Otot Baca dan #KelasMenengahNgehe

resize-buat-blog

Dapet langsung dari dan ditandatangan mas Siwo pas beliau ke Bandung.

 

Ceritanya aku baru beres baca buku Consumer 3000, yang sebenernya udah mulai dibaca dari November 2012. Mennn, 4 tahun yang lalu!! Buset >,< Orang bilang buku bisnis & marketing itu cepet banget outdate-nya, karena saking dinamisnya bidang ini. But for the sake of finish what I started, aku tetep pengen nyelesein ni buku. Ya kali kali masih ada insight yang relevan dan bermanfaat. Perasaan sih (yaelah, perasaan :p) beberapa tahun yang lalu tu aku udah baca sampe halaman 100-an lah, tapi entah kenapa berhenti tengah jalan. Dan tiba-tiba semalem, pas aku baca ulang, bener-bener dari awal lagi, I can finish this in only one sitting! Alias bisa baca sekali dan langsung selesai! (257 halaman). Eitss, bukan skimming dan fast reading juga ya. Aku tetep berusaha bacanya secara komprehensif. I read word by word, dan bener-bener berusaha paham. Caranya gimana? Adalah dengan ngebayangin kita harus ngajarin orang lain lagi tentang apa yang kita pelajari. Sehingga mau gak mau kita jadi berusaha untuk kitanya sendiri harus bener-bener ngerti dulu. Apalagi aku emang pengennya, tiap abis baca buku, sebisa mungkin nulis resume atau ulasannya. Biar kita gak cuma mengkonsumsi, tapi juga berpikir dan memproduksi sesuatu.

So, balik lagi ke judul, kenapa sekarang aku bisa one sitting reading, hmm.. aku pikir ini cukup membuktikan tentang yang disampaikan oleh para neuro-scientist tentang apa yang disebut “otot membaca”. Jadii.. menurut penelitian mereka, singkatnya, membaca itu memang bukan termasuk kemampuan alamiah manusia. Beda dengan melihat, bernafas, ngomong, itu semua terjadi lebih natural. Sedangkan membaca, itu kayak kita lagi cardio, yang kalo otot-ototnya mau jadi, ya berarti kita butuh banyak exercise. Dan karena reading habit aku sudah jauh lebih teratur (I read every single day min.1 hour), rasanya kayak hari ke hari ototnya jadi lebih kuat aja kalo mau sprint, baca buku tebel, essay panjang, jadi gak gampang capek dan cepet berhenti tengah jalan. And I think it is very useful, since reading is one of important skills that make me survive in life until now. So, I really recommend you to do also your routine exercise, no matter the duration. Just keep exercising. There are uncountable sources of knowledge out there waiting for us to learn, dan baca buku itu bagaimana pun beda dengan baca artikel, berita online, apalagi sekadar status teman di media sosial. Literasiiii… penting! #keukeuh X’D

Lalu.. Kelas menengah ngehe! Haha…

Sebenernya buku Customer 3000 ini fokus ke pembahasan tentang fenomena kelas menengah di Indonesia yang lagi tumbuh aja. Yang menariknya masyarakat (terutama netizen) nyatanya udah cukup punya pandangan sendiri juga tentang karakter dari si salah satu kelas ekonomi ini. Dan banyak dari mereka yang mencuitkan pendapatnya dengan hashtag #KelasMenengahNgehe.

Berikut adalah beberapa twit” “lucu” terkait #KelasMenengahNgehe:

This slideshow requires JavaScript.

 

Sedikit banyak cuitan-cuitan di atas cukup menggambarkan tentang kondisi kelas menengah di Indonesia, yang memang mayoritas tinggal di perkotaan. Mereka adalah yang secara pendapatan tidak merasa lagi dirinya orang susah, kebutuhan primer sudah terpenuhi, sehingga gaya konsumsinya agak naik level, walaupun sebenarnya tetap berhitung untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi dengan pengeluaran paling sedikit. High-value oriented, kalo di buku #C3000 dibilang. Dan kenapa mereka sangat menarik sampe harus dibahas khusus? Adalah karena jumlahnya yang kini dominan, market potensial yang sedang tumbuh subur (kalo mau bikin bisnis baru, menarget kelas ini, pasarnya bagus!), tapi dengan karakteristik yang khas, dan perannya juga besar untuk membawa bangsa menjadi suatu kekuatan ekonomi di dunia. Pendapatan $3000/tahun per kapita adalah ambang batas suatu negara memasuki fase baru dalam perkembangannya, sehingga buku ini diberi judul Consumer 3000. Dan mas Siwo (panggilan Pak Yuswohadi, sang penulis) dengan lembaga risetnya ternyata sudah mempelajari fenomena ini dari tahun 2010 lalu. Cukup menarik pembahasannya dengan contoh-contoh konkret yang memang beliau temui dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masih bisa diperbaharui secara ilmiah di sana-sini. Setidaknya berikut adalah poin-poin yang bisa didapat:

  1. Dengan GDP >$3000 sebenarnya dari beberapa tahun lalu Indonesia sudah tidak bisa lagi dikatakan masih negara berkembang.
  2. Kalo ngikutin ADB (Asia Development Bank) tahun 2005 sih, kelas menengah adalah yang pengeluaran per kapita-nya $2-20/hari.
  3. Tapii.. “It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it’s to jump from middle income to a high-income economy”. Dan faktor penting penyebabnya adalah: SDM & RnD
  4. Semoga Indonesia gak kena Middle Class Trap kayak Malaysia, yang mentok sebagai negara berpendapatan menengah. Beda dengan Korea Selatan yang akhirnya berhasil bertransformasi menjadi negara maju baru.
  5. Kelas menengah akan jadi tulang punggung ekonomi Indonesia karena kekuatan konsumsinya. Proyeksi di tahun 2020 kita bisa jadi urutan tertinggi ke-8 di dunia, dan di tahun 2030 posisi ke-4 stlh Jepang, Jerman, dan Rusia.
  6. Kemajuan Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dunia (yang diproyeksikan masuk 7 besar di tahun 2050) tidak lepas dari kebangkitan kelas menengah kita.
  7. Kunci kesuksesan Inggris memimpin dunia abad 18/19 pun adalah karena mereka, “The Great England Middle Class”.
  8. Bedanya kelas menengah Indonesia & Cina: di Cina, golongan middle of middle class-nya yang dominan, dan banyaknya orang desa, sedangkan Indonesia masih didominasi kelas menengah bawahnya, dan rata2 orang kota.
  9. Kelas menengah Cina ternyata menarik. Mereka jadi makin rakus dengan merk-merk terkenal, bahkan mulai menggeser Jepang sebagai pasar terbesar barang mewah di dunia, banyak disebut sebagai “Chinese Dream”.
  10. Cinta produk lokal jadi makin penting. Karena kalo konsumsi domestik terserap oleh industri & barang-barang impor, yang maju berkembang ya bukan kita, tapi mereka.
  11. Karakter kelas menengah masih sama, fokusnya bukan semata-mata harga (seperti kelas bawah) atau justru brand (kayak kelas atas), tapi lebih banyak di value.
  12. Kenapa kelas menengah penting: 1.Ada kelas wirausaha baru, 2.Karakter konsumennya, 3.Mengurangi kesenjangan, 4.Demand barang naik, 5.Punya kekuatan politik.
  13. Kelas menengah naik, OKB (Orang Kaya Baru) makin banyak. Bukan orang kaya beneran, tapi yang bergaya kaya. Mereka yang konsumsi barang-barang/jasa bukan lagi karena kebutuhan, tapi kadang cuma pengen.
  14. Karena ngerasanya “gak hidup susah lagi”, shopping exuberance merajalela, apa yang dibeli bermnfaat atau nggak bukan jadi isu utama mereka.
  15. Dengan makin umumnya kartu kredit, KPR dll, budaya konsumtif dan budaya ngutang makin tumbuh dan berbahaya, bisa bawa Indonesia ke krisis kayak di AS.
  16. Golongan yang lebih cerdas, akan merubah banking behavior-nya. Saat dana berlebih, tidak sekadar menabung, mereka akan mencoba berinvestasi lewat berbagai pilihan produk, seperti saham, reksadana, properti, emas, dll.
  17. Beberapa industri yang tumbuh subur = perbankan, kecantikan, kesehatan, MAL (dimana Jakarta juga adalah kota dengan mal terbanyak di dunia).
  18. Mereka sangat erat dengan narcism dan kebutuhan akan Social Experience.
  19. Peran sentral kelas menengah: 1.Sebagai konsumen, 2.Sebagai pelaku ekonomi, khususnya entrepreneur pencetak lapangan kerja, 3.Pelaku politik, mendorong demokrasi.
  20. Catatan untuk pemasar yang membidik pasar ini: make horizontal mobile marketing. Bukan cuma broadcast tapi raise engagement. Get permission, don’t interrupt.

Nah.. begitulah kira-kira tentang kelas menengah kita. Untuk yang tinggal di kota, pasti sangat menyadari eksistensi mereka di tengah-tengah kita. Yang jelas, buat aku pribadi sih, setelah baca buku ini dan buku-buku sejenis yang lain, manfaatnya adalah bisa maksa diri untuk lebih berkaca aja, bikin mawas diri biar lebih cerdas dalam mengelola mindset dan prioritas keuangan. Supaya gak jadi korban zaman, apalagi jadi beneran “ngehe”, sampe merelakan hidup susah demi gaya hidup (keliatan) mewah. Karena sesungguhnya yang penting bukanlah penampilan, tapi laporan keuangan sungguhan dan isi buku tabungan, ya nggak?? Dan cerdas berinvestasi! Duuh.. PR banget nih. Semangat!!!

