000 dibilang. Dan kenapa mereka sangat menarik sampe harus dibahas khusus? Adalah karena jumlahnya yang kini dominan, market potensial yang sedang tumbuh subur (kalo mau bikin bisnis baru, menarget kelas ini, pasarnya bagus!), tapi dengan karakteristik yang khas, dan perannya juga besar untuk membawa bangsa menjadi suatu kekuatan ekonomi di dunia. Pendapatan $3000/tahun per kapita adalah ambang batas suatu negara memasuki fase baru dalam perkembangannya, sehingga buku ini diberi judul Consumer 3000. Dan mas Siwo (panggilan Pak Yuswohadi, sang penulis) dengan lembaga risetnya ternyata sudah mempelajari fenomena ini dari tahun 2010 lalu. Cukup menarik pembahasannya dengan contoh-contoh konkret yang memang beliau temui dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masih bisa diperbaharui secara ilmiah di sana-sini. Setidaknya berikut adalah poin-poin yang bisa didapat:

  1. Dengan GDP >$3000 sebenarnya dari beberapa tahun lalu Indonesia sudah tidak bisa lagi dikatakan masih negara berkembang.
  2. Kalo ngikutin ADB (Asia Development Bank) tahun 2005 sih, kelas menengah adalah yang pengeluaran per kapita-nya $2-20/hari.
  3. Tapii..¬†“It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it’s to jump from middle income to a high-income economy”. Dan faktor penting penyebabnya adalah: SDM & RnD
  4. Semoga Indonesia gak kena Middle Class Trap kayak Malaysia, yang mentok sebagai negara berpendapatan menengah. Beda dengan Korea Selatan yang akhirnya berhasil bertransformasi menjadi negara maju baru.
  5. Kelas menengah akan jadi tulang punggung ekonomi Indonesia karena kekuatan konsumsinya. Proyeksi di tahun 2020 kita bisa jadi urutan tertinggi ke-8 di dunia, dan di tahun 2030 posisi ke-4 stlh Jepang, Jerman, dan Rusia.
  6. Kemajuan Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dunia (yang diproyeksikan masuk 7 besar di tahun 2050) tidak lepas dari kebangkitan kelas menengah kita.
  7. Kunci kesuksesan Inggris memimpin dunia abad 18/19 pun adalah karena mereka, “The Great England Middle Class”.
  8. Bedanya kelas menengah Indonesia & Cina: di Cina, golongan middle of middle class-nya yang dominan, dan banyaknya orang desa, sedangkan Indonesia masih didominasi kelas menengah bawahnya, dan rata2 orang kota.
  9. Kelas menengah Cina ternyata menarik. Mereka jadi makin rakus dengan merk-merk terkenal, bahkan mulai menggeser Jepang sebagai pasar terbesar barang mewah di dunia, banyak disebut sebagai “Chinese Dream”.
  10. Cinta produk lokal jadi makin penting. Karena kalo konsumsi domestik terserap oleh industri & barang-barang impor, yang maju berkembang ya bukan kita, tapi mereka.
  11. Karakter kelas menengah masih sama, fokusnya bukan semata-mata harga (seperti kelas bawah) atau justru brand (kayak kelas atas), tapi lebih banyak di value.
  12. Kenapa kelas menengah penting: 1.Ada kelas wirausaha baru, 2.Karakter konsumennya, 3.Mengurangi kesenjangan, 4.Demand barang naik, 5.Punya kekuatan politik.
  13. Kelas menengah naik, OKB (Orang Kaya Baru) makin banyak. Bukan orang kaya beneran, tapi yang bergaya kaya. Mereka yang konsumsi barang-barang/jasa bukan lagi karena kebutuhan, tapi kadang cuma pengen.
  14. Karena ngerasanya “gak hidup susah lagi”, shopping exuberance merajalela, apa yang dibeli bermnfaat atau nggak bukan jadi¬†isu utama mereka.
  15. Dengan makin umumnya kartu kredit, KPR dll, budaya konsumtif dan budaya ngutang makin tumbuh dan berbahaya, bisa bawa Indonesia ke krisis kayak di AS.
  16. Golongan yang lebih cerdas, akan merubah banking behavior-nya. Saat dana berlebih, tidak sekadar menabung, mereka akan mencoba berinvestasi lewat berbagai pilihan produk, seperti saham, reksadana, properti, emas, dll.
  17. Beberapa industri yang tumbuh subur = perbankan, kecantikan, kesehatan, MAL (dimana Jakarta juga adalah kota dengan mal terbanyak di dunia).
  18. Mereka sangat erat dengan narcism dan kebutuhan akan Social Experience.
  19. Peran sentral kelas menengah: 1.Sebagai konsumen, 2.Sebagai pelaku ekonomi, khususnya entrepreneur pencetak lapangan kerja, 3.Pelaku politik, mendorong demokrasi.
  20. Catatan untuk pemasar yang membidik pasar ini: make horizontal mobile marketing. Bukan cuma broadcast tapi raise engagement. Get permission, don’t interrupt.

