5 Fakta Wadidaw Tentang Investasi Reksadana Yang Kamu Harus Tahu

photo6224451933658261562

Aku dan pilihan investasiku. #acieehh

Hai, semuanyaaa šŸ˜€

Sesuai judulnya, kali ini gw lagi mau share tentang hal-hal menarik tentang reksadana, baik untuk kamu yang belum familiar sama sekali, maupun kalian yang sudah cukup akrab dengan instrumen investasi yang satu ini. Alesannya simpel, karena kemarin, pas tanggal 10 Oktober 2018, gw berkesempatan untuk hadir di launching salah satu produk terkait reksadana yang menurut gw asyik banget, namanya INVISEE, dan akhirnya itu memunculkan keinginan gw untuk berbagi lebih lanjut. Walaupun untuk kalian yang follow gw di instagram sih, mestinya udah hapal lah kalau gw memang doyan ngomongin hal2 yang berbau duit, ehehehe…

Nah, kali ini, gw lagi mau fokus bahas tentang yang namanya reksadana. Apa aja sih 5 fakta yang kalian harus tahu? Ini dia:

1. Reksadana atau Mutual Funds adalah tipe investasi menengah, dalam tingkat risiko maupun potensi keuntungan.

investment_pyramid

risk VS return

Berinvestasi apapun bentuknya, pasti memiliki risiko, dan risiko itu akan selalu berbanding terbalik dengan hasil. Jika kalian masih belum bisa menentukan kalian pengambil risiko besar atau bukan, salah satu cara terbaiknya adalah mengambil peran di tengah-tengah, yaitu berinvestasi pada yang tingkat risiko dan keuntungannya menengah. Dan reksadana adalah pilihan tepat jika kalian masuk kategori ini.

 

2. Kenapa Tingkat Risiko dan Keuntungannya Bisa Menengah

mengenal-reksadana-6-638.jpg

Saat kalian memilih produk reksadana, proses yang sebenarnya yang dilakukan adalah memilih MI (Manajer Investasi) yang akan bertanggung jawab atas dana kalian. Peran MI sangat signifikan, terutama untuk para investor yang belum berpengalaman sebelumnya, atau tidak punya cukup waktu untuk mengatur investasinya. MI ini akan menyebar dana tersebut ke berbagai instrumen yang menurutnya potensial, dan biasanya dia melakukan diversifikasi risiko, artinya dia akan menyebar dana tersebut ke yang risikonya rendah maupun tinggi, sehingga secara rata-rata, potensi risiko dan keuntungannya menjadi menengah.

 

3. Memberikan Kenyamanan Dalam Pengelolaan

photo6226619032421902422

Tangan gw yang mana cobaa??

Sebagai investor, kita hanya perlu memantau hasilĀ  investasi kita, tanpa harus memikirkan analisis fundamental dan teknikal yang biasanya bikin pusing kepala.

 

4. Investasi Seharga Es Tong Tong

bf5d60a21137a0e5851f964d42082ab8

mba-nya gak hadir launching karena lagi mamam ecim di Kanada

Kalau orang bilang investasi itu harus punya dana nganggur yang banyak, berarti tu orang lumayan jadul šŸ˜€ Karena kenyataannya, zaman sekarang berinvestasi di reksadana tu bahkan bisa dimulai dari SEPULUH RIBU RUPIAH! Iya, kamu gak salah baca, Rp.10.000 saja! Hanya dengan nominal segitu, kita udah bisa menambah potensi kekayaan kita di masa depan. Ini bikin gw hepi banget, karena mestinya sih jadi lebih mudah juga untuk gw ngajakin temen-temen gw untuk berinvestasi, karena jumlah dana gak bisa lagi jadi halangan. Caranya: tinggal install INVISEE, dan kamu bisa langsung buktiin sendiri

 

5. Bisa Tambah Kaya Tanpa Kemana-Mana

Ha ha.. yang ini ihwaw banget ya. Tapi kenyataanya begitu loh. Sekarang, kalau kita mau investasi reksadana, udah gak perlu lagi tuh pergi ke bank atau lembaga sekuritas untuk bikin akun. Karena apa? Karena sekarang udah ada yang namanya reksadana online! \^,^/ Lagi-lagi, cukup install INVISEE dari App Store atau Play Store, kita udah bisa langsung daftar praktis dari handphone, tinggal isi data dan upload foto KTP. Asli, gampang banget! Kalau kalian kepo gimana sih tampilannya di hape, ini gw kasih kisi-kisinya:

 

Nah.. gimana menurut kalian? Makin yakin dan gak sabar kan untuk berinvestasi di reksadana? šŸ˜€ Kalau terkait INVISEE sendiri, kenapa akhirnya gw mention, karena setelah gw cobain, menurut gw pribadi, aplikasinya enak, lancar, dan gampang diikutin, selain juga dilihat dari orang-orang tim-nya yang gw temuin, mereka sangat helpful dan berorientasi sama konsumen. Jadi, kalau ada apa-apa, mereka pasti langsung gercep untuk mau bantu. Selain itu, perusahaan ini juga pastinya udah terdaftar di OJK, terjamin dan punya opsi saham-saham terbaikĀ  termasuk untuk investor pemula. Jadi yuk, tunggu apa lagi! Demi aku, demi kamu, #DemiNanti ^_^

NB: Untuk yang pengen pelajarin lebih lanjut, bisa cek video-video berikut:

Silakan pantengin juga halaman facebook dan instagram-nya kalau pengen dapet update, info, dan promo menarik.

