Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googling lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated master’s. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience — consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cek kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihat disini (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber: micromasters.mit.edu

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

 

I start writing this exactly in the new year eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate new year, beside we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must being screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m kinda person who live with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck in a certain of age. Maybe that what makes me not so excited about welcoming new year, and feel bitter instead. For me, get older means enter life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for their new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainments. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, human just live in the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 with not so desperately. At least, there are still remarkable things happened throughout the year: I won competition, traveled, did business trip abroad, and got a scholarship in a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. In contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matter, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I ever asked a friend, ” Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he cant accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. lets get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual (MY SAVIOR!!)

However in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m really worrying. Single thing I know is, I’m still living.

 

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago….. a mosque

Tentang Ibu, Mayat, dan Ilmu

ibu Hani

Ibu yang cantik, dan Hani yang jauh lebih mirip bapak.

Nyatanya inspirasi emang bisa dateng dari mana aja. Termasuk dari obrolan ringan sehari-hari. Kemarin waktu lagi ngobrol sama Shofi, temen geng Jalan Radio, dari yang awalnya ngehibur temen lain yang lagi patah hati, tiba-tiba bahasan kami jadi tentang orang kesurupan, mati, dan akhirnya mayat. Singkat cerita, di tengah-tengah obrolan, Hani sempet bilang, “Eh, ibu aku di pengajian termasuk tim jenazah loh.. di-amal sholeh-in (dimintain tolong) sama pengurus mesjid untuk jadi anggota timnya. Makanya kalo ada yang meninggal, apalagi perempuan, ya mesti pada langsung dateng ke rumah”. “Wah, bagus tuh, mba Han. Aku juga pengen belajar fiqih gitu”, kata Shofi. “Iya sih. Ibu tuh waktu ditunjuk jadi tim, eh ya ampun, beberapa hari kemudian langsung ada ibu-ibu temen ngajinya yang meninggal.. jadi langsung praktek deh”. Terus Hani jadi inget, “Cuman yang gak kebayang tuh tahun kemaren. Nenek aku kan meninggal tuh, terus ibu sendiri yang mandiin nenek. Aku sih gak kebayang aja gimana rasanya mandiin jenazah ibu sendiri”. Waktu itu aku kebayangnya ibu ngerjain itu ya karena ibu anggota tim dan ibu lebih mengerti ilmunya dibanding saudara-saudara yang lain. Sampe akhirnya Shofi nanya, “Loh.. emang mba Hani, kalo ibunya nanti meninggal, gak akan mandiin?”. Hah? Mmm… belum pernah kebayang sih. Tapi mungkin yang lain. “Ya ampun.. harus keluarganya lah…”. Dan akhirnya penjelasan Shofi membuat si Hani ngeh dan sadar bahwa ini termasuk hal yang harus dipersiapkan;

“Yang namanya orang mandiin jenazah, kita membersihkan seluruh fisik dan menghilangkan segala kotoran yang menempel, dan kita gak pernah tau gimana keadaan jenazahnya saat itu. Bayangin kalo ibu kita dimandiin sama orang lain, yang mungkin emang mahrom juga tapi bukan keluarganya. Kalo ternyata ada tanda-tanda di badan jenazah, gimana? Atau ada kondisi-kondisi yang kurang baik? Orang lain bisa aja jadi berasumsi, wah meninggalnya begini, meninggalnya begitu. Kita juga gak pernah tau, mungkin nanti mereka cerita ke orang lagi, dan bisa jadi omongan yang kurang bagus. Tapi kalo keluarga? Bagaimanapun dia ibu kita. Kita harusnya lebih tau, dan akan lebih mengerti. Seumpama pun ada suatu kejelekan kecil atau apapun, kita pasti akan berusaha menutupi kekurangan keluarga dan menjaga nama baik keluarga kita. Harus kita yang tau, harus kita yang melakukan. Dan ini juga akan jadi bakti terakhir kita sama orang tua, bakti kita sebagai anak, bakti kita sampai di akhir hayat mereka.”. Masya Allah, semoga kita semua dijadikan anak-anak yang baik. Dan Hani cuma bisa bilang pelan sambil ngangguk, “iya juga…”.

