10 Fakta Tentang Teknologi ‘Speech Processing’ Yang Orang Harus Tahu

Hai, apa kabar semuanya?

Pak Oskar "Bahasa Kita"

Bersama Direktur Bahasa Kita

Hari ini gw langsung pengen nulis apa yang baru kejadian beberapa jam yang lalu, hasil dari datang ke acara “sharing” yang kebetulan diisi oleh Bapak Ir. Oskar Riandi, M.Sc., yaitu direktur PT. Bahasa Kita. Gw sendiri sebelumnya udah beberapa kali denger tentang Bahasa Kita, dari temen yang kebetulan ikut ngerjain penelitian di situ, juga dari acara ID Big Data, dimana kebetulan mereka termasuk yang buka booth, tapi gw sendiri awalnya belum terlalu ngeh ini lembaga apa, full tempat riset kah, atau justru murni perusahaan. Dan akhirnya hari ini gw berkesempatan menyimak langsung dari bosnya, pembahasan tentang apa aja sih yang dikerjain Bahasa Kita, kenapa mereka sangat fokus di bidang itu, dan gimana potensi industrinya ke depan.

photo6075397597616515212

Pak Oskar dengan semangat menjelaskan bahwa suara = harta karun yang sangat berharga

Awalnya gw pikir, hmm.. dari namanya sih, “Bahasa Kita”, kayaknya mereka fokus ke bidang linguistik gitu kali ya. Temen gw sendiri penelitiannya adalah tentang NLP (Neuro Linguistic Programming – salah satu keilmuan terkait Deep Learning), ngerjain normalisasi kata-kata alay, tapi ternyata eh ternyataaa, yang mereka kerjain tu jauuh lebih banyak! Baik riset maupun produk untuk bisnis. Walaupun kalau gw lihat core-nya adalah tetep ke “bahasa”, tapi implementasinya luas sekali, bisa ke IoT smart home, drafting hasil meeting (dari omongan-omongan bisa langsung otomatis jadi notulensi), robotik, personal assistant, sistem perbankan, rumah sakit, dll. Bidang eksak banget, yang Pak Oskar sendiri mengakui, kalau mau “nyemplung” di bidang ini, matematikanya mesti kuat banget.

Screen Shot 2018-12-07 at 23.58.04

Notula, salah satu produk yang dikembangkan oleh Bahasa Kita

 

Sedikit tentang Pak Oskar, beliau ternyata adalah lulusan Jepang, dari S1 teknik elektro di Universitas Waseda (hasil mengikuti program Habibie kala itu), lalu S2 juga di Jepang, sudah punya paten di bidang pemrosesan bahasa, puluhan tahun di BPPT, sampai akhirnya memutuskan resign dari status PNS dan memilih untuk mengembangkan Bahasa Kita ini. Wah, pengalamannya di bidang riset jelas banyak banget! Sedikit menyinggung tentang keputusannya resign dari status PNS, beliau menjelaskan bahwa itu adalah pilihan hidup yang memang dipilih dengan tujuan agar risetnya lebih berkembang. Karena memang ada suatu masa dimana Indonesia belum berinvestasi cukup pada riset-riset yang dilakukan di dalam negeri.

Yang menarik dari latar belakangnya menurut gw adalah, begitu gw tahu beliau lulusan Jepang, buat gw semuanya jadi lebih makes sense 😀 Makes sense dalam artian kenapa beliau begitu keukeuh mengerjakan riset dan fokus pada pengembangan teknologi sendiri, tidak mau bergantung pada teknologi asing, memprioritaskan aset bangsa, konsep-konsep terkait kemandirian teknologi, dkk. Karena gw pun punya beberapa kawan lulusan Jepang dan memang mindset mereka sekeren itu: “If you need something, make your own!”, jiwa kreator yang mandiri. Sangat genuine dan berbeda jika dibandingkan dengan pola pikir kebanyakan orang kita zaman sekarang, yang lebih ke: “when you need something, if you have money, just buy laa..”. He he he..