See youuu!

 

Salam dari Jaksel yang lagi gerah,

Nulis sambil top up saldo di INVISEE gw sendiri X’D

Advertisements

David VS Goliath: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Buffering

photo6120654904965048342.jpg

 

Hi, long time no see. Kali ini adalah edisi iseng bett di tengah deadline ini itu. Hanya sebuah review buku. Silakan disimak saja :3

Ada yang udah baca Outliers? Atau Tipping Point? dari Malcolm Gladwell? Buku beken banget memang itu, tapi aku malah belum juga sih šŸ˜› Bukunya Gladwell yang pertama kali aku baca akhirnya malah yang ini: David & Goliath, Underdogs, Misfits, And The Art of Battling Giants. Setengah bagian pertama exciting, setengah terakhir.. so so šŸ˜¬ (tapi tetep #WorthToRead).

Yang ini pun sebenernya udah lama selesai dibaca, tapi poin-poin dari materinya masih sering aku pake untuk menyampaikan sesuatu ke orang. Dan mungkin ini juga bisa jadi insight lain untuk temen-temen. Apa itu? Ini dia:

 

1. Kisah David & Goliath.

Ini aslinya legenda sejuta umat, tapi (setelah ngobrol2 sana/i) ternyata banyak orang yang gak ngeh. Padahal kisah ini dasarnya ada di kitab-kitab suci juga, termasuk alkitab ibrani dan qurā€™an (kalo di qurā€™an namanya jadi Daud & Talut). Ceritanya adalah tentang pertarungan Goliath, si raksasa yang pake full body armor dan terkenal kuat, melawan Daud dari kaum seberang, masih keliatan muda, badannya kecil, bahkan pas bertarung, ngangkat pedang pun dia gak mau, karena tahu itu bakal bikin dia kewalahan. Semua orang udah pesimis lah lihat Daud. Goliath juga jd nantangin ā€œMaju sini lu!ā€, begitu kira2 :p

Nah, disinilah akhirnya kita diperkenalkan dengan konsep ā€œAdvantage of disadvantage & Disadvantage of advantageā€. Kelebihan2 dari Goliath, yaitu berbadan besar, pake peralatan logam banyak, dll, itu bisa jadi kelebihan, tapi juga bisa jadi kekurangan. Karena apa? Krn akhirnya itu malah bisa bikin dia jadi gak lincah bergerak, pandangan terbatas, dll. Makanya Goliath nantangin David maju. Bukan karena apa, tapi ya emang karena area serangan dia yang sebenarnya terbatas. Yang akhirnya itu dimanfaatkan oleh David. Ukuran dia yang kecil, malah bikin dia jadi lebih lincah. Dari awal David tahu, kalo bertarung biasa kayak di arena, jelas dia bakal kalah, makanya dia akhirnya lebih pilih pake strategi lempar batu dari jauh diketapel, yang akhirnya nancep di jidatnya Goliath, dan akhirnya bikin si raksasa ini tumbang. Setelah tumbang, akhirnya dihunus pedang, dan mati.

Nah.. konsep inilah yang akhirnya nancep juga di aku bahwa nyatanya semua hal itu bisa kita jadikan kelebihan, tergantung cara berpikir. Misal: kita punya UKM, mesti bersaing dengan perusahaan gede. Secara psikologis mungkin udah jiper duluan, tapi kalo dipikir2, skala kita yang kecil juga punya keuntungan, yaitu jadi lebih fleksibel dan adaptif untuk berubah, dibanding perusahan besar yang punya birokrasi dan gak bisa begitu aja ambil satu keputusan. Contoh lain yang paling nyata: keadaan ekonomi. Mungkin untuk orang yang kondisi ekonominya lemah, itu dianggap sebuah kekurangan, tapi padahal bisa juga dijadikan kelebihan. Kelebihannya apa? Orang susah itu (relatif) lebih tahan banting dan menghargai sesuatu. Klo orang kaya dari sononya? Begitu jadi orang susah, belum tentu mereka tahan, dan mereka pun jadi cenderung kurang menghargai uang atau fasilitas, karena ya dianggapnya biasa aja. Begitu. Jadi, apa kekuranganmu? Coba pikir lagi itu adalah kekurangan apa bisa jadi sebaliknya? ^^

 

2. Inverted U Curve (Kurva U terbalik).

Ini adalah konsep yang applicable juga dalam hidup, bahwa berbagai hal itu ada kurvanya, yang bentuknya seperti U terbalik (atau kalau di notasi matematik jadi kayak lambang irisan). Coba bayangkan kurva itu di kepala kalian, nah kalian pasti kan akan menemukan titik balik dari setiap kurva, dari yang asalnya naik jadi turun, atau kalo gampangnya kayak anti klimaks. Ini berlaku dalam banyak hal. Misal paling gampang: makan sate itu enak, tapi di satu titik, keenakan itu berubah jadi eneg. Atau, ngebesarin anak dalam keadaan berkecukupan itu enak, tapi di satu titik, ya si anak akan jadi keenakan dan kurang punya daya juang. Mislead yang banyak terjadi: nyekolahin anak di kelas eksklusif jumlah murid sedikit itu enak, tapi padahal gak juga. Terlalu banyak murid di satu kelas memang gak bagus, fokus guru terlalu terpecah dan tiap anak jadi kurang maksimal, tapi murid sedikit juga bisa bikin kumpul ide terbatas dan interaksi diantara mereka kurang hidup. Jadi tantangannya untuk kita adalah: gimana cara menemukan titik keseimbangan dalam berbagai hal, agar hasilnya bisa tetep maksimal, dan yang penting gak ada yang serba terlalu.