 

Siang hari, sambil agak kelaparan di kantor,

tapi semoga makin pinter bedain keinginan dengan kebutuhan

Advertisements

Hal-Hal Random Tentang Bisnis #1: Pandangan & Saran Praktis

img_6957

Pas int’l symposium di Flinders Univ, presentasiin policy brief yang disusun dari 3 bulan. Temanya soal gender, tapi karena otak bisnis, jadi tetep aja ngambil judul dari sektor ekonominya

 

Bad, bad, bad, bad, bad habit. I suppose to do something else, do my job, finish task, and set projection, but instead, I’m writing this blog. Karena eh karena, tidak lain tidak bukan, si Hani kalo otaknya lagi kepenuhan, mau gak mau perlahan harus dikeluarin, dan nulis itu biasanya bikin aku ngerasa bisa agak ngerapihin yang semerawut lalu lalang di kepala. Makanya jangan heran kalo si Hani kemana-mana pasti bawa buku kecil sama pena. Semua yang sekelebat di pikiran pasti harus langsung ditulis, dan ni otak kayak gak pernah berhenti kerja. Mikirrr terus.. Bahkan sejujurnya kadang dalam tidur pun rasanya masih tetep mikir. Absurd memang, ya begitulah. Makanya mari kita segera selesaikan saja tulisan ini.

Sesuai judulnya, ini adalah daftar hal-hal random seputar menjalankan usaha. Bukan tulisan komprehensif, apalagi bahasan mendalam tentang topik tertentu. Anggap aja lagi ngintip isi kepala Hani, walau gak semuanya bisa dibagi di sini. Yang umum-umum aja ya…

  1. Saat setup usaha baru, kita tetep harus punya projection plan yang jelas. Contohnya: target berapa user yang pengen didapet dalam 1 bulan, 1 tahun, atau target omset di hitungan output. Intinya, sesuatu yang MEASURABLE.
  2. Fail to plan = plan to fail. Clear.
  3. People don’t give up on the job. Most of them give up on the boss. And I experienced it myself, I gave up on (whatsocalled) a boss, so I left. Learn from that, keep employees’s trust and respect is one of our main jobs.
  4. Sepengen-pengennya kita akrab sama karyawan, kalo mau dapet respek, memang harus bikin barrier. Dulu, aku termasuk yang pengen selalu (sok) asik sama orang, sama siapapun, karena rasanya termasuk mahluk inklusif yang pengen baik sama siapa aja. Tapi dalam urusan kerja, ternyata bikin “batasan” itu emang perlu. Kalo rasa segan udah pudar, tingkah laku juga bisa jadi lebih santai, cenderung lebih seenaknya.
  5. Referensi bank yang cocok untuk startup: Bank Permata dan CIMB. Personal advice.
  6. E-money itu ternyata menarik untuk dipelajari dan ditelisik. Jadi ceritanya, katanya sih berdasarkan kartu e-toll aja (yang mana pengguna punya deposit dana di kartunya), itu total floating money-nya bisa rata-rata Rp.1,7 trilyun/bulan. Uang nganggur semua. PER BULAN. Dan kebayang lah, sistem e-wallet juga kayak apa. Kalo kartunya rusak atau ilang, ya ilang juga lah saldo kita (padahal kan uang benerannya di bank masih ada). Dan dari sisi bank ybs yang nyimpen si dana, setelah 1 tahun mereka punya otoritas untuk make capital itu, suka-suka mereka. Dan ada bank yang make dana tersebut jadi anggaran micro-lending nya mereka. Micro but huge. So, with the right technology system, you can do many things.
  7. E-commerce dan online shop makin banyak, tapi pertumbuhan payment gateway belum terlalu signifikan dan krusial. Dan ternyata masalah utamanya masih ada di customer behavior. Orang yang belanja online, rerata closing-nya masih lewat chat. Mereka hanya akan make, contohnya: paypal, doku, ipaymu, hanya kalo dipaksa. Misalnya Air Asia, yang dulu maksa customer-nya harus pake kartu kredit kalo mau dapet tiket promo online. Akhirnya ya mau gak mau, yang gak punya kartu kredit pun bahkan ngebela-belain mesti pinjem punya temennya.
  8. Tiba-tiba keinget omongannya om Wiwit dulu, direkturnya C59. Suatu waktu beliau pernah bilang pas ngisi workshop: “Kalian jangan ngaku pinter deh kalo belum jago nyari duit!”. Hmm, buat yang sensian, gak usah ngerasa offended dulu ya. Bukan berarti semua harus dinilai sama uang. Tapi menurut aku sih ini makes sense. Intinya, pinter paripurna itu adalah yang bukan cuma jago teori atau jago ngomong, tapi juga jago praktek. Dan ini bisa diliat dari output, yang salah satunya adalah materi. Buat penyemangat aja. Jadi kalo kalian ngerasa pinter, ya harus semangat buat buktiin.
  9. Se-awam-awamnya pemilik bisnis soal ekonomi atau akuntansi, ngerti dasar keuangan itu penting. Nyatet dan ngatur arus masuk/keluar, misahin dana pribadi dengan usaha, baca dan pahami data keuangan buat bikin tindakan selanjutnya.
  10. Working capital = Current assets – Current liabilities.
  11. In balance sheet, Assets = Liabilities + Net Worth.
  12. Se-gaptek2nya CEO tech-startup, minimal harus ngerti dasar teknologi soal bisnisnya, dan kemampuan lain yang yang akan sangat berguna adalah story telling, jago cerita soal apa yang dikerjain, apalagi kalo bisa disalurkan lewat tulisan juga.
  13. Produk bagus, marketing jelek, gak sukses. Tapi produk jelek, marketing-nya bagus, bisa sukses.
  14. Jangan beli barang gaya hidup secara kredit untuk urusan pribadi (bukan perusahaan). Tunda kesenangan kecil demi dapet kesenangan yang lebih besar nanti.
  15. Even sama temen, kalo soal bisnis semuanya tetep harus item di atas putih. Termasuk kalo kerjasama. Bukan gak ngerhargain pertemanan, tapi justru sebaliknya. Ini harus dilakukan buat antisipasi resiko biar hubungan tetap terjaga. Kalo udah soal duit, semua sering runyam.
  16. Dengan segala ketidakpastian tentang terlalu banyak hal, sering aku berpendapat bahwa, yang berani maju bisnis sendiri itu pribadinya mentally 70% proven, gak perlu ditanya lagi
  17. Dan kadang juga berpikir kalo orang-orang kayaknya harus pernah nyoba jalanin usaha sendiri walau entah bagaimana. Ini ngaruh ke empati. Aku sering ngeliat orang yang gak puas sama suatu produk, contoh: pernah punya pengalaman buruk sama sesuatu, terus banyak yang sering mencak-mencak ngamuk gak keruan dan kadang nyebarin berita yang bertendensi menjatuhkan. If you’re a businessman, you’ll know that every thing needs process and maintain a business is not easy at all, no joke. Dan seiring tumbuhnya usaha kita, kayak semakin kecil toleran yang bisa dikasih sama masyarakat. Ini bukan membenarkan kesalahan ya, tapi tentang empati dan tidak terlalu judgemental aja.
  18. Manage usaha dengan baik secara remote dari jarak jauh itu too good to be true, susahnya bukan main, kecuali udah bener-bener well-established dan anggota tim kerjanya pada bagus. Jadi, kalo belum rapih banget, emang mending jangan sering ditinggal-tinggal. Heu..
  19. Muslim yang baik itu hidupnya memang sederhana, tapi bukan berarti berpenghasilan sederhana juga. Kita HARUS bisa kaya raya, niati agar bisa berbuat baik lebih banyak.
  20. If you’re self-employed or have full authority of time, have an “office” and “office hour” is still compulsory, to create the working rhythm, mindset, and discipline.

Nah.. kayaknya segitu dulu deh untuk edisi kali ini. Gak kerasa udah 20 nomor aja. Masih banyak, jadi aku pastiin ini akan ada lanjutannya. Sampai jumpa nanti pas Hani lagi absurd berikutnya ya!

 

Siang bolong depan laptop di meja kantor,

buru-buru balik ngerjain kerjaan lagi

A Year-End Note: About Living

img_2375

My midnight doodle long long time ago. But still relevant to depict my wired brain.

 

I start writing this exactly in the new year eve, with firework explosions as the back sound and friends around me. Still don’t know what to write, yet I want to jot down something to remark tonight. I still don’t get why people outside love to celebrate new year, beside we have to change the almanac and the way we mention the date we live in. Many movies must being screened on TV now, and many festive moments people are sharing on social media. But me, I have nothing special in these minutes toward year-end.

So let me do reveal one thing for you;
Perhaps I’m still the same me, like I used to, like I always am. Oftentimes I think that I’m kinda person who live with “Peter Pan syndrome” (I name it myself) in life, like a kid who never wanna grow up, and just wanna stuck in a certain of age. Maybe that what makes me not so excited about welcoming new year, and feel bitter instead. For me, get older means enter life with more demands, and I’m not really okay with that.

