A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

One Thing At A Time, Data Mining, and Kindle

IMG_5102

Ok, sorry for the photo

 

Guess what? I’m currently in the middle of my reading and choose to take a break just to write this post. I’m reading Data Mining – Practical Machine Learning Tools and Techniques (some people recommended this one, so I give it a try), written by the practitioners of WEKA, one of the¬†powerful softwares to mine data, and I expect this book is really practical just like mentioned in its title. I spent several hours to reach half of this book (around 250 pages) and I think it’s pretty fast, because I was not skimming, but really reading it comprehensively. Why so? How could I do that?

Recently, I’m practicing to apply a method, that may be very common to all of you, but not everyone doing it: “One Thing At A Time” method. Started when a friend of mine telling me something about healthy eating behavior. She said that, if we have to choose between bathing and eating, what should be done first, it’s better for us to do bathing first and eating afterward. Why? Because when doing food digestion, our body needs to focus and not distracted by any other activities. She even said that, bad digestion can produce toxic. So when we eat, it’s not recommended to double the job by reading books, watching movies, checking social medias, stalking your ex-es, or so on. And I think it’s also relevant generally. People nowadays are crazily obsessed by multi-tasking, like we have to accomplish so many things at a time. The question is: is it really work? I personally think that it is a toxic (at least for me). Instead of being a benefit, it usually becomes a threat. When we’re doing jobs and keep moving from one to another, most likely we end up by not finishing them all well. Or worse, none of them is finished. Well, some people might say that they can deal with that, but me, even without distraction, my mind is often branched far off the topic, so it’s best to get rid of all unrelated stuff. And to make it more powerful, I even wrote the sentence in a big sheet of paper and put it on my wall: ONE THING AT A TIME. Whuff~

So, done with the method and back to the book. I finally chose to take a break because after finish half of it, I found that this book is veryyyyyyy…….. useless ūüėź (I give the link below this post if you want to download the PDF and read it too). The authors waste my time by babbling about data mining application in different industries until page 90, which not necessary needed. And when they move into technical chapters, I found them not easy to understand, unless data mining is already in you (with that advanced statistics, complicated formula, and well programming skills), and you just read this book as a supplement. So, I think I will shift to another book: Mining of Massive Datasets, and decide whether this one is better or judge that these books are typical.

511pKebJTTL._SX258_BO1,204,203,200_

Lets see…

 

Talking about books, usually in weekdays I spend 1-2 hours for reading. But in the¬†weekend like this, I can spend so many hours only for consuming words and extracting information from books, and now I’m starting to worry. Not because of the reading, but the medium. You know, of course I do love physical books. But since my reading is dominated by English books (which are not cheap to collect them all physically, and not all of them are provided in near places either), my books now are mostly in digital form, and I read them all through gadgets. We can imagine, even without reading books on a¬†laptop, I spend my time staring at the screen for so long, for improving skills, coding, doing tasks, emailing, and other activities. And when I want to relax and doing what I love, which is reading, I still have to torture my eyes with shiny lights from LCD? Oh My….

So now I’m seriously considering about using Kindle. But because it is not officially sold in Indonesia, perhaps I have to find a way how to get it. Well, surely those local marketplaces are selling it, but, are there some issues to be concerned about? Or is it just okay to buy from the local seller with a¬†higher price? Will there be any trouble with US credit card payment? Oh, please, for any of you who have experience, do share with me, I will be¬†very appreciate it. Meanwhile, I’ll be using this laptop or smartphone and aching in tears when it takes too long. Huhuhu…

61shyF063PL._SL1000_

Craving for thisss!

 

 

In the mid-day, when all my eyes want to see are green leafs and prairie,

hope that I will never have to use reading glasses in my whole life

 

 

Download PDF:

Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques – Ian H. Witten & Eibe Frank

Mining of Massive Datasets – Anand Rajaraman & Jeffrey David Ullman

#BookReview Your Name Is Olga – A Compassionate Book About a Down’s Syndrome Girl

5102KY8eDhL._SX314_BO1,204,203,200_

Rate: 7/10

Judul aslinya “El Teu Nom √©s Olga” terbitan Spanyol. Aku dapet versi bahasa Inggrisnya di toko buku loak langganan waktu di Bandung. Isinya adalah kumpulan surat seorang ayah untuk anak perempuannya yang terlahir Down Sydnrome, yang diberi nama Olga.

Awal terbit, tahun 1989, setelah putrinya itu pun berusia 28 tahun, adalah masa dimana hal-hal seperti ini masih belum diterima dengan baik oleh para orang tua, informasi masih sangat terbatas, sehingga buku ini bisa jadi sangat menyentuh untuk banyak orang.

Alih-alih malu dan mengucilkan anaknya sendiri, beruntungnya Olga, dia punya kedua orang tua yang suportif, terus berusaha agar anaknya bisa tetap tumbuh cerdas dan bahagia, sambil belajar banyak tentang kehidupan melalui hari-hari yang mereka lewati, yang akhirnya dicurahkan dalam setiap surat yang ditulis sang ayah.

Penyebab Down Syndrome sendiri adalah karena kelebihan kromosom sehingga terjadi kelainan. Tidak melulu keturunan, tapi bisa juga karena berbagai faktor lain. “Menarik bukan, Olga? Karena kelebihan adalah yang justru menjadi sumber kekuranganmu”. Probabilitas terjadinya kelainan ini di dunia adalah sekitar 1:1000. Dan yang menarik di kisah ini adalah, orang tuanya tidak lantas mengetes diri mereka berdua karena tidak ingin bertendesi mencari tahu siapa salah satu yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan lalu memiiki rasa menyalahkan atas keadaan. Mereka justru lebih memilih untuk menerima dan berjanji untuk bekerjasama membesarkan putrinya itu.

Saat membaca, aku jadi terbayang bagaimana rasanya para calon orang tua yang sedang menunggu kelahiran anak mereka. Pantas saja jika ada masa dimana sudah tidak terlalu peduli lagi apa jenis kelamin sang jabang bayi, laki-laki atau perempuan, karena yang jauh lebih penting adalah bisa terlahir “sempurna” dan sehat seperti selayaknya.