Demikian kira-kira yang aku petik dari buku ini. Outliers sama Tipping Point-nya masih ada di book list, semoga bisa segera dibaca dan kita bandingkan šŸ‘ŒšŸ¤“

 

Jakarta, September 2018,

di tengah-tengah sedih juga karena kantor batalin trip ke Argentina tiba-tiba

Kenapa Isu “Women in STEM” Selalu Menarik

_MG_0316

Kiri ke kanan: Ibu Linda Dwiyanti (Consumer Devices Sales Director, Microsoft Indonesia), mba Jezzie Setiawan (Founder & CEO GandengTangan.org), Ibu Deborah Intan (IT Director, Coca-Cola Amatil), aku, mba Hanifa Ambadar (CEO Female Daily Network), Ibu Gezang Putri (Group Head Network Design & Development, INDOSAT Oredoo), pimpinan Microsoft, mba Septa Mellina (Tech In Asia)

 

Biasanya isu ini ramai diperbincangkan di bulan April, yang identik dengan “bulan perempuan”, terutama karena ada Hari Kartini. Tapi aku nulis ini di bulan Mei, agak sedikit menyatakan bahwa, isu ini memang selalu menarik kapanpun pembahasannya.

Lumayan ter-trigger saat jadi salah satu pembicara di talkshow-nya Microsoft Indonesia, aku jadi pengen nulis beberapa poin terkait isu “Women in STEM” ini, terutama di Indonesia. Aku bukan sedang mau liputan kegiatan tempo lalu, karena kalau untuk itu, temen-temen bisa baca di media online seperti Femina, Cosmopolitan, CewekBanget, atau media-nya Microsoft sendiri, dll. Secara praktis, ringkasannya ada di situ. Tapi aku justru lagi pengen share poin-poin yang mungin terlewat dan bisa jadi bahan diskusi lanjutan untuk kita semua. Yaitu:

  1. Ambiguitas di “Women in STEM”

Atau lebih tepatnya mungkin over-generalisasi.

Setiap kali ngomongin “Women in STEM”, menurutku kalau mau lebih jelas, sebenarnya kita harus definisikan dulu “Women in STEM” mana yang dimaksud. Karena sejauh ini, sering bercampur antara women leader in technology industry dengan women engineer or scientist who really do the “dirty job” (technical, scientific, or systemmatical work). Bagaimanapun ini distinctive untuk kita melanjutkan ke bahasan selanjutnya.

Aku tahu beberapa CEO atau direktur perempuan di industri STEM yang basically mereka gak punya kemampuan teknis. They’re totally business persons. Main orientation = money/impact. Maka dari itu, bahasan-bahasan yang bisa didiskusikan dengan mereka adalah lebih ke bagaimana cara mencari talent dengan skill oke, dinamika bisnis teknologi terkini, menyeimbangkan kehidupan profesional dengan pribadi, dst. Sedangkan untuk perempuan-perempuan yang memang berkecimpung langsung dalam kegiatan “ilmiah”-nya, kita bisa menggali lebih dalam lagi hal-hal yang lebih teknis, tentang apakah suatu sistem sudah ramah perempuan, apa yang memotivasi untuk bisa terus update dengan riset terbaru, metoda apa yang berpotensi dikembangkan untuk menyelesaikan masalah di Indonesia, dll. Orientation = knowledge/applied technology.

Ya memang ada juga business women leader yang punya kemampuan teknis. Dan hal ini akan terkait ke poin berikutnya, yaitu…

2. Jalur KarirĀ 

Di banyak perusahaan, seorang engineer tidak dipersiapkan untuk jadi CTO (Chief Technology Officer), tapi malah dibelokkan menjadi analis atau project manager. Hal ini disebabkan karena banyak yang menganggap posisi tersebut lebih tinggi, padahal sebenarnya pindah jalur. Miskonsepsi lagi jika perempuan dianggap pasti lebih cocok di posisi tersebut. Padahal yang satu teknis, satunya lagi manajemen. Bagaimanapun, saat sudah menduduki kursi manajemen, topi insinyur harus digantung, dan role akan jadi sangat berbeda.

3. Pentingnya Women Business Leader in STEM

_MG_0293

Menyebutkan poin-poin sebelumnya, tidak artinya female engineers jauh lebih penting dibanding menempati posisi direktur di industri STEM. Kita tetap butuh perempuan-perempuan untuk menempati posisi strategis di perusahaan, karena perempuan lah yang paling mengerti betul kebutuhan perempuan di lingkungan kerja tersebut. Dan jika memiliki kekuatan/otoritas, kita akan mampu menyuarakan isu, membuat peraturan/kebijakan, dan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan atau akomodatif untuk semua gender.