But I want to understand people. Maybe they feel joy for their new hopes of their plans, or simply for the free fireworks show and public entertainments. There must be some days we can treat differently anyway. Otherwise, human just live in the same boring days over and over again.

Fortunately, I leave 2016 with not so desperately. At least, there are still remarkable things happened throughout the year: I won competition, traveled, did business trip abroad, and got a scholarship in a cool university. Even though if we look deeper, those things were all unexpected, or were not something I planned for. In contrary, for the things that I’ve planned, I got so different results. I’ve been facing uncountable problems in business, academic matter, basic habits, and personal life. And most of them got me frustrated, even until now. Coz even when you have only good deeds on people, conflicts are somehow inevitable. And yea, I’m still single (if you do care). Some men indeed approach me, but just like in a drama, I always fall to someone that I can’t have. I remember at the last time my heart was broken (not long ago), I ever asked a friend, ” Am I not good enough?”.. and my friend answered, “No, Hani. It’s not about being bad or good enough. It’s about compatibility. If he cant accept you, it simply because he doesn’t think that you’re compatible for him”. And that made any sense. But ahh.. lets get rid of this topic. I can never do anything about it, so helpless. Just promise me you will pray for me, okay? To find someone “compatible”? Meanwhile, I’ll be just dating books, as usual (MY SAVIOR!!)

However in the end, I know that there are still things to be grateful for, especially related to family. I still have my supportive parents and that’s even more than just “something”. If they’re still fine, then I should be just fine, others can follow. For many times I’m not really conscious of what I’m feeling and what I’m really worrying. Single thing I know is, I’m still living.

 

While trying to regain my focus,

In the place where I always spend NYE since years ago….. a mosque

Tentang Bawa Gadget Baru Dari Australia (Edisi Adelaide & Sydney)

img_4918

Apple Store di Adelaide cuma 1 level. Yang Sydney jauh lebih besar dan beberapa level.

 

Yay! Kembali bersama Hani! 😀

Mau lanjut cerita soal hal-hal yang ditanyain beberapa orang, yang kali ini adalah tentang beli gadget di Ostrali. Kebetulan aku emang punya pengalaman beli produk Apple di Aussie. Tahun lalu di Adelaide, tahun ini di Sydney, dan emang barangnya aku bawa ke Indo. Terutamanya karena kemarin pas di Sydney aku emang buka PO juga untuk temen-temen yang mau nitip iphone 7 & iphone 7+ baru, trus orang-orang jadi pada nanya deh, “gimana ntar di bandara, Han?”. Termasuk Bintang, yang nanya sambil juga share video ini ke aku:

 

Well.. dan karena kayaknya bakal ada terus orang-orang yang nanya pertanyaan yang sama, jadi aku pikir, “mending tulis di blog aja deh”. Biar kalo ada yang nanya lagi, tinggal aku kasih link tulisan ini aja, terus “nih.. baca sendiri ya”, HAHA! So blogger!! (atau bilang aja males)

Sejujurnya aku gak bener-bener paham soal aturan barang masuk. Walaupun dari beberapa tulisan di blog sih, kayaknya bea cukai tu sesuatu banget, karena pajak masuk yang dikenakan ke kita bahkan bisa sebanding dengan harga barang yang kita bawa (padahal salah satu alesan beli barang di luar negeri itu justru adalah karena bisa minta balik pajak pembeliannya :))). Mungkin karena secara pribadi aku juga orangnya selow banget kali ya, gak banyak khawatir, kalo ada kejadian sesuatu baru deh mikir gimana jadinya, haha.. Jadi yang aku share di sini, adalah pengalaman pribadi aku aja. Adapun aturan resmi yang komprehensifnya, ya you olang silakan cek website sebelah haa…

Jadii.. setelah aku baca satu artikel, konon katanya ternyata menurut peraturan RI, barang yang kita bawa dari luar negeri itu nilainya gak boleh lebih dari $250 per orang. Atau kalo kurs-nya sekitar Rp.13ribu, itu berarti senilai Rp.3.250.000. Wah! Sejujurnya itu aneh banget sih >,< I know, I know, and I do agree ini juga demi kebaikan kita bersama, biar orang-orang gak pada semena-mena masukin barang ke negara kita. Tapi lucunya, ya nominalnya agak gak masuk akal aja gitu. Karena pas aku bawa oleh-oleh dari Adelaide aja, yang perintilan lucu-lucuan doang, itu kalo ditotal ternyata udah lebih dari $300. Padahal apalah saya ini…

img_8038-1

Berbagi sedikit kebahagiaan berupa buah tangan

 

Udah gitu, semua oleh-oleh di atas malah aku masukin ke satu koper bagasi, gak dipecah-pecah. Dan walaupun label harganya udah dicopot, kayaknya orang juga pasti tau itu barang baru -.- Atau mungkin $250 itu per barang kali ya? Yang 1 piece-nya aja senilai segitu? Mungkin. Entahlah. Tetep aja aneh sih tapi. Tapi so far so good. Begitu nyampe bandara Soekarno-Hatta, ngambil koper di mesin berjalan bagasi, dan alurnya langsung keluar bandara gitu aja. Mulus.

Kembali ke Ostrali, seperti yang aku sebutin sebelumnya, salah satu keuntungan belanja di luar negeri itu adalah kita bisa minta refund pajak pembelian dari barang yang sudah kita bayar. Yang rata-rata nilainya adalah 10% dari harga pokok. Contoh, beli jaket kampus USYD seharga $110, begitu mau pulang ke Indo, kita bisa minta balik uang pajak senilai $10-nya. Kenapa? Karena status kita bukan warga negara mereka, jadi kita gak punya kewajiban untuk bayar pajak. Lebih enak lagi sih sebenernya kalo belanja di tempat-tempat “Duty Free”, karena itu memang tempat jual barang-barang bebas pajak, asal kita bisa nunjukin passport dan visa kita ke pihak toko.

tax-and-duty-free-t3-post-large-6442451379

Contoh toko “duty free” di Sydney

 

Adapun tax refund ini, tetep aja ada syarat-syaratnya juga. Temen-temen bisa cek ke web border.gov.au untuk lebih shohihnya. Karena dari seabrek-abrek informasi disitu, yang aku hapal sih…… cuma dua:

  1. Nominal pembelian yang mau di-refund adalah minimal $300. Jadi, kalo kalian cuma belanja (misalnya) jaket USYD itu tadi seharga $110, itu jangan harap GST (=PPn)-nya bisa dibalikin, karena limitnya ya emang segitu. Nah tapiii… ada caranya nih! Yaitu dengan menggabungkan struk pembelian dari toko yang sama. Jadi kita bisa ajak temen yang beli juga di toko itu untuk struknya digabungin, biar kalo ditotal itu lebih dari $300. Tapi lagii.. jangan berlebihan juga sih kayaknya. Misal, jajan eskrim di Supermarket Coles cuma seharga $10, terus struknya dikumpulin sampe 30 lembar biar bisa tax refund. Kayanya petugasnya juga males deh ngecek. Bisa atau nggak sih gak tau, soalnya belum pernah nyobain sampe sebegitunya.
  2. Struk pembelian berlaku dalam waktu 60 hari terakhir. Kalo ini kayaknya jelas. Kita cuma bisa refund di saat kita emang waktunya pulang ke negara asal. Jadi aku refund emang pas di hari aku pulang ke Indo. Dan karena aturan 60 hari itu tadi, jadi kalo mau beli barang yang harganya agak lumayan, itu mending gak terlalu jauh dari jadwal pulang.
img_4839

Bandara Adelaide, di kali pertama menginjakkan kaki di kota ini. Sepi.

 

Nah, sedangkan untuk bedanya proses refund di Adelaide dan di Sydney, ini kayaknya faktor petugasnya sih:

a. Waktu di Adelaide, aku mau klaim iphone 6s yang baru dibeli. Standar, kita harus nunjukin struk pembelian dan passport. Lalu mereka beneran minta ditunjukin dan ngecek barangnya sampe box-box-nya (yang kebetulan kali itu iphone-nya emang udah aku pake), sampe nyesuain data yang ada di struk dengan keadaan iphone dan box. Kalo udah yakin sesuai, baru deh bisa lanjut proses refund. Daaann.. refund-nya itu gak bisa cash. Jadi either ke kartu kredit atau rekening bank. Kartu kreditnya pun harus atas nama sendiri, dan atau kalo mau ke akun bank, juga sama, harus atas nama sendiri, dan itu bank-nya gak bisa bank di Indonesia.

b. Pas di Sydney kejadiannya beda. Padahal aku lagi bawa iphone baru yang belum dipake. Petugas cuma minta passport sama struk pembelian. Harga >$300 checked, <60 hari checked, mereka langsung nanya dananya mau ditransfer kemana. Dan pas aku tanya “bisa gak dimasukin ke kartu kredit temen aku?”, mereka langsung jawab “Syur..”. Lalu aku kasiin kartu kredit temen aku, mereka gesek, dan proses refund pun selesai. Cepet abis.

img_4494-copy

contoh struk

 

So… kalo cerita spesifik soal produk Apple-nya sih, kebetulan aku emang bawa barang berikut box-box-nya di tas punggung. Jadi mungkin itungannya kayak barang sehari-hari kali ya.. Dan jumlahnya juga emang gak lebay. Untuk satu produk, misal iPhone 7+ baru, aku cuma paling bawa dua di tas. Kalo lagi bawa lebih dari itu, mending titipin temen aja yang lagi mau pulang juga. So far so good. Kalo ditambah Macbook sih, aku prefer boxnya masuk bagasi (karena males bawa box kaya gitu kemana-mana), dan Macbook-nya dibawa ke kabin. Kecuali kalo gak mau refund tax, ya bisa aja Macbook barunya langsung dimasukin ke koper bagasi. Asal jangan mencolok dan jangan lebay, tetep. Kan lumayan tuh.. satu iPhone 7+, pajaknya aja bisa seharga Rp.1,3 juta. Buat jajan baso.