 

Salam hangat dari Jakarta,

karena di tengah kesibukan pun harus tetap terus membaca

 

NB: Walaupun bukunya bisa dibilang cukup “tipis”, tapi aku post ini karena¬†udah janji sama diri sendiri untuk sebisa mungkin review dan nulis¬†soal buku-buku yang udah dibaca, biar gak lantas lupa tapi sedikit-sedikit bisa tetep¬†inget. Cobain deh! ūüôā

See my other book reviews and friend me on: https://www.goodreads.com/haniwww

Hal-Hal Random Tentang Tokyo Yang Kamu Harus Tahu (Dan Cara Ke Jepang Gratis!)

tokyo_6492

Hello, Japan!

Haha..
Kalo kalian kerap kali baca blog aku, pasti nyadar bahwa banyak tulisan aku yang judulnya “Hal-Hal Random”: Hal-hal random tentang Adelaide, hal-hal random¬†tentang bisnis, tentang kehidupan sehari-hari, yang bahkan ada sekuelnya, berseri dari #1 sampe ke #sekian. Karena kenyataannya, emang aku suka merhatiin hal-hal yang kayaknya sepele, tapi karena banyak, jadi pengen dikompilasiin aja dan ditulis biar gak lupa (selain otaknya juga emang suka random). Dan sekarang adalah gilirannya ngomongin hal-hal random tentang Tokyo, ibukota Jepang! ūüėÄ

Jepang sendiri aslinya adalah salah satu negara impian aku dari kecil, selain Inggris (yang sampe sekarang masih belom kesampean dikunjungin, hiks). Ya you know lah.. karena kita banyak nonton anime dan baca komik Jepang, yang bikin ni negara rasanya udah akraaabb banget. Negara yang maju keren secara teknologi, tapi tetep mengakar dan lestari budayanya, beuuhhh, Jepang banget! Segala aktivitas dan wisatanya pun bahkan kita kayak udah hafal gitu, ya ikebana lah, origami lah, tradisi minum teh, sampe budaya mandi bareng di onsen, hihi…

Kelihatannya sihh, segala aktivitas itu kayaknya akan sangat jauh lebih nikmat lagi kalo sedang wisata ke Jepang, atau emang beneran punya kesempatan tinggal lama di sana. Sedangkan aku, yang ke Jepang untuk urusan kerjaan, bagian terbaiknya adalah, ngamatin gimana orang-orang di negara ini. Dan well, default kepribadian mereka tetap akan bikin kita ngerasa wow sama Nippon.

 

1. Berbisnis dengan Jepang

dsc_0281

Di MONO, salah satu pusat teknologi.di Tokyo

Bahasan tentang poin ini akan sangat panjang, makanya akan aku tulis di postingan berikutnya, lengkap dengan gimana cara aku bisa bantu kalian yang ingin mengembangkan bisnis ke negeri sakura. Tapi yang jelas, dalam berbisnis, orang Jepang memang sangat based on trust, personal attachment or reference, akan lebih bagus kalo kita punya mutual relation sama mereka. Mungkin pernah sekolah di Jepang, kenal sama pihak Jepang, punya hubungan baik dengan sosok tertentu, itu bisa di-share untuk menimbulkan kepercayaan. Kalo itu bisa diwujudkan, apalagi nihongo kita lumayan, mereka akan sangat kooperatif, dan loyalitas orang Jepang itu sangat tinggi. Sekali kerjasama dengan kita, mereka akan stay ke kita. Dan dari segi bisnis, ini sangat bagus, karena masyarakatnya juga termasuk big spender, asal kita mawas aja, jangan sampe melenceng, atau mungkin mengecewakan, karena standar mereka tinggi dan toleransi sama kesalahannya agak minim, hehe.. Jadi harus lebih serius dan presisi.

 

2. Gak ada tempat sampah!

img_2801
Gila, percaya gak sih, dari bandara sampe hotel aku di Hamamatsucho, aku hampir gak liat tempat sampah sama sekali. Susahnya minta ampun. Tapi orang-orang gak pada nyampah, men! Semuanya tetep bersih aja gitu. Pas aku tanyain sama orang setempat, ada yang bilang sih mereka sempet parno sama kejadian bom yang pernah ditaro di tempat sampah, yang hasilnya yaudah, sampah diurus sendiri aja sampe kalo ada tukang sampah dateng. Whatt??! Tapi tetep bersihhh.

 

3. Budaya ngantrinya, juara dunia!

13510838_10157143132600078_2722866177227354191_n

Panjang betull

Ini pas mereka ngantri di elevator stasiun sampe sepanjang itu. Kalo liat sendiri, pasti bikin ngerasa “HOW AMAZING JAPAAN!!”. Karena menurut aku, ngantri itu bukan cuma sekedar menunjukkan aktivitas, tapi juga refleksi kualitas para manusianya yang kompleks. Emejing! *bow

 

4. Doyan amat sama karaoke

img_2795

Salah satu jalanan yang ada gedung2 Big Echo yang warna merah itu loh.

Di satu baris jalan aja, aku bisa nemuin lebih dari satu gedung BIG ECHO tempat orang karaoke. Doyan amat yak. Agak relatif murah juga kayaknya tarifnya buat mereka. Satu gedung aja buat aku kegedean o.O

 

5. Same Guys Anywhere

dsc_0306
Sering berada di tengah para pekerja kantoran Tokyo, aku malah semakin ngerasa mereka semua keliatan sama. Kenapa? Karena pakaiannya agak default, rapih necis celana kain dan kemeja plus jas item, itu aja udah seragaman. Biar gak ribet kali ya. Kayak Mark Zuckerberg atau Steve Jobs yang bajunya itu-itu aja.

 

6. Vending Machine

13483065_10206808139297654_3351217060216193635_o

Beberapa ratus yen per botol.

Yah.. terbukti, seperti yang orang-orang bilang, Japan is the country of vending machines. Tiap berapa meter selalu ada vending machine, dan yang dijual macem-macem banget, dari cemilan sampe daleman, semua ada. Tinggal siapin duitnya aja deh udah.

