Opini Tentang Makanan Halal

DSC_0408

Kemarin di Asakusa, Tokyo, mampir warung ramen ini, di jejeran toko-toko pinggir Asakusa Temple. Harganya emang 1000 yen-an. Makanya kita niatin juga aja mendukung industri makanan halal :3

 

Tiap liat tempat makan berlabel halal, gw selalu inget gw udah lama pengen nulis ini. Berawal saat tinggal di Adelaide, Australia, dan beberapa orang nanya, “makannya gimana tuh?”, “Ada yang jual makanan halal nggak, Han?”. Persepsi mayoritas orang adalah, tinggal di luar negeri itu artinya lebih susah untuk dapet makanan halal, terutamanya daging-dagingan, dibanding kalo tinggal di Indonesia. Dan itu bikin gw mikir, “iya kah?”.

Beruntungnya gw tinggal di pusat kota Adelaide, yang tinggal jalan 5 menit langsung nyampe ke Adelaide Central Market. Ada toko gede yang udah bersertifikat halal, dan labelnya itu dipampang gede-gede di depan tokonya, gampang banget ditemuin. Selain daripada itu, penjual-penjual lainnya juga udah hafal kalo gw yang berkerudung ini mau beli produk mereka, “no halal”, “it’s not halal”, mereka kadang udah declare duluan tanpa harus gw nanya. Poinnya adalah, di negara barat kayak Australia, batas halal non halal itu juga mereka jelas, karena ada lembaga penjaminnya, semua harus ngikutin prosedur. Kalo sesuai syariat, ya baru bisa klaim halal.

Lalu gw ngebayangin Indonesia. Pernah suatu malam gw pengen makan baso di daerah Dago Atas, Bandung. Gw sendiri pernah makan di tempat itu, tapi kali ini gw lagi bareng temen gw. Lalu tiba-tiba aja temen gw bilang, “Jangan disitu, Han. Daging sama kuahnya gak halal”. Gw lupa apa karena cara motongnya yang bikin gak halal, atau emang tu penjual pake bahan yang nggak-nggak, yang jelas temen gw bilang gitu. “Loh, kok lw tau?”, kata gw. “Soalnya gw pernah nanya sama orang”. Wow. “I think if you didn’t tell me, I would never know”. Really. Mungkin juga penjualnya gak terlalu ambil pusing urusan halal non-halal ini, jadi gak ngerasa harus ngasih tau detil soal apa yang dia jual, sesuai ekspektasi orang atau nggak.

Nah… Berasa gak sih bedanya? Kadang kok gw ngerasa malah tinggal di luar negeri itu orang-orang justru bisa jadi lebih menjaga? Gampangnya karena bisa jadi lebih hitam putih. Ada labelnya berarti halal (dan itu beneran dijamin), gak ada ya berarti non-halal. Your choice. Fair enough. Sedangkan di Indo, itu sebenernya lebih banyak abu-abu. Kita aja yang bertendensi memukul rata semua yang dijual pasti halal, semua orang Indonesia pasti tau gimana caranya, jadi tiap kita mau makan dimanapun, kita udah gak harus nanya-nanya lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu? Semua orang pasti menomorsatukan kehalalan? Semua penjual kita? Yakin??

So, jawaban gw waktu ditanya makanan di Adelaide gimana, gw bilang baik-baik aja. Mau yang halal ya tinggal ke tempat-tempat yang ada labelnya (yang kadang gw juga lebih percaya sama sertifikasinya, gak ada KKN tinggal bayar doang langsung di-approve). Kalo emang kita concern sama hal ini, ya sebisa mungkin idealnya sih selalu mutawari’ (menjaga/berhati-hati), dimanapun bagaimanapun, gak generalisir yang belum tentu, dan berani bertanya untuk memastikan. Karena jelas gak semua orang punya waktu nyembelih sendiri juga sih, hihihi.. Peace v^,^

makanan-dan-minuman-halal-4-638

Sambil menikmati hari-hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini,

salam hangat dari kota Tokyo

 

NB: Syarat makanan halal itu sebenernya memang beragam, dari bagaimana mendapatkan rejekinya, mendapatkan makanannya, pemotongan, pengolahannya, ya begitulah. Dan disini konteksnya memang lebih secara umum =) Dan sejujurnya, kalo di luar, seenak-enaknya daging pun rasanya tetep aneh aja sih udah x’D

 

 

Advertisements

Korupsi Itu Gak Logis

UANG KORUPSI gray

Assalamu’alaikuum.. hehe..

Ini adalah bener-bener postingan kilat, maksain diri untuk nulis, walaupun cepet-cepet dan pendek. Adalah hasil ngobrol-ngobrol sama seorang dosen psikologi yang juga belajar ilmu filsafat dan agama. Sebenernya simpel sih bahasannya. Tapi entah kenapa pengen aja diposting di blog. Yaa.. anggep aja biar gak lupa.

Ngomongin soal korupsi, apalagi di Indonesia, kayaknya emang gak bakal abis-abis. Saat tulisan ini diposting, nominal minimal tindak korupsi yang diusut adalah 1 milyar. Artinya, kalo ada seseorang yang melewati batas itu, sudah layaklah dia ditangkep KPK dan disebut koruptor, tukang makan duit orang, duit rakyat. Lalu gimana dengan besaran uang yang jauh lebih kecil? Kenyataannya, kita semua rentan terhadap perilaku itu, entah miskin atau kaya, dengan berbagai macam penyebab. Gak ada hubungannya sama agama, karena terbukti yang sekarang pada ketangkep, juga justru orang-orang yang keliatannya cukup religius. Lantas, apa yang salah?

Secara simpel, kenalan saya dosen ini berpendapat, “ada logika dalam Islam yang orang-orang itu lupa, Han” | ??? . Lalu dia menjelaskan:

1. Untuk setiap muslim, kita semua seharusnya tau dan sudah meyakini, bahwa rejeki orang itu sudah ada jatahnya masing-masing. Yang artinya apa? Rejeki kita itu sungguh-sungguh sudah ada takarannya, dan tugas kita hanyalah menjemputnya. Kalo kita korupsi, tapi memang belom rejeki, toh korupsinya belom tentu berhasil juga toh? Karena memang apa yang akan kita dapat itu sudah ditentukan. Lalu untuk apa kita menjemput rejeki kita dengan cara yang dimurkai Allah dan dibenci manusia?
2. Orang yang korupsi sebenarnya dia bukan mengambil harta orang lain. Karena ada istilah “rejeki itu gak akan ketuker”. Apa yang dia dapat adalah rejeki dia sendiri, hanya mungkin dengan mempercepat yang belum saatnya. Jadi, sebenarnya, untuk apa???

Bahasan simpel kan? Tapi entah kenapa saya kagum aja sama beliau pada saat ngomong begitu. Mungkin karena memang tipe orang yang bisa mensinkronkan ajaran agama dengan logika yang bisa diterima orang lain.

Intinya sih, kesimpulan semua ini, dalam Islam, korupsi itu bukan cuma haram, tapi juga sebenarnya gak logis. Titik.

 

Di dalam ruang yang atapnya gemuruh bunyi hujan,
Terima kasih untuk Pak Hakam,

Jakarta,
2014

 

Update:

komen-1

Repost dari fb sebelum ada yang komen sama di sini.

 

Disclosure: ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2014/12/korupsi-itu-gak-logis.html untuk tujuan integrasi blog