So, balik ke bahasan presentasi, dari awalnya share tentang produk-produk dan prestasi Bahasa Kita, akhirnya Pak Oskar cerita tentang speech processing, yang ternyata menariiiikk banget. Dan berikut adalah poin-poin alasan kenapa kita sebaiknya mengenal teknologi si speech processing ini:

  1. Data di Amerika menunjukkan, disrupsi teknologi di masyarakat, yang bahkan jauh lebih cepat prosesnya dengan tingkat penetrasi smartphone adalah: Speech Processing. Dan ke depan, tren-nya akan terus semakin meningkat.
  2. Teknologi speech processing untuk bahasa-bahasa di Indonesia jelas jauh lebih kompleks karena kekayaan khasanah bahasa kita, termasuk fonem, logat/dialek, bahasa alay, bahasa tidak baku, dll. Maka sebisa mungkin data, aset, dan teknologinya kita yang memiliki dan kita juga yang mengembangkan.
  3. Agar teknologi speech processing ini berkembang, memang diperlukan lingkungan yang harus diciptakan. Dalam arti, teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri. Misal, di Amerika, mereka sudah memakai personal assistant untuk membeli sesuatu di e-commerce atau berinteraksi lewat suara dengan alat-alat rumah tangga, dan industri-industri lain yang bisa ikut terkait. Sedangkan di Indonesia, kebanyakan personal assistant masih digunakan untuk “searching information” saja, misal: cari info cuaca lewat Siri di iPhone, dimana sebenarnya potensinya ke depan, kita bisa juga mengintegrasikannya dengan aplikasi gojek, beli sesuatu di tokopedia, membuat janji dengan pihak dokter di rumah sakit, mengotomasi resep dokter via suara tanpa harus menulis di kertas, dll.
  4. Suara adalah aset yang sangat bernilai, karena dia memiliki berbagai informasi di dalamnya, termasuk informasi jenis kelamin, usia, asal daerah, dsb. Bahkan bisa lebih akurat dibanding pengenalan wajah.
  5. Data yang ada pada suara (speech) ini dapat tertuang dalam voice biometrics, yang akurasinya sudah bisa sampai 99,9%, atau error rate di kisaran 0.03%.

 

6. Tidak seperti halnya sidik jari yang pasti identik berbeda, ciri suara dan wajah memang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, misalnya saudara kembar identik. Hal ini termasuk tantangan untuk para peneliti dan pengembang di bidang speech processing. Tapi bahkan untuk draft biometric pun, teknologi sekarang sudah bisa mengakomodir ratusan parameter, atau contohnya bisa mengidentifikasi suara sampai frekuensi 600, sehingga untuk beberapa kasus, pengenalan suara bahkan lebih akurat dari pengenalan wajah, kecuali jika dilakukan masking (contoh: menutup suara dengan mulut atau sapu tangan), atau memang ada bagian dari fisik yang berubah, seperti gigi rontok, hidung bengkok, paru-paru mengalami gangguan, dll, karena semua akan mempengaruhi. Hebatnya lagi teknologi sekarang, jika ada rekaman saat dua orang bicara sekaligus pun, mesin sudah bisa membedakan dan memisahkan mana yang diucapkan oleh orang 1, mana yang terucap dari orang 2.

pi233pluthom

Komputer untuk orang difabel. Sumber gambar: https://medicalxpress.com/news/2012-07-eyes-device-disabled.html

 

7. Pengembangan teknologi speech processing ini juga sangat memiliki manfaat sosial, terutama saat diimplementasikan untuk membantu para saudara kita yang difabel. Contoh: aplikasi yang ada bisa membantu orang-orang yang tidak memiliki tangan untuk tetap menggunakan komputer ber-sistem operasi Linux dengan cara berinteraksi melaui suara, bukan melulu UI (User Interface).

8. Seperti halnya dua sisi mata uang, setiap teknologi juga memiliki terang dan gelapnya sendiri. Teknik speech processing ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, tapi juga ada saja pihak yang menyalahgunakan ini sebagai alat untuk menipu, dll. Untuk potensi ke depan, beberapa hal yang bisa dijadikan ide proyek diantaranya adalah: fraud detection di perbankan, speech synthesizer, atau mungkin pengecekan KPI berdasarkan kegiatan mengajar dosen di kelas, bisa juga penyelidikan kasus korupsi.

 

9. Menoleh ke Google, mereka sudah sangat canggih dalam menciptakan mesin yang bisa berkomunikasi seperti halnya manusia. Contoh: Google Duplex, yang sudah bisa melakukan berbagai pekerjaan tanpa manusia harus melakukan banyak intervensi lagi, seperti membuat janji dengan dokter, padahal perlu penyesuaian jadwal yang alamiah terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi Google Duplex sudah bertingkah selayaknya manusia sungguhan.