 

7. Ukuran rumah dan toilet.

dsc_0362

“JAPAN”. Gambarimashou!

Selain emang harga tanah mahal (banget), kayaknya mindset mereka juga emang fokus ke fungsionalitas. Rumah gak usah gede-gede amat, mending compact dan jelas efektif. Tapi yang pastinya, teknologi harus terdepan doongg.. termasuk di toilet! Untuk transportasi, moda pribadi lebih banyak yang milih pake sepeda, karena katanya yang naik mobil itu orang kampung ^^

dsc_0201

Hadiahnya kopi aja.

Nyambung ke soal fungsionalitas ruang, kalo ngasih oleh-oleh ke orang Jepang juga¬†jadinya mending jangan barang-barang yang bakal makan tempat, kayak hiasan meja, hiasan dinding, kipas batik, wayang, atau apa lah. Mending kasih yang beneran berguna atau bisa dikonsumsi aja, kayak kopi Indonesia misalnya ūüôā

 

8. Temuin hal-hal yang asalnya cuma diliat di Youtube!

Aku gak inget tahun kapan aku nonton video soal sistem underground bike parking di Jepang, yang menurut aku keren banget. Dan pada saat hal-hal kayak gitu beneran ditemuin, rasanya kok senengg banget gitu loh. “Eh, ini kan yang waktu itu aku tonton! Haha XD”.

 

9. Tokyo gitu lowhh!!

13528191_10206818373153494_6826805267364467797_o

Little Liberty

Bener kata temen aku, bahkan liat orang lalu lalang di Jepang pun rasanya udah sesuatu. Apalagi di Tokyo. Itu persimpangannya aja Shibuya kan sampe beken banget gitu XD padahal cuma tempat orang nyebrang, yang aslinya sih gak selalu rame banget juga. Dan khusus soal enaknya di Tokyo adalah, banyak banget spot yang terkenalnya, jadi keliling kota pun kita udah bisa eksplor banyak. Di Shibuya ada patung Hatchiko. Terus bisa liat Gundam, ke kuil Asakusa, belanja di Ginza, jalan-jalan ke Harajuku, liat SkyTree, Tokyo Tower, foto di patung Liberty-nya Odaiba, main ke Akihabara, terus nongkrong di Cafe AKB48, ah banyak deh.

dsc_0547

Oi! Oi! Oi!

 

10. Sewa Wifi

Ini beneran hal random aja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Tokyo, itu di bandara banyak yang nyewain alat hotspot wifi, jauh lebih murah dibanding ganti kartu SIM sana, apalagi kalo kita gak sendiri, jatohnya lebih hemat untuk ramean. Tapiii.. transaksi harus pake kartu kredit, gak bisa cash sama sekali. So please prepare your credit card.

 

11. Yang Bisa Pake CC

Jadi inget soal kartu kredit, di Tokyo akan lebih aman deh emang pokoknya kalo punya CC. Kalo tiba-tiba handphone rusak pun, kalian bisa sewa smartphone di salah satu tokonya Softbank, dan lagi-lagi sewanya harus pake CC. Balikin hapenya sih bahkan bisa ntar aja ngasih orang mereka di bandara pas kita mau pulang Indo.

 

12. Hape Jepang

dsc_0529

Pas di toko hape sekon.

Bahas soal smartphone, kayaknya setiap aku di dalem kereta di Tokyo, aku juga perhatiin hape orang-orang mayoritas pada pake iPhone (dikit yang pake hape asli Jepang). Gak mau pada pake produk Korea karena urusan histori kali ya? v^_^

 

13. Basic Japanese will be useful

DSC_0118.JPG

With my Japanese friends from tech startup every2nd, like airbnb for toilets. Yes, toilet!

Nah ini nih, sejujurnya kalo mau survive lama di sini sih, bisa bahasa Jepang itu kayaknya penting lah. Karena keinget pertama kali aku ke Jepang. Jadi ceritanya.. aku kan lagi naik kereta, terus ada pengumuman was wes wos, lalu di stasiun berikutnya temen aku tiba-tiba bilang kami harus turun dan ganti kereta, padahal yang aku tahu kami belum nyampe. Lalu temen aku ngasih tau, “Han, pengumuman tadi tu ngabarin kalo kereta ini akan ganti jalur. Jadi kita harus pindah ke kereta yang lain”. So, can you imagine me?? I was like, “Whatt??…. Dude, seriously, if you don’t tell me, I will never know”. Belum lagi kalo lagi nyari makan, dan tempat makanannya tertutup gitu, gak keliatan dia di dalem jualan apa. Sedangkan di luar cuma ada kumpulan tulisan Jepang yang kita ngeliatnya cuma kayak cacing goyang-goyang. Tiap kalo udah begitu, pasti¬†ujung-ujungnya cuma beli onigiri dkk di convenience store :))

dsc_0418

Asakusa Temple + Tokyo Skytree Tower in a frame.

 

Ahh.. tapi pokoknya Jepang selalu ngangenin banget deh! Dan aku pengeennn banget untuk yang berikutnya aku bisa murni liburan gituu, tapi yang disponsorin juga, haha >,< #ngarep. Dann.. pokoknya jelas harus ngunjungin kota-kota yang lain! Osaka, Kyoto, Kobe, Shizuoka, Sapporo, semuwah! Masa aku cuma di Tokyo sama Yokohama doang ūüėź

Apalagi sekarang aku udah dapet info dan familiar sama HIS Travel Indonesia, ekspert travel yang holistik banget servis-nya, dari booking flight + hotel, ngurusin activities, bisa atur sewa mobil juga, dan bisa bantu sewa wifi! (penting deh ni pokoknya, apalagi buat yang gak megang CC). Pengeenn banget bisa ke Jepang pas festival musim semi, nikmatin indahnya semerbak bunga sakura, beuuhhh!!! Semoga HAnavi mau ngajakin aku :”D

amazing-sakura-01

#HISAmazingSakura

Dan anywayyy.. katanya sihhh.. mereka sekarang lagi ngadain lomba blog untuk yang mau dapetin paket wisata persis pas musim sakura itu loohh! Wow >,< Pas lagi mahal-mahalnya tuh. Tinggal cek ke link ini dan ikutin langkah per langkah yang ada disitu. Ikutan ahh XD

Pokoknya, aku yakin Jepang akan selalu jadi tempat yang sangat berkesan untuk siapapun. Dann didoain semoga yang baca blog ini semua punya kesempatan juga untuk ngerasain sendiri main ke sana. Ganbattee!! \^,^/

 

Malem hari sambil dengerin lagu Utada Hikaru,

jadi inget pastry-nya Jepang yang enak banget juga

 

Baca juga: Opini Tentang Makanan Halal

MicroMasters: Cara Lain Masuk MIT!

capture-20170209-010844

Jeng jeng! Mistis abis.

