Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D

 

 

Advertisements

Jodoh: Partner Hidup Atau Imam?

tumblr_inline_o5djb9jSvh1qh7hsr_500

Assalamu’alaikum, guys! Attracted sama judulnya gak? X)) Dan jarang-jarang juga Hani ngeblog soal ginian kaann?

Cuma untuk kali ini Hani bener-bener pengen share aja. Karena bisa jadi ini salah satu turning point Hani juga dalam hidup, momen yang bikin mikir ulang, di tengah masa-masa pencarian dan perenungan.

Well.. sebenernya ada beberapa yang pengen Hani ceritain; soal ironisnya resiko jadi pengusaha perempuan (ceilah), dilematis pembentukan kepribadian secara keseluruhan dan terkait hubungannya dengan kehidupan pribadi (saat berurusan dengan para rojul). Tapi mari kita bahas yang ini aja. Salah satu manfaat berteman dengan orang shaleh dan semoga sama-sama bisa ambil hikmahnya.

——————————————————————————

Obrolan di tengah asrama hadist minggu lalu, ada temen-temen yang pengen bantuin Hani cari pasangan. Karena katanya “lw kayak terlalu sibuk, Han.. jadi gak ada waktu juga buat nyari. Gw bantuin deh ya”, kata Dessy, yang hasil comblangannya sudah menghasilkan beberapa pasangan menikah, termasuk diantaranya dua sahabat kami. Hani hargain niat baik, jadi oke lah… (dan kebetulan emang abis agak “broken” juga. #curcol).

Terus singkat cerita dia nanya.. “jadi, lw mau nyari partner hidup atau imam, Han?”

Hmmm…

Then you know what my answer was?

Partner hidup..

…yang paling krusial sih harus pinter (fyi: Hani lemah sama cowok pinter).. karena kebayangnya kalo kita pas udah tua nanti, mungkin yang kita lakukan juga cuma ngobrol-ngobrol di balkon (?). Terus kalo gak bisa ngomongin macem-macem, ntar ngobrol sama siapa?”. Gitu, Hani bilang. Dan manusia pun pada dasarnya ingin bahagia selama menjalani kehidupan toh?

Lalu Dessy tertahan sejenak dan kemudian minta izin meriwayatkan sesuatu, nasehat dari seorang guru ngaji juga… Hani menyilakan.

“Lw tau kan… Zaman dahulu kala, Allah menciptakan malaikat dan syetan. Semua tinggal di surga. Sampe akhirnya Allah menciptakan manusia dari tanah, dan tiba-tiba menyuruh syetan dan malaikat untuk tunduk sama manusia. Sebenernya malaikat pun bilang “aku terbuat dari cahaya, ya Allah”, tapi akhirnya malaikat tetap tunduk dan taat. Berbeda dengan syetan, “wah, aku kan terbuat dari api”, dan lalu tidak tunduk. Mereka sombong dan akhirnya tidak mau taat. Lalu mereka menggoda manusia dengan buah khuldi itu, yang akhirnya manusia “jatuh”.

Tapiii… tau nggak? Allah itu menghargai niat. Walaupun manusia melanggar, dia tergoda karena syetan bilang “buah ini akan membuat kamu kekal” dan sedangkan manusia memang ingin selalu di surga, pengen dapet rohmatnya Allah. Maka apa yang Allah lakukan? Allah menghukum manusia dan syetan. Dijatuhkanlah mereka dari surga, akhirnya ke dunia. Allah cuma lagi kayak “yaudah deh, nih gw keluarin dulu dari sini, ntar gimana kamu di dunia, itu yang akan nentuin kamu balik ke surga atau ikut syetan ke neraka”.
Then… do we realize?
Kita tahu ayatnya (dan memang harus beriman dulu), 1 hari di akhirat itu itungannya 1000 tahun di dunia. Kebayang gak? Dan seperti yang kita sama2 pelajari juga, bahwa umurnya umat Nabi Muhammad itu hanya 60/70 tahun. Bandingkan 60/70 tahun itu dengan 1000 tahun. Mungkin baru lah kita bisa sadar, ya ampun.. 70 tahun tu bahkan gak seberapa detiknya di akhirat loh. Masya Allah! Ternyata Allah tu bener-bener cuma lagi lemparin kita ke dunia sekejap sampe akhirnya Dia narik kita balik bawa ke akhirat lagi.“

Dan Hani baru sadar.

(Maka mungkin karena itulah “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun” – Dan tidaklah semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.)

Ya ampun, cuma sekejap, gak seberapa detik sebenernya hidup kita tuh.

Maka akhirnya Dessy nanya lagi.. “jadi.. lw yakin Han, maunya nyari partner hidup?”

….

“imam”. #istigfar

————————————————————————————–

Sesungguhnya ada 4 hal yang dilihat ketika mencari pasangan; karena parasnya, harta, keturunan, atau karena agamanya. Tapi jikalau kalian memilih agamanya, niscaya kalian akan jadi orang yang beruntung.

Manusia akan selalu berubah, di kitab pun dibilang, hati manusia itu diciptakan memang gampang bolak/ik. yang cinta bisa jadi benci, lama-lama saling bosan, tergoda banyak hal, tapi selama dia punya iman dan niat untuk bertaqwa, insya Allah bisa selalu inget tujuan surganya dan jalanin hidup sesuai syariat.

