Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! šŸ˜€ Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

INNOCAMP 2016: Awal Seleksi & Kurangnya Imajinasi

img_9671

20 besar di 1st Camp. Ada yang individu, ada yang memang nge-tim berdua.

 

Tadaaa…!! Here I am again, in a tech-based business competition. Can you believe it? me not XD Sejujurnya sih… di masa-masa ini… aku kayaknya udah agak segan gitu ikut kompetisi-kompetisi lagi. Rasanya udah pengen bener-bener fokus jalanin bisnis aja. Konsen.. fokus.. Karena kenyataannya pun, juara di lomba itu beda dengan juara di dunia nyata, hehe.. Mungkin kalianĀ juga paham maksudnya.

Tapiii.. godaan datang saat liat video ini! :B

Huaaa… Gimana cobaaa…

Ikut. Nggak. Ikut. Nggak. Ngitung kancing gak beres-beres, akhirnya, “nothing to lose aja deh.. lagian pede amat belum tentu lolos juga”, lol.

Lalu.. yang akhirnya bikin aku ikut itu kayaknya utamanya karena 3 hal: juri+mentornya keren-keren, hadiahnya juga oke (ke Google Jepang!), dan ini emang khusus untuk anak muda (sampe 35 tahun siihh), yang jelas kan kita gak akan muda selamanya! Jadi ayolah, selagi masih termasuk muda, mari kita manfaatkan šŸ™‚

Maka akhirnya aku submit lah aplikasi ke mereka dan juga bikin video, mepeeeettt banget sama deadline. Temanya adalah berhubungan dengan bisnis teknologi, yang waktu itu pengajuan aku adalah tentang Home Solar Leasing, atau kredit solar panel untuk rumahan. Karena kebetulan itu salah satu lini bisnis yang memang ingin aku garap, dan kegiatan ini juga digagas oleh Adira, salah satu perusahaan multi-finance terbesar di Indonesia.

capture-20161206-090128

Sumber: innocamp2016.com

 

Singkat kata, amazingly, dari (lupa) berapa ratus, aku dapet email bahwa aku lolos tahap 1, dan mereka ngadain seleksi tahap 2 berupa interview via video call. Aku bener-bener gak tau kami mau ngomongin apa. Dan ternyata di hari H, ada dua orang dari pihak penyelenggara yang munculĀ di layar hape yang malah nanyain pertanyaan-pertanyaan absurd!

Continue reading

[Resensi Buku] Keep Your Lights On dan Project Baru

9574718

Rate: 5,7/10

Dari covernya saja, pasti orang2 sudah bisa menebak isi buku ini. Membahas tentang ide, yang erat kaitannya dengan kontes BIA (Black Innovation Award). Digagas langsung oleh salah satu jurinya, yaitu Yoris Sebastian, dengan tujuan menjangkau pelosok2 daerah yang gak bisa disinggahi workshop pra-kompetisi.
Untuk yang memang berniat ikut, mungkin buku ini bisa dijadikan tambahan motivasi + sedikit pegangan, menjelaskan Ā proses seleksi, dan melihatnya dari sisi para dewan juri (mayoritas juri, selain Yoris). Tapi untuk orang umum pun, buku ini disertai pembahasan koseptual tentang ide dan inovasi, contoh2 produk yang bisa ikut menstimulasi, dan juga menyinggung tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Saya membaca buku ini sebanyak dua kali. Untuk yang pertama, entah kenapa saya agak jengah, karena merasa ada terlalu banyak repetisi, terutama di bagian pendefinisian inovasi, bahwa ‘inovasi adalah sesuatu yang tidak harus selalu baru, tapi bisa saja hanya pengembangan dari yang sudah ada’. Kalimat itu diulang terus menerus entah sampai berapa kali, dengan format yang sedikit berbeda, tapi jadinya tetap membosankan. Namun anehnya, saya tidak merasa demikian lagi pada saat baca ulang.

484517_10151044551344477_521399732_n

si project baru

Mungkin ini dikarenakan oleh isi buku yang adalah gabungan dari berbagai testimoni orang-orang yang pernah jadi juri (Nicholas Saputra, Sigi Wimala, Agni Pratista,dll).
Maka itulah alasan saya untuk meresensi buku ini (padahal bacanya sih udah lama).
Pasalnya, saya sedang bergabung dengan projek pembuatan buku, bertema volunteering, yang berisi 24 kisah dari 24 volunteer. Dengan satu benang merah, namun ditulis oleh sebegitu banyak orang, apalagi dengan ketidak pastian proses editing (karena lewat self-publishing), bukan tidak mungkin di dalamnya akan banyak sekali repetisi definisi. “Volunteering adalah…”, “volunteer artinya…”. Walaupun kalimatnya bisa saja direka-reka berdasar masing2 penulis, namun secara konteks tetaplah sama. Ya… semoga saja ini bisa dihindari. Tentu dengan koordinasi dari sejak awal. Terutama buku yang bagus rasanya bukanlah yang bersifat menggurui, tapi lebih seperti berbagi, maka makna yang didapat setiap orang pasti akan berbeda, tergantung penerimaan dan pengalaman pribadi masing2 pembaca.
Doakan saja ya! šŸ˜€

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Dapet langsung dari mas Yoris.

Kembali ke buku BIA. Setelah menamatkannya hingga halaman terakhir (cuma 168 siih :p), jadi telintas beberapa hal juga di benak saya.
Yang pertama, saya jadi penasaran, apakah sudah ada atau belum produk BIA yang diproduksi masal, karena dari beberapa contoh yang dimuat, rasanya semua masih kurang familiar. Saya juga jadi penasaran tentang label ‘Best Seller’ yang ada di buku. Jujur aja, saya hanya ngasi rate 5.7, justru karena label tersebut. Ekspektasi tinggi, tapi ternyata tidak terlalu mind-blowing. Katanya sih ini buku seri kedua. Seri pertamanya sudah terbit jauh lebih dulu dan best seller juga. Berarti atau mungkin karena mayoritas materinya sudah tersedot di edisi pertama, jadi yang kedua ini sebagai tambahan saja? Ohh.. harus dibuktikan.

Selain itu, saya juga jadi berangan-angan loh tentang produk apa yang pengen saya liat di masa depan. Dan salah satunya adalah… alat yang bisa ngeliat bagian dalam tubuh dengan mudah. Mata kita bisa liat langsung setiap luka, goresan, atau apapun yang ada di permukaan kulit. Saya pengen itu bisa terjadi juga dengan setiap organ dalam tubuh saya. Langsung tau kalo2 ada yang gak beres dengan jantung, paru-paru, hati, dan itu semua jadi jauh lebih mudah dari sekarang, sesederhana kita bisa liat memar di betis.
Ide awalnya sih jelas karena penasaran sama kesehatan diri sendiri yang sebenernya. Tapi kalo disuru full medical check-up yang kayak masuk mesin scanning, kayaknya, ya gitu deeh :))


Disclosure: Ini adalah hasil repost dariĀ http://hanirosidaini.blogspot.co.id/2012/08/resensi-buku-dan-project-baru.htmlĀ untuk tujuan integrasi blog.