 

Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba rasanya MIT memanggil aku, haha XD Hidup kok rasanya penuh surprise, apa yang terjadi malah selalu di luar dugaan, dan kayaknya kita cuma disuruh ngikutin aja. Jauh lebih sering pahit, tapi sesekali manis, yaudah lah, pasrah. Dan sekarang tiba-tiba dapet ilham untuk berusaha bisa lanjutin sekolah nanti ke MIT. Sekarang tapi nanti, gimana maksudnya coba? :))

Jadii ceritanyaa, aku baruu aja tau sama yang namanya program MicroMaster, yang padahal udah di-launch MIT dari tahun 2015. Yaitu gini… MIT bakal buka program master khusus mereka tahun 2019. Nah, tapi sebelum kesana, kita udah bisa mulai sebagian sekolahnya dari sekarang. Iya, dari sekarang! Caranya adalah, ngambil 5 course online via Edx, yang subjek-subjeknya udah ditentuin dan dijadiin 1 paket tergantung jurusan yang mau kita ambil. Di awal launching sih mereka baru buka jurusan SCM (Suppy Chain Management), dan saat aku nulis ini, mereka udah nambah jurusan baru, yaitu DEDP (Data, Economics, and Development Policy). AHAAAAAA!!

capture-20170209-014913

More coming soon, guys. Kalo jodoh gak kemana. #yazheg

 

Kalau udah lulus Edx, yang mana gak gampang banget juga (perbandingannya 40/27000 atau equal 1/675 berdasarkan data dari sini), kita bakal diminta ikut proctored exam. Bisa 1x final exam untuk keseluruhan, atau 1x exam per course (berarti total = 5 exams), tergantung program dan kebijakan mereka. Kebayangnya sih, yang namanya proctored exam, bisa kayak GRE gitu kali ya, tes beneran yang memastikan orangnya ada dan memang bisa. Bobot nilainya proctored exam:Edx = 60%:40%. Abis itu dapet surat lulus MicroMaster, terus bisa daftar program Master Degree, kuliah langsung 6 bulan deh di MIT, Amerika!

capture-20170209-011225

ngene loh ngono

 

Walaupun setelah aku googling-googling lagi sih aku nemuin ini:

“they will come to MIT for a single semester to earn an accelerated master‚Äôs. In the summer following their semester in Cambridge, Massachusetts, they will also complete a capstone experience ‚ÄĒ consisting of an internship and corresponding project report”

yang artinya secara total sih bisa jadi 6-10 bulan sampe bener-bener kita wisuda master, hehe.. Worth to try laaah…

Naah.. catatannya, yang ini kuliah online Edx-nya berbayar. Jadi sebisa mungkin memang harus committed. Tapiii… baiknya lagi adalah, biaya kuliah bisa disesuaikan dengan pendapatan masing-masing kita, dari $100-$1000 per course. Cocok juga lah untuk yang punya kegiatan lain, masih kuliah, kerja, atau berbisnis, karena jadwal belajar disini bisa fleksibel.

capture-20170209-012506

biaya sekolah tergantung pendapatan tahunan

 

Beberapa poin punya aku pribadi sih ini:

1. Untuk jurusan DEDP, aku seneeeeeenggg banget karena bidangnya ini juga rasanya Haniiii banget >,< Bakal belajar soal microeconomics (nyambung sama kerjaan), data analysis for social scientists (jiwa science masih bisa tersalurkan, dan juga main data!!! coz basically I’m an engineer), bakal ngomongin global poverty (yes! yes! I wanna help people, please!), dan juga belajar gimana cara mengembangkan sebuah policy (well, yang ini aku agak so so, walaupun kayaknya akan berguna juga kalo nanti tiba-tiba Hani kepilih jadi mentri ^^)

2. If only you know me, core-nya aku akan tetap seorang pengusaha (karena panggilan jiwa dan jalan hidup yang aku pilih untuk bisa bantu orang), tapi aku juga sangat suka belajar. So, aku akan selalu seneng untuk sekolah, sampe kapanpun. Dan di sini, tanpa iming-iming master degree-pun, sebenernya course-nya memang akan sangat berguna untuk aku implementasikan sehari-hari. The degree is just a bonus. Jadi apapun yang terjadi nanti, aku emang pengen pelajarin ini. Dan aku harap temen-temen juga punya passion yang sama, bersemangat justru karena proses belajarnya.

3. MIT is obviously a trend-setter. Sekarang akhirnya banyak kampus yang ikut mengembangkan program MicroMaster-nya mereka juga, ada Michigan Uni, Columbia, Curtin, Harvard (soon), dll. So, untuk yang pengen cek kampus lain atau bidang lain, kalian bisa langsung lihat disini (walau gak semua bisa lanjut ngampus beneran).

capture-20170209-012427

Oke, Pak.

 

4. Semua indah pada waktunya. Kok rasanya 2019 juga adalah waktu yang paaass banget untuk ini semua, karena sekarang aku sendiri masih sibuk ini itu, bisnis, sekolah, dll. Dan sampe 2019 nanti, semoga semua usaha dilancarkan, begitu pun untuk kalian semua.