– dan akhirnya Hani pun terharu & bersyukur punya temen kayak mereka

Nabi Muhammad tu dulu waktu diliatin surga dan neraka juga kan bercerita, penghuni surga itu kebanyakan orang miskin. Sedangkan penghuni neraka itu dominannya adalah perempuan. Lalu ada yang tanya, “kok bisa perempuan, Nabi? Apa mereka kufur terhadap Allah?”. Nabi pun menjawab, “bukan, bukan karena mereka kufur terhadap Allah, melainkan arena mereka kufur terhadap suaminya”. Dan bagaimana kufur terhadap suami itu? Adalah dengan meniadakan kebaikan yang telah diberi. Yang jelas surganya seorang perempuan ada di suaminya. And I’m really aware of it.

Hal ini bikin Hani jadi inget juga sama seseorang yang suka manggil Hani feminazi kemaren-kemaren, gara-gara belajar gender equality di Ostrali dan beberapa yang berbau feminisme. Oh, you really get me wrong, then. I’m supporting women empowerment. But I’m a moslem, trying to be a good one, then I’ll obey anyone who deserve.

Sejak saat itu Hani jadi ngebayangin.. mungkin yang jadi suami Hani nanti juga bukan siapa-siapa secara dunia, gak ngerti bisnis, gak lebih banyak duit, gak ada apa-apanya di mata sekalangan orang.. tapi semoga yang bacaan qur’annya lebih tartil, hafalan surat, doa, dan dalil-dalil-nya lebih banyak, yang Hani ridho untuk taat, bisa saling surga mensurgakan. Itu aja.

Bener-bener cuma sekejap lah ternyata hidup kita ni…

tumblr_inline_o5dmbbNSFe1qh7hsr_500

NB: Jazaakumullohu khoiro buat Dessy, Mai, Agi, dan Wildan yang nemenin Hani malem itu. Selalu saling doain ya ❤

Teruntuk semua yang juga sedang dalam masa pencarian,

dari yang meluruskan lagi visi hidup,

Hani Rosidaini

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari hanirosidaini.tumblr.com/post/142522015966/jodoh-partner-hidup-atau-imam#notes untuk tujuan integrasi blog

 

Australia Journey: The Beginning

71e02-img_2595

yang lain naik Singapore Airlines, aku Qantas.. rapopo

Awal tulisan ini dibuat di atas pesawat, dalam 7 jam perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju Sydney, sebelum nanti terbang lagi 2 jam ke Adelaide, ibu kota dari state Australia Selatan (*). Durasi yang cukup lama akhirnya maksa Hani untuk bisa diem, sejenak istirahatin badan, dan lepasin pikiran dari riuh kehidupan. Ternyata baru berasa badan capeeek banget, whuff~ Sekian hari terakhir bolak/ik ke luar kota, aktifitas full, banyak pikiran, packing ekspress, sampe akhirnya ternyata tetep berangkat, rasanya… campur aduk gak keruan.

Sejatinya ada 9 orang Indonesia yang harus terbang. Tapi 8 orang lain sudah tiba di Ostrali satu minggu yang lalu. Hani terpaksa mohon penundaan karena masih banyak yang belum bisa ditinggal di Indonesia. Maka dibanding mereka yang berangkat rombongan, Hani harus pergi sendirian.
Lalu untuk apa kami ke Ostrali? Mungkin dapet jawabannya bisa sambil nemenin Hani disini, flashback, kontemplasi sambil berbagi.. boleh?
Intinya ini adalah dalam rangka program beasiswa non-degree dari Australia Award untuk belajar di Flinders University dengan subjek Women’s Leadership in Business and Economic Growth, masih di bawah fakultas International Studies.  Untuk Hani sendiri bisa dibilang ini beasiswa yang “dapet tanpa bener-bener apply”, karena tetiba ditawari, dan untuk beasiswa kategori ini, memang sistem rekrutnya adalah berdasarkan rekomendasi, dari partner-partner-nya Flinders, atau DFAT (bagian dari pemerintah Australia) selaku pemilik dana. Banyak nama yang diajukan, lalu penyaringan dilakukan oleh DFAT, dibantu oleh para partner tadi. Dalam kasus Hani, yang merekomendasikan adalah KPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Indonesia. Kenapa bisa diajukan? Nanti coba sambil flashback sebenernya apa yang bawa Hani kemari. Tapi yang jelas, jadi durasi programnya memang beberapa bulan, dan tapi juga walaupun non-degree, kami tetap dapat kredit dari universitas, sekitar 4,5 kredit, atau bisa potong 25% dari total SKS jika kami mau melanjutkan studi di Flinders di jurusan yang masih linier.
3a81c-1506530_10203529948144924_2659235658928760471_n