4. Pentingnya Female Engineers

_MG_0250

Melihat fakta yang ada, kita juga membutuhkan lebih banyak female engineers yang punya kekuatan untuk mengubah sistem secara teknis agar lebih akomodatif untuk perempuan. Karena menurutku teknologi pun memiliki kecocokan psikologinya masing-masing. Contoh: Linux. Ambil sampel aku sendiri (haduh, permisi ya permisi :s). Sungguh, sejujurnya aku sendiri sangat tertarik pake Linux. Tapi menghadapi layar kosong dan cuma bisa berinteraksi dengan komputer pake command line itu kesan pertamanya cukup mengerikan. Terlalu banyak ketakutan yang bisa dengan gampang bikin kita mundur, atau mungkin maju, tapi sangat perlahan-lahan. Atau mungkin contoh lainnya: develop game. Jelas game perempuan beda jenisnya dengan laki-laki. Dan kalau developer game-nya adalah perempuan, mestinya ya game tersebut bisa lebih akomodatif juga.

piegraph6gender

Sumber: bit.ly/2IkCpZ0

 

5. Perbandingan Indonesia Dengan Amerika

_MG_0216

Kalau harus berkaca ke pusat teknologi dunia, Amerika, sebenarnya banyak yang harus kita syukuri terkait isu “Women in STEM” ini. Karena jika membahas tentang seksisme di dunia teknologi, di US jelas lebih parah daripada di Indonesia. Di sebagian negara maju lain pun, perempuan di lingkungan kerja mengalami kesenjangan bahkan dalam hal pendapatan untuk pekerjaan yang sama. (Contoh lain: di Australia) Perempuan bisa dibayar lebih rendah daripada laki-laki hanya karena dia perempuan. Sedangkan spesifik di industri STEM, bisa juga berkaca, salah satunya lewat buku Sheryl Sandberg (COO Facebook) yang berjudul Lean In (baca review-nya di sini), bahwa banyak kendala dan tantangan yang sekiranya di Indonesia tidak terjadi karena justru di negara kita lebih akomodatif (entah berapa kali aku udah nyebutin kata ini).

Isunya sekarang adalah, jumlah female engineers di Indonesia lebih banyak daripada di US. Tapi jumlah CTO Perempuan di sana kenapa bisa lebih banyak. Dan hipotesa sementara adalah terkait kultur. Jadi bukan traits yang inherent di perempuan, stereotip bahwa perempuan lebih gampang bosan, emosional, dll. Karena data menunjukkan, skill atau kapabilitas untuk satu role itu gender-less, siapapun bisa.

6. Isu Work-Life Balance

_MG_0234.JPG

Well… Ini adalah salah satu isu utama sebenarnya, bukan hanya di “Women in STEM”, tapi perempuan di lingkungan kerja pada umumnya. Aku sendiri kalau lihat direktur perempuan hebat, yang aku tanya pasti dua hal: cara mengatur perusahaan, dan cara me-manage keluarga sekaligus. Dan atas dilematika yang muncul, bahkan dari kalangan antar-perempuan sendiri, menurutku, jika kita ingin mengembangkan “Women in STEM”, kuncinya adalah: Stop mendikotomikan perempuan! :B Dikotomi ibu rumah tangga dan wanita karir hanya akan membuat kotak yang tidak perlu. Seolah-olah perempuan hanya bisa memilih salah satu dan mengorbankan yang lainnya. Ini sungguh sumber drama yang tidak penting. Belajarlah dari wanita-wanita hebat, maka akan kita temui para pemimpin perempuan yang simpatik yang juga sekaligus mereka adalah para ibu yang profesional.

(Kalau kata Bu Gezang dan Bu Deborah, tips-nya utamanya adalah: wajib cari pasangan hidup (suami) yang tepat :3)

7. Role Model

_MG_0276

Semakin banyaknya role model perempuan dalam industri STEM akan mempengaruhi perempuan-perempuan lain dalam melihat kesempatan yang ada. Bahwa banyak posisi yang bisa perempuan tempati, baik di teknis maupun strategis. Ditarik lebih jauh lagi ke pendidikan dasar, bidang-bidang keilmuan pun harus lebih banyak disosialisasikan agar masyarakat tahu sedini mungkin tentang cabang ilmu luas yang bisa dipelajari, profesi yang bisa dikejar, termasuk oleh anak perempuan.

Dan aku jadi inget video bagus dari Microsoft seperti berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=y5soEtBwH0YĀ (coba tonton deh >,<)

Akhir kata, kesimpulan aku sejauh ini adalah, masih sama dengan kesimpulan aku sewaktu pulang belajar dari Australia tentang gender study, bahwa perempuan dan laki-laki itu memang butuh treatment yang berbeda jika ingin sustain. Namun jika terkait urusan pekerjaan, sebagai perempuan, kita sendiri harus berani bersikap profesional dan menyatakan bahwa, “No, I’m not a female engineer. I am an engineer”.Ā 

 

5 Mei 2018,

Salam hangat dari Jakarta,

dari aku yang juga badannya masih hangat

 

 

PS:

  • Terima kasih kepada pihak Microsoft yang sudah memberi kesempatan hadir di acaranya
  • Hormat dan respek aku juga untuk Microsoft Indonesia yang mendukung “fleksibilitas kerja”, dan hal-hal lainnya yang akomodatif untuk perempuan berkarir di Microsoft
  • Catatan aku ini juga terinspirasi dari obrolan santai di halaman Facebook-ku bersama teman-teman. Jadi terima kasih untuk Pandu Sastrowadoyo, mas Sumyandityo Noor, dkk šŸ˜‰
  • Jangan lupa stay cool be awesome untuk semua “Women in STEM” di luar sana. Yoms! \m/

_MG_0308

 

Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding šŸ˜€

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! šŸ˜€

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera šŸ˜€

Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! šŸ˜€ Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

Cara Efektif Promosi di Media Sosial

photo 2

Thank God It’s Women Meetup! (Tapi ada yang nyempil :p)

Ā 

Well, untuk kalian yang kenal sama gw, mungkin tau kalo gw membuat sejenis business club khusus untuk perempuan, dimana gw dan tim berusaha menyediakan support system yang dibutuhkan buat para ciwi-ciwi ini menjalankan usahanya, termasuk pendanaan, mentorship, networking, dll. Karena masih belum resmi launching, anggotanya sih kebanyakan masih dari lingkungan teman, kenalan, dan kolega sendiri, berbasis di Bandung dan Jakarta. Untuk yang mau join, bisa colek gw via email aja untuk nanti gw undang di kegiatan-kegiatan selanjutnya. Karena sebenernya sih kumpul-kumpul offline-nya udah beberapa kali jalan, dan ternyata bisnis yang dijalanin perempuan itu emang seruuu banget! Haha.. Dari masalah kecil sampai tantangan besar selalu asik untuk dibahas. Dan kita jadi bisa sama-sama belajar dan saling support.

Nah.. ngomong-ngomong soal tantangan bisnis, satu waktu pernah juga ada yang nanya soal ā€œgimana sih Han, sebenernya cara efektif marketing di socmed?ā€ (sebut saja dia Mawar ^^). Dan ini adalah sekilas cuplikan obrolan kami:

Continue reading

Bertemu Pak Yanuar Nugroho

WhatsApp Image 2017-05-18 at 2.42.47 PM

Pak Yanuar Nugroho, Kepala Deputi II KSP (Kantor Staf Presiden)Ā RI

 

Saya ingat betul pertama kali “berkenalan” dengan Pak YN itu adalah tahun 2011, lewat postingan di blog-nya om Bukik, praktisi psikologi yang blog-nya senang saya kunjungi karena memang membahas berbagai hal menarik dari sudut pandang yang berbeda. Waktu itu bercerita tentang sosok Pak YN dari sisi yang lebih personal, dan kisahnya memang inspiratif. Thanks to twitter!, akhirnya saya pun jadi punya kesempatan berinteraksi langsung dengan Pak YN dan menyimak cuitan-cuitan beliau yang insightful, baik tentang kehidupannya sebagai researcher di Inggris, berbagai info menarik, dan pandangannya tentang Indonesia. (Jujur, ini salah satu yang masih bikin saya heran, kenapa banyak orang suka lock akun twitter-nya, karena kalau dimanfaatkan dengan betul, bisa buka banyak sekali kesempatan)

Mungkin Pak YN juga tidak sadar kalimat-kalimat sederhananya bisa berdampak bagi saya. Salah satunya adalah bahwa tulisan-tulisannya yang akhirnya dulu menyelamatkan beliau ntuk mendapatkan kesempatan membantu seorang profesor di Manchester. Waktu itu saya jadi makin yakin bahwa menulis itu penting, karena orang-orang di luar (sepertinya) lebih menghargai orang-orang yang bisa menulis. Mungkin karena dianggap berkontribusi kepada masyarakat melalui buah pikiran? Bisa jadi. Yang jelas, saya juga jadi semangat untuk tidak pernah berhenti belajar menulis. (Anw, Pak YN juga bahkan sampai sekarang, selain tulisan ilmiah, kadang-kadang masih ngeblog loh)

Waktu berlalu, saya masih sesekali menyimak berita-beritanya, salah satu risetnya juga tentang dinamika masyarakat dan media (menarik karena background formil Bapak adalah teknik), lalu tak disangka ternyata tiba-tiba berpapasan jalan di KSP. Beliau yang ternyata sekarang sudah menjadi Kepala di Deputi II, sejujurnya juga jadi salah satu excitement tersendiri untuk saya masuk institusi ini. Kesibukannya tentu jauh lebih ekstrim sehingga kesempatan bertemu pun ya hanya jika beruntung saja. Apalagi karena memang ternyata tim saya ada di Deputi I dan operasionalnya dilaksanakan di gedung yang berbeda.

Akhir kata, saya pikir tahapan karir sekarang bukan persis yang dicita-citakan dan direncanakan matang oleh beliau dari dulu (karena toh KSP juga ada karena bentukan presiden periode ini) dan beliau masih sangat memiliki jiwa sebagai seorang peneliti, walau memang konsentrasinya banyak konvergen di kebijakan publik. Poinnya, saya juga jadi terbayang saya tidak tahu persis akan jadi apa saya 10-15 tahun lagi. Tapi ya semoga seperti Pak YN, ilmu dan kepeduliannya bisa disalurkan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat banyak. Semoga.