Mmm.. terus apa lagi ya.. Untuk sekarang sih ingetnya cuma segitu. Aku tidak menyarankan ke-lebay-an dalam bawa barang, dan aku juga tetap mendukung orang-orang untuk ikut aturan. Setidaknya isi data imigrasi juga dengan baik dan benar. Kalo ada piha bea cukai yang kebetulan baca tulisan ini, well… mungkin nominal minimalnya bisa dikaji ulang, Pak. Di saat GDP kita sudah setingkat sekarang, saya tidak yakin banyak orang yang setuju bahwa >$250 sudah termasuk barang mewah. Dan tapi ini subjekif looh.. Peace, love, n gaul. Berapapun harga barangnya, jangan lupa jadikan aset produktif untuk menghasilkan yang lebih besar ya, teman-teman. Semangat!!

.

Tepat sehari sebelum demo “aksi damai” 212,

sambil inget-inget mau cerita apa lagi

 

[Update: Temen aku ada yang baca tulisan ini dan dia kasih komentar personal. Kebetulan dia adalah mahasiswa S2 di Adelaide :)) Katanya, bulan ini pas balik Indo, dia bakal bawa TUJUH produk Apple! Titipan orang semua, wkwkwk.. Tahun lalu pun dia bawa LIMA dan semuanya lancar-lancar aja tuh (asli, ceritanya kocak xD). Kayaknya pihak petugas Ostrali-nya sih gak ada masalah (atau malah seneng kita belanja banyak disana??). Kondisi barang beberapa udah unboxed, sebagian belum. Dan semuanya diklaim buat refund! Ha ha.. Pendapatan banget nih buat tambahan uang jajan mahasiswa! Dan tiba-tiba aku merasa cupu ~,~

 

PS: Oh iya! Untuk yang mau klaim barang agak banyak, biar ga terlalu repot pas di bandara, katanya bisa login dan isi data barang-barangnya dulu via website. Keliatannya sih ide bagus. Silakan dicoba. Dan kalo udah, jangan lupa cerita-cerita sama aku ya! ;D

 

Pengalaman Tarik Tunai BCA di Australia

img_0661

Numpang foto doang di ATM Commonwealth Bank, padahal cash out-nya mah bukan di mari :))

 

Haaaalooooo….!!!
Hai hai semuanyaaa..!! It’s been a long time since the last time I blogged. Banyak (banget) yang pengen di-share, tapi (as always) waktu dan mood-nya makin susah. Kayaknya emang mesti dijadwalin hari khusus deh kapan dalam seminggu harus nulis. Karena numpuk-numpuk ide tulisan juga sering bikin kepala penuh sesak. Maka mari sekarang kita mulai lagi dengan postingan simpel aja ya.. berbagi sedikit pengalaman pas awal November 2016 ini mesti tarik tunai pake kartu ATM BCA di Sydney, Australia. Well, sebenernya gak spesial-spesial banget sih… tapi ya sekalian jadi reminder sendiri juga aja.

Jadiiii… ceritanya kemarin tu aku sempet kekurangan duit dollar AU gitu. Bukan karena stipend beasiswa kurang sih. Duit dari Australia Awards cukup banget. Apalagi yang di Sydney Uni ini, kami bahkan disiapin morning tea, lunch, dan afternoon tea selama program! Jadinya kayak gak perlu keluar banyak uang gitu buat biaya makan. Akomodasi di apartemen udah dibayarin semua juga. Udah gitu, hiburan-hiburan yang aku pengen di Sydney, eh taunya udah dimasukin ke social program sama mereka, kayak bridge climb di Harbour Bridge (yang biayanya sekitar $300!), terus visit Madame Tussaud dkk (+-$65), itu semua udah dibayarin kampus! Jadi kayak aku cuma harus keluar duit buat jajan lain-lain aja. Asik banget kan?? Sedikit bocoran, living allowance kami adalah senilai $82 per hari. Sempet ngitung-ngitung pengeluaran aku selama 2 minggu, eh ternyata aku cuma ngabisin $207! Yang berarti aku save $1092 dalam 14 hari saja! Ehehehe… Tapiii… berhubung mendadak ada kebutuhan beliin dulu temen “sesuatu”, aku jadi mesti nambah dollar deh minggu itu. Paling enak sih sebenernya minta tolong temen Indo yang juga di Sydney. Temen sekelas, misalnya. Kita transfer rupiah kita ke rekening Indo dia, dia ngasih kita dalam bentuk dollar. Kurs disesuaikan. Tapi berhubung kayaknya gak kondusif, belom ada yang segitu akrab juga (apalagi soal duit suka rempong), jadi mending ngurus sendiri saja lah~~

img_0245

Di USYD, stipend dikirim via kartu ini, yang sistemnya kayaknya one way transaction.

Nah.. kebetulan.. aku tu udah tutup kartu kredit sejak dua tahun yang lalu, dan rekening NAB (National Australian Bank) setahun lalu, dan lagi bawanya kartu ATM BCA doang (kartu jenis gold lebih persisnya). Jadi opsi pertama yang kepikiran adalah: “Ya udah lah Han, langsung tarik tunai aja!”. Tapi ketahan karena temen aku cerita beberapa hari sebelumnya dia tarik tunai pake kartu citibank dia, dan kursnya itu nggak banget! Rate umum di Indo, itu sekitar Rp.9500 – Rp.10.000 kalo mau beli AU$1, eh tiba-tiba di Sydney jadi Rp.11.660 coba! Nggak banget kan?! Di luar biaya administrasi yaitu Rp.25ribu per transaksi. Kalo nominalnya dikit sih gak apa-apa. Nah ini masalahnya aku lagi mau narik ratusan dollar, bzzzz… Makanya jadi mikir lah gimana cara nambah saldo dollar aku selain harus narik langsung di ATM.

Nah.. opsi ke-2 yang kepikiran adalah, aku mesti bikin akun dollar di rekening BCA Indo, remotely dari Aussie. Gimana caranya? Ya gak tau pasti juga. Makanya aku harus nelpon customer service buat nanyain. Googling, googling, googling, dapetlah no-nya CS BCA, termasuk gimana cara kalo nelponnya dari luar negeri. Katanya sih no-nya itu +621500888. And you know what?? Aku udah nyoba nelpon +621500888, +62500888, +62211500888, +6221500888, +62500888, semuanya, berkali-kali, AND NONE OF THEM WORKS!! GREAT!! Sampe kebuang waktu sekian puluh menit, akhirnya aku pikir mending nyoba nelpon kantor BCA biasa aja deh, dan taunya baru nyambung. Tapi masih mesin yang jawab, karyawan belum ada yang dateng, karena waktu itu emang jam 8 AM waktu Sydney, yang berarti jam 4 shubuh di Jakarta. So, aku mesti nunggu minimal 4 jam lagi sampe ada orang yang beneran bisa angkat telpon. Ya ampun.. untung pulsa aku banyak, hufft~

img_0048

Dibeliin sama kampus kartu Telstra seharga $40, call credit-nya kalo dirupiahin sekitar 7 juta! Yang sampe dipake nelpon internasional puluhan kali pun, sampe masa aktif abis tu pulsa masih $600 lebih. So useless~

Lalu akhirnya 4 jam berlalu lah. Aku telpon lagi deh kantor BCA di Jakarta itu. Ada yang ngangkat, tapi lamanyaaaaa bukan main. Udah gitu ternyata orangnya gak bisa langsung jawab pertanyaan aku, jadi dia ngasih nada tunggu melulu. Nanya lagi, nada tunggu lagi. Gitu aja terus sampe hampir setengah jam. Sampe akhirnya hape aku gak sengaja kepencet end-call, doh, jadi mesti nelpon lagi, eh dan ternyata pas telpon berikutnya, yang ngangkat udah beda orang, dan pertanyaannya jadi mesti diulang-ulang. Ampun dijeeehh~ Dengan endingya adalah mereka bilang, kalo aku mau nambah saldo valas (valuta asing), gak bisa langsung orang rumah aja setor ke bank dan masuk rekening aku, tapi aku yang mesti datang ke BCA dulu untuk buka rekening valas sambil bawa kartu ATM sama buku tabungan. (Lah piyeee??? Ini kan justru aku bilang lagi di Australia, mbakeeeeeeee…??!). Ampun dah. Akhirnya yaudah deh, karena butuhnya udah limit di hari itu, i have no choice, tarik tunai di ATM aja. Berharap rupiah lagi bagus di hari itu. *sigh