Australia is waiting

9 orang dari kami ini dapat rekomendasi dengan cara yang berbeda-beda. Untuk Hani sendiri, kalo ditarik benang, mungkin awalnya adalah sejak menang Top 10 di Indonesia Womenpreneur, yang kebetulan didukung KPPA, diselenggarakan oleh INDOSAT dan Fimela.com. Sejak saat itu memang jadi ngasih domino effect. Tiba-tiba dikirim jadi delegasi APEC WEF (Women And The Economy Forum) 2013, berangkat dengan rombongan bu menteri (yang pada saat itu masih Ibu Linda Gumelar), dirut INDOSAT Pak Alexander Rusli, dll, yang mana disana kami bertemu para pemimpin dunia, terutamanya yang perempuan, para pembawa perubahan dari tingkat regional hingga internasional, sambil juga bertemu pimpinan Oreedo, perusahaan induk INDOSAT di Qataar. Hani jadi yang paling muda saat itu. Lalu kemudian oleh Pak Alex dijadikan duta Indosat Inspera (Inspirasi Perempuan Indonesia), selain diundang juga untuk afternoon tea dengan Kimora Lee (former American super model) di Nusa Dua, sembari jadi tamu acara berbagi dengan para pengusaha wanita di Bali, dan masih banyak lagi. Namun diantara semua, terutamanya adalah sejak saat itu nama kami jadi ada di record mereka. Maka pada saat ada tawaran datang, jadi ikut direkomendasikan, dan saat itu Hani hanya diminta isi data diri, membuat resume, dan jawab beberapa pertanyaan yang Australia Award ajukan. So, kedengerannya agak effortless ya? Well… mungkin juga. Tapi mungkin juga proses menuju titik itu-nya yang justru lebih nguras effort =]

e6516-kolase

flashback

Kembali lagi tentang beasiswanya, ada beberapa keuntungan dari AAS (Australia Award Scholarship) yang jenis ini. Di luar sistem penyaringannya, selain sudah mencakup segala biaya, pendidikan dan transport, beasiswa ini tidak meminta sertifikat kemampuan bahasa Inggris. Jadi untuk Hani yang IELTS-nya sudah expired, gak perlu ambil tes lagi. Pengurusan student visa pun bisa dibantu. Bahkan kalo mereka sudah turun tangan, dalam hitungan jam saja bisa langsung jadi, hehe…. (baca cerita disini). Bahkan visa-nya pun asik, diperbolehkan kerja sekian jam per minggu, dan jika sudah menikah, sebenarnya boleh bawa pasangan atau dependant child <18 tahun. Selain itu, mungkin karena sebenarnya target fellow-nya adalah professional, fasilitas yang diberikan pun cukup istimewa. Akomodasi kami (berdasar laporan dari yang sampai duluan) sudah disediakan di apartemen bintang 4.5 di pusat kota, dan uang jajan pun lumayan ($75/hari jika harus disebut).
Nah, apa tadi Hani sudah menyebut professional? Betul. Jadi, ternyata, disana Hani bakal jadi yang paling muda lagi. Jadi anak bocah di tengah ibu-ibu. Sungguh. Status fellow yang lain, semuanya sudah menikah, dan usianya pun paling muda sudah kepala 3, beberapa kepala 4, dan ada yang kepala 5, sebaya dengan ibu dan bapak di rumah. Hani satu-satunya yang lebih seumur dengan anak-anak mereka. Tapiii.. CV mereka memang luar biasa. Ada dua orang yang memang staf kementrian, ada direktur NGO nasional yang juga mengajar di UI untuk gender study, ada pengusaha yang sudah mengglobal, dan perempuan-perempuan hebat lainnya. Ini wajah-wajah mereka:
bd50a-img_6644

minggu pertama = akhir musim dingin, si Ucil Hani belum datang

Yah.. jadi begitulah…

Walaupun beasiswa ini agak berbeda, tapi mungkin ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran secara general:
1. Track record. 
Raih prestasi sebanyak-banyaknya, belajar banyak hal, karena semua akan berguna pada saatnya.
2. Social Position.
Entah itu jadi pemimpin perusahaan, ketua lembaga, pembuat kebijakan, atau terlibat di organisasi. Yang jelas, kriteria ini berguna untuk membantu meyakinkan bahwa, pada saat si penerima beasiswa teredukasi, tidak hanya akan dia sendiri yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga lingkungannya bisa ikut terpengaruh dan merasakan dampak. (Saat membuat resume, Hani menulis, selain sedang berusaha menjadi wirausahawati yang baik, belajar meramu kebijakan untuk tim kerja, juga terlibat aktif mengelola komunitas bisnis, untuk terutama memberdayakan para pengusaha muda, dan di waktu luang juga menulis untuk berbagi segala hal yang sekiranya bermanfaat untuk diketahui orang lain).
3. Berdoa.
Ini agak cerita pribadi. Tapi setelah dirinci, ternyata ada beberapa hal di dua tahun belakangan ini, itu adalah hal-hal yang pernah Hani semogakan entah berapa tahun silam, yang mungkin terlupa tapi tiba-tiba kejadian. Salah satunya sekolah di Ostrali. Rasanya Hani pernah punya keinginan ini saat masih SMP atau SMA. Gak pernah kepikiran lagi, tapi tiba-tiba aja tanpa persiapan, langsung disuruh beneran pergi sekolah (walaupun konteksnya memang agak beda). Tapi sungguh, jadi, tetaplah berdoa, dan menyemogakan apa yang kalian mau. Karena kita gak akan pernah tau kapan Allah mengiyakan doa kita ^^
4. Berani melangkah
Kalo waktu itu Hani gak ikut si Indonesia Womenpreneur, mungkin Hani gak akan disini. Padahal waktu itu juga banyak ragunya, ngerasa masih gak siap, bingung juga mesti ikut karantina. Tapi memang mindset adalah yang paling berpengaruh. Hani selalu mikir, “di dunia ini gak ada yang gak bisa dipelajari. Just take a step and promise that you’ll always improve by always learning along the way”. Tiap berani buka pintu, pasti nanti akan buka pintu-pintu yang lain. Yang pasti, kalo gak berani melangkah, ya jelas kita gak akan kemana-mana. Ke Adelaide pun sebenarnya banyak ragunya. Kenapa harus Adelaide? Kenapa gak Melbourne? Sydney? Kenapa harus beberapa bulan? Semua urusan di Indonesia gimana? Terlalu banyak yang harus ditinggal dan dikorbankan. Tapi ya itu, berani melangkah. Karena setelah ini, Hani yakin dia akan bawa Hani ke pintu yang lain lagi.
6bc00-img_2602