Sumber: teknologi.id

Sumber: teknologi.id

 

10. Melihat pangsa pasar yang sangat tinggi di Indonesia, Google baru saja meluncurkan produk terbarunya di awal Desember tahun ini, dan dari semua lokasi di dunia, launching perdananya adalah di Jakarta!, yaitu peluncuran ponsel bernama Wiz Phone, yang dibanderol hanya seharga Rp.99.000 dan bisa dibeli di peritel Alfamart. Tidak seperti ponsel canggih tapi juga bukan ponsel abal-abal, kelebihan ponsel ini adalah fitur utamanya dimana pengguna bisa melakukan segala sesuatu via perintah suara saja tanpa harus banyak ketik di layar. Itulah sebabnya ponsel ini justru memang tidak bisa touch screen sama sekali. Tujuannya jelas untuk menciptakan demand di masyarakat akan ponsel berfitur khusus tersebut. Agar masyarakat mulai terbiasa dengan voice command, dan akhirnya poin tersebut menjadi lumrah dan bagian dari kehidupan kita yang tidak bisa dilepaskan. Pendapat tersebut diperkuat dengan harganya yang memang sangat terjangkau, tidak mahal sama sekali, sehingga jelas keuntungan bukan mereka harapkan dari margin hasil penjualan ponsel, tetapi melalui penciptaan pasar untuk tahapan bisnis mereka selanjutnya. Saat kebutuhan dan kebiasaan manusia sudah berubah, Google bisa saja menjual produk-produk mereka yang lain dimana speech processing tersebut sudah lebih canggih dan harganya jauh lebih mahal. Atau mereka juga bisa memanfaatkan data rekaman suara yang ada di seluruh ponsel tersebut, karena itu bisa menjadi sumber pengetahuan dan uang yang melimpah untuk mereka. Karena yang biasanya orang harus bayar jika ingin merekam suara seseorang, Google tanpa harus repot-repot tinggal mengumpulkan segala data yang terekam di alat buatan mereka.

Pada dasarnya kenapa gw anggap hal-hal di atas itu menarik, karena bahkan gw, yang termasuk orang muda yang tinggal di ibukota, gw belum termasuk pengguna mesin suara yang aktif. Gw jarang pake Siri ataupun Google Assistant. Tapi melihat fakta-fakta yang ada, kiranya kita semua sepakat bahwa teknologi pemrosesan suara ini sangat penting dan akan berperan besar, baik secara ekonomi maupun sosial. Maka dibutuhkan orang-orang yang memiliki minat dan bakat untuk terus berperan aktif dalam pengembangannya untuk di dalam negeri, agar aset kita tetap bisa menjadi milik kita. Terutama dengan mudahnya teknologi, apalagi jika dibandingkan dengan zaman dulu, dimana sekarang semua sudah serba dipermudah, tidak harus semua dimulai dari scratch, dengan bantuan berbagai sistem seperti Keras, Tensorflow, atau Pytorch, semestinya sudah tidak ada alasan untuk kita menganggap ini terlalu sulit. Yang penting nomor satu adalah tekad, kemauan keras, dan selalu ingin belajar.

 

Salam dari Jakarta Selatan yang sedang mendekati tengah malam,

Mohon doanya semoga gw (yang ngetik ini sambil terkantuk-kantuk) juga segera bisa punya paten di bidang data

 

NB: Di luar bahasan di atas, gw jadi penasaran, kenapa ya orang di Jepang lebih getol dalam bikin paten? Secara konsisten mereka termasuk penghasil paten terbanyak di dunia. Dan itu berpengaruh ke orang-orang non-Jepang yang sempat tinggal, bekerja, atau mengenyam pendidikan di sana. 

Advertisements

Belajar Bahagia Dari Isi Bensin

photo6305233267699329056

Kartu MyPertamina saya. Bukan pesan sponsor.