Nah.. begitulah kira-kira tentang kelas menengah kita. Untuk yang tinggal di kota, pasti sangat menyadari eksistensi¬†mereka di tengah-tengah kita. Yang jelas, buat aku pribadi sih, setelah baca buku ini dan buku-buku sejenis yang lain, manfaatnya adalah bisa maksa diri untuk lebih berkaca aja, bikin mawas diri biar lebih cerdas dalam mengelola mindset dan prioritas keuangan. Supaya gak jadi korban zaman, apalagi jadi beneran “ngehe”, sampe merelakan hidup susah demi gaya hidup (keliatan) mewah. Karena sesungguhnya yang penting bukanlah penampilan, tapi laporan keuangan sungguhan dan isi buku tabungan, ya nggak?? Dan cerdas berinvestasi! Duuh.. PR banget nih. Semangat!!!

 

Siang hari, sambil agak kelaparan di kantor,

tapi semoga makin pinter bedain keinginan dengan kebutuhan

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a¬†boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our¬†main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

 

I start writing this exactly in the new year eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate new year, beside we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must being screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m kinda person who live with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck in a certain of age. Maybe that what makes me not so excited about welcoming new year, and feel bitter instead. For me, get older means enter life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for their new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainments. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, human just live in the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 with not so desperately. At least, there are still remarkable things happened throughout the year: I won competition, traveled, did business trip abroad, and got a scholarship in a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. In contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matter, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone¬†that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I ever asked a friend, ” Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he cant accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. lets get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual (MY SAVIOR!!)

However in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m really worrying. Single thing I know is, I’m still living.

 

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago….. a mosque

Tentang Bawa Gadget Baru Dari Australia (Edisi Adelaide & Sydney)

img_4918

Apple Store di Adelaide cuma 1 level. Yang Sydney jauh lebih besar dan beberapa level.

 

Yay! Kembali bersama Hani! ūüėÄ

Mau lanjut cerita soal hal-hal yang ditanyain beberapa orang, yang kali ini adalah tentang beli gadget di Ostrali. Kebetulan aku emang punya pengalaman beli produk Apple di Aussie. Tahun lalu di Adelaide, tahun ini di Sydney, dan emang barangnya aku bawa ke Indo. Terutamanya karena kemarin pas di Sydney aku emang buka PO juga untuk temen-temen yang mau nitip iphone 7 & iphone 7+ baru, trus orang-orang jadi pada nanya deh, “gimana ntar di bandara, Han?”. Termasuk Bintang, yang nanya sambil juga share video ini ke aku:

 

Well.. dan karena kayaknya bakal ada terus orang-orang yang nanya pertanyaan yang sama, jadi aku pikir, “mending tulis di blog aja deh”. Biar kalo¬†ada yang nanya lagi, tinggal aku kasih link tulisan ini aja, terus “nih.. baca sendiri ya”, HAHA! So blogger!! (atau bilang aja males)