Nah, karena dulu pas di Flinders Uni semua orang dibikininnya rekening di NAB, aku tu jadinya punya persepsi “wah, ini bank kayaknya student friendly”. Makanya pas harus cash out, aku pikir, “mending aku nyari ATM NAB terdekat aja deh”. Yang begitu nemu, eh ternyata pas banget, ada logo Cirrus-nya! (karena di kartu BCA ini cuma ada logo Cirrus, gak ada Visa atau MasterCard). Bismillah dulu, dalam hati “oke lah, mari kita cash out di NAB saja!!”. Sambil sepenuh hati aku masukin kartu BCA aku, cet pencet pencet, aku masukin nominal dollar yang pengen ditarik, lalu tertampil di layar: biaya transaksi adalah $3, aku pencet deh OK. Ehhh langsung keluar tu dollar dari mesin! Busett, ternyata gak ada info kurs-nya dulu sama sekali ~,~ Langsung aku amanin duit-duit dollar itu ke tas, melipir lah aku sambil mikir “sedollarnya tadi berapa ya ~,~”

Begitu balik kampus, baru lah aku ngecek via klikbca. Ternyata eh ternyataa… alhamdulillah, YA ALLAH! Rate-nya Rp.9990!! Ahahahaha.. AHEY!!! Bahagia banget dah ternyata masih dapet <10ribu :))) ADM Rp.25ribu mah yaudah lah ya.. ikhlasin aja. Walaupun abis itu orang-orang bilang, katanya kalo Mandiri atau BNI rate-nya bakal lebih bagus. Yah.. bodo amat dah.. yang penting urusan yang ini udah kelaarrr!!! Heu..

img_8022-1

Penampakan duit Aussie

Eh tapi taunyaa.. 2 hari setelah itu aku ternyata butuh dollar lagi. Karena udah gak terlalu parno, aku jadi santai asal tarik aja di ATM lain. “Toh kali ini cuma $50 lah”, pikir waktu itu. Aku narik di ATM ANZ (masih pake kartu ATM BCA yang sama), dan ternyata sistem mereka emang sama-sama gak nampilin kurs di awal, jadi kita gak bisa punya pertimbangan dulu mau jadi narik apa nggak. Pas begitu pulang dan ngecek, kali ini ternyata rate-nya jadi Rp.10.316. Welll… kayyy….

Sooo… dari pengalaman tersebut, kayaknya ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil, yaituuu:
1. Emang penting banget mastiin sejak di Indo soal kebutuhan dana kita selama di luar negeri. Karena bagaimanapun, rate valas di Indo pasti selalu lebih bagus. Wah, apalagi kalo perlunya nominal uang yang cukup besar. Beda berapa ratus aja lumayan, broh!
2. Kalo emang buat cadangan, sebisa mungkin bawa ATM rekening Indo dari bank yang rate-nya emang terkenal bersahabat. Katanya sih Panin Bank oke. Atau BNI juga boleh lah…
3. Kalo kasusnya pas kayak aku, cuma bawa BCA, pas mau cash out di Aussie, kalo pilihannya ada diantara NAB sama ANZ, mending pilihnya NAB aja. Bank nasional kayaknya emang lebih oke lah daripada yang internesyenel.
4. Mungkin layak dipertimbangkan untuk bikin rekening valas, selain rekening rupiah di bank yang sama. Sekian.

Naaahh… begitulah cerita aku kali iniii… Sebenernya poin aslinya cuma 4 biji itu doang sih, tapi curhatannya panjang banget :)))

Well.. aku doain semoga semua yang baca blog ini bisa pada dapet rejeki juga beasiswa ke Ostrali yaaa… Atau ya semoga kalian dananya selalu cukup lah saat lagi tinggal di luar negeri. Juga jangan lupa nabung dan investasi ya, teman-temaaannn…!!! Cup muah bye!!

.
Pagi dingin di pertengahan November 2016,

sambil langsung lanjut nulis postingan berikutnya \m/

Winning Australia Awards Twice And Becoming An Anomaly

alhamdulillah

Thank you, Australia!

 

Well, actually everything happened so fast, til I didn’t really aware what was coming over me. Just a week after I submitted my application (at the very last minutes of deadline) for Short Term Award Scholarship, I directly received an email that it was successful and I got selected to be an awardee of AAS (Australia Awards Scholarship) once again. HOoOoO o.O

For me personally, it proved one point, as written on my late post, that every time you were brave to take a step, even though you were not sure where it would led you to, it surely would take you somewhere, while hesitation to move would just bring you nowhere. I never expected that my decision for taking fellowship scholarship in Flinders Uni would give me so much benefits, even after the program ended. One of them is, I am already categorized as an alumni of Australian university, and by that, many opportunities opened. I was invited to join the alumni network, to attend the alumni events, to make connections among great people, etc, beside as an alumni, there is also a chance to apply for grant scheme to fund our business activities that making impact for people, and this, which just brought me here, to apply for a special scholarship for alumni.

I felt nothing to lose when I applied this special scholarship, remembered that I just came back from my fellowship in Adelaide months ago (9 months to be precise, not even a year, aight?) and the new scholarship I was applying titled “Transformational Business Leadership – for Outstanding Alumni of Australian Universities”, so that the awardees must be valued as outstanding persons, no? But what made me eager to apply was, the fact that the program would be run in the coolest uni in Australia, The University of Sydney (that Hogwarts look alike campus), and that we would study about economy/finance, subjects that urgently needed by me to run my business better. And perhaps, God had a plan for me, so TADAAAA… I got it, and here I am again, in the pre-departure workshop altogether with other fellows who will leave and study in Sydney later. And I’m becoming an anomaly.

2

2nd day of the 3 days pre-departure workshop

 

Why I call myself an anomaly? Well… After flocked with other awardees, I found facts that:

  • Everyone in this group had graduated and got degree from various Australian uni long time ago. Some of them finished their bachelor in Oz, most of them got their master degree, and the rest even already got a Phd title from there. But me. I’m just a fellowship graduate by all means. Only me.
  • All the people here have crucial positions in their well-established companies, national and multi-national, senior managers and or directors who are averagely aged 40’s. But me. I’m the one and only still living in my 20’s and working in a relatively new venture. I’m the very youngest one and have no peers, literally.
  • Most of them have background in finance and or working in such field, but.. me again X))

Yea, but chill. Instead of feel alienated, I think that I’m privileged to be among them, to be given a chance to learn much from experienced people, and to do acceleration. Sometimes lonely, like “am I really belong here??”, but.. well, lets just take the bright side anyway.

img-20160914-wa0036

funny how to call them (who aged as my father) class mates

 

So, as I noticed right after the workshop started, different from my previous AAS, where not all my class mates could speak English well, in this current group, I can see that everybody’s really smart and everybody has a very good English (otherwise, they wouldn’t graduated from Oz and become global business leaders, eh?). It makes the class and discussions so much alive. Anyone can participate and share their well thoughts and experiences. And it is very very exciting! We are assisted directly by one of the directors of Sydney Uni Business School, Prof.Robin Stonecash, and the program leader, the funny smart Kyle Arthars, sooo much fun!!

img-20160914-wa0027

Kyle is so tall so you can always notice him right away

 

So, for those who ask me whether this program is related or is the sequel of my previous AAS, no, it is not. It’s completely apart, yet given from the same scholarship provider, funded by the Australian government.

And so what I can share with you from winning the AAS twice are:

  • I think AAS are very concerned in making impacts of their programs. So (especially for the long-term awards), they look for candidates who can give influences or create changes. That’s why some people may say potential awardees mostly come from the government institutions, rather than who work in private company, because they are more likely to be the persons who have authorities to make policy or something that will affect to the society.
  • The rule above also somehow applied in short-term award. If you’re not a PNS or working for the government, for targeting the objective of making impact, it’s good for you to have an important role in your company or institution, because in common perspective, if you do so, as you educated, there are not only you who will be benefited, but also (directly and indirectly) your environment and people in surrounding.

    Based on these two, my tip is: when you apply, tell them clearly about your role, and show them how influencing you are.

  • Another hint from me; Australia has special concern in particular subjects, such as women empowerment/gender equality, people with disabilities, and development in rural areas. So if you want to biggen your chance in winning their scholarship, you can tell them how you involve in those issues. If you are a disabled person, I strongly recommend you to apply, because instead of be ignored, you are more likely to be prioritized. I can guarantee that. (And don’t worry, Australian environment is adequately inclusive)
  • Become an alumni of Australian Uni will bring you so many advantages, so that you should not miss the chance to be a part of it. Moreover, when this post published, AAS do even have (very) short courses that only take 2 weeks.
img-20160913-wa0009

my bag is ready

 

And what make the short-term award special:

  • We don’t have to provide any certificate of English proficiency (maybe it can help, but not compulsory). They asses fully based on our CV, applications, and essays.
  • They will help to make our student visa. In my case, I give them the data, and the AAS officer proceed it to the embassy.
  • The stipend and facility are a bit higher compared to for the long-term awards
  • Most likely, you will be gathered with leaders of the industry.
  • To maximize the output, the program must be including business visits, networking events, and social programs for you to experience Australia way more.