Sejatinya meninggalnya orang tua mungkin termasuk hal yang susah kebayang sama kita, atau kita emang lebih milih gak ngebayangin. Dan ternyata ini adalah hal yang selayaknya kita pikirkan, dan persiapkan untuk dilakukan. Mau gak mau waktunya akan tiba. Dan saat itu datang, demi jadi anak baik yang berbakti, semestinya kita juga sudah harus siap. Artinya apa? Kita sudah harus punya ilmunya, harus tau segala ketentuannya, dari yang biasanya menyerahkan pekerjaan ke tim jenazah setempat. Hukumnya mengurus jenazah mungkin memang fardhu kifayah, tapi sebenarnya hukum mencari ilmunya itu fardhu ‘ain, alias wajib. Bahkan jika di suatu wilayah tidak ada yang bisa mengerjakan, maka bisa jadi terkena dosalah seluruh jamaah yang ada di wilayah itu. Kalo di pengajian, itu bahkan ada materi khusus sendiri, kumpulan banyak hadistnya yaitu kitabu jana’iz. Insya Allah setelah ini Hani niatkan untuk pelajari lebih baik lagi…

*deep breath

Lalu pikiran pun melayang jadi ngebayangin ibu yang ada di rumah. Hani makin salut dan bangga sama ibu. Walaupun Hani lebih “anak bapak”, tapi Hani juga sayang banget sama ibu. Hani yakin, kalo orang-orang tau betul bagaimana ibu, mereka juga akan punya kekaguman yang sama. Semoga masih lama waktunya sampai Hani harus melakukan ini, Bu. Semoga Ibu sehat selalu sampe bisa nemenin anak-anak Hani nanti. Semoga Hani bisa jadi anak baik yang gak nyusahin hati Ibu.. dan hidup di agama yang diridhoi Allah seperti yang selalu Ibu teladankan. Di kesempatan lain mungkin Hani akan lebih sanggup nulis tentang ini.

 

Jakarta, Jum’ah barokah 2016

jadi pengen buru-buru langsung pulang ke rumah ibu

 

TIPS AGAR PRODUKTIF (ala Hani)

Busy copy

aku tertohok xD

 

Kenapa ala Hani? Ya karena best practices ini berlaku dan efektif untuk aku, tapi belum tentu efektif untuk orang lain. Yang jelas kita hidup di era digital media dimana kita selalu dibombardir oleh informasi dan (lets say) tuntutan eksistensi, padahal semakin kita sadar, semakin kita mengerti bahwa definisi sibuk dan produktif itu sangat berbeda. Apapun role kita, pekerjaan kita, banyak dari kita yang terjebak dalam salah satu paradoks hidup, yaitu semakin banyak alat untuk mengefektifkan waktu, tapi kita malah merasa semakin tidak punya banyak waktu. Selain karena sekalangan orang memang memiliki kesulitan untuk menentukan prioritas. Padahal, merasa produktif dan mencapai sesuatu juga termasuk faktor penting yang menentukan untuk orang merasa senang dengan dirinya, dan mengurangi kegelisahan karena setidaknya dia tahu bahwa dia tetap mengalami progress.

So, langsung aja, ini dia beberapa tips-nya:

1. Jangan Bikin To-Do-List

“Hah? Serius, Han? Jangan bikin to-do-list?”.
“Iya. Jangan bikin to-do-list”.

Atau lebih tepatnya adalah JANGAN CUMA bikin to-do-list. To-do-list is good, dan merupakan langkah awal bahwa kita tahu persis apa aja yang harus dikerjakan secara detail. Tapi yang lebih penting lagi setelahnya adalah bikin SCHEDULING dari semua to-do-list itu. Kita pos-pos-kan setiap “task & goal” yang kita punya ke setiap hari yang ada dan tentukan kapan itu harus dikerjakan SAMPAI SELESAI. Unless your to-do-list will always be just a list. Kalo cuma liat list, kita hanya akan selalu ngerasa bahwa kerjaan kita super banyak (dan mungkin memang akan selalu begitu). Tapi kalo cuma diliatin atau dikerjain tanpa bikin goal dan scheduling, bisa jadi kita loncat-loncat dari task yang satu ke task yang lain, tanpa bener-bener fokus dan beresnya bisa entah kapan, yang akhirnya ngerasa selalu sibuk, tapi sibuk yang karena memang gak teratur. Terutamanya ya untuk pekerjaan-pekerjaan mandiri dimana gak ada orang lain yang selalu nagih kerjaan kecuali kita sadar bahwa ini harus dikerjakan sampai selesai. So, scheduling is a must!