nulis sambil ngamatin progress pesawat

Fyuh… panjang juga ya blog kali ini. Padahal masih ada yang ingin Hani sampaikan. Yaitu izinkan Hani untuk berterima kasih banyak (selain untuk Australia Award), juga untuk orang tua, ibu sama bapak, yang gak pernah larang Hani untuk jalanin apapun yang Hani mau, udah minta nganterin ke bandara tadi walaupun sebenarnya Hani gak pengen ngerepotin kalian. Untuk Pak Maftuh dari KPPA, yang hingga detik ini belum pernah ketemu sama sekali (karena pre-departure workshop-nya pun di-cancel), tapi udah bantu banyaaak banget selama proses administrasi, banyak sekali direpotkan, tapi Pak Maftuh sabar dan sampe akhirnya tetap bisa on track. Luar biasa. Untuk tim, Rizky Irawan, Aldy Manggala, Prasetya Kharisma, maaf Hani mesti pergi dulu, berat rasanya, tapi kalian tetap berusaha ngasih support, makasih banyak, dan doain Hani. Juga untuk Ryan Triadhitama, makasi sempet dateng ke bandara, walaupun gak ketemu. Maaf jadi makin panjang. But I really want to thank them all. I dont wanna take them for granted. Those are mean a lot for me. Really. Thank you so much.

Dan atas semuanya, alhamdulillah, terima kasih. Teruntuk kalian, doakan Hani semoga semua berjalan baik ya.. Hani doakan juga kalian semua bisa semangat terus mencapai apa yang dicita-citakan. Amin.

dari ketinggian 180.000 kaki di atas permukaan laut,

 
dengan sisa energi terkuras, sepertinya harus segera tidur
 
 
(*) Saat tulisan ini dibuat, memang belum ada direct flight Jakarta – Adelaide, harus transit dulu minimal satu kali di kota lain, entah itu Singapore, Bali, Melbourne, Sydney, atau lainnya.
Disclosure: postingan ini repost dari http://bit.ly/2cdAdj1 untuk integrasi blog

Father

il_fullxfull.337517962

I’m kind of that girl, who has her father as her no.1 man on this planet. Eventho we rarely talking, because we’r also not that so expressive to state our feelings. He often keep silent, yet I know he’s always watching me. Never force something, coz he knows that I’ll always have my own expectation. Mother phoned me, but I know it was my father who really wanna do it and asked her to do so. He’s the one who would be happier when I’m happy, and feel broken when I’m sad.

This Ramadhan bring those memories.. when he carried me on his back while going home from the mosque after itikaf. What old times.

Nothing as big as my love for you, dad. All i wanna do is just to make you feel proud of me. 💞❤️💖 #FeelingEmosyenel

 

 

Update:

I can’t stop telling people that I love my dad so much. But weirdo, I can’t tell him directly so often instead. Maybe you r also aware when you see my this blog’s title: Daddy’s Little Warrior. I dedicated to him. Well.. since I was a kid I realize that I wasn’t born as a princess, and my parents never raised me to be one tho. Instead, they raised me to be “a warrior”, a person who can survive in any conditions of life, and I’m thankful for that.

If only you know my father very well, we are so much alike, maybe not apparent physically, but in basic character and attitudes (unfortunately including all the bad habits). I always see him as a mirror, I see myself in him, and his in me, even for little things. When I confused analyzing myself, I usually end up by finding the answer in him, I almost always act, react, and think exactly like him. I’m just his another version. I know how he works so hard for his family and never complain to surrender his life for his loved ones. So this time, all I can say is.. “so will I, dad”. I’ll be ashamed if I give up on life just by remember you. Even when every thing seems bleeding and depressing. I promise that I will always be.. your little warrior. *cross finger* #KeepSurvivingForDad #ThugLife

How to Deal With Difficult Conversation

tumblr_inline_nhljmhtxr81qh7hsr

Have you ever feel stuck in a conversation, while you still want to keep on talking, discussing something, but anything gets harder to handle and just be worse instead? I have a lot, either with “friend”, colleagues, or family. The problem with “friend”, sometimes you just want to continue the hard times because you still want to be connected, you keep on trying hoping it could attract good reactions and approach with nice impression. But your partner might not reciprocate by as you wish. And it’s hard, I know. I know exactly so I can feel you xP

With colleagues, the factors could be varied. Even sometimes for tiny things. But for this case, I didnt allowed feelings involved, so it safe. With family, owh, it’s even harder. I have brother and mother who didnt always agree with me, and yea, we argued. (My father? Well, you dont have to worry about him. I always be his little princess. And since he usually prefer to stay quiet, I perceive that he’s always on my side. My #1 man on this planet).