So, what are you waiting for? For Indonesian, you can check to australiaawardsindonesia.org for looking for suitable program for you. Meanwhile, I’ll be finishing my pre-departure workshop and preparing for my next journey in Sydney very very soon. Wish me luck, guys!!

 

In the cold un-air conditioned hotel room,

still absorbing today’s material and trying to fit in these grown-up people

Tentang Ibu, Mayat, dan Ilmu

ibu Hani

Ibu yang cantik, dan Hani yang jauh lebih mirip bapak.

Nyatanya inspirasi emang bisa dateng dari mana aja. Termasuk dari obrolan ringan sehari-hari. Kemarin waktu lagi ngobrol sama Shofi, temen geng Jalan Radio, dari yang awalnya ngehibur temen lain yang lagi patah hati, tiba-tiba bahasan kami jadi tentang orang kesurupan, mati, dan akhirnya mayat. Singkat cerita, di tengah-tengah obrolan, Hani sempet bilang, “Eh, ibu aku di pengajian termasuk tim jenazah loh.. di-amal sholeh-in (dimintain tolong) sama pengurus mesjid untuk jadi anggota timnya. Makanya kalo ada yang meninggal, apalagi perempuan, ya mesti pada langsung dateng ke rumah”. “Wah, bagus tuh, mba Han. Aku juga pengen belajar fiqih gitu”, kata Shofi. “Iya sih. Ibu tuh waktu ditunjuk jadi tim, eh ya ampun, beberapa hari kemudian langsung ada ibu-ibu temen ngajinya yang meninggal.. jadi langsung praktek deh”. Terus Hani jadi inget, “Cuman yang gak kebayang tuh tahun kemaren. Nenek aku kan meninggal tuh, terus ibu sendiri yang mandiin nenek. Aku sih gak kebayang aja gimana rasanya mandiin jenazah ibu sendiri”. Waktu itu aku kebayangnya ibu ngerjain itu ya karena ibu anggota tim dan ibu lebih mengerti ilmunya dibanding saudara-saudara yang lain. Sampe akhirnya Shofi nanya, “Loh.. emang mba Hani, kalo ibunya nanti meninggal, gak akan mandiin?”. Hah? Mmm… belum pernah kebayang sih. Tapi mungkin yang lain. “Ya ampun.. harus keluarganya lah…”. Dan akhirnya penjelasan Shofi membuat si Hani ngeh dan sadar bahwa ini termasuk hal yang harus dipersiapkan;

“Yang namanya orang mandiin jenazah, kita membersihkan seluruh fisik dan menghilangkan segala kotoran yang menempel, dan kita gak pernah tau gimana keadaan jenazahnya saat itu. Bayangin kalo ibu kita dimandiin sama orang lain, yang mungkin emang mahrom juga tapi bukan keluarganya. Kalo ternyata ada tanda-tanda di badan jenazah, gimana? Atau ada kondisi-kondisi yang kurang baik? Orang lain bisa aja jadi berasumsi, wah meninggalnya begini, meninggalnya begitu. Kita juga gak pernah tau, mungkin nanti mereka cerita ke orang lagi, dan bisa jadi omongan yang kurang bagus. Tapi kalo keluarga? Bagaimanapun dia ibu kita. Kita harusnya lebih tau, dan akan lebih mengerti. Seumpama pun ada suatu kejelekan kecil atau apapun, kita pasti akan berusaha menutupi kekurangan keluarga dan menjaga nama baik keluarga kita. Harus kita yang tau, harus kita yang melakukan. Dan ini juga akan jadi bakti terakhir kita sama orang tua, bakti kita sebagai anak, bakti kita sampai di akhir hayat mereka.”. Masya Allah, semoga kita semua dijadikan anak-anak yang baik. Dan Hani cuma bisa bilang pelan sambil ngangguk, “iya juga…”.

Sejatinya meninggalnya orang tua mungkin termasuk hal yang susah kebayang sama kita, atau kita emang lebih milih gak ngebayangin. Dan ternyata ini adalah hal yang selayaknya kita pikirkan, dan persiapkan untuk dilakukan. Mau gak mau waktunya akan tiba. Dan saat itu datang, demi jadi anak baik yang berbakti, semestinya kita juga sudah harus siap. Artinya apa? Kita sudah harus punya ilmunya, harus tau segala ketentuannya, dari yang biasanya menyerahkan pekerjaan ke tim jenazah setempat. Hukumnya mengurus jenazah mungkin memang fardhu kifayah, tapi sebenarnya hukum mencari ilmunya itu fardhu ‘ain, alias wajib. Bahkan jika di suatu wilayah tidak ada yang bisa mengerjakan, maka bisa jadi terkena dosalah seluruh jamaah yang ada di wilayah itu. Kalo di pengajian, itu bahkan ada materi khusus sendiri, kumpulan banyak hadistnya yaitu kitabu jana’iz. Insya Allah setelah ini Hani niatkan untuk pelajari lebih baik lagi…

*deep breath

Lalu pikiran pun melayang jadi ngebayangin ibu yang ada di rumah. Hani makin salut dan bangga sama ibu. Walaupun Hani lebih “anak bapak”, tapi Hani juga sayang banget sama ibu. Hani yakin, kalo orang-orang tau betul bagaimana ibu, mereka juga akan punya kekaguman yang sama. Semoga masih lama waktunya sampai Hani harus melakukan ini, Bu. Semoga Ibu sehat selalu sampe bisa nemenin anak-anak Hani nanti. Semoga Hani bisa jadi anak baik yang gak nyusahin hati Ibu.. dan hidup di agama yang diridhoi Allah seperti yang selalu Ibu teladankan. Di kesempatan lain mungkin Hani akan lebih sanggup nulis tentang ini.

 

Jakarta, Jum’ah barokah 2016

jadi pengen buru-buru langsung pulang ke rumah ibu

 

101 Hal-Hal Random di Adelaide

IMG_8103

Gedung Parlemen di Adelaide itu persis pinggir jalan dan gak pake pager. Selow~

 

Haaaaa… akhirnya nulis tentang Adelaide lagiii…!! ~\o/

Apa kabar, teman-teman? Isi kepala ini rasanya penuh mesti ditumpahin. Segala yang gw pelajarin di Adelaide rasanya masih jadi hutang yang belum dibayar. Hasil beasiswa yang harus gw bagi, termasuk biar gw bisa merapihkan segala memori yang ada di kepala, sebelum ke-delete (terlupakan, blas~), supaya gak berantakan file-file-nya di otak gw, biar bisa tetep terdokumentasi dengan baik, dan bisa jadi pengingat di masa depan. Ya mestinya sih udah ditulis dari kapan tau. Tapi mood dan waktunya itu loohh >,<

So, mumpung sekarang lagi mood, mari kita writing2 blogging2, hehehe…

Tapiii… dibanding bahas materi kuliah yang kayaknya gw harus berpikir agak keras lagi, kali ini mari kita bahas yang ringan-ringan dulu aja. Sesuai judulnya, gw lagi pengen ngedaftar apa aja hal-hal random yang gw temukan di Adelaide, kota penting yang jadi latar belakang Kambing Jantan-nya Raditya Dika, jauh sebelum dia jadi raja socmed dan super terkenal kayak sekarang XD (kemudian dari jauh terdengar Adhitia Sofyan nyanyi Adelaide Sky).

Fyi, hal-hal di bawah ini ada yang spesifik kalian akan temukan cuma di Adelaide, tapi ada juga yang emang tipikal Ostrali. Yang jelas, gw banyak ngalaminnya ya di Adelaide.

Apa aja? Ini dia!

1. AdelaideFree

IMG_6928

Tengah malem di Victoria Square. Demi AdelaideFree.

Awal gw dateng di Adelaide, gw senengg banget nemuin si AdelaideFree ini. Apakah dia? Yep! Tidak lain dan tidak bukan dia adalah nama akses wifi gratis di seluruh area city di Adelaide! Tanpa username dan password, kalian bisa langsung connect ke internet gratis ini. Device apapun, berapapun. Pernah satu malem ya kayak gini, gw terpaksa keluar gara-gara internet di apartemen gw mati, begitupun kuota internet di hape gw. So, AdelaideFree is a savior when you need it. Minusnya, dia cuma sering langsung disconnect pas kita masuk ruangan. Jadi harus di area terbuka.

2. Telepon Umum

IMG_3148

It’s everywhere!

Ya ampun, guys.. kapan sih terakhir kali kalian pake telepon umum? Gw sendiri kayaknya dahulu kala banget waktu masih SD. Tapi ternyata di negara maju, telepon umum tu masih super eksis, ada dimana-mana, keurus, dan BISA DIPAKE. Gw jadi bingung, gw yang ketinggalan zaman apa gimana? Yang jelas, awal-awal gw di Adelaide, pas liat si kotak ini gw jadi cengo sendiri. “Whaaattt??” XD Kocak deh. Apa jangan-jangan karena di Aussie jarang ada tukang pulsa? Ah, gak juga tuh. Hmmm…

img_7063

Bisa dipake!

3. Kalimat standar Aussie

“Hey, how are you going?”. Awal-awal kadang takut salah denger. Ni orang nanya “how are you doing?” atau “where are you going?”, dan ternyata emang itu maksudnya adalah nanya kabar.