2. Hindari Buka Email Pagi Hari

Kecuali kamu orang superrrrrrr penting yang harus selalu buka email kapanpun, bener-bener gak bisa nunda sama sekali, karena kalo telat buka email bisa hilang ratusan juta, hindari buka email pagi-pagi di awal kita memulai hari. Kenapa? Karena kita asumsikan aja kita udah punya to-do-list untuk hari itu dan apa aja yang harus selesai di akhir hari. Dengan buka email pagi-pagi, bisa jadi banyak yang akhirnya mengarahkan kita untuk mengerjakan yang lain-lain dulu, yang kadang urgensinya kurang, tapi akhirnya menyita waktu dan mendistraksi kita dari yang seharusnya dikerjakan dan sudah ditargetkan. Time waits for no one. Dan ini terkait juga dengan alasan atau tips berikutnya…

3. Pahami Jadwal Kemampuan Otak

Alasan lain kenapa aku gak menyarankan buka email pagi-pagi, adalah karena aku baca dan mengamini tentang jadwal kemampuan otak mayoritas orang. Yaitu bahwa di pagi hari otak kita bisa berada di tingkat optimal. Artinya, ini waktu yang bagus kalo kita mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang cukup sulit, butuh konsentrasi tinggi, dan pemikiran penuh. Otak kita sedang bisa untuk diajak bekerja keras, maka mulailah dengan yang paling susah. So, aku sih sayang banget kalo waktu yang bagus ini cuma dipake untuk sorting email atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di sesi waktu yang lain.
Nah, ketika beranjak siang, kadang otaknya sudah agak mengendur. Biasanya sih aku nyari tempat beraktifitas dimana aku bisa berada di tengah orang-orang, merasakan dinamika orang lain mengerjakan kegiatan mereka, dan ikut sibuk bersamanya. Energi yang ada dari orang-orang bisa mendorong kita untuk tetap bergerak dan produktif.
Kalo udah agak malem, baru deh, otak kita memang relatif lebih rileks, jadi kita bisa mengerjakan hal-hal yang lebih santai. Mungkin masih bisa meeting, cek dan bales email (nah, ini waktunya), rancang schedule untuk hari-hari berikutnya, baca buku, sekilas buka social media, dan lain-lain sisa dari daftar kegiatan. Emang sih banyak juga dari kita yang “ON”-nya kalo udah larut malem. Pastikan aja gak terlalu sampe pagi, karena bayar hutang dari tidur minim biasanya malah jadi berkali lipat waktunya dan badan jadi gak terlalu fresh, yang akhirnya secara jangka panjang belum tentu bisa lebih produktif.
(Atau mungkin kalian punya karakteristik waktu fokus yang berbeda? Share with me!)

4. Focus On Deeper Things

Menulis twit dan menulis blog (atau lebih ekstrimnya; menulis buku) itu sama-sama kegiatan menulis. Membaca artikel berita dan membaca buku juga sama-sama kegiatan membaca. Lalu apa bedanya? Dalam satu hari mungkin kita bisa baca belasan artikel berita tentang tema yang berbeda. Tapi dibanding menyelesaikan satu buku tebal, kira-kira efeknya bagaimana? Atau lebih merasa produktif mana kita antara saat menulis twit dan menulis buku?
Buat aku, jelas menulis tulisan panjang dan menyelesaikan satu buku jauh lebih produktif (selain bisa update akun Goodreads, hehe..), dan di antara semua itu yang membedakan adalah karena salah satunya membutuhkan deeper thinking dibanding yang lain. Dalam semua yang kita kerjakan, selalu ada hal-hal yang membutuhkan fokus lebih, kerja lebih, usaha lebih, dan juga waktu yang lebih lama. Proyek serius dan besar pasti membutuhkan perencanaan matang, kerja maksimal, disiplin tinggi, tahan banting, yang pasti dibarengi juga oleh deeper thinking. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita mulai juga begitu. Secara hasil, deeper things ini jauh lebih membuat kita merasa sudah accomplish sesuatu, lebih membuat kita naik level dibanding sebelumnya, karena memang ada proses lebih yang harus dilewati. Hasilnya, bisa membuat kita juga lebih produktif. So, focus on deeper things menurut aku powerful untuk yang bener-bener pengen ngerasa produktif secara komprehensif.