So,

I faced many difficult conversations with humans. Eventho I declared myself as an extrovert, love to meet people, read a lot, and feel that I never limit and create boundary on specified topics. But the difficulty is also belongs to me. So when there is a psychology people give advices to me about how to deal with it, my curiousity level is on maximum. I often believe on science and on psychology. Not merely because it learned in school, but my tendency is they taking patterns. I’m sure every single thing in this galaxy has a pattern. People need time and consistency to catch and map it, something that not everyone could afford. (if my time is really unlimited, perhaps i want to learn much more than I did, urgh).

Here are the advices that I got:

1) First, we need to calm. If we Hulk Out, it’s little more than a screaming match and nothing gets accomplished.

2) Dont make statements. Ask questions. The other person will interpret it as a veiled form of fighting back.

3) Treat them like a child. No, it doesnt mean be condescending. But we wouldn’t try to rationalize with a screaming child. And we wouldn’t get angry with them for yelling.

4) Ask “what would you like me to do?”

5) Speak slowly. Anything that slows the situation down is good for us.

6) Start sentences with “I’d like…” not “You are…”

7) Let them have the last word. Needing to have the last word is like quitting at mile 26 of the marathon. We’ve done everything right up until now. Do not let our ego screw up everything at the last minute.

Those are the things that we (me and you all) can try. Good communicator has always good position in society.

Last but not least, there is one thing that I wish I could posses: sense of humour. Uh yeah, it such an expensive gift. Everytime I see it on a man, I always think perhaps it was innate. But really, be a humorous is such a bless for those who use it well. Let me know if there is people who sell it, hahaha…

By now, after all this time, would you have a good conversation with me? :3

Value of work. Make leader rethink.

capture-20150102-212603

So, I just watched a TEDx video and get some good insights from it. Seems like a simple ones yet quite sufficient to be awared and realized, especially if you’re a leader, either in work or community.

We usually think that our people work mostly for money, wage, or kind of that sort. That’s their main motivation or at least a thing that could move them to do something, the easiest way to order. Well.. that’s not incorrect. But from the experiment, the research, “meaning” also takes important role of their work.

Actually there are 6 things that mentioned here (as you can see above);

+ Meaning

+ Creation

+ Challenge

+ Ownership

+ Identity, and

+ Pride

You can give them money, but how about the quality? It was well explained by taking the IKEA assembling as an example. Or cake mixes. Once, there was product about cake mixes. You know, like an instant cake where you just need to pour it in, stir some water in it, put in the oven, and voila! You have a cake. But when you’ve done that, if you offer it to (maybe) your guest, you might not say “hey, here is my cake”, because you feel somebody out there has done this part. There was no big effort involved, it didnt really feel like your own, people lose meanings. So what did the company do? they took the egg and the milk out of the powder, let people do the more process themselves. Now it has become more difficult, but people love them, it feels fine. That’s about challenge and pride, meaning and ownership. Interesting, eh? While giving difficulties to others aint making them miserable but giving a value instead.

Besides, dont forget to also respect of our people’s performance, even just by scanning and saying “uh-huh” of their work. Give them confidence. Even if there’s a chance, give them spaces to show-off in public, pride is really something that money cant buy.

Hopefully we can be a better leader in each day 😀

Korupsi Itu Gak Logis

UANG KORUPSI gray

Assalamu’alaikuum.. hehe..

Ini adalah bener-bener postingan kilat, maksain diri untuk nulis, walaupun cepet-cepet dan pendek. Adalah hasil ngobrol-ngobrol sama seorang dosen psikologi yang juga belajar ilmu filsafat dan agama. Sebenernya simpel sih bahasannya. Tapi entah kenapa pengen aja diposting di blog. Yaa.. anggep aja biar gak lupa.

Ngomongin soal korupsi, apalagi di Indonesia, kayaknya emang gak bakal abis-abis. Saat tulisan ini diposting, nominal minimal tindak korupsi yang diusut adalah 1 milyar. Artinya, kalo ada seseorang yang melewati batas itu, sudah layaklah dia ditangkep KPK dan disebut koruptor, tukang makan duit orang, duit rakyat. Lalu gimana dengan besaran uang yang jauh lebih kecil? Kenyataannya, kita semua rentan terhadap perilaku itu, entah miskin atau kaya, dengan berbagai macam penyebab. Gak ada hubungannya sama agama, karena terbukti yang sekarang pada ketangkep, juga justru orang-orang yang keliatannya cukup religius. Lantas, apa yang salah?