Dan Aussie kalo abis nerangin, untuk mastiin orang yang diajak ngomong ngerti apa nggak, pasti nanya “is that make sense?”. Kalo bahasa Jakarta sama dengan ini kali ya: “Nangkep kagak lu?” xD

4. Registrasi SIM card

capture-20160831-233835

2 attempts remaining :O

Gak kayak di Indo yang bisa seenak-enaknya ganti sim card hape, di Aussie data yang kita input beneran disingkronin dengan data yang ada di database pemerintahan mereka, cuy. Kalo gak match, ya kayak begini deh hasilnya, gak akan bisa dipake. Ini aja gak tau apa yang salah, gw lupa.

5. Toilet

Nah, kalo yang ini kayaknya udah jadi rahasia umum sih. Toilet-toilet di Ostrali itu sangaaatt waterless 😐 Semua harus dibersihin pake tissue, termasuk buang air dan pup (mereka bahkan gak punya penyemprot di toiletnya!). Iya, gw juga gak kebayang sih gimana mereka bersih2nya, tapi begitulah. Buat mereka, justru kita yang siram-siram ini lah yang aneh kayaknya. Apalagi cebok, ewhhh~ Di apartemen, gw wudhu di wastafel, basah-basah di lantai, bisa ditegor sama petugas pembersihan. Jadi, survival tip-nya ya emang mesti bawa botol kemana2. Mau kampus, kantor, hotel bintang lima, semua sama..

6. Aborigin

IMG_3170

Kirain orang Afrika, ternyata Aborigin. Lagi diinspeksi petugas kereta karena ketangkep gak bayar tiket.

Kadang di city, tapi lebih banyak di suburb, sering ketemu sama orang-orang Aborigin kayak begini. Dari yang masih kecil sampe yang udah tua. Suka nyamperin orang dan nanya “Do you have $1?”. Minta-minta recehan gitu deh. Untungnya gak suka maksa. Kalo kita bilang gak ada, ya dia langsung pergi.

7. Malamnya Adelaide

IMG_4215

Ini jam 7 PM.

Kadang pas awal-awal masih awkward, bilang “tonight” tapi matahari di luar masih super terang benderang. Apalagi setelah “Day Light Saving”, jam-nya dimajuin sejam, jadi maghrib biasanya jam 7.45 atau 8.00 PM. Tapi enak sih jadinya kalo puasa di Ostrali, durasi lebih pendek ^^

8. Becak ala Aussie

IMG_8140

Tukang becaknya aja cakep kan?

Yang narik becak begini banyaknya emang anak muda. Side job nambah penghasilan kali. $5 per orang, lumayan lah. Naik berdua begini bayarnya jadi $10. Mereka akan nganterin penumpang kemanapun selama masih di wilayah city. Bisa pesen online, ntar janjian lokasi penjemputannya. Akun socmed-nya juga aktif: @EcoCaddy

9. Koper

IMG_5161

Kalo jalan dan trotoar mulus mah, bebasss~

Well, ini kebetulan pas gw motretnya orang yang lagi bawa koper dan tas-tas sih.. tapi banyak juga yang bawa koper-koper kecil doang. Poinnya, gw liat banyak orang kantoran atau yang kerja lebih milih pake koper kecil dorong begini (termasuk dosen-dosen gw). Dan menurut gw ini asik.. terutama kalo barang lw agak banyak, sedangkan kalo lw bawanya pake backpack itu pasti bikin punggung lw sakit, dan sangat mengganggu postur. Pengen bisa begini pas di Jakarta, tapi gimana cara kalo trotoar masih acakadut. Dan ini mengingatkan gw sama ponakan gw yang TK sih, pake tas dorong XD Tapi beneran pengen, karena berasa banget, laptop gw aja udah berat, jadi kalo tas biasa, ampun deh -_-

10. Budaya Barbeque

IMG_7218

Model panggangan yang ada di Maslin Beach. Featuring mas Bengbeng pas kelompok Jokam Adelaide outing.

Salah satu yang Aussie banget itu kayaknya barbeque-an. Well, dengan banyaknya ruang publik, apalagi pantai yang super banyak (sampe kadang berasa punya sendiri saking sepinya), fasilitas barbeque juga biasanya udah tersedia di area-area kayak gini. Gak perlu repot bawa panggangan, tinggal bawa bahan-bahannya aja ^^ Di acara keluarga juga mereka sangat seneng BBQ. Sayang, kadang daging Ostrali rasanya “beda” xD

11. Bis 

IMG_4755

Bis atau tram yang ngelewatin City.

Katanya siih.. kalo masih <1 jam, kita bisa ganti bis lain tanpa harus kena charge lagi atau potongan di kartu Adelaide Metro yang kita tap. Aslinya gw gak tau pasti juga, karena jarang merhatiin saldo. Display-nya suka kecepetan.

12. Self-service di Coles

Self_checkout_using_NCR_Fastlane_machines

Scanning sakarepmu, ndok. Sumber gambar: http://bit.ly/2bCiTYs

Nah, ini salah satu yang tetep gw gak abis pikir. Coles adalah salah satu supermarket terkenal dan buanyaaaak banget (sangat mendominasi) di Ostrali. Dan di sini semua orang bisa jadi kasir buat mereka sendiri. Gampang banget buat cheat. Emang sih, suka ada karyawan yang mondar/ir di sekitar, tapi fungsi mereka lebih ke melayani kalo ada konsumen yang kesulitan atau butuh retur barang. Mereka juga emang gak mungkin bisa merhatiin konsumen satu-satu. Bayangin deh, kadang kita nge-scan aja kan gak selalu datanya langsung ke-input, tapi bisa jadi ya udah, langsung aja kita masukin ke keranjang belanjaan. Atau scan satu padahal masukin dua juga bisa. Atau scan semuanya, tapi ntar klik klik klik barangnya pada di-remove dari data mesin di layar juga bisa. Intinya gampang banget deh buat nyolong! Apalagi ingat Bung, “kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi karena ada kesempatan”. Kegoda dikit, bebas deh udah. Untung gw punya Allah, dan gw takut sama Allah. CCTV? Ampun dah… Kalopun lets say pas orangnya udah pergi, eh ketahuan dia gak nge-scan beberapa barang, emang iya dikejar, diburu jadi buronan hanya demi beberapa dollar? Nol, gak ada sama sekali. Gw jadi penasaran, ni perusahaan apa iya nganggep semua manusia itu baik dan jujur? Sebegitu jujurnya sampe gak berani ngutil barang remeh temeh? Dan kalo emang yang nyolong-nyolong itu pun banyaknya cuma yang receh-receh, tapi kan, receh kalo dikali seratus orang aja udah lumayan, kali. Apalagi kalo ternyata banyak yang gak receh.

Karena penasaran, gw googling deh. Dan tuh kaann.. jarang ada artikel tentang isu ini yang isinya positif; Self-service checkouts normalise, excuse supermarket stealing, research shows, terus 10 per cent of Coles and Woolworths shoppers admit to SHOPLIFTING when using infuriating self-serve checkouts, dan ternyata, ya ini nih:

Professor Neale said he estimated the overall cost of theft from supermarkets in Australia would be billions of dollars each year.

“They do absorb more of that risk because they are saving so much on labour costs,” he said.

He suggested that rather than employing more staff, retailers might move to smarter technology that is harder to fool in the future.

Hampun dijeh. Ternyata ada hubungannya sama isu upah juga, yang emang di Ostrali itu standar gajinya tinggi. Makanya pasar-pasar dan tempat-tempat kerja mayoritas cuma beroperasi sampe jam 5 sore. Tapi apa sebanding ya sama kerugian yang mereka tanggung dalam waktu lama?

13. Container

12004806_10205158308092905_1783675678905440508_n

Dikasih mba Fatiha, di minggu pertama nyampe, si Hani masih kedinginan.

Dan di minggu-minggu berikutnya, pas ada arisan di apartemen, temen gw yang mau dateng nelpon dan bilang, “Han, ntar gw bawa kontainer sendiri. Gw bawa dua deh”. Yang langsung kebayang di otak gw adalah dia mau bawa mobil kontainer. Ternyata eh ternyata, itu sebutan Aussie buat wadah makan kayak yang plastik transparan itu 😐

14. Mas-mas

12973296_10154020939498382_4678019167587294659_o

Mamas di Adelaide Central Market.