Sejujurnya aku gak bener-bener paham soal aturan barang masuk. Walaupun dari beberapa tulisan di blog sih, kayaknya bea cukai tu sesuatu banget, karena pajak masuk yang dikenakan ke kita bahkan bisa sebanding dengan harga barang yang kita bawa (padahal salah satu alesan beli barang di luar negeri itu justru adalah karena bisa minta balik pajak pembeliannya :))). Mungkin karena secara pribadi aku juga orangnya selow banget kali ya, gak banyak khawatir, kalo ada kejadian sesuatu baru deh mikir gimana jadinya, haha.. Jadi yang aku share di sini, adalah pengalaman pribadi aku aja. Adapun aturan resmi yang komprehensifnya, ya you olang silakan cek website sebelah haa…

Jadii.. setelah aku baca satu artikel, konon katanya ternyata menurut peraturan RI, barang yang kita bawa dari luar negeri itu nilainya gak boleh lebih dari $250 per orang. Atau kalo kurs-nya sekitar Rp.13ribu, itu berarti senilai Rp.3.250.000. Wah! Sejujurnya itu aneh banget sih >,< I know, I know, and I do agree ini juga demi¬†kebaikan kita bersama, biar orang-orang gak pada semena-mena masukin barang ke negara kita. Tapi lucunya, ya nominalnya agak gak masuk akal aja gitu. Karena pas aku bawa oleh-oleh dari Adelaide aja, yang perintilan lucu-lucuan doang, itu kalo ditotal ternyata udah lebih dari $300. Padahal apalah saya ini…

img_8038-1

Berbagi sedikit kebahagiaan berupa buah tangan

 

Udah gitu, semua oleh-oleh di atas malah aku masukin ke satu koper bagasi, gak dipecah-pecah. Dan walaupun label harganya udah dicopot, kayaknya orang juga pasti tau itu barang baru -.- Atau mungkin $250 itu per barang kali ya? Yang 1 piece-nya aja senilai segitu? Mungkin. Entahlah. Tetep aja aneh sih tapi. Tapi so far so good. Begitu nyampe bandara Soekarno-Hatta, ngambil koper di mesin berjalan bagasi, dan alurnya langsung keluar bandara gitu aja. Mulus.

Kembali ke Ostrali, seperti yang aku sebutin sebelumnya, salah satu keuntungan belanja di luar negeri itu adalah kita bisa minta refund pajak pembelian dari barang yang sudah kita bayar. Yang rata-rata nilainya adalah 10% dari harga pokok. Contoh, beli jaket kampus USYD seharga $110, begitu mau pulang ke Indo, kita bisa minta balik uang pajak senilai $10-nya. Kenapa? Karena status kita bukan warga negara mereka, jadi kita gak punya kewajiban untuk bayar pajak. Lebih enak lagi sih sebenernya kalo belanja di tempat-tempat “Duty Free”, karena itu memang tempat jual barang-barang bebas pajak, asal kita bisa nunjukin passport dan visa kita ke pihak toko.

tax-and-duty-free-t3-post-large-6442451379

Contoh toko “duty free” di Sydney

 

Adapun tax refund ini, tetep aja ada syarat-syaratnya juga. Temen-temen bisa cek ke web border.gov.au untuk lebih shohihnya. Karena dari seabrek-abrek informasi disitu, yang aku hapal sih…… cuma dua:

  1. Nominal pembelian yang mau di-refund adalah minimal $300. Jadi, kalo kalian cuma belanja (misalnya) jaket USYD itu tadi seharga $110, itu jangan harap GST (=PPn)-nya bisa dibalikin, karena limitnya ya emang segitu. Nah tapiii… ada caranya nih! Yaitu dengan menggabungkan struk pembelian dari toko yang sama. Jadi kita bisa ajak temen yang beli juga di toko itu untuk struknya digabungin, biar kalo ditotal itu lebih dari $300. Tapi lagii.. jangan berlebihan juga sih kayaknya. Misal, jajan eskrim di Supermarket Coles cuma seharga $10, terus struknya dikumpulin sampe 30 lembar biar bisa tax refund. Kayanya petugasnya juga males deh ngecek. Bisa atau nggak sih gak tau, soalnya belum pernah nyobain sampe sebegitunya.
  2. Struk pembelian berlaku dalam waktu 60 hari terakhir. Kalo ini kayaknya jelas. Kita cuma bisa refund di saat kita emang waktunya pulang ke negara asal. Jadi aku refund emang pas di hari aku pulang ke Indo. Dan karena aturan 60 hari itu tadi, jadi kalo mau beli barang yang harganya agak lumayan, itu mending gak terlalu jauh dari jadwal pulang.
img_4839