Secara simpel, kenalan saya dosen ini berpendapat, “ada logika dalam Islam yang orang-orang itu lupa, Han” | ??? . Lalu dia menjelaskan:

1. Untuk setiap muslim, kita semua seharusnya tau dan sudah meyakini, bahwa rejeki orang itu sudah ada jatahnya masing-masing. Yang artinya apa? Rejeki kita itu sungguh-sungguh sudah ada takarannya, dan tugas kita hanyalah menjemputnya. Kalo kita korupsi, tapi memang belom rejeki, toh korupsinya belom tentu berhasil juga toh? Karena memang apa yang akan kita dapat itu sudah ditentukan. Lalu untuk apa kita menjemput rejeki kita dengan cara yang dimurkai Allah dan dibenci manusia?
2. Orang yang korupsi sebenarnya dia bukan mengambil harta orang lain. Karena ada istilah “rejeki itu gak akan ketuker”. Apa yang dia dapat adalah rejeki dia sendiri, hanya mungkin dengan mempercepat yang belum saatnya. Jadi, sebenarnya, untuk apa???

Bahasan simpel kan? Tapi entah kenapa saya kagum aja sama beliau pada saat ngomong begitu. Mungkin karena memang tipe orang yang bisa mensinkronkan ajaran agama dengan logika yang bisa diterima orang lain.

Intinya sih, kesimpulan semua ini, dalam Islam, korupsi itu bukan cuma haram, tapi juga sebenarnya gak logis. Titik.

 

Di dalam ruang yang atapnya gemuruh bunyi hujan,
Terima kasih untuk Pak Hakam,

Jakarta,
2014

 

Update:

komen-1

Repost dari fb sebelum ada yang komen sama di sini.

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2014/12/korupsi-itu-gak-logis.html untuk tujuan integrasi blog

Google Rule The World, You Have No Privacy

Haaaaalooooo…!! Hoba, hoba, hoba! Apa kabar semuanya? 😀
Lama gak ngeblog, gemes rasanya, banyak yang pengen di-share. Kebetulan kali ini lagi ada yang mentrigger untuk posting lagi, jadi mari kita cikidaw.
.
Google-lunar-x-prize-1

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

Sesuai judulnya, sebenernya udah lama banget pengen nulis topik ini: Google Rule The World. Well, karena umumnya orang tau Google sebagai mesin pencari. Tapi kalo menilik jauh ke belakang bisnisnya, kok kayaknya gak abis-abis lini bisnis mereka, melingkupi hampir semua hajat di kehidupan kita, bahkan jauh di atas kehidupan standar manusia. Beberapa yang bisa disebutin diantaranya adalah, mereka punya project bikin moon rover robot untuk ke bulan (Google Lunar X Prize: lunar.xprize.org) yang bakal beneran berangkat ke bulan tahun 2015, mereka juga udah beliBoston Dynamics, institut robotik yang develop robot-robot humanoid (bostondynamics.com), merekabikin chips sendiri, mereka punya perusahaan kesehatan bernama Calico, mereka masuk ranah politik dengan develop constituteproject.org, yang ngasi fasilitas ke para penyusun konstitusi dengan cara mempesenjatai mereka berbagai tools, termasuk untuk para warga sipil biasa yang pengen membandingkan konstitusi antar negara di dunia, mereka punya perusahaan satelit, mereka produksi hardware kayak handphone Nexus, wearable-technology Google Glass, dll, segala macem yang kayaknya susah disebutin satu-satu, yaa apalagi kalo yang emang ngurusin urusan-urusan harian manusia, kayak online store dan termasuk wedding organizer (google.com/weddings/#/announce-the-news) #uhuk xP. Yaa singkatnya sih, sampe ada yang bilang, mereka tuh jadi kayak semacam “Tuhan Digital”. Fyuh~

Atlas_frontview_2013

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

 

LS3-AlphaDog_web

Private lunar rover. Courtesy Astrobotic Technology. Uh yeah, baby. We’re gonna colonize human to the moon.

 

Can you guess what crossed my mind at the first time I saw all these stuffs?
“Oh God… what kind of future is coming…” X’)))

Ya, tapi balik lagi. Terlalu banyak yang bisa dibahas dari si salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia ini. Jadi apa sebenernya yang mentrigger Hani untuk nulis? Justru postingan salah satu teman  di facebook tentang apa yang sedang terjadi di sekitar daerah rumahnya. Doi posting foto ini nih, tadaaaa…

10177324_10152806945324776_2674914977283915287_n

haee :3

Mobil ini kebetulan sedang wara-wiri di daerah rumahnya di sekitar Perumahan Babakan Jeruk, Bandung. Untuk yang familiar, mungkin langsung ngeh ini mobil apa. Tapi untuk yang gak tau, ya bisa juga sih nebak dari tulisan yang ada di body mobil; “Ooohh.. ini toh Google Maps Sreet View…” (sambil ngangguk-ngangguk liat bola di atasnya). Lalu pertanyaan berikutnya, untuk apakah sebenarnya mobil ini??

