5 Fakta Wadidaw Tentang Investasi Reksadana Yang Kamu Harus Tahu

photo6224451933658261562

Aku dan pilihan investasiku. #acieehh

Hai, semuanyaaa 😀

Sesuai judulnya, kali ini gw lagi mau share tentang hal-hal menarik tentang reksadana, baik untuk kamu yang belum familiar sama sekali, maupun kalian yang sudah cukup akrab dengan instrumen investasi yang satu ini. Alesannya simpel, karena kemarin, pas tanggal 10 Oktober 2018, gw berkesempatan untuk hadir di launching salah satu produk terkait reksadana yang menurut gw asyik banget, namanya INVISEE, dan akhirnya itu memunculkan keinginan gw untuk berbagi lebih lanjut. Walaupun untuk kalian yang follow gw di instagram sih, mestinya udah hapal lah kalau gw memang doyan ngomongin hal2 yang berbau duit, ehehehe…

Nah, kali ini, gw lagi mau fokus bahas tentang yang namanya reksadana. Apa aja sih 5 fakta yang kalian harus tahu? Ini dia:

1. Reksadana atau Mutual Funds adalah tipe investasi menengah, dalam tingkat risiko maupun potensi keuntungan.

investment_pyramid

risk VS return

Berinvestasi apapun bentuknya, pasti memiliki risiko, dan risiko itu akan selalu berbanding terbalik dengan hasil. Jika kalian masih belum bisa menentukan kalian pengambil risiko besar atau bukan, salah satu cara terbaiknya adalah mengambil peran di tengah-tengah, yaitu berinvestasi pada yang tingkat risiko dan keuntungannya menengah. Dan reksadana adalah pilihan tepat jika kalian masuk kategori ini.

 

2. Kenapa Tingkat Risiko dan Keuntungannya Bisa Menengah

mengenal-reksadana-6-638.jpg

Saat kalian memilih produk reksadana, proses yang sebenarnya yang dilakukan adalah memilih MI (Manajer Investasi) yang akan bertanggung jawab atas dana kalian. Peran MI sangat signifikan, terutama untuk para investor yang belum berpengalaman sebelumnya, atau tidak punya cukup waktu untuk mengatur investasinya. MI ini akan menyebar dana tersebut ke berbagai instrumen yang menurutnya potensial, dan biasanya dia melakukan diversifikasi risiko, artinya dia akan menyebar dana tersebut ke yang risikonya rendah maupun tinggi, sehingga secara rata-rata, potensi risiko dan keuntungannya menjadi menengah.

 

3. Memberikan Kenyamanan Dalam Pengelolaan

photo6226619032421902422

Tangan gw yang mana cobaa??

Sebagai investor, kita hanya perlu memantau hasil  investasi kita, tanpa harus memikirkan analisis fundamental dan teknikal yang biasanya bikin pusing kepala.

 

4. Investasi Seharga Es Tong Tong

bf5d60a21137a0e5851f964d42082ab8

mba-nya gak hadir launching karena lagi mamam ecim di Kanada

Kalau orang bilang investasi itu harus punya dana nganggur yang banyak, berarti tu orang lumayan jadul 😀 Karena kenyataannya, zaman sekarang berinvestasi di reksadana tu bahkan bisa dimulai dari SEPULUH RIBU RUPIAH! Iya, kamu gak salah baca, Rp.10.000 saja! Hanya dengan nominal segitu, kita udah bisa menambah potensi kekayaan kita di masa depan. Ini bikin gw hepi banget, karena mestinya sih jadi lebih mudah juga untuk gw ngajakin temen-temen gw untuk berinvestasi, karena jumlah dana gak bisa lagi jadi halangan. Caranya: tinggal install INVISEE, dan kamu bisa langsung buktiin sendiri

 

5. Bisa Tambah Kaya Tanpa Kemana-Mana

Ha ha.. yang ini ihwaw banget ya. Tapi kenyataanya begitu loh. Sekarang, kalau kita mau investasi reksadana, udah gak perlu lagi tuh pergi ke bank atau lembaga sekuritas untuk bikin akun. Karena apa? Karena sekarang udah ada yang namanya reksadana online! \^,^/ Lagi-lagi, cukup install INVISEE dari App Store atau Play Store, kita udah bisa langsung daftar praktis dari handphone, tinggal isi data dan upload foto KTP. Asli, gampang banget! Kalau kalian kepo gimana sih tampilannya di hape, ini gw kasih kisi-kisinya:

 

Nah.. gimana menurut kalian? Makin yakin dan gak sabar kan untuk berinvestasi di reksadana? 😀 Kalau terkait INVISEE sendiri, kenapa akhirnya gw mention, karena setelah gw cobain, menurut gw pribadi, aplikasinya enak, lancar, dan gampang diikutin, selain juga dilihat dari orang-orang tim-nya yang gw temuin, mereka sangat helpful dan berorientasi sama konsumen. Jadi, kalau ada apa-apa, mereka pasti langsung gercep untuk mau bantu. Selain itu, perusahaan ini juga pastinya udah terdaftar di OJK, terjamin dan punya opsi saham-saham terbaik  termasuk untuk investor pemula. Jadi yuk, tunggu apa lagi! Demi aku, demi kamu, #DemiNanti ^_^

NB: Untuk yang pengen pelajarin lebih lanjut, bisa cek video-video berikut:

Silakan pantengin juga halaman facebook dan instagram-nya kalau pengen dapet update, info, dan promo menarik.

See youuu!

 

Salam dari Jaksel yang lagi gerah,

Nulis sambil top up saldo di INVISEE gw sendiri X’D

Advertisements

David VS Goliath: Kekurangan Adalah Kelebihan Yang Buffering

photo6120654904965048342.jpg

 

Hi, long time no see. Kali ini adalah edisi iseng bett di tengah deadline ini itu. Hanya sebuah review buku. Silakan disimak saja :3

Ada yang udah baca Outliers? Atau Tipping Point? dari Malcolm Gladwell? Buku beken banget memang itu, tapi aku malah belum juga sih 😛 Bukunya Gladwell yang pertama kali aku baca akhirnya malah yang ini: David & Goliath, Underdogs, Misfits, And The Art of Battling Giants. Setengah bagian pertama exciting, setengah terakhir.. so so 😬 (tapi tetep #WorthToRead).

Yang ini pun sebenernya udah lama selesai dibaca, tapi poin-poin dari materinya masih sering aku pake untuk menyampaikan sesuatu ke orang. Dan mungkin ini juga bisa jadi insight lain untuk temen-temen. Apa itu? Ini dia:

 

1. Kisah David & Goliath.

Ini aslinya legenda sejuta umat, tapi (setelah ngobrol2 sana/i) ternyata banyak orang yang gak ngeh. Padahal kisah ini dasarnya ada di kitab-kitab suci juga, termasuk alkitab ibrani dan qur’an (kalo di qur’an namanya jadi Daud & Talut). Ceritanya adalah tentang pertarungan Goliath, si raksasa yang pake full body armor dan terkenal kuat, melawan Daud dari kaum seberang, masih keliatan muda, badannya kecil, bahkan pas bertarung, ngangkat pedang pun dia gak mau, karena tahu itu bakal bikin dia kewalahan. Semua orang udah pesimis lah lihat Daud. Goliath juga jd nantangin “Maju sini lu!”, begitu kira2 :p

Nah, disinilah akhirnya kita diperkenalkan dengan konsep “Advantage of disadvantage & Disadvantage of advantage”. Kelebihan2 dari Goliath, yaitu berbadan besar, pake peralatan logam banyak, dll, itu bisa jadi kelebihan, tapi juga bisa jadi kekurangan. Karena apa? Krn akhirnya itu malah bisa bikin dia jadi gak lincah bergerak, pandangan terbatas, dll. Makanya Goliath nantangin David maju. Bukan karena apa, tapi ya emang karena area serangan dia yang sebenarnya terbatas. Yang akhirnya itu dimanfaatkan oleh David. Ukuran dia yang kecil, malah bikin dia jadi lebih lincah. Dari awal David tahu, kalo bertarung biasa kayak di arena, jelas dia bakal kalah, makanya dia akhirnya lebih pilih pake strategi lempar batu dari jauh diketapel, yang akhirnya nancep di jidatnya Goliath, dan akhirnya bikin si raksasa ini tumbang. Setelah tumbang, akhirnya dihunus pedang, dan mati.