Bandara Adelaide, di kali pertama menginjakkan kaki di kota ini. Sepi.

 

Nah, sedangkan untuk bedanya proses refund di Adelaide dan di Sydney, ini kayaknya faktor petugasnya sih:

a. Waktu di Adelaide, aku mau klaim iphone 6s yang baru dibeli. Standar, kita harus nunjukin struk pembelian dan passport. Lalu mereka beneran minta ditunjukin dan ngecek barangnya sampe box-box-nya (yang kebetulan kali itu iphone-nya emang udah aku pake), sampe nyesuain data yang ada di struk dengan keadaan iphone dan box. Kalo udah yakin sesuai, baru deh bisa lanjut proses refund. Daaann.. refund-nya itu gak bisa cash. Jadi either ke kartu kredit atau rekening bank. Kartu kreditnya pun harus atas nama sendiri, dan atau kalo mau ke akun bank, juga sama, harus atas nama sendiri, dan itu bank-nya gak bisa bank di Indonesia.

b. Pas di Sydney kejadiannya beda. Padahal aku lagi bawa iphone baru yang belum dipake. Petugas cuma minta passport sama struk pembelian. Harga >$300 checked, <60 hari checked, mereka langsung nanya dananya mau ditransfer kemana. Dan pas aku tanya “bisa gak dimasukin ke kartu kredit temen aku?”, mereka langsung jawab “Syur..”. Lalu aku kasiin kartu kredit temen aku, mereka gesek, dan proses refund pun selesai. Cepet abis.

img_4494-copy

contoh struk

 

So… kalo cerita spesifik soal produk Apple-nya sih, kebetulan aku emang bawa barang berikut box-box-nya di tas punggung. Jadi mungkin itungannya kayak barang sehari-hari kali ya.. Dan jumlahnya juga emang gak lebay. Untuk satu produk, misal iPhone 7+ baru, aku cuma paling bawa dua di tas. Kalo lagi bawa lebih dari itu, mending titipin temen aja yang lagi mau pulang juga. So far so good. Kalo ditambah Macbook sih, aku prefer boxnya masuk bagasi (karena males bawa box kaya gitu kemana-mana), dan Macbook-nya dibawa ke kabin. Kecuali kalo gak mau refund tax, ya bisa aja Macbook barunya langsung dimasukin ke koper bagasi. Asal jangan mencolok dan jangan lebay, tetep. Kan lumayan tuh.. satu iPhone 7+, pajaknya aja bisa seharga Rp.1,3 juta. Buat jajan baso.

Mmm.. terus apa lagi ya.. Untuk sekarang sih ingetnya cuma segitu. Aku tidak menyarankan ke-lebay-an dalam bawa barang, dan aku juga tetap mendukung orang-orang untuk ikut aturan. Setidaknya isi data imigrasi juga dengan baik dan benar. Kalo ada piha bea cukai yang kebetulan baca tulisan ini, well… mungkin nominal minimalnya bisa dikaji ulang, Pak. Di saat GDP kita sudah setingkat sekarang, saya tidak yakin banyak orang yang setuju bahwa >$250 sudah termasuk barang mewah. Dan tapi ini subjekif looh.. Peace, love, n gaul. Berapapun harga barangnya, jangan lupa jadikan aset produktif untuk menghasilkan yang lebih besar ya, teman-teman. Semangat!!

.