12182707_10205338147028766_9118825369821438818_o

Mamas2 cemilan di area Rundle

Asli deh.. mamas2 di pasar aja bentukannya kayak model dan atlit gitu, ganteng, gaya, dan cool pula. Gak ada alesan lagi buat gak suka belanja ke pasar. Dan tips buat yang mau belanja terkait makanan, terutama di Adelaide Central Market, dateng aja sore-sore mau tutup jam 5, atau Jumat sore. Harganya pasti jadi pada murah. “One dollar, one dollar” xD Di area selain pasar, yang jual makanan juga. Favorit gw, jadi bisa dapet sushi roll cuma $2, yeay \o/

15. Shopping Tips in Adelaide

Sejatinya belanja di Adelaide itu superr menyenangkan. Karena kalo tau dan ngerti caranya, kita bahkan bisa dapet branded stuffs dengan harga yang murah, barang-barang bagus yang bikin pengen borong, dan segala macem yang sangat worth to buy. Dan ini akan gw tulis di postingan yang berbeda 😀

Nah, itu dia hal-hal random yang gw temukan di Adelaide. Kalian gak bener-bener ngarep gw bakal nulis 101 biji kan? XD Capeeekkk, busett. TL:DR. Tapi gw bakal beneran lanjutin kalo kalian tinggalin komen di bawah ini. Sejatinya, file di gw masih banyak sih >,< Buat yang tinggal di Adelaide, boleh juga kasih komentar dan tambahan. At the end of the day, kota ini bakal ngangenin banget sih emang…

I’ll be looking at my window seeing Adelaide sky
Would you be kind enough to remember
I’ll be hearing my own foot steps under Adelaide sky
Would you be kind enough to remember me

Adhitia Sofyan – Adelaide Sky Lyrics | MetroLyrics

 

Jakarta, Kamis, jam 2 pagi

sambil menghitung hari kembali ke Ostrali

TIPS AGAR PRODUKTIF (ala Hani)

Busy copy

aku tertohok xD

 

Kenapa ala Hani? Ya karena best practices ini berlaku dan efektif untuk aku, tapi belum tentu efektif untuk orang lain. Yang jelas kita hidup di era digital media dimana kita selalu dibombardir oleh informasi dan (lets say) tuntutan eksistensi, padahal semakin kita sadar, semakin kita mengerti bahwa definisi sibuk dan produktif itu sangat berbeda. Apapun role kita, pekerjaan kita, banyak dari kita yang terjebak dalam salah satu paradoks hidup, yaitu semakin banyak alat untuk mengefektifkan waktu, tapi kita malah merasa semakin tidak punya banyak waktu. Selain karena sekalangan orang memang memiliki kesulitan untuk menentukan prioritas. Padahal, merasa produktif dan mencapai sesuatu juga termasuk faktor penting yang menentukan untuk orang merasa senang dengan dirinya, dan mengurangi kegelisahan karena setidaknya dia tahu bahwa dia tetap mengalami progress.

So, langsung aja, ini dia beberapa tips-nya:

1. Jangan Bikin To-Do-List

“Hah? Serius, Han? Jangan bikin to-do-list?”.
“Iya. Jangan bikin to-do-list”.

Atau lebih tepatnya adalah JANGAN CUMA bikin to-do-list. To-do-list is good, dan merupakan langkah awal bahwa kita tahu persis apa aja yang harus dikerjakan secara detail. Tapi yang lebih penting lagi setelahnya adalah bikin SCHEDULING dari semua to-do-list itu. Kita pos-pos-kan setiap “task & goal” yang kita punya ke setiap hari yang ada dan tentukan kapan itu harus dikerjakan SAMPAI SELESAI. Unless your to-do-list will always be just a list. Kalo cuma liat list, kita hanya akan selalu ngerasa bahwa kerjaan kita super banyak (dan mungkin memang akan selalu begitu). Tapi kalo cuma diliatin atau dikerjain tanpa bikin goal dan scheduling, bisa jadi kita loncat-loncat dari task yang satu ke task yang lain, tanpa bener-bener fokus dan beresnya bisa entah kapan, yang akhirnya ngerasa selalu sibuk, tapi sibuk yang karena memang gak teratur. Terutamanya ya untuk pekerjaan-pekerjaan mandiri dimana gak ada orang lain yang selalu nagih kerjaan kecuali kita sadar bahwa ini harus dikerjakan sampai selesai. So, scheduling is a must!

2. Hindari Buka Email Pagi Hari

Kecuali kamu orang superrrrrrr penting yang harus selalu buka email kapanpun, bener-bener gak bisa nunda sama sekali, karena kalo telat buka email bisa hilang ratusan juta, hindari buka email pagi-pagi di awal kita memulai hari. Kenapa? Karena kita asumsikan aja kita udah punya to-do-list untuk hari itu dan apa aja yang harus selesai di akhir hari. Dengan buka email pagi-pagi, bisa jadi banyak yang akhirnya mengarahkan kita untuk mengerjakan yang lain-lain dulu, yang kadang urgensinya kurang, tapi akhirnya menyita waktu dan mendistraksi kita dari yang seharusnya dikerjakan dan sudah ditargetkan. Time waits for no one. Dan ini terkait juga dengan alasan atau tips berikutnya…

3. Pahami Jadwal Kemampuan Otak

Alasan lain kenapa aku gak menyarankan buka email pagi-pagi, adalah karena aku baca dan mengamini tentang jadwal kemampuan otak mayoritas orang. Yaitu bahwa di pagi hari otak kita bisa berada di tingkat optimal. Artinya, ini waktu yang bagus kalo kita mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang cukup sulit, butuh konsentrasi tinggi, dan pemikiran penuh. Otak kita sedang bisa untuk diajak bekerja keras, maka mulailah dengan yang paling susah. So, aku sih sayang banget kalo waktu yang bagus ini cuma dipake untuk sorting email atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di sesi waktu yang lain.
Nah, ketika beranjak siang, kadang otaknya sudah agak mengendur. Biasanya sih aku nyari tempat beraktifitas dimana aku bisa berada di tengah orang-orang, merasakan dinamika orang lain mengerjakan kegiatan mereka, dan ikut sibuk bersamanya. Energi yang ada dari orang-orang bisa mendorong kita untuk tetap bergerak dan produktif.
Kalo udah agak malem, baru deh, otak kita memang relatif lebih rileks, jadi kita bisa mengerjakan hal-hal yang lebih santai. Mungkin masih bisa meeting, cek dan bales email (nah, ini waktunya), rancang schedule untuk hari-hari berikutnya, baca buku, sekilas buka social media, dan lain-lain sisa dari daftar kegiatan. Emang sih banyak juga dari kita yang “ON”-nya kalo udah larut malem. Pastikan aja gak terlalu sampe pagi, karena bayar hutang dari tidur minim biasanya malah jadi berkali lipat waktunya dan badan jadi gak terlalu fresh, yang akhirnya secara jangka panjang belum tentu bisa lebih produktif.
(Atau mungkin kalian punya karakteristik waktu fokus yang berbeda? Share with me!)

4. Focus On Deeper Things

Menulis twit dan menulis blog (atau lebih ekstrimnya; menulis buku) itu sama-sama kegiatan menulis. Membaca artikel berita dan membaca buku juga sama-sama kegiatan membaca. Lalu apa bedanya? Dalam satu hari mungkin kita bisa baca belasan artikel berita tentang tema yang berbeda. Tapi dibanding menyelesaikan satu buku tebal, kira-kira efeknya bagaimana? Atau lebih merasa produktif mana kita antara saat menulis twit dan menulis buku?
Buat aku, jelas menulis tulisan panjang dan menyelesaikan satu buku jauh lebih produktif (selain bisa update akun Goodreads, hehe..), dan di antara semua itu yang membedakan adalah karena salah satunya membutuhkan deeper thinking dibanding yang lain. Dalam semua yang kita kerjakan, selalu ada hal-hal yang membutuhkan fokus lebih, kerja lebih, usaha lebih, dan juga waktu yang lebih lama. Proyek serius dan besar pasti membutuhkan perencanaan matang, kerja maksimal, disiplin tinggi, tahan banting, yang pasti dibarengi juga oleh deeper thinking. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita mulai juga begitu. Secara hasil, deeper things ini jauh lebih membuat kita merasa sudah accomplish sesuatu, lebih membuat kita naik level dibanding sebelumnya, karena memang ada proses lebih yang harus dilewati. Hasilnya, bisa membuat kita juga lebih produktif. So, focus on deeper things menurut aku powerful untuk yang bener-bener pengen ngerasa produktif secara komprehensif.

Nah.. gimana?

Sekian untuk kali ini. Semoga ada yang bisa dijadikan catatan. Sekali lagi, ini ala Hani. Tiap orang pasti beda-beda caranya, apa yang paling cocok untuk dikerjakan. Ada beberapa tips lain juga, tapi sayangnya diri sendiri aja susah untuk praktek, haha.. jadi… terima kasih sudah membaca blog ini. Setidaknya menulis postingan ini juga membuat aku merasa lebih produktif ^^

 

malam, Jakarta, 23 Juli 2016

di saat internet mati dan gak ada camilan sama sekali

 

Updated: Adding to the article above, I think I just agreed about an idea regarding this: VALUE OF TIME; we have to know how much we can value ourselves.
.
For example, we can simply divide how much money we expect to earn in a month with 30 days, and then divide with 24 hours, and with 60 minutes at last, until we get our value in each minute. It makes us more aware about how valuable our time is, and every time we get lazy, at least we know how much we waste. (Exclude for our personal and social life, especially time for our family, coz however they’re priceless, irreplaceable, and we need to socialize as well). Yet knowing our value of time is powerful!
.
I have ever met a successful business woman who knew exactly how much her time worth per hour. So when there was an agenda which not compensate that “value”, she prefer ask someone to replace her and she would do something more valuable instead. Very decisive. She would not say yes to any seminar that invited her to be a speaker, coz she knew that popularity aint her goal, but do the right things were. And she always achieve her target so far. I think this is also one of aspects about knowing ourselves. Or just like in business: YOU CANT MANAGE WHAT YOU CANT COUNT. Think about it..
.
So, lets give it a try. Count your value per each minute and put that in your head. Or.. would you share to me how you deal with time and targets?

Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D