Nah.. konsep inilah yang akhirnya nancep juga di aku bahwa nyatanya semua hal itu bisa kita jadikan kelebihan, tergantung cara berpikir. Misal: kita punya UKM, mesti bersaing dengan perusahaan gede. Secara psikologis mungkin udah jiper duluan, tapi kalo dipikir2, skala kita yang kecil juga punya keuntungan, yaitu jadi lebih fleksibel dan adaptif untuk berubah, dibanding perusahan besar yang punya birokrasi dan gak bisa begitu aja ambil satu keputusan. Contoh lain yang paling nyata: keadaan ekonomi. Mungkin untuk orang yang kondisi ekonominya lemah, itu dianggap sebuah kekurangan, tapi padahal bisa juga dijadikan kelebihan. Kelebihannya apa? Orang susah itu (relatif) lebih tahan banting dan menghargai sesuatu. Klo orang kaya dari sononya? Begitu jadi orang susah, belum tentu mereka tahan, dan mereka pun jadi cenderung kurang menghargai uang atau fasilitas, karena ya dianggapnya biasa aja. Begitu. Jadi, apa kekuranganmu? Coba pikir lagi itu adalah kekurangan apa bisa jadi sebaliknya? ^^

 

2. Inverted U Curve (Kurva U terbalik).

Ini adalah konsep yang applicable juga dalam hidup, bahwa berbagai hal itu ada kurvanya, yang bentuknya seperti U terbalik (atau kalau di notasi matematik jadi kayak lambang irisan). Coba bayangkan kurva itu di kepala kalian, nah kalian pasti kan akan menemukan titik balik dari setiap kurva, dari yang asalnya naik jadi turun, atau kalo gampangnya kayak anti klimaks. Ini berlaku dalam banyak hal. Misal paling gampang: makan sate itu enak, tapi di satu titik, keenakan itu berubah jadi eneg. Atau, ngebesarin anak dalam keadaan berkecukupan itu enak, tapi di satu titik, ya si anak akan jadi keenakan dan kurang punya daya juang. Mislead yang banyak terjadi: nyekolahin anak di kelas eksklusif jumlah murid sedikit itu enak, tapi padahal gak juga. Terlalu banyak murid di satu kelas memang gak bagus, fokus guru terlalu terpecah dan tiap anak jadi kurang maksimal, tapi murid sedikit juga bisa bikin kumpul ide terbatas dan interaksi diantara mereka kurang hidup. Jadi tantangannya untuk kita adalah: gimana cara menemukan titik keseimbangan dalam berbagai hal, agar hasilnya bisa tetep maksimal, dan yang penting gak ada yang serba terlalu.

Demikian kira-kira yang aku petik dari buku ini. Outliers sama Tipping Point-nya masih ada di book list, semoga bisa segera dibaca dan kita bandingkan 👌🤓

 

Jakarta, September 2018,

di tengah-tengah sedih juga karena kantor batalin trip ke Argentina tiba-tiba

Kenapa Isu “Women in STEM” Selalu Menarik

_MG_0316

Kiri ke kanan: Ibu Linda Dwiyanti (Consumer Devices Sales Director, Microsoft Indonesia), mba Jezzie Setiawan (Founder & CEO GandengTangan.org), Ibu Deborah Intan (IT Director, Coca-Cola Amatil), aku, mba Hanifa Ambadar (CEO Female Daily Network), Ibu Gezang Putri (Group Head Network Design & Development, INDOSAT Oredoo), pimpinan Microsoft, mba Septa Mellina (Tech In Asia)

 

Biasanya isu ini ramai diperbincangkan di bulan April, yang identik dengan “bulan perempuan”, terutama karena ada Hari Kartini. Tapi aku nulis ini di bulan Mei, agak sedikit menyatakan bahwa, isu ini memang selalu menarik kapanpun pembahasannya.