 

Pelajaran hidup itu nyatanya bisa datang dari hal-hal sederhana. Contohnya kemarin, saat saya hendak isi bensin di SPBU Pertamina. Karena tertarik dengan promo program ‘Berkah Energi’, dimana jika kita isi bensin dan bayar dengan menggunakan kartu MyPertamina kita bisa dapat poin dengan hadiah umroh, mobil, motor, dll, saya pun ambil kartu MyPertamina saya di dompet dan bilang ke petugas, “Saya mau bayar pakai kartu ini ya”. Selesai isi tanki bensin, petugas pun memproses kartu tersebut di mesinnya, saya masukkan PIN dan menunggu proses pembayarannya selesai. Tapi ternyata transaksi gagal. “Mungkin salah PIN, mba”, katanya. Maka akhirnya dicoba lagi, dan tetap gagal. Di kali ke-empat, dia bilang, “Boleh coba cek saldonya dulu, mba?”. “Wah, sembarangan. Masa kartu saya dianggap kurang saldo, haha.. “, pikir saya. Tapi ya sudah, kami coba lagi, dan tetap gagal juga. Akhirnya dia memutuskan restart mesin dan menemukan fakta bahwa mesinnya memang sedang tidak terkoneksi jaringan, jadi tampilannya tulisan error saja. Karena sudah menunggu dan ternyata hasilnya demikian, akhirnya dia minta, “Kalau cash aja gimana nih, mba?”. “Hmm… Asalnya saya bayar pakai ini karena mau ikut itu sih”, sambil menunjuk ke spanduk program ‘Berkah Energi’. “Iya mba, maaf. Tapi mesinnya kalau sudah begini memang jadinya tidak bisa transaksi apapun”. Sedikit banyak saya pun kesal karena ini bukan yang saya harapkan.

Sekelebat pikiran saya jadi tiba-tiba teringat obrolan dengan seorang kawan. Satu kali dia sempat menasehati saya, “Han, yang bikin kita kecewa itu sebenarnya bukan suatu hal, kondisi, atau orang lain, tapi adalah ekspektasi kita sendiri atas mereka. Tidak sesuai ekspektasi -> kecewa -> tidak hepi. Jadi bisa dibilang, kalau kita tidak ingin banyak kecewa, yang berujung pada tidak hepi, maka kuncinya adalah menjaga ekspektasi kita 0 (zero expectation)”. Walaupun menurut saya, ekspektasi itu tidak akan pernah bisa 0, tapi hanya bisa diminimalisir, sehingga saat itu saya bilang (yang akhirnya akan saya jadikan sebagai quote saya sendiri): Continue reading

Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googling lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated master’s. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience — consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cek kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihat disini (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber: micromasters.mit.edu

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

 

I start writing this exactly in the new year eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate new year, beside we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must being screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m kinda person who live with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck in a certain of age. Maybe that what makes me not so excited about welcoming new year, and feel bitter instead. For me, get older means enter life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for their new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainments. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, human just live in the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 with not so desperately. At least, there are still remarkable things happened throughout the year: I won competition, traveled, did business trip abroad, and got a scholarship in a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. In contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matter, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I ever asked a friend, ” Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he cant accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. lets get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual (MY SAVIOR!!)

However in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m really worrying. Single thing I know is, I’m still living.

 

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago….. a mosque

Tentang Ibu, Mayat, dan Ilmu

ibu Hani

Ibu yang cantik, dan Hani yang jauh lebih mirip bapak.

Nyatanya inspirasi emang bisa dateng dari mana aja. Termasuk dari obrolan ringan sehari-hari. Kemarin waktu lagi ngobrol sama Shofi, temen geng Jalan Radio, dari yang awalnya ngehibur temen lain yang lagi patah hati, tiba-tiba bahasan kami jadi tentang orang kesurupan, mati, dan akhirnya mayat. Singkat cerita, di tengah-tengah obrolan, Hani sempet bilang, “Eh, ibu aku di pengajian termasuk tim jenazah loh.. di-amal sholeh-in (dimintain tolong) sama pengurus mesjid untuk jadi anggota timnya. Makanya kalo ada yang meninggal, apalagi perempuan, ya mesti pada langsung dateng ke rumah”. “Wah, bagus tuh, mba Han. Aku juga pengen belajar fiqih gitu”, kata Shofi. “Iya sih. Ibu tuh waktu ditunjuk jadi tim, eh ya ampun, beberapa hari kemudian langsung ada ibu-ibu temen ngajinya yang meninggal.. jadi langsung praktek deh”. Terus Hani jadi inget, “Cuman yang gak kebayang tuh tahun kemaren. Nenek aku kan meninggal tuh, terus ibu sendiri yang mandiin nenek. Aku sih gak kebayang aja gimana rasanya mandiin jenazah ibu sendiri”. Waktu itu aku kebayangnya ibu ngerjain itu ya karena ibu anggota tim dan ibu lebih mengerti ilmunya dibanding saudara-saudara yang lain. Sampe akhirnya Shofi nanya, “Loh.. emang mba Hani, kalo ibunya nanti meninggal, gak akan mandiin?”. Hah? Mmm… belum pernah kebayang sih. Tapi mungkin yang lain. “Ya ampun.. harus keluarganya lah…”. Dan akhirnya penjelasan Shofi membuat si Hani ngeh dan sadar bahwa ini termasuk hal yang harus dipersiapkan;