Tepat sehari sebelum demo “aksi damai” 212,

sambil inget-inget mau cerita apa lagi

 

[Update: Temen aku ada yang baca tulisan ini dan dia kasih komentar personal. Kebetulan dia adalah mahasiswa S2 di Adelaide :)) Katanya, bulan ini pas balik Indo, dia bakal bawa TUJUH produk Apple! Titipan orang semua, wkwkwk.. Tahun lalu pun dia bawa LIMA dan semuanya lancar-lancar aja tuh (asli, ceritanya kocak xD). Kayaknya pihak petugas Ostrali-nya sih gak ada masalah (atau malah seneng kita belanja banyak disana??). Kondisi barang beberapa udah unboxed, sebagian belum. Dan semuanya diklaim buat refund! Ha ha.. Pendapatan banget nih buat tambahan uang jajan mahasiswa! Dan tiba-tiba aku merasa cupu ~,~

 

PS: Oh iya! Untuk yang mau klaim barang agak banyak, biar ga terlalu repot pas di bandara, katanya bisa login dan isi data barang-barangnya dulu via website. Keliatannya sih ide bagus. Silakan dicoba. Dan kalo udah, jangan lupa cerita-cerita sama aku ya! ;D

 

Pengalaman Tarik Tunai BCA di Australia

img_0661

Numpang foto doang di ATM Commonwealth Bank, padahal cash out-nya mah bukan di mari :))

 

Haaaalooooo….!!!
Hai hai semuanyaaa..!! It’s been a long time since the last time I blogged. Banyak (banget) yang pengen di-share, tapi (as always) waktu dan mood-nya makin susah. Kayaknya emang mesti dijadwalin hari khusus deh kapan dalam seminggu harus nulis. Karena numpuk-numpuk ide tulisan juga sering bikin kepala penuh sesak. Maka mari sekarang kita mulai lagi dengan postingan simpel aja ya.. berbagi sedikit pengalaman pas awal November 2016 ini mesti tarik tunai pake kartu ATM BCA di Sydney, Australia. Well, sebenernya gak spesial-spesial banget sih… tapi ya sekalian jadi reminder sendiri juga aja.

Jadiiii‚Ķ ceritanya kemarin tu aku sempet kekurangan duit dollar AU gitu. Bukan karena stipend beasiswa kurang sih. Duit dari Australia Awards cukup banget. Apalagi yang di Sydney Uni ini, kami bahkan disiapin morning tea, lunch, dan afternoon tea selama program! Jadinya kayak gak perlu keluar banyak uang gitu buat biaya makan. Akomodasi di apartemen udah dibayarin semua juga. Udah gitu, hiburan-hiburan yang aku pengen di Sydney, eh taunya udah dimasukin ke social program sama mereka, kayak bridge climb di Harbour Bridge (yang biayanya sekitar $300!), terus visit Madame Tussaud dkk (+-$65), itu semua udah dibayarin kampus! Jadi kayak aku cuma harus keluar duit buat jajan lain-lain aja. Asik banget kan?? Sedikit bocoran, living allowance kami adalah senilai $82 per hari. Sempet ngitung-ngitung pengeluaran aku selama 2 minggu, eh ternyata aku cuma ngabisin $207! Yang berarti aku save $1092 dalam 14 hari saja! Ehehehe‚Ķ Tapiii‚Ķ berhubung mendadak ada kebutuhan beliin dulu temen ‚Äúsesuatu‚ÄĚ, aku jadi mesti nambah dollar deh minggu itu. Paling enak sih sebenernya minta tolong temen Indo yang juga di Sydney. Temen sekelas, misalnya. Kita transfer rupiah kita ke rekening Indo dia, dia ngasih kita dalam bentuk dollar. Kurs disesuaikan. Tapi berhubung kayaknya gak kondusif, belom ada yang segitu akrab juga (apalagi soal duit suka rempong), jadi mending ngurus sendiri saja lah~~

img_0245

Di USYD, stipend dikirim via kartu ini, yang sistemnya kayaknya one way transaction.