Lumayan ter-trigger saat jadi salah satu pembicara di talkshow-nya Microsoft Indonesia, aku jadi pengen nulis beberapa poin terkait isu “Women in STEM” ini, terutama di Indonesia. Aku bukan sedang mau liputan kegiatan tempo lalu, karena kalau untuk itu, temen-temen bisa baca di media online seperti Femina, Cosmopolitan, CewekBanget, atau media-nya Microsoft sendiri, dll. Secara praktis, ringkasannya ada di situ. Tapi aku justru lagi pengen share poin-poin yang mungin terlewat dan bisa jadi bahan diskusi lanjutan untuk kita semua. Yaitu:

  1. Ambiguitas di “Women in STEM”

Atau lebih tepatnya mungkin over-generalisasi.

Setiap kali ngomongin “Women in STEM”, menurutku kalau mau lebih jelas, sebenarnya kita harus definisikan dulu “Women in STEM” mana yang dimaksud. Karena sejauh ini, sering bercampur antara women leader in technology industry dengan women engineer or scientist who really do the “dirty job” (technical, scientific, or systemmatical work). Bagaimanapun ini distinctive untuk kita melanjutkan ke bahasan selanjutnya.

Aku tahu beberapa CEO atau direktur perempuan di industri STEM yang basically mereka gak punya kemampuan teknis. They’re totally business persons. Main orientation = money/impact. Maka dari itu, bahasan-bahasan yang bisa didiskusikan dengan mereka adalah lebih ke bagaimana cara mencari talent dengan skill oke, dinamika bisnis teknologi terkini, menyeimbangkan kehidupan profesional dengan pribadi, dst. Sedangkan untuk perempuan-perempuan yang memang berkecimpung langsung dalam kegiatan “ilmiah”-nya, kita bisa menggali lebih dalam lagi hal-hal yang lebih teknis, tentang apakah suatu sistem sudah ramah perempuan, apa yang memotivasi untuk bisa terus update dengan riset terbaru, metoda apa yang berpotensi dikembangkan untuk menyelesaikan masalah di Indonesia, dll. Orientation = knowledge/applied technology.

Ya memang ada juga business women leader yang punya kemampuan teknis. Dan hal ini akan terkait ke poin berikutnya, yaitu…

2. Jalur Karir 

Di banyak perusahaan, seorang engineer tidak dipersiapkan untuk jadi CTO (Chief Technology Officer), tapi malah dibelokkan menjadi analis atau project manager. Hal ini disebabkan karena banyak yang menganggap posisi tersebut lebih tinggi, padahal sebenarnya pindah jalur. Miskonsepsi lagi jika perempuan dianggap pasti lebih cocok di posisi tersebut. Padahal yang satu teknis, satunya lagi manajemen. Bagaimanapun, saat sudah menduduki kursi manajemen, topi insinyur harus digantung, dan role akan jadi sangat berbeda.

3. Pentingnya Women Business Leader in STEM

_MG_0293

Menyebutkan poin-poin sebelumnya, tidak artinya female engineers jauh lebih penting dibanding menempati posisi direktur di industri STEM. Kita tetap butuh perempuan-perempuan untuk menempati posisi strategis di perusahaan, karena perempuan lah yang paling mengerti betul kebutuhan perempuan di lingkungan kerja tersebut. Dan jika memiliki kekuatan/otoritas, kita akan mampu menyuarakan isu, membuat peraturan/kebijakan, dan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan atau akomodatif untuk semua gender.

4. Pentingnya Female Engineers

_MG_0250

Melihat fakta yang ada, kita juga membutuhkan lebih banyak female engineers yang punya kekuatan untuk mengubah sistem secara teknis agar lebih akomodatif untuk perempuan. Karena menurutku teknologi pun memiliki kecocokan psikologinya masing-masing. Contoh: Linux. Ambil sampel aku sendiri (haduh, permisi ya permisi :s). Sungguh, sejujurnya aku sendiri sangat tertarik pake Linux. Tapi menghadapi layar kosong dan cuma bisa berinteraksi dengan komputer pake command line itu kesan pertamanya cukup mengerikan. Terlalu banyak ketakutan yang bisa dengan gampang bikin kita mundur, atau mungkin maju, tapi sangat perlahan-lahan. Atau mungkin contoh lainnya: develop game. Jelas game perempuan beda jenisnya dengan laki-laki. Dan kalau developer game-nya adalah perempuan, mestinya ya game tersebut bisa lebih akomodatif juga.