5. Anyway, kok mereka lebih milih Edx ya dibanding Coursera atau OCW mereka sendiri? Hehe :B

6. Program MIT ini (SCM dan DEDP) adalah percobaan awal mereka menggunakan MOOC sebagai jalur masuk. Mana tau nanti mereka ganti lagi, jadi coba aja yuk!

Daaaannn… ayo daftar sekarang kalo mau bareng sama akuuuuu….!!! Kelasnya dimulai minggu ini, makanya aku buru-buru posting kali ada yang mau barengan^^ Kalo nggak, ya mesti nunggu lagi sampe ntar kelas baru berikutnya dibuka.

Ah, semoga semangat ini selalu membara di tengah-tengah segala stress dan kemumetan. *ketawa meringis*

Sekian dulu untuk kali ini. Seneng banget bisa ikut bercerita sama kalian. Sampe jumpa di kelas yaaa!! \:D/

 

Tengah malam dan kelaparan,

tapi malah lagi banyak yang pengen diceritain

 

 

PS: Thx to mas Aul, orang pertama yang ngasih info dan akhirnya ikut “ngeracunin” aku juga untuk ikut ini. Yuunowmisoweeell~~

Sumber: micromasters.mit.edu

My Review of “The Clash of Civilizations” by Samuel Huntington

 

Well, sometimes we read a book simply¬†because every body does. Just like me with this one. I read it because this article said that it’s one of books in the reading list of students in top campuses like Harvard, Columbia, Princeton, etc. So I gave Huntington a try.

This book tells about fundamental civilizations globally. Interestingly, by just reading this book, we can be more acknowledged with role of each nation in this world and how they affect each other (which make me also want to learn again about maps and upgrade my geographical skill!! Ha ha >,<).

By following the stories, we can observe that the fundamental source of conflict in this new world will not be primarily ideological or primarily economic. The great divisions among humankind and the dominating source of conflict will be cultural (region, ethnic group, religious groups, all have distinct cultures at different levels of cultural heterogeneity). Or as R.R.Palmer said, “The wars of kings were over, the wars of people had begun”. The next world war, if there is one, will be a war between civilizations.

“The West and The Rest”. This polarization are also emerging yet I don’t really support this. Our people should not be manipulated and utilized by certain purpose of irresponsible party. Remember what happen with Iraq. “The struggle against American aggression, greed, plans, and policies will be counted as jihad and anybody who is killed on that path is a martyr”. “This is a war”, King Hussein of Jordan argued, “against all Arabs and all Muslims and not against Iraq alone”. The question is.. “is that really true??”. Or… Just like Western leaders who claim they are acting on behalf of “the world community”, the very phrase that become a euphemism to give legitimacy to the actions of them.. Do you really think that is right?? Or with what happened in Indonesia.. when Ahok is suspected to do… well, never mind -.- (I don’t wanna talk about it).

We should think more clearly in seeing diversities around us and be a part of civilization that embrace all the differences with an objective and a good way. That’s the least what I learned from this piece of Huntington. Go read by yourself.

In the middle of (very) bad times,

and I’m reading book about conflicts, instead

 

(For other reviews: https://www.goodreads.com/haniwww)

Also read: Review of “Lean In” by Sheryl Sandberg

Otot Baca dan #KelasMenengahNgehe

resize-buat-blog

Dapet langsung dari dan ditandatangan mas Siwo pas beliau ke Bandung.

 

Ceritanya aku baru beres baca buku Consumer 3000, yang sebenernya udah mulai dibaca dari November 2012. Mennn, 4 tahun yang lalu!! Buset >,< Orang bilang buku bisnis & marketing itu cepet banget outdate-nya, karena saking dinamisnya bidang ini. But for the sake of finish what I started, aku tetep pengen nyelesein ni buku. Ya kali kali masih ada insight yang relevan dan bermanfaat. Perasaan sih (yaelah, perasaan :p) beberapa tahun yang lalu tu aku udah baca sampe halaman 100-an lah, tapi entah kenapa berhenti tengah jalan. Dan tiba-tiba semalem, pas aku baca ulang, bener-bener dari awal lagi, I can finish this in only one sitting! Alias bisa baca sekali dan langsung selesai! (257 halaman). Eitss, bukan skimming dan fast reading juga ya. Aku tetep berusaha bacanya secara komprehensif. I read word by word, dan bener-bener berusaha paham. Caranya gimana? Adalah dengan ngebayangin kita harus ngajarin orang lain lagi tentang apa yang kita pelajari. Sehingga mau gak mau kita jadi berusaha untuk kitanya sendiri harus bener-bener ngerti dulu. Apalagi aku emang pengennya, tiap abis baca buku, sebisa mungkin nulis resume atau ulasannya. Biar kita gak cuma mengkonsumsi, tapi juga berpikir dan memproduksi sesuatu.

So, balik lagi ke judul, kenapa sekarang aku bisa one sitting reading, hmm..¬†aku pikir ini cukup membuktikan tentang yang disampaikan oleh para neuro-scientist tentang apa yang disebut “otot membaca”. Jadii.. menurut penelitian mereka, singkatnya, membaca itu memang bukan termasuk kemampuan alamiah manusia. Beda dengan melihat, bernafas, ngomong, itu semua terjadi lebih natural. Sedangkan membaca, itu kayak kita lagi cardio, yang kalo otot-ototnya mau jadi, ya berarti kita butuh banyak exercise. Dan karena reading habit aku sudah jauh lebih teratur (I read every single day min.1 hour), rasanya kayak hari ke hari ototnya jadi lebih kuat aja kalo mau sprint, baca buku tebel, essay panjang, jadi gak gampang capek dan cepet berhenti tengah jalan. And I think it is very useful, since reading is one of important skills that make me survive in life until now. So, I really recommend you to do also your routine exercise, no matter the duration. Just keep exercising. There are uncountable sources of knowledge out there waiting for us to learn, dan baca buku itu bagaimana pun beda dengan baca artikel, berita online, apalagi sekadar status teman di media sosial. Literasiiii… penting! #keukeuh X’D

Lalu.. Kelas menengah ngehe! Haha…

Sebenernya buku Customer 3000 ini fokus ke pembahasan tentang fenomena kelas menengah di Indonesia yang lagi tumbuh aja. Yang menariknya masyarakat (terutama netizen) nyatanya udah cukup punya pandangan sendiri juga tentang karakter dari si salah satu kelas ekonomi ini. Dan banyak dari mereka yang mencuitkan pendapatnya dengan hashtag #KelasMenengahNgehe.