Tebakan umum pertama yang keluar dari orang-orang yang liat adalah, mobil ini pasti sedang ngambil denah jalan, update peta untuk Google Maps, dan bikin versi lebih lengkapnya, karena sekarang udah bisa ditambah nampilin rumah-rumah yang dilewatin.  Sebagai orang awam juga, reaksinya ternyata bisa macem-macem, ada yang seneng karena rumahnya nongol masuk internet, ada yang nunggu kapan rumahnya dilewatin, ada yang khawatir takut pas lewat mereka lagi jemur sesuatu depan rumah, tapi ada juga yang kritis langsung antisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi.
1599465_10202878558473912_499786755709844530_o

Hasil yang bisa keluar dari pencarian melalui Google Maps.

“Wah, ketauan dong bentuk rumah kita ntar, bisa ngegampangin para maling?”, “Ini udah izin pemerintah belum ya, atau ada undang-undang-nya?”, “Emang warga sekota udah tanda tangan ngebolehin rumahnya di-shoot?”, begitulah sebagian orang yang kritis lalu peduli tentang privasinya. Sedangkan untuk sebagian yang lain: “Yaudah lah.. ini kan street view, domain public, dan juga for people good, lagian paling hanya ambil tampilan luar. Toh nantinya kita juga make layanannya”. Kira-kira begitu untuk kalangan yang pro dan agree by default. Menarik bukan?

Yang menarik adalah, seandainya saja, oh seandainya saja, kita bisa meluangkan waktu untuk mencari tau apa yang terjadi di sekitar kita, sebenarnya dengan mudah kita juga akan menemukan fakta-fakta yang menarik. Tapi mungkin rerata karakter orang kita memang ramah dan husnudzon (berprasangka baik), jadi yasudah…
Fyi, mobil ini sudah beroperasi dari sejak tahun 2007. Dan sebenarnya kalo cuma untuk bikin peta, mereka gak perlu ini. Apa untungnya ngambil tampilan depan rumah orang? Kenyataannya, privasi yang dilanggar bukan cuma soal itu, melainkan karena mobil ini juga sebenernya nyambi sebagai mobil spy, yang ngumpulin data wifi, email, dan password. Di Eropa dan kawasan lain, mobil ini sudah sangat dibatasi pergerakannya sejak 2010. Bahkan di Amerika aja, kasusnya pun masih diproses. Di tahun 2010, mereka didakwa karena mengakui memang mengcopy data-data password dan email. Perusahaan di California juga mengakui bahwa antena mobil itu men-scan jaringan wireless, termasuk wi-fi rumah, yang menghubungkan jutaan PC ke internet. Google mengintegrasikan lokasi, nama dan kode-kode identifikasi dari jutaan jaringan itu dan memasukkannya ke database mereka untuk kepentingan penjualan iklan. Jadi ya ampuun.. data-datanya itu loh.. Banyak negara yang concerned sama isu ini, sementara untuk di kita sendiri, well.. sepertinya mobil ini bisa terus menyadap dengan sedap. Bahkan kalo cari street view di negara-negara Asia Tenggara, untuk Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia aja (terakhir sih) belum ada, sedangkan untuk Indonesia ini paling lengkap. Seakan data-data pribadi kita yang mereka ambil dari smartphone kita belum cukup. Jadi, jangan heran kalo semua kebutuhan orang Indonesia nanti resepnya ada disana.
big2

Kalo settingan Android kamu ON, history kamu juga bisa diakses dan ketauan kemana aja selama ini, xixixi..

So, menurut kalian gimana? Ya memang sih, namanya juga perusahaan informasi. Dan mereka janjinya akan membenahi soal kebijakan privasi ini. (Gila ya, padahal revenue mereka udah sampe belasan trilyun dolar per tahun). Untuk yang pro dan tetap ngerasa santai, ya silakan, ini hanya memberi perspektif yang lain. Dan kalo untuk saya pribadi sih, bikin jadi pengen belajar lebih jauh aja soal si cyber security 😀

Baca komen orang-orang soal si perusahaan ini, jadi nemu kepanjangan yang cocok: GOOGLE = Grand Operation Over Gathering Largely Everything, ehe ehe ehe.. Sebagai penutup, Hani cuma pengen ngasi comic strip, salah satu favorit dari seri “SSHHH… IT HAPPENS!”-nya @ArieAre yang kayaknya agak relevan juga sama postingan kali ini:

Sekian postingan kali ini. Semoga kita akan ketemu di postingan berikutnya yang tidak terlalu lama! xD

PS: Tiba-tiba jadi kepikiran juga, istilah “Google” sama “doodle” tuh mana yang nongol duluan ya? Soalnya konsepnya sama;segala ada.

— ditulis di tengah malam menjelang pagi di kamar Jakarta, dalam kegalauan tentang asmara dan harga BBM yang baru naik jadi 8500/liter

Sumber referensi:
.
Disclosure: isi bahasan ini berawal dari postingan @ombenben di halaman facebook-nya: http://on.fb.me/1uxm4AS dan ini adalah hasil repost juga dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2014/11/google-rule-world-we-have-no-privacy.html untuk tujuan integrasi blog

FREE E-Book, Only for You

Hi, all!