piegraph6gender

Sumber: bit.ly/2IkCpZ0

 

5. Perbandingan Indonesia Dengan Amerika

_MG_0216

Kalau harus berkaca ke pusat teknologi dunia, Amerika, sebenarnya banyak yang harus kita syukuri terkait isu “Women in STEM” ini. Karena jika membahas tentang seksisme di dunia teknologi, di US jelas lebih parah daripada di Indonesia. Di sebagian negara maju lain pun, perempuan di lingkungan kerja mengalami kesenjangan bahkan dalam hal pendapatan untuk pekerjaan yang sama. (Contoh lain: di Australia) Perempuan bisa dibayar lebih rendah daripada laki-laki hanya karena dia perempuan. Sedangkan spesifik di industri STEM, bisa juga berkaca, salah satunya lewat buku Sheryl Sandberg (COO Facebook) yang berjudul Lean In (baca review-nya di sini), bahwa banyak kendala dan tantangan yang sekiranya di Indonesia tidak terjadi karena justru di negara kita lebih akomodatif (entah berapa kali aku udah nyebutin kata ini).

Isunya sekarang adalah, jumlah female engineers di Indonesia lebih banyak daripada di US. Tapi jumlah CTO Perempuan di sana kenapa bisa lebih banyak. Dan hipotesa sementara adalah terkait kultur. Jadi bukan traits yang inherent di perempuan, stereotip bahwa perempuan lebih gampang bosan, emosional, dll. Karena data menunjukkan, skill atau kapabilitas untuk satu role itu gender-less, siapapun bisa.

6. Isu Work-Life Balance

_MG_0234.JPG

Well… Ini adalah salah satu isu utama sebenarnya, bukan hanya di “Women in STEM”, tapi perempuan di lingkungan kerja pada umumnya. Aku sendiri kalau lihat direktur perempuan hebat, yang aku tanya pasti dua hal: cara mengatur perusahaan, dan cara me-manage keluarga sekaligus. Dan atas dilematika yang muncul, bahkan dari kalangan antar-perempuan sendiri, menurutku, jika kita ingin mengembangkan “Women in STEM”, kuncinya adalah: Stop mendikotomikan perempuan! :B Dikotomi ibu rumah tangga dan wanita karir hanya akan membuat kotak yang tidak perlu. Seolah-olah perempuan hanya bisa memilih salah satu dan mengorbankan yang lainnya. Ini sungguh sumber drama yang tidak penting. Belajarlah dari wanita-wanita hebat, maka akan kita temui para pemimpin perempuan yang simpatik yang juga sekaligus mereka adalah para ibu yang profesional.

(Kalau kata Bu Gezang dan Bu Deborah, tips-nya utamanya adalah: wajib cari pasangan hidup (suami) yang tepat :3)

7. Role Model

_MG_0276

Semakin banyaknya role model perempuan dalam industri STEM akan mempengaruhi perempuan-perempuan lain dalam melihat kesempatan yang ada. Bahwa banyak posisi yang bisa perempuan tempati, baik di teknis maupun strategis. Ditarik lebih jauh lagi ke pendidikan dasar, bidang-bidang keilmuan pun harus lebih banyak disosialisasikan agar masyarakat tahu sedini mungkin tentang cabang ilmu luas yang bisa dipelajari, profesi yang bisa dikejar, termasuk oleh anak perempuan.

Dan aku jadi inget video bagus dari Microsoft seperti berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=y5soEtBwH0Y (coba tonton deh >,<)

Akhir kata, kesimpulan aku sejauh ini adalah, masih sama dengan kesimpulan aku sewaktu pulang belajar dari Australia tentang gender study, bahwa perempuan dan laki-laki itu memang butuh treatment yang berbeda jika ingin sustain. Namun jika terkait urusan pekerjaan, sebagai perempuan, kita sendiri harus berani bersikap profesional dan menyatakan bahwa, “No, I’m not a female engineer. I am an engineer”. 

