David VS Goliath: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Buffering

photo6120654904965048342.jpg

 

Hi, long time no see. Kali ini adalah edisi iseng bett di tengah deadline ini itu. Hanya sebuah review buku. Silakan disimak saja :3

Ada yang udah baca Outliers? Atau Tipping Point? dari Malcolm Gladwell? Buku beken banget memang itu, tapi aku malah belum juga sih 😛 Bukunya Gladwell yang pertama kali aku baca akhirnya malah yang ini: David & Goliath, Underdogs, Misfits, And The Art of Battling Giants. Setengah bagian pertama exciting, setengah terakhir.. so so 😬 (tapi tetep #WorthToRead).

Yang ini pun sebenernya udah lama selesai dibaca, tapi poin-poin dari materinya masih sering aku pake untuk menyampaikan sesuatu ke orang. Dan mungkin ini juga bisa jadi insight lain untuk temen-temen. Apa itu? Ini dia:

 

1. Kisah David & Goliath.

Ini aslinya legenda sejuta umat, tapi (setelah ngobrol2 sana/i) ternyata banyak orang yang gak ngeh. Padahal kisah ini dasarnya ada di kitab-kitab suci juga, termasuk alkitab ibrani dan qur’an (kalo di qur’an namanya jadi Daud & Talut). Ceritanya adalah tentang pertarungan Goliath, si raksasa yang pake full body armor dan terkenal kuat, melawan Daud dari kaum seberang, masih keliatan muda, badannya kecil, bahkan pas bertarung, ngangkat pedang pun dia gak mau, karena tahu itu bakal bikin dia kewalahan. Semua orang udah pesimis lah lihat Daud. Goliath juga jd nantangin “Maju sini lu!”, begitu kira2 :p

Nah, disinilah akhirnya kita diperkenalkan dengan konsep “Advantage of disadvantage & Disadvantage of advantage”. Kelebihan2 dari Goliath, yaitu berbadan besar, pake peralatan logam banyak, dll, itu bisa jadi kelebihan, tapi juga bisa jadi kekurangan. Karena apa? Krn akhirnya itu malah bisa bikin dia jadi gak lincah bergerak, pandangan terbatas, dll. Makanya Goliath nantangin David maju. Bukan karena apa, tapi ya emang karena area serangan dia yang sebenarnya terbatas. Yang akhirnya itu dimanfaatkan oleh David. Ukuran dia yang kecil, malah bikin dia jadi lebih lincah. Dari awal David tahu, kalo bertarung biasa kayak di arena, jelas dia bakal kalah, makanya dia akhirnya lebih pilih pake strategi lempar batu dari jauh diketapel, yang akhirnya nancep di jidatnya Goliath, dan akhirnya bikin si raksasa ini tumbang. Setelah tumbang, akhirnya dihunus pedang, dan mati.

Nah.. konsep inilah yang akhirnya nancep juga di aku bahwa nyatanya semua hal itu bisa kita jadikan kelebihan, tergantung cara berpikir. Misal: kita punya UKM, mesti bersaing dengan perusahaan gede. Secara psikologis mungkin udah jiper duluan, tapi kalo dipikir2, skala kita yang kecil juga punya keuntungan, yaitu jadi lebih fleksibel dan adaptif untuk berubah, dibanding perusahan besar yang punya birokrasi dan gak bisa begitu aja ambil satu keputusan. Contoh lain yang paling nyata: keadaan ekonomi. Mungkin untuk orang yang kondisi ekonominya lemah, itu dianggap sebuah kekurangan, tapi padahal bisa juga dijadikan kelebihan. Kelebihannya apa? Orang susah itu (relatif) lebih tahan banting dan menghargai sesuatu. Klo orang kaya dari sononya? Begitu jadi orang susah, belum tentu mereka tahan, dan mereka pun jadi cenderung kurang menghargai uang atau fasilitas, karena ya dianggapnya biasa aja. Begitu. Jadi, apa kekuranganmu? Coba pikir lagi itu adalah kekurangan apa bisa jadi sebaliknya? ^^

 

2. Inverted U Curve (Kurva U terbalik).

Ini adalah konsep yang applicable juga dalam hidup, bahwa berbagai hal itu ada kurvanya, yang bentuknya seperti U terbalik (atau kalau di notasi matematik jadi kayak lambang irisan). Coba bayangkan kurva itu di kepala kalian, nah kalian pasti kan akan menemukan titik balik dari setiap kurva, dari yang asalnya naik jadi turun, atau kalo gampangnya kayak anti klimaks. Ini berlaku dalam banyak hal. Misal paling gampang: makan sate itu enak, tapi di satu titik, keenakan itu berubah jadi eneg. Atau, ngebesarin anak dalam keadaan berkecukupan itu enak, tapi di satu titik, ya si anak akan jadi keenakan dan kurang punya daya juang. Mislead yang banyak terjadi: nyekolahin anak di kelas eksklusif jumlah murid sedikit itu enak, tapi padahal gak juga. Terlalu banyak murid di satu kelas memang gak bagus, fokus guru terlalu terpecah dan tiap anak jadi kurang maksimal, tapi murid sedikit juga bisa bikin kumpul ide terbatas dan interaksi diantara mereka kurang hidup. Jadi tantangannya untuk kita adalah: gimana cara menemukan titik keseimbangan dalam berbagai hal, agar hasilnya bisa tetep maksimal, dan yang penting gak ada yang serba terlalu.

Demikian kira-kira yang aku petik dari buku ini. Outliers sama Tipping Point-nya masih ada di book list, semoga bisa segera dibaca dan kita bandingkan 👌🤓

 

Jakarta, September 2018,

di tengah-tengah sedih juga karena kantor batalin trip ke Argentina tiba-tiba

Advertisements