Nah.. kebetulan.. aku tu udah tutup kartu kredit sejak dua tahun yang lalu, dan rekening NAB (National Australian Bank) setahun lalu, dan lagi bawanya kartu ATM BCA doang (kartu jenis gold lebih persisnya). Jadi opsi pertama yang kepikiran adalah: ‚ÄúYa udah lah Han, langsung tarik tunai aja!‚ÄĚ. Tapi ketahan karena temen aku cerita beberapa hari sebelumnya dia tarik tunai pake kartu citibank dia, dan kursnya itu nggak banget! Rate umum di Indo, itu sekitar Rp.9500 ‚Äď Rp.10.000 kalo mau beli AU$1, eh tiba-tiba di Sydney jadi Rp.11.660 coba! Nggak banget kan?! Di luar biaya administrasi yaitu Rp.25ribu per transaksi. Kalo nominalnya dikit sih gak apa-apa. Nah ini masalahnya aku lagi mau narik ratusan dollar, bzzzz‚Ķ Makanya jadi mikir lah gimana cara nambah saldo dollar aku selain harus narik langsung di ATM.

Nah.. opsi ke-2 yang kepikiran adalah, aku mesti bikin akun dollar di rekening BCA Indo, remotely dari Aussie. Gimana caranya? Ya gak tau pasti juga. Makanya aku harus nelpon customer service buat nanyain. Googling, googling, googling, dapetlah no-nya CS BCA, termasuk gimana cara kalo nelponnya dari luar negeri. Katanya sih no-nya itu +621500888. And you know what?? Aku udah nyoba nelpon +621500888, +62500888, +62211500888, +6221500888, +62500888, semuanya, berkali-kali, AND NONE OF THEM WORKS!! GREAT!! Sampe kebuang waktu sekian puluh menit, akhirnya aku pikir mending nyoba nelpon kantor BCA biasa aja deh, dan taunya baru nyambung. Tapi masih mesin yang jawab, karyawan belum ada yang dateng, karena waktu itu emang jam 8 AM waktu Sydney, yang berarti jam 4 shubuh di Jakarta. So, aku mesti nunggu minimal 4 jam lagi sampe ada orang yang beneran bisa angkat telpon. Ya ampun.. untung pulsa aku banyak, hufft~

img_0048

Dibeliin sama kampus kartu Telstra seharga $40, call credit-nya kalo dirupiahin sekitar 7 juta! Yang sampe dipake nelpon internasional puluhan kali pun, sampe masa aktif abis tu pulsa masih $600 lebih. So useless~

Lalu akhirnya 4 jam berlalu lah. Aku telpon lagi deh kantor BCA di Jakarta itu. Ada yang ngangkat, tapi lamanyaaaaa bukan main. Udah gitu ternyata orangnya gak bisa langsung jawab pertanyaan aku, jadi dia ngasih nada tunggu melulu. Nanya lagi, nada tunggu lagi. Gitu aja terus sampe hampir setengah jam. Sampe akhirnya hape aku gak sengaja kepencet end-call, doh, jadi mesti nelpon lagi, eh dan ternyata pas telpon berikutnya, yang ngangkat udah beda orang, dan pertanyaannya jadi mesti diulang-ulang. Ampun dijeeehh~ Dengan endingya adalah mereka bilang, kalo aku mau nambah saldo valas (valuta asing), gak bisa langsung orang rumah aja setor ke bank dan masuk rekening aku, tapi aku yang mesti datang ke BCA dulu untuk buka rekening valas sambil bawa kartu ATM sama buku tabungan. (Lah piyeee??? Ini kan justru aku bilang lagi di Australia, mbakeeeeeeee…??!). Ampun dah. Akhirnya yaudah deh, karena butuhnya udah limit di hari itu, i have no choice, tarik tunai di ATM aja. Berharap rupiah lagi bagus di hari itu. *sigh