Berikut adalah beberapa twit” “lucu” terkait #KelasMenengahNgehe:

This slideshow requires JavaScript.

 

Sedikit banyak cuitan-cuitan di atas cukup menggambarkan tentang kondisi kelas menengah di Indonesia, yang memang mayoritas tinggal di perkotaan. Mereka adalah yang secara pendapatan tidak merasa lagi dirinya orang susah, kebutuhan primer sudah terpenuhi, sehingga gaya konsumsinya agak naik level, walaupun sebenarnya tetap berhitung untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi dengan pengeluaran paling sedikit. High-value oriented, kalo di buku #C3000 dibilang. Dan kenapa mereka sangat menarik sampe harus dibahas khusus? Adalah karena jumlahnya yang kini dominan, market potensial yang sedang tumbuh subur (kalo mau bikin bisnis baru, menarget kelas ini, pasarnya bagus!), tapi dengan karakteristik yang khas, dan perannya juga besar untuk membawa bangsa menjadi suatu kekuatan ekonomi di dunia. Pendapatan $3000/tahun per kapita adalah ambang batas suatu negara memasuki fase baru dalam perkembangannya, sehingga buku ini diberi judul Consumer 3000. Dan mas Siwo (panggilan Pak Yuswohadi, sang penulis) dengan lembaga risetnya ternyata sudah mempelajari fenomena ini dari tahun 2010 lalu. Cukup menarik pembahasannya dengan contoh-contoh konkret yang memang beliau temui dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masih bisa diperbaharui secara ilmiah di sana-sini. Setidaknya berikut adalah poin-poin yang bisa didapat:

  1. Dengan GDP >$3000 sebenarnya dari beberapa tahun lalu Indonesia sudah tidak bisa lagi dikatakan masih negara berkembang.
  2. Kalo ngikutin ADB (Asia Development Bank) tahun 2005 sih, kelas menengah adalah yang pengeluaran per kapita-nya $2-20/hari.
  3. Tapii..¬†“It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it’s to jump from middle income to a high-income economy”. Dan faktor penting penyebabnya adalah: SDM & RnD
  4. Semoga Indonesia gak kena Middle Class Trap kayak Malaysia, yang mentok sebagai negara berpendapatan menengah. Beda dengan Korea Selatan yang akhirnya berhasil bertransformasi menjadi negara maju baru.
  5. Kelas menengah akan jadi tulang punggung ekonomi Indonesia karena kekuatan konsumsinya. Proyeksi di tahun 2020 kita bisa jadi urutan tertinggi ke-8 di dunia, dan di tahun 2030 posisi ke-4 stlh Jepang, Jerman, dan Rusia.
  6. Kemajuan Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dunia (yang diproyeksikan masuk 7 besar di tahun 2050) tidak lepas dari kebangkitan kelas menengah kita.
  7. Kunci kesuksesan Inggris memimpin dunia abad 18/19 pun adalah karena mereka, “The Great England Middle Class”.
  8. Bedanya kelas menengah Indonesia & Cina: di Cina, golongan middle of middle class-nya yang dominan, dan banyaknya orang desa, sedangkan Indonesia masih didominasi kelas menengah bawahnya, dan rata2 orang kota.
  9. Kelas menengah Cina ternyata menarik. Mereka jadi makin rakus dengan merk-merk terkenal, bahkan mulai menggeser Jepang sebagai pasar terbesar barang mewah di dunia, banyak disebut sebagai “Chinese Dream”.
  10. Cinta produk lokal jadi makin penting. Karena kalo konsumsi domestik terserap oleh industri & barang-barang impor, yang maju berkembang ya bukan kita, tapi mereka.
  11. Karakter kelas menengah masih sama, fokusnya bukan semata-mata harga (seperti kelas bawah) atau justru brand (kayak kelas atas), tapi lebih banyak di value.
  12. Kenapa kelas menengah penting: 1.Ada kelas wirausaha baru, 2.Karakter konsumennya, 3.Mengurangi kesenjangan, 4.Demand barang naik, 5.Punya kekuatan politik.
  13. Kelas menengah naik, OKB (Orang Kaya Baru) makin banyak. Bukan orang kaya beneran, tapi yang bergaya kaya. Mereka yang konsumsi barang-barang/jasa bukan lagi karena kebutuhan, tapi kadang cuma pengen.
  14. Karena ngerasanya “gak hidup susah lagi”, shopping exuberance merajalela, apa yang dibeli bermnfaat atau nggak bukan jadi¬†isu utama mereka.
  15. Dengan makin umumnya kartu kredit, KPR dll, budaya konsumtif dan budaya ngutang makin tumbuh dan berbahaya, bisa bawa Indonesia ke krisis kayak di AS.
  16. Golongan yang lebih cerdas, akan merubah banking behavior-nya. Saat dana berlebih, tidak sekadar menabung, mereka akan mencoba berinvestasi lewat berbagai pilihan produk, seperti saham, reksadana, properti, emas, dll.
  17. Beberapa industri yang tumbuh subur = perbankan, kecantikan, kesehatan, MAL (dimana Jakarta juga adalah kota dengan mal terbanyak di dunia).
  18. Mereka sangat erat dengan narcism dan kebutuhan akan Social Experience.
  19. Peran sentral kelas menengah: 1.Sebagai konsumen, 2.Sebagai pelaku ekonomi, khususnya entrepreneur pencetak lapangan kerja, 3.Pelaku politik, mendorong demokrasi.
  20. Catatan untuk pemasar yang membidik pasar ini: make horizontal mobile marketing. Bukan cuma broadcast tapi raise engagement. Get permission, don’t interrupt.