“Yang namanya orang mandiin jenazah, kita membersihkan seluruh fisik dan menghilangkan segala kotoran yang menempel, dan kita gak pernah tau gimana keadaan jenazahnya saat itu. Bayangin kalo ibu kita dimandiin sama orang lain, yang mungkin emang mahrom juga tapi bukan keluarganya. Kalo ternyata ada tanda-tanda di badan jenazah, gimana? Atau ada kondisi-kondisi yang kurang baik? Orang lain bisa aja jadi berasumsi, wah meninggalnya begini, meninggalnya begitu. Kita juga gak pernah tau, mungkin nanti mereka cerita ke orang lagi, dan bisa jadi omongan yang kurang bagus. Tapi kalo keluarga? Bagaimanapun dia ibu kita. Kita harusnya lebih tau, dan akan lebih mengerti. Seumpama pun ada suatu kejelekan kecil atau apapun, kita pasti akan berusaha menutupi kekurangan keluarga dan menjaga nama baik keluarga kita. Harus kita yang tau, harus kita yang melakukan. Dan ini juga akan jadi bakti terakhir kita sama orang tua, bakti kita sebagai anak, bakti kita sampai di akhir hayat mereka.”. Masya Allah, semoga kita semua dijadikan anak-anak yang baik. Dan Hani cuma bisa bilang pelan sambil ngangguk, “iya juga…”.

Sejatinya meninggalnya orang tua mungkin termasuk hal yang susah kebayang sama kita, atau kita emang lebih milih gak ngebayangin. Dan ternyata ini adalah hal yang selayaknya kita pikirkan, dan persiapkan untuk dilakukan. Mau gak mau waktunya akan tiba. Dan saat itu datang, demi jadi anak baik yang berbakti, semestinya kita juga sudah harus siap. Artinya apa? Kita sudah harus punya ilmunya, harus tau segala ketentuannya, dari yang biasanya menyerahkan pekerjaan ke tim jenazah setempat. Hukumnya mengurus jenazah mungkin memang fardhu kifayah, tapi sebenarnya hukum mencari ilmunya itu fardhu ‘ain, alias wajib. Bahkan jika di suatu wilayah tidak ada yang bisa mengerjakan, maka bisa jadi terkena dosalah seluruh jamaah yang ada di wilayah itu. Kalo di pengajian, itu bahkan ada materi khusus sendiri, kumpulan banyak hadistnya yaitu kitabu jana’iz. Insya Allah setelah ini Hani niatkan untuk pelajari lebih baik lagi…

*deep breath

Lalu pikiran pun melayang jadi ngebayangin ibu yang ada di rumah. Hani makin salut dan bangga sama ibu. Walaupun Hani lebih “anak bapak”, tapi Hani juga sayang banget sama ibu. Hani yakin, kalo orang-orang tau betul bagaimana ibu, mereka juga akan punya kekaguman yang sama. Semoga masih lama waktunya sampai Hani harus melakukan ini, Bu. Semoga Ibu sehat selalu sampe bisa nemenin anak-anak Hani nanti. Semoga Hani bisa jadi anak baik yang gak nyusahin hati Ibu.. dan hidup di agama yang diridhoi Allah seperti yang selalu Ibu teladankan. Di kesempatan lain mungkin Hani akan lebih sanggup nulis tentang ini.