Nah.. gimana?

Sekian untuk kali ini. Semoga ada yang bisa dijadikan catatan. Sekali lagi, ini ala Hani. Tiap orang pasti beda-beda caranya, apa yang paling cocok untuk dikerjakan. Ada beberapa tips lain juga, tapi sayangnya diri sendiri aja susah untuk praktek, haha.. jadi… terima kasih sudah membaca blog ini. Setidaknya menulis postingan ini juga membuat aku merasa lebih produktif ^^

 

malam, Jakarta, 23 Juli 2016

di saat internet mati dan gak ada camilan sama sekali

 

Updated: Adding to the article above, I think I just agreed about an idea regarding this: VALUE OF TIME; we have to know how much we can value ourselves.
.
For example, we can simply divide how much money we expect to earn in a month with 30 days, and then divide with 24 hours, and with 60 minutes at last, until we get our value in each minute. It makes us more aware about how valuable our time is, and every time we get lazy, at least we know how much we waste. (Exclude for our personal and social life, especially time for our family, coz however they’re priceless, irreplaceable, and we need to socialize as well). Yet knowing our value of time is powerful!
.
I have ever met a successful business woman who knew exactly how much her time worth per hour. So when there was an agenda which not compensate that “value”, she prefer ask someone to replace her and she would do something more valuable instead. Very decisive. She would not say yes to any seminar that invited her to be a speaker, coz she knew that popularity aint her goal, but do the right things were. And she always achieve her target so far. I think this is also one of aspects about knowing ourselves. Or just like in business: YOU CANT MANAGE WHAT YOU CANT COUNT. Think about it..
.
So, lets give it a try. Count your value per each minute and put that in your head. Or.. would you share to me how you deal with time and targets?

Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D

 

 

Jodoh: Partner Hidup Atau Imam?

tumblr_inline_o5djb9jSvh1qh7hsr_500

Assalamu’alaikum, guys! Attracted sama judulnya gak? X)) Dan jarang-jarang juga Hani ngeblog soal ginian kaann?

Cuma untuk kali ini Hani bener-bener pengen share aja. Karena bisa jadi ini salah satu turning point Hani juga dalam hidup, momen yang bikin mikir ulang, di tengah masa-masa pencarian dan perenungan.

Well.. sebenernya ada beberapa yang pengen Hani ceritain; soal ironisnya resiko jadi pengusaha perempuan (ceilah), dilematis pembentukan kepribadian secara keseluruhan dan terkait hubungannya dengan kehidupan pribadi (saat berurusan dengan para rojul). Tapi mari kita bahas yang ini aja. Salah satu manfaat berteman dengan orang shaleh dan semoga sama-sama bisa ambil hikmahnya.

——————————————————————————

Obrolan di tengah asrama hadist minggu lalu, ada temen-temen yang pengen bantuin Hani cari pasangan. Karena katanya “lw kayak terlalu sibuk, Han.. jadi gak ada waktu juga buat nyari. Gw bantuin deh ya”, kata Dessy, yang hasil comblangannya sudah menghasilkan beberapa pasangan menikah, termasuk diantaranya dua sahabat kami. Hani hargain niat baik, jadi oke lah… (dan kebetulan emang abis agak “broken” juga. #curcol).

Terus singkat cerita dia nanya.. “jadi, lw mau nyari partner hidup atau imam, Han?”

Hmmm…

Then you know what my answer was?

Partner hidup..

…yang paling krusial sih harus pinter (fyi: Hani lemah sama cowok pinter).. karena kebayangnya kalo kita pas udah tua nanti, mungkin yang kita lakukan juga cuma ngobrol-ngobrol di balkon (?). Terus kalo gak bisa ngomongin macem-macem, ntar ngobrol sama siapa?”. Gitu, Hani bilang. Dan manusia pun pada dasarnya ingin bahagia selama menjalani kehidupan toh?