Nah.. begitulah kira-kira tentang kelas menengah kita. Untuk yang tinggal di kota, pasti sangat menyadari eksistensi¬†mereka di tengah-tengah kita. Yang jelas, buat aku pribadi sih, setelah baca buku ini dan buku-buku sejenis yang lain, manfaatnya adalah bisa maksa diri untuk lebih berkaca aja, bikin mawas diri biar lebih cerdas dalam mengelola mindset dan prioritas keuangan. Supaya gak jadi korban zaman, apalagi jadi beneran “ngehe”, sampe merelakan hidup susah demi gaya hidup (keliatan) mewah. Karena sesungguhnya yang penting bukanlah penampilan, tapi laporan keuangan sungguhan dan isi buku tabungan, ya nggak?? Dan cerdas berinvestasi! Duuh.. PR banget nih. Semangat!!!

 

Siang hari, sambil agak kelaparan di kantor,

tapi semoga makin pinter bedain keinginan dengan kebutuhan

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a¬†boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our¬†main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

 

I start writing this exactly in the new year eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate new year, beside we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must being screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m kinda person who live with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck in a certain of age. Maybe that what makes me not so excited about welcoming new year, and feel bitter instead. For me, get older means enter life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for their new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainments. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, human just live in the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 with not so desperately. At least, there are still remarkable things happened throughout the year: I won competition, traveled, did business trip abroad, and got a scholarship in a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. In contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matter, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone¬†that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I ever asked a friend, ” Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he cant accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. lets get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual (MY SAVIOR!!)

However in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m really worrying. Single thing I know is, I’m still living.

 

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago….. a mosque

Tentang Bawa Gadget Baru Dari Australia (Edisi Adelaide & Sydney)

img_4918

Apple Store di Adelaide cuma 1 level. Yang Sydney jauh lebih besar dan beberapa level.

 

Yay! Kembali bersama Hani! ūüėÄ

Mau lanjut cerita soal hal-hal yang ditanyain beberapa orang, yang kali ini adalah tentang beli gadget di Ostrali. Kebetulan aku emang punya pengalaman beli produk Apple di Aussie. Tahun lalu di Adelaide, tahun ini di Sydney, dan emang barangnya aku bawa ke Indo. Terutamanya karena kemarin pas di Sydney aku emang buka PO juga untuk temen-temen yang mau nitip iphone 7 & iphone 7+ baru, trus orang-orang jadi pada nanya deh, “gimana ntar di bandara, Han?”. Termasuk Bintang, yang nanya sambil juga share video ini ke aku:

 

Well.. dan karena kayaknya bakal ada terus orang-orang yang nanya pertanyaan yang sama, jadi aku pikir, “mending tulis di blog aja deh”. Biar kalo¬†ada yang nanya lagi, tinggal aku kasih link tulisan ini aja, terus “nih.. baca sendiri ya”, HAHA! So blogger!! (atau bilang aja males)

Sejujurnya aku gak bener-bener paham soal aturan barang masuk. Walaupun dari beberapa tulisan di blog sih, kayaknya bea cukai tu sesuatu banget, karena pajak masuk yang dikenakan ke kita bahkan bisa sebanding dengan harga barang yang kita bawa (padahal salah satu alesan beli barang di luar negeri itu justru adalah karena bisa minta balik pajak pembeliannya :))). Mungkin karena secara pribadi aku juga orangnya selow banget kali ya, gak banyak khawatir, kalo ada kejadian sesuatu baru deh mikir gimana jadinya, haha.. Jadi yang aku share di sini, adalah pengalaman pribadi aku aja. Adapun aturan resmi yang komprehensifnya, ya you olang silakan cek website sebelah haa…

Jadii.. setelah aku baca satu artikel, konon katanya ternyata menurut peraturan RI, barang yang kita bawa dari luar negeri itu nilainya gak boleh lebih dari $250 per orang. Atau kalo kurs-nya sekitar Rp.13ribu, itu berarti senilai Rp.3.250.000. Wah! Sejujurnya itu aneh banget sih >,< I know, I know, and I do agree ini juga demi¬†kebaikan kita bersama, biar orang-orang gak pada semena-mena masukin barang ke negara kita. Tapi lucunya, ya nominalnya agak gak masuk akal aja gitu. Karena pas aku bawa oleh-oleh dari Adelaide aja, yang perintilan lucu-lucuan doang, itu kalo ditotal ternyata udah lebih dari $300. Padahal apalah saya ini…

img_8038-1

Berbagi sedikit kebahagiaan berupa buah tangan

 

Udah gitu, semua oleh-oleh di atas malah aku masukin ke satu koper bagasi, gak dipecah-pecah. Dan walaupun label harganya udah dicopot, kayaknya orang juga pasti tau itu barang baru -.- Atau mungkin $250 itu per barang kali ya? Yang 1 piece-nya aja senilai segitu? Mungkin. Entahlah. Tetep aja aneh sih tapi. Tapi so far so good. Begitu nyampe bandara Soekarno-Hatta, ngambil koper di mesin berjalan bagasi, dan alurnya langsung keluar bandara gitu aja. Mulus.

Kembali ke Ostrali, seperti yang aku sebutin sebelumnya, salah satu keuntungan belanja di luar negeri itu adalah kita bisa minta refund pajak pembelian dari barang yang sudah kita bayar. Yang rata-rata nilainya adalah 10% dari harga pokok. Contoh, beli jaket kampus USYD seharga $110, begitu mau pulang ke Indo, kita bisa minta balik uang pajak senilai $10-nya. Kenapa? Karena status kita bukan warga negara mereka, jadi kita gak punya kewajiban untuk bayar pajak. Lebih enak lagi sih sebenernya kalo belanja di tempat-tempat “Duty Free”, karena itu memang tempat jual barang-barang bebas pajak, asal kita bisa nunjukin passport dan visa kita ke pihak toko.

tax-and-duty-free-t3-post-large-6442451379

Contoh toko “duty free” di Sydney

 