Nah, karena dulu pas di Flinders Uni semua orang dibikininnya rekening di NAB, aku tu jadinya punya persepsi ‚Äúwah, ini bank kayaknya student friendly‚ÄĚ. Makanya pas harus cash out, aku pikir, ‚Äúmending aku nyari ATM NAB terdekat aja deh‚ÄĚ. Yang begitu nemu, eh ternyata pas banget, ada logo Cirrus-nya! (karena di kartu BCA ini cuma ada logo Cirrus, gak ada Visa atau MasterCard). Bismillah dulu, dalam hati ‚Äúoke lah, mari kita cash out di NAB saja!!‚ÄĚ. Sambil sepenuh hati aku masukin kartu BCA aku, cet pencet pencet, aku masukin nominal dollar yang pengen ditarik, lalu tertampil di layar: biaya transaksi adalah $3, aku pencet deh OK. Ehhh langsung keluar tu dollar dari mesin! Busett, ternyata gak ada info kurs-nya dulu sama sekali ~,~ Langsung aku amanin duit-duit dollar itu ke tas, melipir lah aku sambil mikir ‚Äúsedollarnya tadi berapa ya ~,~‚ÄĚ

Begitu balik kampus, baru lah aku ngecek via klikbca. Ternyata eh ternyataa… alhamdulillah, YA ALLAH! Rate-nya Rp.9990!! Ahahahaha.. AHEY!!! Bahagia banget dah ternyata masih dapet <10ribu :))) ADM Rp.25ribu mah yaudah lah ya.. ikhlasin aja. Walaupun abis itu orang-orang bilang, katanya kalo Mandiri atau BNI rate-nya bakal lebih bagus. Yah.. bodo amat dah.. yang penting urusan yang ini udah kelaarrr!!! Heu..

img_8022-1

Penampakan duit Aussie

Eh tapi taunyaa.. 2 hari setelah itu aku ternyata butuh dollar lagi. Karena udah gak terlalu parno, aku jadi santai asal tarik aja di ATM lain. ‚ÄúToh kali ini cuma $50 lah‚ÄĚ, pikir waktu itu. Aku narik di ATM ANZ (masih pake kartu ATM BCA yang sama), dan ternyata sistem mereka emang sama-sama gak nampilin kurs di awal, jadi kita gak bisa punya pertimbangan dulu mau jadi narik apa nggak. Pas begitu pulang dan ngecek, kali ini ternyata rate-nya jadi Rp.10.316. Welll‚Ķ kayyy‚Ķ.

Sooo… dari pengalaman tersebut, kayaknya ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil, yaituuu:
1. Emang penting banget mastiin sejak di Indo soal kebutuhan dana kita selama di luar negeri. Karena bagaimanapun, rate valas di Indo pasti selalu lebih bagus. Wah, apalagi kalo perlunya nominal uang yang cukup besar. Beda berapa ratus aja lumayan, broh!
2. Kalo emang buat cadangan, sebisa mungkin bawa ATM rekening Indo dari bank yang rate-nya emang terkenal bersahabat. Katanya sih Panin Bank oke. Atau BNI juga boleh lah…
3. Kalo kasusnya pas kayak aku, cuma bawa BCA, pas mau cash out di Aussie, kalo pilihannya ada diantara NAB sama ANZ, mending pilihnya NAB aja. Bank nasional kayaknya emang lebih oke lah daripada yang internesyenel.
4. Mungkin layak dipertimbangkan untuk bikin rekening valas, selain rekening rupiah di bank yang sama. Sekian.

Naaahh… begitulah cerita aku kali iniii… Sebenernya poin aslinya cuma 4 biji itu doang sih, tapi curhatannya panjang banget :)))

Well.. aku doain semoga semua yang baca blog ini bisa pada dapet rejeki juga beasiswa ke Ostrali yaaa… Atau ya semoga kalian dananya selalu cukup lah saat lagi tinggal di luar negeri. Juga jangan lupa nabung dan investasi ya, teman-temaaannn…!!! Cup muah bye!!

.
Pagi dingin di pertengahan November 2016,

sambil langsung lanjut nulis postingan berikutnya \m/