 

5 Mei 2018,

Salam hangat dari Jakarta,

dari aku yang juga badannya masih hangat

 

 

PS:

  • Terima kasih kepada pihak Microsoft yang sudah memberi kesempatan hadir di acaranya
  • Hormat dan respek aku juga untuk Microsoft Indonesia yang mendukung “fleksibilitas kerja”, dan hal-hal lainnya yang akomodatif untuk perempuan berkarir di Microsoft
  • Catatan aku ini juga terinspirasi dari obrolan santai di halaman Facebook-ku bersama teman-teman. Jadi terima kasih untuk Pandu Sastrowadoyo, mas Sumyandityo Noor, dkk 😉
  • Jangan lupa stay cool be awesome untuk semua “Women in STEM” di luar sana. Yoms! \m/

_MG_0308

 

Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding 😀

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 😀

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera 😀

Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! 😀 Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

Cara Efektif Promosi di Media Sosial

photo 2

Thank God It’s Women Meetup! (Tapi ada yang nyempil :p)

 

Well, untuk kalian yang kenal sama gw, mungkin tau kalo gw membuat sejenis business club khusus untuk perempuan, dimana gw dan tim berusaha menyediakan support system yang dibutuhkan buat para ciwi-ciwi ini menjalankan usahanya, termasuk pendanaan, mentorship, networking, dll. Karena masih belum resmi launching, anggotanya sih kebanyakan masih dari lingkungan teman, kenalan, dan kolega sendiri, berbasis di Bandung dan Jakarta. Untuk yang mau join, bisa colek gw via email aja untuk nanti gw undang di kegiatan-kegiatan selanjutnya. Karena sebenernya sih kumpul-kumpul offline-nya udah beberapa kali jalan, dan ternyata bisnis yang dijalanin perempuan itu emang seruuu banget! Haha.. Dari masalah kecil sampai tantangan besar selalu asik untuk dibahas. Dan kita jadi bisa sama-sama belajar dan saling support.

Nah.. ngomong-ngomong soal tantangan bisnis, satu waktu pernah juga ada yang nanya soal “gimana sih Han, sebenernya cara efektif marketing di socmed?” (sebut saja dia Mawar ^^). Dan ini adalah sekilas cuplikan obrolan kami:

Continue reading

Bertemu Pak Yanuar Nugroho

WhatsApp Image 2017-05-18 at 2.42.47 PM

Pak Yanuar Nugroho, Kepala Deputi II KSP (Kantor Staf Presiden) RI

 

Saya ingat betul pertama kali “berkenalan” dengan Pak YN itu adalah tahun 2011, lewat postingan di blog-nya om Bukik, praktisi psikologi yang blog-nya senang saya kunjungi karena memang membahas berbagai hal menarik dari sudut pandang yang berbeda. Waktu itu bercerita tentang sosok Pak YN dari sisi yang lebih personal, dan kisahnya memang inspiratif. Thanks to twitter!, akhirnya saya pun jadi punya kesempatan berinteraksi langsung dengan Pak YN dan menyimak cuitan-cuitan beliau yang insightful, baik tentang kehidupannya sebagai researcher di Inggris, berbagai info menarik, dan pandangannya tentang Indonesia. (Jujur, ini salah satu yang masih bikin saya heran, kenapa banyak orang suka lock akun twitter-nya, karena kalau dimanfaatkan dengan betul, bisa buka banyak sekali kesempatan)

Mungkin Pak YN juga tidak sadar kalimat-kalimat sederhananya bisa berdampak bagi saya. Salah satunya adalah bahwa tulisan-tulisannya yang akhirnya dulu menyelamatkan beliau ntuk mendapatkan kesempatan membantu seorang profesor di Manchester. Waktu itu saya jadi makin yakin bahwa menulis itu penting, karena orang-orang di luar (sepertinya) lebih menghargai orang-orang yang bisa menulis. Mungkin karena dianggap berkontribusi kepada masyarakat melalui buah pikiran? Bisa jadi. Yang jelas, saya juga jadi semangat untuk tidak pernah berhenti belajar menulis. (Anw, Pak YN juga bahkan sampai sekarang, selain tulisan ilmiah, kadang-kadang masih ngeblog loh)

Waktu berlalu, saya masih sesekali menyimak berita-beritanya, salah satu risetnya juga tentang dinamika masyarakat dan media (menarik karena background formil Bapak adalah teknik), lalu tak disangka ternyata tiba-tiba berpapasan jalan di KSP. Beliau yang ternyata sekarang sudah menjadi Kepala di Deputi II, sejujurnya juga jadi salah satu excitement tersendiri untuk saya masuk institusi ini. Kesibukannya tentu jauh lebih ekstrim sehingga kesempatan bertemu pun ya hanya jika beruntung saja. Apalagi karena memang ternyata tim saya ada di Deputi I dan operasionalnya dilaksanakan di gedung yang berbeda.