Lalu Dessy tertahan sejenak dan kemudian minta izin meriwayatkan sesuatu, nasehat dari seorang guru ngaji juga… Hani menyilakan.

“Lw tau kan… Zaman dahulu kala, Allah menciptakan malaikat dan syetan. Semua tinggal di surga. Sampe akhirnya Allah menciptakan manusia dari tanah, dan tiba-tiba menyuruh syetan dan malaikat untuk tunduk sama manusia. Sebenernya malaikat pun bilang “aku terbuat dari cahaya, ya Allah”, tapi akhirnya malaikat tetap tunduk dan taat. Berbeda dengan syetan, “wah, aku kan terbuat dari api”, dan lalu tidak tunduk. Mereka sombong dan akhirnya tidak mau taat. Lalu mereka menggoda manusia dengan buah khuldi itu, yang akhirnya manusia “jatuh”.

Tapiii… tau nggak? Allah itu menghargai niat. Walaupun manusia melanggar, dia tergoda karena syetan bilang “buah ini akan membuat kamu kekal” dan sedangkan manusia memang ingin selalu di surga, pengen dapet rohmatnya Allah. Maka apa yang Allah lakukan? Allah menghukum manusia dan syetan. Dijatuhkanlah mereka dari surga, akhirnya ke dunia. Allah cuma lagi kayak “yaudah deh, nih gw keluarin dulu dari sini, ntar gimana kamu di dunia, itu yang akan nentuin kamu balik ke surga atau ikut syetan ke neraka”.
Then… do we realize?
Kita tahu ayatnya (dan memang harus beriman dulu), 1 hari di akhirat itu itungannya 1000 tahun di dunia. Kebayang gak? Dan seperti yang kita sama2 pelajari juga, bahwa umurnya umat Nabi Muhammad itu hanya 60/70 tahun. Bandingkan 60/70 tahun itu dengan 1000 tahun. Mungkin baru lah kita bisa sadar, ya ampun.. 70 tahun tu bahkan gak seberapa detiknya di akhirat loh. Masya Allah! Ternyata Allah tu bener-bener cuma lagi lemparin kita ke dunia sekejap sampe akhirnya Dia narik kita balik bawa ke akhirat lagi.“

Dan Hani baru sadar.

(Maka mungkin karena itulah “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun” – Dan tidaklah semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.)

Ya ampun, cuma sekejap, gak seberapa detik sebenernya hidup kita tuh.

Maka akhirnya Dessy nanya lagi.. “jadi.. lw yakin Han, maunya nyari partner hidup?”

….

“imam”. #istigfar

————————————————————————————–

Sesungguhnya ada 4 hal yang dilihat ketika mencari pasangan; karena parasnya, harta, keturunan, atau karena agamanya. Tapi jikalau kalian memilih agamanya, niscaya kalian akan jadi orang yang beruntung.

Manusia akan selalu berubah, di kitab pun dibilang, hati manusia itu diciptakan memang gampang bolak/ik. yang cinta bisa jadi benci, lama-lama saling bosan, tergoda banyak hal, tapi selama dia punya iman dan niat untuk bertaqwa, insya Allah bisa selalu inget tujuan surganya dan jalanin hidup sesuai syariat.

– dan akhirnya Hani pun terharu & bersyukur punya temen kayak mereka

Nabi Muhammad tu dulu waktu diliatin surga dan neraka juga kan bercerita, penghuni surga itu kebanyakan orang miskin. Sedangkan penghuni neraka itu dominannya adalah perempuan. Lalu ada yang tanya, “kok bisa perempuan, Nabi? Apa mereka kufur terhadap Allah?”. Nabi pun menjawab, “bukan, bukan karena mereka kufur terhadap Allah, melainkan arena mereka kufur terhadap suaminya”. Dan bagaimana kufur terhadap suami itu? Adalah dengan meniadakan kebaikan yang telah diberi. Yang jelas surganya seorang perempuan ada di suaminya. And I’m really aware of it.