Adapun tax refund ini, tetep aja ada syarat-syaratnya juga. Temen-temen bisa cek ke web border.gov.au untuk lebih shohihnya. Karena dari seabrek-abrek informasi disitu, yang aku hapal sih…… cuma dua:

  1. Nominal pembelian yang mau di-refund adalah minimal $300. Jadi, kalo kalian cuma belanja (misalnya) jaket USYD itu tadi seharga $110, itu jangan harap GST (=PPn)-nya bisa dibalikin, karena limitnya ya emang segitu. Nah tapiii… ada caranya nih! Yaitu dengan menggabungkan struk pembelian dari toko yang sama. Jadi kita bisa ajak temen yang beli juga di toko itu untuk struknya digabungin, biar kalo ditotal itu lebih dari $300. Tapi lagii.. jangan berlebihan juga sih kayaknya. Misal, jajan eskrim di Supermarket Coles cuma seharga $10, terus struknya dikumpulin sampe 30 lembar biar bisa tax refund. Kayanya petugasnya juga males deh ngecek. Bisa atau nggak sih gak tau, soalnya belum pernah nyobain sampe sebegitunya.
  2. Struk pembelian berlaku dalam waktu 60 hari terakhir. Kalo ini kayaknya jelas. Kita cuma bisa refund di saat kita emang waktunya pulang ke negara asal. Jadi aku refund emang pas di hari aku pulang ke Indo. Dan karena aturan 60 hari itu tadi, jadi kalo mau beli barang yang harganya agak lumayan, itu mending gak terlalu jauh dari jadwal pulang.
img_4839

Bandara Adelaide, di kali pertama menginjakkan kaki di kota ini. Sepi.

 

Nah, sedangkan untuk bedanya proses refund di Adelaide dan di Sydney, ini kayaknya faktor petugasnya sih:

a. Waktu di Adelaide, aku mau klaim iphone 6s yang baru dibeli. Standar, kita harus nunjukin struk pembelian dan passport. Lalu mereka beneran minta ditunjukin dan ngecek barangnya sampe box-box-nya (yang kebetulan kali itu iphone-nya emang udah aku pake), sampe nyesuain data yang ada di struk dengan keadaan iphone dan box. Kalo udah yakin sesuai, baru deh bisa lanjut proses refund. Daaann.. refund-nya itu gak bisa cash. Jadi either ke kartu kredit atau rekening bank. Kartu kreditnya pun harus atas nama sendiri, dan atau kalo mau ke akun bank, juga sama, harus atas nama sendiri, dan itu bank-nya gak bisa bank di Indonesia.

b. Pas di Sydney kejadiannya beda. Padahal aku lagi bawa iphone baru yang belum dipake. Petugas cuma minta passport sama struk pembelian. Harga >$300 checked, <60 hari checked, mereka langsung nanya dananya mau ditransfer kemana. Dan pas aku tanya “bisa gak dimasukin ke kartu kredit temen aku?”, mereka langsung jawab “Syur..”. Lalu aku kasiin kartu kredit temen aku, mereka gesek, dan proses refund pun selesai. Cepet abis.

img_4494-copy

contoh struk

 

So… kalo cerita spesifik soal produk Apple-nya sih, kebetulan aku emang bawa barang berikut box-box-nya di tas punggung. Jadi mungkin itungannya kayak barang sehari-hari kali ya.. Dan jumlahnya juga emang gak lebay. Untuk satu produk, misal iPhone 7+ baru, aku cuma paling bawa dua di tas. Kalo lagi bawa lebih dari itu, mending titipin temen aja yang lagi mau pulang juga. So far so good. Kalo ditambah Macbook sih, aku prefer boxnya masuk bagasi (karena males bawa box kaya gitu kemana-mana), dan Macbook-nya dibawa ke kabin. Kecuali kalo gak mau refund tax, ya bisa aja Macbook barunya langsung dimasukin ke koper bagasi. Asal jangan mencolok dan jangan lebay, tetep. Kan lumayan tuh.. satu iPhone 7+, pajaknya aja bisa seharga Rp.1,3 juta. Buat jajan baso.

Mmm.. terus apa lagi ya.. Untuk sekarang sih ingetnya cuma segitu. Aku tidak menyarankan ke-lebay-an dalam bawa barang, dan aku juga tetap mendukung orang-orang untuk ikut aturan. Setidaknya isi data imigrasi juga dengan baik dan benar. Kalo ada piha bea cukai yang kebetulan baca tulisan ini, well… mungkin nominal minimalnya bisa dikaji ulang, Pak. Di saat GDP kita sudah setingkat sekarang, saya tidak yakin banyak orang yang setuju bahwa >$250 sudah termasuk barang mewah. Dan tapi ini subjekif looh.. Peace, love, n gaul. Berapapun harga barangnya, jangan lupa jadikan aset produktif untuk menghasilkan yang lebih besar ya, teman-teman. Semangat!!

.

Tepat sehari sebelum demo “aksi damai” 212,

sambil inget-inget mau cerita apa lagi

 

[Update: Temen aku ada yang baca tulisan ini dan dia kasih komentar personal. Kebetulan dia adalah mahasiswa S2 di Adelaide :)) Katanya, bulan ini pas balik Indo, dia bakal bawa TUJUH produk Apple! Titipan orang semua, wkwkwk.. Tahun lalu pun dia bawa LIMA dan semuanya lancar-lancar aja tuh (asli, ceritanya kocak xD). Kayaknya pihak petugas Ostrali-nya sih gak ada masalah (atau malah seneng kita belanja banyak disana??). Kondisi barang beberapa udah unboxed, sebagian belum. Dan semuanya diklaim buat refund! Ha ha.. Pendapatan banget nih buat tambahan uang jajan mahasiswa! Dan tiba-tiba aku merasa cupu ~,~

 

PS: Oh iya! Untuk yang mau klaim barang agak banyak, biar ga terlalu repot pas di bandara, katanya bisa login dan isi data barang-barangnya dulu via website. Keliatannya sih ide bagus. Silakan dicoba. Dan kalo udah, jangan lupa cerita-cerita sama aku ya! ;D