Akhir kata, saya pikir tahapan karir sekarang bukan persis yang dicita-citakan dan direncanakan matang oleh beliau dari dulu (karena toh KSP juga ada karena bentukan presiden periode ini) dan beliau masih sangat memiliki jiwa sebagai seorang peneliti, walau memang konsentrasinya banyak konvergen di kebijakan publik. Poinnya, saya juga jadi terbayang saya tidak tahu persis akan jadi apa saya 10-15 tahun lagi. Tapi ya semoga seperti Pak YN, ilmu dan kepeduliannya bisa disalurkan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat banyak. Semoga.

 

Siang hari di kota Jakarta,

sambil menyusun notulensi dari Forum Komunikasi Publik untuk Rancangan Perpres kemarin >,<

 

PS: Public speaking-nya Bapak juga ternyata bagus loh. Worth to learn.

A Gift

Why in life you can’t choose your family?

Because they actually are a gift.

Sometimes in my hard times I didn’t even expect anyone could give hands and help me. But once family know, they always try and find a way to ease the burden. Then I just hope that I will never take them for granted anymore.

One Thing At A Time, Data Mining, and Kindle

IMG_5102

Ok, sorry for the photo

 

Guess what? I’m currently in the middle of my reading and choose to take a break just to write this post. I’m reading Data Mining – Practical Machine Learning Tools and Techniques (some people recommended this one, so I give it a try), written by the practitioners of WEKA, one of the powerful softwares to mine data, and I expect this book is really practical just like mentioned in its title. I spent several hours to reach half of this book (around 250 pages) and I think it’s pretty fast, because I was not skimming, but really reading it comprehensively. Why so? How could I do that?

Recently, I’m practicing to apply a method, that may be very common to all of you, but not everyone doing it: “One Thing At A Time” method. Started when a friend of mine telling me something about healthy eating behavior. She said that, if we have to choose between bathing and eating, what should be done first, it’s better for us to do bathing first and eating afterward. Why? Because when doing food digestion, our body needs to focus and not distracted by any other activities. She even said that, bad digestion can produce toxic. So when we eat, it’s not recommended to double the job by reading books, watching movies, checking social medias, stalking your ex-es, or so on. And I think it’s also relevant generally. People nowadays are crazily obsessed by multi-tasking, like we have to accomplish so many things at a time. The question is: is it really work? I personally think that it is a toxic (at least for me). Instead of being a benefit, it usually becomes a threat. When we’re doing jobs and keep moving from one to another, most likely we end up by not finishing them all well. Or worse, none of them is finished. Well, some people might say that they can deal with that, but me, even without distraction, my mind is often branched far off the topic, so it’s best to get rid of all unrelated stuff. And to make it more powerful, I even wrote the sentence in a big sheet of paper and put it on my wall: ONE THING AT A TIME. Whuff~

So, done with the method and back to the book. I finally chose to take a break because after finish half of it, I found that this book is veryyyyyyy…….. useless 😐 (I give the link below this post if you want to download the PDF and read it too). The authors waste my time by babbling about data mining application in different industries until page 90, which not necessary needed. And when they move into technical chapters, I found them not easy to understand, unless data mining is already in you (with that advanced statistics, complicated formula, and well programming skills), and you just read this book as a supplement. So, I think I will shift to another book: Mining of Massive Datasets, and decide whether this one is better or judge that these books are typical.