Hal ini bikin Hani jadi inget juga sama seseorang yang suka manggil Hani feminazi kemaren-kemaren, gara-gara belajar gender equality di Ostrali dan beberapa yang berbau feminisme. Oh, you really get me wrong, then. I’m supporting women empowerment. But I’m a moslem, trying to be a good one, then I’ll obey anyone who deserve.

Sejak saat itu Hani jadi ngebayangin.. mungkin yang jadi suami Hani nanti juga bukan siapa-siapa secara dunia, gak ngerti bisnis, gak lebih banyak duit, gak ada apa-apanya di mata sekalangan orang.. tapi semoga yang bacaan qur’annya lebih tartil, hafalan surat, doa, dan dalil-dalil-nya lebih banyak, yang Hani ridho untuk taat, bisa saling surga mensurgakan. Itu aja.

Bener-bener cuma sekejap lah ternyata hidup kita ni…

tumblr_inline_o5dmbbNSFe1qh7hsr_500

NB: Jazaakumullohu khoiro buat Dessy, Mai, Agi, dan Wildan yang nemenin Hani malem itu. Selalu saling doain ya ❤

Teruntuk semua yang juga sedang dalam masa pencarian,

dari yang meluruskan lagi visi hidup,

Hani Rosidaini

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari hanirosidaini.tumblr.com/post/142522015966/jodoh-partner-hidup-atau-imam#notes untuk tujuan integrasi blog

 

Australia Journey: The Beginning

71e02-img_2595

yang lain naik Singapore Airlines, aku Qantas.. rapopo

Awal tulisan ini dibuat di atas pesawat, dalam 7 jam perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju Sydney, sebelum nanti terbang lagi 2 jam ke Adelaide, ibu kota dari state Australia Selatan (*). Durasi yang cukup lama akhirnya maksa Hani untuk bisa diem, sejenak istirahatin badan, dan lepasin pikiran dari riuh kehidupan. Ternyata baru berasa badan capeeek banget, whuff~ Sekian hari terakhir bolak/ik ke luar kota, aktifitas full, banyak pikiran, packing ekspress, sampe akhirnya ternyata tetep berangkat, rasanya… campur aduk gak keruan.

Sejatinya ada 9 orang Indonesia yang harus terbang. Tapi 8 orang lain sudah tiba di Ostrali satu minggu yang lalu. Hani terpaksa mohon penundaan karena masih banyak yang belum bisa ditinggal di Indonesia. Maka dibanding mereka yang berangkat rombongan, Hani harus pergi sendirian.
Lalu untuk apa kami ke Ostrali? Mungkin dapet jawabannya bisa sambil nemenin Hani disini, flashback, kontemplasi sambil berbagi.. boleh?
Intinya ini adalah dalam rangka program beasiswa non-degree dari Australia Award untuk belajar di Flinders University dengan subjek Women’s Leadership in Business and Economic Growth, masih di bawah fakultas International Studies.  Untuk Hani sendiri bisa dibilang ini beasiswa yang “dapet tanpa bener-bener apply”, karena tetiba ditawari, dan untuk beasiswa kategori ini, memang sistem rekrutnya adalah berdasarkan rekomendasi, dari partner-partner-nya Flinders, atau DFAT (bagian dari pemerintah Australia) selaku pemilik dana. Banyak nama yang diajukan, lalu penyaringan dilakukan oleh DFAT, dibantu oleh para partner tadi. Dalam kasus Hani, yang merekomendasikan adalah KPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Indonesia. Kenapa bisa diajukan? Nanti coba sambil flashback sebenernya apa yang bawa Hani kemari. Tapi yang jelas, jadi durasi programnya memang beberapa bulan, dan tapi juga walaupun non-degree, kami tetap dapat kredit dari universitas, sekitar 4,5 kredit, atau bisa potong 25% dari total SKS jika kami mau melanjutkan studi di Flinders di jurusan yang masih linier.
3a81c-1506530_10203529948144924_2659235658928760471_n