 

Jakarta, Jum’ah barokah 2016

jadi pengen buru-buru langsung pulang ke rumah ibu

 

TIPS AGAR PRODUKTIF (ala Hani)

Busy copy

aku tertohok xD

 

Kenapa ala Hani? Ya karena best practices ini berlaku dan efektif untuk aku, tapi belum tentu efektif untuk orang lain. Yang jelas kita hidup di era digital media dimana kita selalu dibombardir oleh informasi dan (lets say) tuntutan eksistensi, padahal semakin kita sadar, semakin kita mengerti bahwa definisi sibuk dan produktif itu sangat berbeda. Apapun role kita, pekerjaan kita, banyak dari kita yang terjebak dalam salah satu paradoks hidup, yaitu semakin banyak alat untuk mengefektifkan waktu, tapi kita malah merasa semakin tidak punya banyak waktu. Selain karena sekalangan orang memang memiliki kesulitan untuk menentukan prioritas. Padahal, merasa produktif dan mencapai sesuatu juga termasuk faktor penting yang menentukan untuk orang merasa senang dengan dirinya, dan mengurangi kegelisahan karena setidaknya dia tahu bahwa dia tetap mengalami progress.

So, langsung aja, ini dia beberapa tips-nya:

1. Jangan Bikin To-Do-List

“Hah? Serius, Han? Jangan bikin to-do-list?”.
“Iya. Jangan bikin to-do-list”.

Atau lebih tepatnya adalah JANGAN CUMA bikin to-do-list. To-do-list is good, dan merupakan langkah awal bahwa kita tahu persis apa aja yang harus dikerjakan secara detail. Tapi yang lebih penting lagi setelahnya adalah bikin SCHEDULING dari semua to-do-list itu. Kita pos-pos-kan setiap “task & goal” yang kita punya ke setiap hari yang ada dan tentukan kapan itu harus dikerjakan SAMPAI SELESAI. Unless your to-do-list will always be just a list. Kalo cuma liat list, kita hanya akan selalu ngerasa bahwa kerjaan kita super banyak (dan mungkin memang akan selalu begitu). Tapi kalo cuma diliatin atau dikerjain tanpa bikin goal dan scheduling, bisa jadi kita loncat-loncat dari task yang satu ke task yang lain, tanpa bener-bener fokus dan beresnya bisa entah kapan, yang akhirnya ngerasa selalu sibuk, tapi sibuk yang karena memang gak teratur. Terutamanya ya untuk pekerjaan-pekerjaan mandiri dimana gak ada orang lain yang selalu nagih kerjaan kecuali kita sadar bahwa ini harus dikerjakan sampai selesai. So, scheduling is a must!

2. Hindari Buka Email Pagi Hari

Kecuali kamu orang superrrrrrr penting yang harus selalu buka email kapanpun, bener-bener gak bisa nunda sama sekali, karena kalo telat buka email bisa hilang ratusan juta, hindari buka email pagi-pagi di awal kita memulai hari. Kenapa? Karena kita asumsikan aja kita udah punya to-do-list untuk hari itu dan apa aja yang harus selesai di akhir hari. Dengan buka email pagi-pagi, bisa jadi banyak yang akhirnya mengarahkan kita untuk mengerjakan yang lain-lain dulu, yang kadang urgensinya kurang, tapi akhirnya menyita waktu dan mendistraksi kita dari yang seharusnya dikerjakan dan sudah ditargetkan. Time waits for no one. Dan ini terkait juga dengan alasan atau tips berikutnya…