It had been years since the last time i wrote here, haha.. Many things to do, and yea.. of course many things worth to share. But to manage the time to be effective is still a big homework for me. Anyway, I also write some posts in another blog, specifically in bahasa, while most of the contents are reshare information that (hopefully) will be useful for others, just to differentiate this web that I intend to be my own private sharing space which is also fully in (my-own-style-practical) English =p

Just like now, I didnt expect that I want to write today, but when I do, I can’t hold it.

If only you know, guys, I have a very long list of topics that I want to discuss about here, but perhaps those things will only truly written if I have a whole time of the world, really >,< Maybe I should lower my expectation of myself that I always have to write a long-comprehensive post, instead of make the short-shallow one. It only made me actually NEVER wrote, while at the same time, I keep posting on facebook page and tweeting! Why didnt I share here? The facebook posts and tweets might be drowned and disappeared, but blog posts will always remained and waited to be read by anyone (beside also as my own reminder). So.. here i am, trying to change my habit, exercising muscles again. Ready?

Fyuuh~ But since it is gonna be the “warming-up” post, so let’s get started by the fun one xD

As the title above, I wanna give u a free e-book. No, not the illegal one. It permitted to be shared directly from the author. And know what? This is a pictorial book for kids, yay! ^,^/ Haha… For those who know me personally, must have known that I’m a huge fan of kids book. And for those who not, well.. now I told u that I am. I have become the admirer of this kind of book since around 2008, since somebody introduced me to the magical things that this could create. I even ever illustrate a serie of pictorial kids book, and it got me deeper to its world. No, no, please.. don’t get me wrong. It doesnt mean that I’m kind of people that surrender self to be trapped in childhood. No. We may not always easily judge people by only single thing like that. I read all kind of books, from technical journal to philosophy, history to psychology, drama to science-fiction, comics to detective novels, you name it (except motivational books, maybe xP). But kids book has attracted me to find its particularity. If we learn it well, this will lead us to explore about civilization, neuro-science, and even a thing that i called social-engineering. You can see a huge difference from people who love reading since early age and not. How the imagination works and fantasy or fairytales from bed time stories affects human thinking, or even more, how this made us collectively to be a weak nation in this scientific competitive world. Sounds serious, eh? :p But it is.. Kids book is a serious stuff. We can discuss about it for days, if you don’t mind.. well, but i know it’s not the time, haha.. We will do it later. I promise.

Sooooo… what exactly am I trying to share? :))

A good friend of mine had made a simple book like seen below:

What ju think?

At the first sight i see it, I thought it was made by an illustrator and it was on sale. But after I read my friend’s story, I just knew that it was her own made picture, and she really learnt from zero to made it. Amazing! I remembered the first time I hold a pencil to write a sketch and how hard this could be.. moreover to create a good story that has an end. So, to appreciate her effort, and also to poison people to simply reading, i want to help to share it to my circle. And with the kindness of hers, you guys may also reshare it to anyone u wish. Just several pages.. yet still sweet for me.

Soooo.. where’s the book, Haneeee…??

Haha, okay, okay, I’ll stop blabbering and just give you the link here : http://www.4shared.com/office/cWQ7pO64ba/Emma_Shoes_Day.html

Hope you guys enjoy it as I am, and again, thanks to mba Nita Chandra for giving me a little push to write again, hihi..

Overall, such a quite short post, rite? :B See you next time, and.. have a nice day!

 

PS: I lost ALL my blog comments because unintendedly deleted along with the spams, huaaaa :'(( So please to leave any comments again just to adorn this quiet dark blog, hiks.

 

Sheryl Sandberg – Lean In (Part 3)

In the 2nd chapter: Sit at The Table, Sheryl slapped me with her blatant truth about psychological tendencies that woman have. Something that might seems obvious, but we often reluctant to admit (like the institutional obstacles are not enough -.-“)

As woman, we rarely think about deserving achievement, position, or even compliment. We often give lower scores to ourselves about anything, while men do the reverse. Eventhough we’re good at something, we usually haunted by insecurity that we’re not good enough, there’s still a lack of something, and so on. When somebody congratulates us for a good news that they heard, we feel that we already being fraudelent and fooled them. When a plan gone aint as we wish, we always search the bad side and drop into a great degree (compared to men, who even can take that so easily). And know what? To complete all those messy feelings, these mental problems for women could take very serious impact for a long time. Oh, well~

And yea.. anyway, I got a new term from this chapter, that is: Impostor syndrome – phenomenon of capable people being plagued by self-doubt. Coz, for example, even when a woman was offered an executive position in a company, while everybody thinks that she is the fittest person for it, she herself might think hundred times more than man to receive and say “yes, I’m ready”. Hufft~

I think everybody should know this. Be a woman and a leader is not easy. We really need to adjust our intellectual and emotional capacity. Me myself is gonna practice more each day.. to think slightly like a man.. just feel good about achievement, regardless to its imperfection.. give higher scores to myself and feel deserve about many great things.. to not so desperate when bad luck comes… courage to take risks and make any opportunities fit for us… enjoy the life, coz the ups and downs are unavoidable. Just let it flow, Hani.. just let it flow.. not go with the flow, but GROW with the flow.. coz your happiness is all depend on you.
Wish me tons of lucks. Cheers!