 

Siang hari di kota Jakarta,

sambil menyusunĀ notulensi dari Forum Komunikasi Publik untuk Rancangan Perpres kemarin >,<

 

PS: Public speaking-nya Bapak juga ternyata bagus loh. Worth to learn.

#BookReview Your Name Is Olga – A Compassionate Book About a Down’s Syndrome Girl

5102KY8eDhL._SX314_BO1,204,203,200_

Rate: 7/10

Judul aslinya “El Teu Nom Ć©s Olga” terbitan Spanyol. Aku dapet versi bahasa Inggrisnya di toko buku loak langganan waktu di Bandung. Isinya adalah kumpulan surat seorang ayah untuk anak perempuannya yang terlahir Down Sydnrome, yang diberi nama Olga.

Awal terbit, tahun 1989, setelah putrinya itu pun berusia 28 tahun, adalah masa dimana hal-hal seperti ini masih belum diterima dengan baik oleh para orang tua, informasi masih sangat terbatas, sehingga buku ini bisa jadi sangat menyentuh untuk banyak orang.

Alih-alih malu dan mengucilkan anaknya sendiri, beruntungnya Olga, dia punya kedua orang tua yang suportif, terus berusaha agar anaknya bisa tetap tumbuh cerdas dan bahagia, sambil belajar banyak tentang kehidupan melalui hari-hari yang mereka lewati, yang akhirnya dicurahkan dalam setiap surat yang ditulis sang ayah.

Penyebab Down Syndrome sendiri adalah karena kelebihan kromosom sehingga terjadi kelainan. Tidak melulu keturunan, tapi bisa juga karena berbagai faktor lain. “Menarik bukan, Olga? Karena kelebihan adalah yang justru menjadi sumber kekuranganmu”. Probabilitas terjadinya kelainan ini di dunia adalah sekitar 1:1000. Dan yang menarik di kisah ini adalah, orang tuanya tidak lantas mengetes diri mereka berdua karena tidak ingin bertendesi mencari tahu siapa salah satu yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan lalu memiiki rasa menyalahkan atas keadaan. Mereka justru lebih memilih untuk menerima dan berjanji untuk bekerjasama membesarkan putrinya itu.

Saat membaca, aku jadi terbayang bagaimana rasanya para calon orang tua yang sedang menunggu kelahiran anak mereka. Pantas saja jika ada masa dimana sudah tidak terlalu peduli lagi apa jenis kelamin sang jabang bayi, laki-laki atau perempuan, karena yang jauh lebih penting adalah bisa terlahir “sempurna” dan sehat seperti selayaknya.

 

Salam hangat dari Jakarta,

karenaĀ di tengah kesibukan pun harus tetap terusĀ membaca

 

NB: Walaupun bukunya bisa dibilang cukup “tipis”, tapi aku post ini karenaĀ udah janji sama diri sendiri untuk sebisa mungkin review dan nulisĀ soal buku-buku yang udah dibaca, biar gak lantas lupa tapi sedikit-sedikit bisa tetepĀ inget. Cobain deh! šŸ™‚

See my other book reviews and friend me on:Ā https://www.goodreads.com/haniwww

Hal-Hal Random Tentang Tokyo Yang Kamu Harus Tahu (Dan Cara Ke Jepang Gratis!)

tokyo_6492

Hello, Japan!

Haha..
Kalo kalian kerap kali baca blog aku, pasti nyadar bahwa banyak tulisan aku yang judulnya “Hal-Hal Random”: Hal-hal random tentang Adelaide, hal-hal randomĀ tentang bisnis, tentang kehidupan sehari-hari, yang bahkan ada sekuelnya, berseri dari #1 sampe ke #sekian. Karena kenyataannya, emang aku suka merhatiin hal-hal yang kayaknya sepele, tapi karena banyak, jadi pengen dikompilasiin aja dan ditulis biar gak lupa (selain otaknya juga emang suka random). Dan sekarang adalah gilirannya ngomongin hal-hal random tentang Tokyo, ibukota Jepang! šŸ˜€

Jepang sendiri aslinya adalah salah satu negara impian aku dari kecil, selain Inggris (yang sampe sekarang masih belom kesampean dikunjungin, hiks). Ya you know lah.. karena kita banyak nonton anime dan baca komik Jepang, yang bikin ni negara rasanya udah akraaabb banget. Negara yang maju keren secara teknologi, tapi tetep mengakar dan lestari budayanya, beuuhhh, Jepang banget! Segala aktivitas dan wisatanya pun bahkan kita kayak udah hafal gitu, ya ikebana lah, origami lah, tradisi minum teh, sampe budaya mandi bareng di onsen, hihi…

Kelihatannya sihh, segala aktivitas itu kayaknya akan sangat jauh lebih nikmatĀ lagi kalo sedangĀ wisata ke Jepang, atau emang beneran punya kesempatan tinggal lama di sana. Sedangkan aku, yang ke Jepang untuk urusan kerjaan, bagian terbaiknya adalah, ngamatin gimana orang-orang di negara ini. Dan well, default kepribadian mereka tetap akan bikin kita ngerasa wow sama Nippon.