Australia is waiting

9 orang dari kami ini dapat rekomendasi dengan cara yang berbeda-beda. Untuk Hani sendiri, kalo ditarik benang, mungkin awalnya adalah sejak menang Top 10 di Indonesia Womenpreneur, yang kebetulan didukung KPPA, diselenggarakan oleh INDOSAT dan Fimela.com. Sejak saat itu memang jadi ngasih domino effect. Tiba-tiba dikirim jadi delegasi APEC WEF (Women And The Economy Forum) 2013, berangkat dengan rombongan bu menteri (yang pada saat itu masih Ibu Linda Gumelar), dirut INDOSAT Pak Alexander Rusli, dll, yang mana disana kami bertemu para pemimpin dunia, terutamanya yang perempuan, para pembawa perubahan dari tingkat regional hingga internasional, sambil juga bertemu pimpinan Oreedo, perusahaan induk INDOSAT di Qataar. Hani jadi yang paling muda saat itu. Lalu kemudian oleh Pak Alex dijadikan duta Indosat Inspera (Inspirasi Perempuan Indonesia), selain diundang juga untuk afternoon tea dengan Kimora Lee (former American super model) di Nusa Dua, sembari jadi tamu acara berbagi dengan para pengusaha wanita di Bali, dan masih banyak lagi. Namun diantara semua, terutamanya adalah sejak saat itu nama kami jadi ada di record mereka. Maka pada saat ada tawaran datang, jadi ikut direkomendasikan, dan saat itu Hani hanya diminta isi data diri, membuat resume, dan jawab beberapa pertanyaan yang Australia Award ajukan. So, kedengerannya agak effortless ya? Well… mungkin juga. Tapi mungkin juga proses menuju titik itu-nya yang justru lebih nguras effort =]

e6516-kolase

flashback

Kembali lagi tentang beasiswanya, ada beberapa keuntungan dari AAS (Australia Award Scholarship) yang jenis ini. Di luar sistem penyaringannya, selain sudah mencakup segala biaya, pendidikan dan transport, beasiswa ini tidak meminta sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Jadi untuk Hani yang IELTS-nya sudah expired, gak perlu ambil tes lagi. Pengurusan student visa pun bisa dibantu. Bahkan kalo mereka sudah turun tangan, dalam hitungan jam saja bisa langsung jadi, hehe…. (baca cerita disini). Bahkan visa-nya pun asik, diperbolehkan kerja sekian jam per minggu, dan jika sudah menikah, sebenarnya boleh bawa pasangan atau dependant child <18 tahun. Selain itu, mungkin karena sebenarnya target fellow-nya adalah professional, fasilitas yang diberikan pun cukup istimewa. Akomodasi kami (berdasar laporan dari yang sampai duluan) sudah disediakan di apartemen bintang 4.5 di pusat kota, dan uang jajan pun lumayan ($75/hari jika harus disebut).
Nah, apa tadi Hani sudah menyebut professional? Betul. Jadi, ternyata, disana Hani bakal jadi yang paling muda lagi. Jadi anak bocah di tengah ibu-ibu. Sungguh. Status fellow yang lain, semuanya sudah menikah, dan usianya pun paling muda sudah kepala 3, beberapa kepala 4, dan ada yang kepala 5, sebaya dengan ibu dan bapak di rumah. Hani satu-satunya yang lebih seumur dengan anak-anak mereka. Tapiii.. CV mereka memang luar biasa. Ada dua orang yang memang staf kementrian, ada direktur NGO nasional yang juga mengajar di UI untuk gender study, ada pengusaha yang sudah mengglobal, dan perempuan-perempuan hebat lainnya. Ini wajah-wajah mereka:
bd50a-img_6644