3. Pahami Jadwal Kemampuan Otak

Alasan lain kenapa aku gak menyarankan buka email pagi-pagi, adalah karena aku baca dan mengamini tentang jadwal kemampuan otak mayoritas orang. Yaitu bahwa di pagi hari otak kita bisa berada di tingkat optimal. Artinya, ini waktu yang bagus kalo kita mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang cukup sulit, butuh konsentrasi tinggi, dan pemikiran penuh. Otak kita sedang bisa untuk diajak bekerja keras, maka mulailah dengan yang paling susah. So, aku sih sayang banget kalo waktu yang bagus ini cuma dipake untuk sorting email atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di sesi waktu yang lain.
Nah, ketika beranjak siang, kadang otaknya sudah agak mengendur. Biasanya sih aku nyari tempat beraktifitas dimana aku bisa berada di tengah orang-orang, merasakan dinamika orang lain mengerjakan kegiatan mereka, dan ikut sibuk bersamanya. Energi yang ada dari orang-orang bisa mendorong kita untuk tetap bergerak dan produktif.
Kalo udah agak malem, baru deh, otak kita memang relatif lebih rileks, jadi kita bisa mengerjakan hal-hal yang lebih santai. Mungkin masih bisa meeting, cek dan bales email (nah, ini waktunya), rancang schedule untuk hari-hari berikutnya, baca buku, sekilas buka social media, dan lain-lain sisa dari daftar kegiatan. Emang sih banyak juga dari kita yang “ON”-nya kalo udah larut malem. Pastikan aja gak terlalu sampe pagi, karena bayar hutang dari tidur minim biasanya malah jadi berkali lipat waktunya dan badan jadi gak terlalu fresh, yang akhirnya secara jangka panjang belum tentu bisa lebih produktif.
(Atau mungkin kalian punya karakteristik waktu fokus yang berbeda? Share with me!)

4. Focus On Deeper Things

Menulis twit dan menulis blog (atau lebih ekstrimnya; menulis buku) itu sama-sama kegiatan menulis. Membaca artikel berita dan membaca buku juga sama-sama kegiatan membaca. Lalu apa bedanya? Dalam satu hari mungkin kita bisa baca belasan artikel berita tentang tema yang berbeda. Tapi dibanding menyelesaikan satu buku tebal, kira-kira efeknya bagaimana? Atau lebih merasa produktif mana kita antara saat menulis twit dan menulis buku?
Buat aku, jelas menulis tulisan panjang dan menyelesaikan satu buku jauh lebih produktif (selain bisa update akun Goodreads, hehe..), dan di antara semua itu yang membedakan adalah karena salah satunya membutuhkan deeper thinking dibanding yang lain. Dalam semua yang kita kerjakan, selalu ada hal-hal yang membutuhkan fokus lebih, kerja lebih, usaha lebih, dan juga waktu yang lebih lama. Proyek serius dan besar pasti membutuhkan perencanaan matang, kerja maksimal, disiplin tinggi, tahan banting, yang pasti dibarengi juga oleh deeper thinking. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita mulai juga begitu. Secara hasil, deeper things ini jauh lebih membuat kita merasa sudah accomplish sesuatu, lebih membuat kita naik level dibanding sebelumnya, karena memang ada proses lebih yang harus dilewati. Hasilnya, bisa membuat kita juga lebih produktif. So, focus on deeper things menurut aku powerful untuk yang bener-bener pengen ngerasa produktif secara komprehensif.

Nah.. gimana?

Sekian untuk kali ini. Semoga ada yang bisa dijadikan catatan. Sekali lagi, ini ala Hani. Tiap orang pasti beda-beda caranya, apa yang paling cocok untuk dikerjakan. Ada beberapa tips lain juga, tapi sayangnya diri sendiri aja susah untuk praktek, haha.. jadi… terima kasih sudah membaca blog ini. Setidaknya menulis postingan ini juga membuat aku merasa lebih produktif ^^

 

malam, Jakarta, 23 Juli 2016

di saat internet mati dan gak ada camilan sama sekali

 

Updated: Adding to the article above, I think I just agreed about an idea regarding this: VALUE OF TIME; we have to know how much we can value ourselves.
.
For example, we can simply divide how much money we expect to earn in a month with 30 days, and then divide with 24 hours, and with 60 minutes at last, until we get our value in each minute. It makes us more aware about how valuable our time is, and every time we get lazy, at least we know how much we waste. (Exclude for our personal and social life, especially time for our family, coz however they’re priceless, irreplaceable, and we need to socialize as well). Yet knowing our value of time is powerful!
.
I have ever met a successful business woman who knew exactly how much her time worth per hour. So when there was an agenda which not compensate that “value”, she prefer ask someone to replace her and she would do something more valuable instead. Very decisive. She would not say yes to any seminar that invited her to be a speaker, coz she knew that popularity aint her goal, but do the right things were. And she always achieve her target so far. I think this is also one of aspects about knowing ourselves. Or just like in business: YOU CANT MANAGE WHAT YOU CANT COUNT. Think about it..
.
So, lets give it a try. Count your value per each minute and put that in your head. Or.. would you share to me how you deal with time and targets?

Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D