 

1. Berbisnis dengan Jepang

dsc_0281

Di MONO, salah satu pusat teknologi.di Tokyo

Bahasan tentang poin ini akan sangat panjang, makanya akan aku tulis di postingan berikutnya, lengkap dengan gimana cara aku bisa bantu kalian yang ingin mengembangkan bisnis ke negeri sakura. Tapi yang jelas, dalam berbisnis, orang Jepang memang sangat based on trust, personal attachment orĀ reference, akan lebih bagus kalo kita punya mutual relation sama mereka. Mungkin pernah sekolah di Jepang, kenal sama pihak Jepang, punya hubungan baik dengan sosok tertentu, itu bisa di-share untuk menimbulkan kepercayaan. Kalo itu bisa diwujudkan, apalagi nihongo kita lumayan, mereka akan sangat kooperatif, dan loyalitas orang Jepang itu sangat tinggi. Sekali kerjasama dengan kita, mereka akan stay ke kita. Dan dari segi bisnis, ini sangat bagus, karena masyarakatnya juga termasuk big spender, asal kita mawas aja, jangan sampe melenceng, atau mungkin mengecewakan, karena standar mereka tinggi dan toleransi sama kesalahannya agak minim, hehe.. Jadi harus lebih serius dan presisi.

 

2. Gak ada tempat sampah!

img_2801
Gila, percaya gak sih, dari bandara sampe hotel aku di Hamamatsucho, aku hampir gak liat tempat sampah sama sekali. Susahnya minta ampun. Tapi orang-orang gak pada nyampah, men! Semuanya tetep bersih aja gitu. Pas aku tanyain sama orang setempat, ada yang bilang sih mereka sempetĀ parno sama kejadian bom yang pernah ditaro di tempat sampah, yang hasilnya yaudah, sampah diurus sendiri aja sampe kalo ada tukang sampah dateng. Whatt??! Tapi tetep bersihhh.

 

3. Budaya ngantrinya, juara dunia!

13510838_10157143132600078_2722866177227354191_n

Panjang betull

Ini pas mereka ngantri di elevator stasiun sampe sepanjang itu. Kalo liat sendiri, pasti bikin ngerasa “HOW AMAZING JAPAAN!!”. Karena menurut aku, ngantri itu bukan cuma sekedar menunjukkan aktivitas, tapi juga refleksi kualitas para manusianya yang kompleks. Emejing! *bow

 

4. Doyan amat sama karaoke

img_2795

Salah satu jalanan yang ada gedung2 Big Echo yang warna merah itu loh.

Di satu baris jalan aja, aku bisa nemuin lebih dari satu gedung BIG ECHO tempat orang karaoke. Doyan amat yak. Agak relatif murah juga kayaknya tarifnya buat mereka. Satu gedung aja buat aku kegedean o.O

 

5. Same Guys Anywhere

dsc_0306
Sering berada di tengah para pekerja kantoran Tokyo, aku malah semakin ngerasa mereka semua keliatan sama. Kenapa? Karena pakaiannya agak default, rapih necis celana kain dan kemeja plus jas item, itu aja udah seragaman. Biar gak ribet kali ya. Kayak Mark Zuckerberg atau Steve Jobs yang bajunya itu-itu aja.

 

6. Vending Machine

13483065_10206808139297654_3351217060216193635_o

Beberapa ratus yen per botol.

Yah.. terbukti, seperti yang orang-orang bilang, Japan is the country of vending machines. Tiap berapa meter selalu ada vending machine, dan yang dijual macem-macem banget, dari cemilan sampe daleman, semua ada. Tinggal siapin duitnya aja deh udah.

 

7. Ukuran rumah dan toilet.

dsc_0362

“JAPAN”. Gambarimashou!

Selain emang harga tanah mahal (banget), kayaknya mindset mereka juga emang fokus ke fungsionalitas. Rumah gak usah gede-gede amat, mending compact dan jelas efektif. Tapi yang pastinya, teknologi harus terdepan doongg.. termasuk di toilet! Untuk transportasi, moda pribadi lebih banyak yang milih pake sepeda, karena katanya yang naik mobil itu orang kampung ^^

dsc_0201

Hadiahnya kopi aja.

Nyambung ke soal fungsionalitas ruang, kalo ngasih oleh-oleh ke orang Jepang jugaĀ jadinya mending jangan barang-barang yang bakal makan tempat, kayak hiasan meja, hiasan dinding, kipas batik, wayang, atau apa lah. Mending kasih yang beneran berguna atau bisa dikonsumsi aja, kayak kopi Indonesia misalnya šŸ™‚

 

8. Temuin hal-hal yang asalnya cuma diliat di Youtube!

Aku gak inget tahun kapan aku nonton video soal sistem underground bike parking di Jepang, yang menurut aku keren banget. Dan pada saat hal-hal kayak gitu beneran ditemuin, rasanya kok senengg banget gitu loh. “Eh, ini kan yang waktu itu aku tonton! Haha XD”.

