Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! 😀 Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

INNOCAMP 2016: Awal Seleksi & Kurangnya Imajinasi

img_9671

20 besar di 1st Camp. Ada yang individu, ada yang memang nge-tim berdua.

 

Tadaaa…!! Here I am again, in a tech-based business competition. Can you believe it? me not XD Sejujurnya sih… di masa-masa ini… aku kayaknya udah agak segan gitu ikut kompetisi-kompetisi lagi. Rasanya udah pengen bener-bener fokus jalanin bisnis aja. Konsen.. fokus.. Karena kenyataannya pun, juara di lomba itu beda dengan juara di dunia nyata, hehe.. Mungkin kalian juga paham maksudnya.

Tapiii.. godaan datang saat liat video ini! :B

Huaaa… Gimana cobaaa…

Ikut. Nggak. Ikut. Nggak. Ngitung kancing gak beres-beres, akhirnya, “nothing to lose aja deh.. lagian pede amat belum tentu lolos juga”, lol.

Lalu.. yang akhirnya bikin aku ikut itu kayaknya utamanya karena 3 hal: juri+mentornya keren-keren, hadiahnya juga oke (ke Google Jepang!), dan ini emang khusus untuk anak muda (sampe 35 tahun siihh), yang jelas kan kita gak akan muda selamanya! Jadi ayolah, selagi masih termasuk muda, mari kita manfaatkan 🙂

Maka akhirnya aku submit lah aplikasi ke mereka dan juga bikin video, mepeeeettt banget sama deadline. Temanya adalah berhubungan dengan bisnis teknologi, yang waktu itu pengajuan aku adalah tentang Home Solar Leasing, atau kredit solar panel untuk rumahan. Karena kebetulan itu salah satu lini bisnis yang memang ingin aku garap, dan kegiatan ini juga digagas oleh Adira, salah satu perusahaan multi-finance terbesar di Indonesia.

capture-20161206-090128

Sumber: innocamp2016.com

 

Singkat kata, amazingly, dari (lupa) berapa ratus, aku dapet email bahwa aku lolos tahap 1, dan mereka ngadain seleksi tahap 2 berupa interview via video call. Aku bener-bener gak tau kami mau ngomongin apa. Dan ternyata di hari H, ada dua orang dari pihak penyelenggara yang muncul di layar hape yang malah nanyain pertanyaan-pertanyaan absurd!

Continue reading

[Resensi Buku] Keep Your Lights On dan Project Baru

9574718

Rate: 5,7/10

Dari covernya saja, pasti orang2 sudah bisa menebak isi buku ini. Membahas tentang ide, yang erat kaitannya dengan kontes BIA (Black Innovation Award). Digagas langsung oleh salah satu jurinya, yaitu Yoris Sebastian, dengan tujuan menjangkau pelosok2 daerah yang gak bisa disinggahi workshop pra-kompetisi.
Untuk yang memang berniat ikut, mungkin buku ini bisa dijadikan tambahan motivasi + sedikit pegangan, menjelaskan  proses seleksi, dan melihatnya dari sisi para dewan juri (mayoritas juri, selain Yoris). Tapi untuk orang umum pun, buku ini disertai pembahasan koseptual tentang ide dan inovasi, contoh2 produk yang bisa ikut menstimulasi, dan juga menyinggung tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Saya membaca buku ini sebanyak dua kali. Untuk yang pertama, entah kenapa saya agak jengah, karena merasa ada terlalu banyak repetisi, terutama di bagian pendefinisian inovasi, bahwa ‘inovasi adalah sesuatu yang tidak harus selalu baru, tapi bisa saja hanya pengembangan dari yang sudah ada’. Kalimat itu diulang terus menerus entah sampai berapa kali, dengan format yang sedikit berbeda, tapi jadinya tetap membosankan. Namun anehnya, saya tidak merasa demikian lagi pada saat baca ulang.

484517_10151044551344477_521399732_n

si project baru

Mungkin ini dikarenakan oleh isi buku yang adalah gabungan dari berbagai testimoni orang-orang yang pernah jadi juri (Nicholas Saputra, Sigi Wimala, Agni Pratista,dll).
Maka itulah alasan saya untuk meresensi buku ini (padahal bacanya sih udah lama).
Pasalnya, saya sedang bergabung dengan projek pembuatan buku, bertema volunteering, yang berisi 24 kisah dari 24 volunteer. Dengan satu benang merah, namun ditulis oleh sebegitu banyak orang, apalagi dengan ketidak pastian proses editing (karena lewat self-publishing), bukan tidak mungkin di dalamnya akan banyak sekali repetisi definisi. “Volunteering adalah…”, “volunteer artinya…”. Walaupun kalimatnya bisa saja direka-reka berdasar masing2 penulis, namun secara konteks tetaplah sama. Ya… semoga saja ini bisa dihindari. Tentu dengan koordinasi dari sejak awal. Terutama buku yang bagus rasanya bukanlah yang bersifat menggurui, tapi lebih seperti berbagi, maka makna yang didapat setiap orang pasti akan berbeda, tergantung penerimaan dan pengalaman pribadi masing2 pembaca.
Doakan saja ya! 😀

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Dapet langsung dari mas Yoris.

Kembali ke buku BIA. Setelah menamatkannya hingga halaman terakhir (cuma 168 siih :p), jadi telintas beberapa hal juga di benak saya.
Yang pertama, saya jadi penasaran, apakah sudah ada atau belum produk BIA yang diproduksi masal, karena dari beberapa contoh yang dimuat, rasanya semua masih kurang familiar. Saya juga jadi penasaran tentang label ‘Best Seller’ yang ada di buku. Jujur aja, saya hanya ngasi rate 5.7, justru karena label tersebut. Ekspektasi tinggi, tapi ternyata tidak terlalu mind-blowing. Katanya sih ini buku seri kedua. Seri pertamanya sudah terbit jauh lebih dulu dan best seller juga. Berarti atau mungkin karena mayoritas materinya sudah tersedot di edisi pertama, jadi yang kedua ini sebagai tambahan saja? Ohh.. harus dibuktikan.

Selain itu, saya juga jadi berangan-angan loh tentang produk apa yang pengen saya liat di masa depan. Dan salah satunya adalah… alat yang bisa ngeliat bagian dalam tubuh dengan mudah. Mata kita bisa liat langsung setiap luka, goresan, atau apapun yang ada di permukaan kulit. Saya pengen itu bisa terjadi juga dengan setiap organ dalam tubuh saya. Langsung tau kalo2 ada yang gak beres dengan jantung, paru-paru, hati, dan itu semua jadi jauh lebih mudah dari sekarang, sesederhana kita bisa liat memar di betis.
Ide awalnya sih jelas karena penasaran sama kesehatan diri sendiri yang sebenernya. Tapi kalo disuru full medical check-up yang kayak masuk mesin scanning, kayaknya, ya gitu deeh :))


Disclosure: Ini adalah hasil repost dari http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/08/resensi-buku-dan-project-baru.html untuk tujuan integrasi blog.