minggu pertama = akhir musim dingin, si Ucil Hani belum datang

Yah.. jadi begitulah…

Walaupun beasiswa ini agak berbeda, tapi mungkin ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran secara general:
1. Track record. 
Raih prestasi sebanyak-banyaknya, belajar banyak hal, karena semua akan berguna pada saatnya.
2. Social Position.
Entah itu jadi pemimpin perusahaan, ketua lembaga, pembuat kebijakan, atau terlibat di organisasi. Yang jelas, kriteria ini berguna untuk membantu meyakinkan bahwa, pada saat si penerima beasiswa teredukasi, tidak hanya akan dia sendiri yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga lingkungannya bisa ikut terpengaruh dan merasakan dampak. (Saat membuat resume, Hani menulis, selain sedang berusaha menjadi wirausahawati yang baik, belajar meramu kebijakan untuk tim kerja, juga terlibat aktif mengelola komunitas bisnis, untuk terutama memberdayakan para pengusaha muda, dan di waktu luang juga menulis untuk berbagi segala hal yang sekiranya bermanfaat untuk diketahui orang lain).
3. Berdoa.
Ini agak cerita pribadi. Tapi setelah dirinci, ternyata ada beberapa hal di dua tahun belakangan ini, itu adalah hal-hal yang pernah Hani semogakan entah berapa tahun silam, yang mungkin terlupa tapi tiba-tiba kejadian. Salah satunya sekolah di Ostrali. Rasanya Hani pernah punya keinginan ini saat masih SMP atau SMA. Gak pernah kepikiran lagi, tapi tiba-tiba aja tanpa persiapan, langsung disuruh beneran pergi sekolah (walaupun konteksnya memang agak beda). Tapi sungguh, jadi, tetaplah berdoa, dan menyemogakan apa yang kalian mau. Karena kita gak akan pernah tau kapan Allah mengiyakan doa kita ^^
4. Berani melangkah
Kalo waktu itu Hani gak ikut si Indonesia Womenpreneur, mungkin Hani gak akan disini. Padahal waktu itu juga banyak ragunya, ngerasa masih gak siap, bingung juga mesti ikut karantina. Tapi memang mindset adalah yang paling berpengaruh. Hani selalu mikir, “di dunia ini gak ada yang gak bisa dipelajari. Just take a step and promise that you’ll always improve by always learning along the way”. Tiap berani buka pintu, pasti nanti akan buka pintu-pintu yang lain. Yang pasti, kalo gak berani melangkah, ya jelas kita gak akan kemana-mana. Ke Adelaide pun sebenarnya banyak ragunya. Kenapa harus Adelaide? Kenapa gak Melbourne? Sydney? Kenapa harus beberapa bulan? Semua urusan di Indonesia gimana? Terlalu banyak yang harus ditinggal dan dikorbankan. Tapi ya itu, berani melangkah. Karena setelah ini, Hani yakin dia akan bawa Hani ke pintu yang lain lagi.
6bc00-img_2602

nulis sambil ngamatin progress pesawat

Fyuh… panjang juga ya blog kali ini. Padahal masih ada yang ingin Hani sampaikan. Yaitu izinkan Hani untuk berterima kasih banyak (selain untuk Australia Award), juga untuk orang tua, ibu sama bapak, yang gak pernah larang Hani untuk jalanin apapun yang Hani mau, udah minta nganterin ke bandara tadi walaupun sebenarnya Hani gak pengen ngerepotin kalian. Untuk Pak Maftuh dari KPPA, yang hingga detik ini belum pernah ketemu sama sekali (karena pre-departure workshop-nya pun di-cancel), tapi udah bantu banyaaak banget selama proses administrasi, banyak sekali direpotkan, tapi Pak Maftuh sabar dan sampe akhirnya tetap bisa on track. Luar biasa. Untuk tim, Rizky Irawan, Aldy Manggala, Prasetya Kharisma, maaf Hani mesti pergi dulu, berat rasanya, tapi kalian tetap berusaha ngasih support, makasih banyak, dan doain Hani. Juga untuk Ryan Triadhitama, makasi sempet dateng ke bandara, walaupun gak ketemu. Maaf jadi makin panjang. But I really want to thank them all. I dont wanna take them for granted. Those are mean a lot for me. Really. Thank you so much.

Dan atas semuanya, alhamdulillah, terima kasih. Teruntuk kalian, doakan Hani semoga semua berjalan baik ya.. Hani doakan juga kalian semua bisa semangat terus mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

dari ketinggian 180.000 kaki di atas permukaan laut,

 
dengan sisa energi terkuras, sepertinya harus segera tidur
 
 
(*) Saat tulisan ini dibuat, memang belum ada direct flight Jakarta – Adelaide, harus transit dulu minimal satu kali di kota lain, entah itu Singapore, Bali, Melbourne, Sydney, atau lainnya.
Disclosure: postingan ini repost dari http://bit.ly/2cdAdj1 untuk integrasi blog