 

9. Tokyo gitu lowhh!!

13528191_10206818373153494_6826805267364467797_o

Little Liberty

Bener kata temen aku, bahkan liat orang lalu lalang di Jepang pun rasanya udah sesuatu. Apalagi di Tokyo. Itu persimpangannya aja Shibuya kan sampe beken banget gituĀ XD padahal cuma tempat orang nyebrang, yang aslinya sih gak selalu rame banget juga. Dan khusus soal enaknya di Tokyo adalah, banyak banget spot yang terkenalnya, jadi keliling kota pun kita udah bisa eksplor banyak. Di Shibuya ada patung Hatchiko. Terus bisa liat Gundam, ke kuil Asakusa, belanja di Ginza, jalan-jalan ke Harajuku, liat SkyTree, Tokyo Tower, foto di patung Liberty-nya Odaiba, main ke Akihabara, terus nongkrong di Cafe AKB48, ah banyak deh.

dsc_0547

Oi! Oi! Oi!

 

10. Sewa Wifi

Ini beneran hal random aja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Tokyo, itu di bandara banyak yang nyewain alat hotspot wifi, jauh lebih murah dibanding ganti kartu SIM sana, apalagi kalo kita gak sendiri, jatohnya lebih hemat untuk ramean. Tapiii.. transaksi harus pake kartu kredit, gak bisa cash sama sekali. So please prepare your credit card.

 

11. Yang Bisa Pake CC

Jadi inget soal kartu kredit, di Tokyo akan lebih aman deh emang pokoknya kalo punya CC. Kalo tiba-tiba handphone rusak pun, kalian bisa sewa smartphone di salah satu tokonya Softbank, dan lagi-lagi sewanya harus pake CC. Balikin hapenya sih bahkan bisa ntar aja ngasih orang mereka di bandara pas kita mau pulang Indo.

 

12. Hape Jepang

dsc_0529

Pas di toko hape sekon.

Bahas soal smartphone, kayaknya setiap aku di dalem kereta di Tokyo, aku juga perhatiin hape orang-orang mayoritas pada pake iPhone (dikit yang pake hape asli Jepang). Gak mau pada pake produk Korea karena urusan histori kali ya? v^_^

 

13. Basic Japanese will be useful

DSC_0118.JPG

With my Japanese friends from tech startup every2nd, like airbnb for toilets. Yes, toilet!

Nah ini nih, sejujurnya kalo mau survive lama di sini sih, bisa bahasa Jepang itu kayaknya penting lah. Karena keinget pertama kali aku ke Jepang. Jadi ceritanya.. aku kan lagi naik kereta, terus ada pengumuman was wes wos, lalu di stasiun berikutnya temen aku tiba-tiba bilang kami harus turun dan ganti kereta, padahal yang aku tahu kami belum nyampe. Lalu temen aku ngasih tau, “Han, pengumuman tadi tu ngabarin kalo kereta ini akan ganti jalur. Jadi kita harus pindah ke kereta yang lain”. So, can you imagine me?? I was like, “Whatt??…. Dude, seriously, if you don’t tell me, I will never know”. Belum lagi kalo lagi nyari makan, dan tempat makanannya tertutup gitu, gak keliatan dia di dalem jualan apa. Sedangkan di luar cuma ada kumpulan tulisan Jepang yang kita ngeliatnya cuma kayak cacing goyang-goyang. Tiap kalo udah begitu, pastiĀ ujung-ujungnya cuma beli onigiri dkk di convenience store :))

dsc_0418

Asakusa Temple + Tokyo Skytree Tower in a frame.

 

Ahh.. tapi pokoknya Jepang selalu ngangenin banget deh! Dan aku pengeennn banget untuk yang berikutnya aku bisa murni liburan gituu, tapi yang disponsorin juga, haha >,< #ngarep. Dann.. pokoknya jelas harus ngunjungin kota-kota yang lain! Osaka, Kyoto, Kobe, Shizuoka, Sapporo, semuwah! Masa aku cuma di Tokyo sama Yokohama doang šŸ˜

Apalagi sekarang aku udah dapet info dan familiar sama HIS Travel Indonesia, ekspert travel yang holistik banget servis-nya, dari booking flight + hotel, ngurusin activities, bisa atur sewa mobil juga, dan bisa bantu sewa wifi! (penting deh ni pokoknya, apalagi buat yang gak megang CC). Pengeenn banget bisa ke Jepang pas festival musim semi, nikmatin indahnya semerbak bunga sakura, beuuhhh!!! Semoga HAnavi mau ngajakin aku :”D

amazing-sakura-01

#HISAmazingSakura

Dan anywayyy.. katanya sihhh.. mereka sekarang lagi ngadain lomba blog untuk yang mau dapetin paket wisata persis pas musim sakura itu loohh! Wow >,< Pas lagi mahal-mahalnya tuh. Tinggal cek ke linkĀ iniĀ dan ikutin langkah per langkah yang ada disitu. Ikutan ahh XD

Pokoknya, aku yakin Jepang akan selalu jadi tempat yang sangat berkesan untuk siapapun. Dann didoain semoga yang baca blog ini semua punya kesempatan juga untuk ngerasain sendiri main ke sana. Ganbattee!! \^,^/

 

Malem hari sambil dengerin lagu Utada Hikaru,

jadi inget pastry-nya Jepang yang enak banget juga

 

Baca juga: Opini Tentang Makanan Halal

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googlingĀ lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated masterā€™s. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience ā€” consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cekĀ kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihatĀ disiniĀ (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber:Ā micromasters.mit.edu