511pKebJTTL._SX258_BO1,204,203,200_

Lets see…

 

Talking about books, usually in weekdays I spend 1-2 hours for reading. But in the weekend like this, I can spend so many hours only for consuming words and extracting information from books, and now I’m starting to worry. Not because of the reading, but the medium. You know, of course I do love physical books. But since my reading is dominated by English books (which are not cheap to collect them all physically, and not all of them are provided in near places either), my books now are mostly in digital form, and I read them all through gadgets. We can imagine, even without reading books on a laptop, I spend my time staring at the screen for so long, for improving skills, coding, doing tasks, emailing, and other activities. And when I want to relax and doing what I love, which is reading, I still have to torture my eyes with shiny lights from LCD? Oh My….

So now I’m seriously considering about using Kindle. But because it is not officially sold in Indonesia, perhaps I have to find a way how to get it. Well, surely those local marketplaces are selling it, but, are there some issues to be concerned about? Or is it just okay to buy from the local seller with a higher price? Will there be any trouble with US credit card payment? Oh, please, for any of you who have experience, do share with me, I will be very appreciate it. Meanwhile, I’ll be using this laptop or smartphone and aching in tears when it takes too long. Huhuhu…

61shyF063PL._SL1000_

Craving for thisss!

 

 

In the mid-day, when all my eyes want to see are green leafs and prairie,

hope that I will never have to use reading glasses in my whole life

 

 

Download PDF:

Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques – Ian H. Witten & Eibe Frank

Mining of Massive Datasets – Anand Rajaraman & Jeffrey David Ullman

#BookReview Your Name Is Olga – A Compassionate Book About a Down’s Syndrome Girl

5102KY8eDhL._SX314_BO1,204,203,200_

Rate: 7/10

Judul aslinya “El Teu Nom és Olga” terbitan Spanyol. Aku dapet versi bahasa Inggrisnya di toko buku loak langganan waktu di Bandung. Isinya adalah kumpulan surat seorang ayah untuk anak perempuannya yang terlahir Down Sydnrome, yang diberi nama Olga.

Awal terbit, tahun 1989, setelah putrinya itu pun berusia 28 tahun, adalah masa dimana hal-hal seperti ini masih belum diterima dengan baik oleh para orang tua, informasi masih sangat terbatas, sehingga buku ini bisa jadi sangat menyentuh untuk banyak orang.

Alih-alih malu dan mengucilkan anaknya sendiri, beruntungnya Olga, dia punya kedua orang tua yang suportif, terus berusaha agar anaknya bisa tetap tumbuh cerdas dan bahagia, sambil belajar banyak tentang kehidupan melalui hari-hari yang mereka lewati, yang akhirnya dicurahkan dalam setiap surat yang ditulis sang ayah.

Penyebab Down Syndrome sendiri adalah karena kelebihan kromosom sehingga terjadi kelainan. Tidak melulu keturunan, tapi bisa juga karena berbagai faktor lain. “Menarik bukan, Olga? Karena kelebihan adalah yang justru menjadi sumber kekuranganmu”. Probabilitas terjadinya kelainan ini di dunia adalah sekitar 1:1000. Dan yang menarik di kisah ini adalah, orang tuanya tidak lantas mengetes diri mereka berdua karena tidak ingin bertendesi mencari tahu siapa salah satu yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan lalu memiiki rasa menyalahkan atas keadaan. Mereka justru lebih memilih untuk menerima dan berjanji untuk bekerjasama membesarkan putrinya itu.

Saat membaca, aku jadi terbayang bagaimana rasanya para calon orang tua yang sedang menunggu kelahiran anak mereka. Pantas saja jika ada masa dimana sudah tidak terlalu peduli lagi apa jenis kelamin sang jabang bayi, laki-laki atau perempuan, karena yang jauh lebih penting adalah bisa terlahir “sempurna” dan sehat seperti selayaknya.

 

Salam hangat dari Jakarta,

karena di tengah kesibukan pun harus tetap terus membaca

 

NB: Walaupun bukunya bisa dibilang cukup “tipis”, tapi aku post ini karena udah janji sama diri sendiri untuk sebisa mungkin review dan nulis soal buku-buku yang udah dibaca, biar gak lantas lupa tapi sedikit-sedikit bisa tetep inget. Cobain deh! 🙂

See my other book reviews and friend me on: https://www.goodreads.com/haniwww