Kesan pertama membaca: bingung dan heran 🤨🧐
Kesan selesai membaca: masih bingung, lalu berpikir lama 🤔🤔🤔
Kesan setelah berusaha memahami: tersentak, kagum, pedih 🤯😭
Luar biasa. Dari yang awalnya aku bingung kenapa buku ini terkenal sekali, sampai akhirnya aku mengerti kenapa Kafka dikenal fenomenal. Dia menyajikan cara lain dalam bercerita dan menyampaikan pesan yang dalam dan kaya akan interpretasi.
Ini adalah karya Kafka pertama yang kubaca. Awalnya aku bingung kenapa buku Metamorfosis ada yang tipis, ada yang agak tebal. Ternyata yang dijual agak tebal, itu adalah gabungan Metamorfosis dan cerita-cerita karya Kafka yang lain. Awalnya pun aku hanya punya buku tipis Metamorfosis yang berbahasa Inggris. Tapi jujur saja, terjemahannya agak membuatku kesulitan untuk mengerti jalan cerita, jadi akhirnya aku beli versi terjemahan bahasa Indonesia (buku asli ditulis dalam bahasa Jerman).
[SPOILER ALERT] Cerita langsung dimulai pada suatu pagi di rumah tokoh utama, seorang laki-laki bernama Gregor. Dia terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berubah menjadi satu makhluk aneh. Tidak secara spesifik disebutkan dia menjadi apa, tapi gambaran yang diberikan dan interpretasi paling mudah adalah dia menjadi seekor kecoa. Saat membaca, ada momen ketika aku merasa bahwa dia adalah kecoa raksasa berukuran manusia, tapi di momen ke belakang cerita, aku merasa dia seperti kecoa berukuran pada umumnya. Sebagai pembaca “normal modern”, reaksi yang kuharapkan dari Gregor dan keluarga yang tinggal bersamanya tentu langsung mempertanyakan apa yang terjadi, kenapa dia berubah, dan bagaimana mengembalikan kondisi tubuhnya ke sedia kala. Tapi anehnya, mereka tidak seperti itu. Alih-alih, Gregor malah langsung berpikir bagaimana cara agar dia tetap bisa pergi ke kantor dan bekerja, dan keluarganya pun langsung berpikir bagaimana agar hidup mereka tetap berjalan, karena selama ini Gregor-lah yang menghidupi orang tua dan adik perempuannya dari penghasilannya. “Keanehan” respons itu terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya. Gregor tetap seorang kecoa yang tinggal di rumah. Ayah dan ibunya jadi terpaksa bekerja lagi, sedangkan adiknya berusaha untuk merawat Gregor. Alurnya lalu berjalan lambat, menceritakan hari demi hari mereka di rumah dengan Gregor yang seperti itu. Sayangnya, perubahan terjadi pada kesemuanya. Adiknya lama-lama kelelahan merawat Gregor, menjadi tidak lagi terlalu peduli, dan akhirnya berusaha meyakinkan diri bahwa si kecoa itu bukanlah saudaranya. Gregor sudah hilang. Begitu pun dengan ayah mereka, yang merasa Gregor tetap di rumah bukanlah hal yang baik untuk mereka, melainkan sesuatu yang membawa kesusahan bagi keluarga. Ibunya jadi orang yang paling sedih, tapi kebingungan juga di tengah kondisi yang tidak kondusif. Endingnya, Gregor mati dengan kondisi tidak layak.
Saat selesai membaca itu, aku bingung. Tapi setelah berusaha menelaah, aku sungguh terhenyak dan merasakan kepedihan yang dalam dari cerita ini:
- Cara Kafka bercerita: dia menghilangkan semua pertanyaan “kenapa” dan menekankan bahwa poin utamanya adalah “lalu apa?”. Cara bercerita yang sangat tidak umum. Menggambarkan manusia yang berubah menjadi hewan tetapi tetap dalam nuansa realis, benar-benar menguji logika pembaca. Mengetahui cerita ini ditulis pada tahun 1915 juga semakin membuatku kagum.
- Interpretasi bahwa kecoa/serangga itu bukan tampilan dirinya yang baru, melainkan dia yang sebenarnya dari sisi dalam: bekerja mati-matian demi orang lain, tidak punya kehidupan sendiri, tidak punya teman, tidak punya pasangan, membenci pekerjaannya, tapi tidak pernah mempertanyakan hidupnya. Simbolisme luar biasa.
- Yang membuat hati perih: saat Gregor berubah menjadi kecoa, keluarga panik, bukan karena khawatir pada Gregor, tapi karena khawatir “lalu siapa yang mencari uang?” Awalnya mereka menangis dan berharap Gregor sembuh, tapi lama-kelamaan mereka mulai jijik, mengunci Gregor di kamar, lupa memberi makan, menganggapnya beban, bahkan di akhir cerita, berharap Gregor mati. Seolah-olah dia layak dihargai hanya saat dia bisa menghasilkan uang. Saat dia tidak produktif, tidak bisa bekerja, tidak bermanfaat secara ekonomi, dia tidak lagi dianggap bernilai.
- Alasan Gregor mati itu tidak jelas. Tapi karena ketidakjelasan, ceritanya jadi terasa kompleks. Karena kenyataan bahwa dia tidak lagi hidup, bisa saja bukan hanya karena badannya terluka, tetapi juga karena dia tidak lagi diberi makan, kehilangan komunikasi dengan siapa pun, kehilangan kasih sayang, dan bahkan kehilangan tujuan hidup.
- Secara umum, kalau perubahan menjadi serangga kita hilangkan, cerita ini jadi relevan dan lebih dalam, karena sebenarnya perubahan sejenis itu di kehidupan nyata bisa terjadi dalam bentuk apa saja, seperti misalnya: orang yang tiba-tiba kecelakaan, lumpuh, terkena penyakit kronis, orang yang kehilangan pekerjaan, depresi, demensia, lalu mereka tidak lagi dianggap bernilai secara ekonomi. Masihkah orang di sekitarnya memperlakukannya dengan baik? Memperlakukan manusia secara manusiawi?
Akhirnya, cerita Gregor ini membekas di pikiranku juga, karena sedikit banyak aku seperti bisa merasakan apa yang dia alami. Saat kita kehilangan peran sosial kita, alienasi yang kita alami di masa-masa sulit, relasi keluarga yang saling tergantung, mempertanyakan fungsi kita dalam hidup, itu semua dinamika dan dilema yang sangat dekat. Aku belajar sangat banyak dari cerita yang sebenarnya relatif pendek ini. Kalau ini benar adalah refleksi dari kehidupan pribadi Kafka juga, aku bisa membayangkan luka seperti apa yang ada sampai ceritanya bisa seperih ini. Semoga kita semua bisa mengobati luka-luka dan tidak hanya berakhir naas seperti Gregor.
Sambil memesan buku Metamorphosis & Other Stories,
Hani, pengagum baru Kafka






















