Gaya Berbisnis ala Yoris Sebastian

 

yoris-sebastian

Sumber gambar: bit.ly/2uAIuGE

 

Always start anything with a quote! “Always. – Haniwww, 2017

Aloha!

Mungkin diantara kalian ada yang yang belum familiar dengan sosok yang akan kita bahas ini. Sosok yang identik dengan dunia “creative entrepreneurship”, dan bahkan sudah seperti “ikon”-nya untuk Indonesia. Setiap ada kegiatan bertema “kreatif”, pasti selalu ada namanya tercantum. Untuk perkenalan mendasar, dengan mudah kalian bisa temukan dengan mengetik namanya di halaman pencari ^^ Kebetulan saya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan ybs, dan menurut saya ada dari gaya atau ciri khasnya yang bisa kita pelajari. Well.. sebenarnya sudah beberapa kali sih saya bahas tentang sebagian dari buku-bukunya yang dia tulis di blog, seperti di artikel ini dan ini, tapi kali ini kita akan spesifik membahas tentang caranya berbisnis dan bagaimana dia melakukan branding ūüėÄ

Nah, mari kita mulai terlebih dulu dari bagaimana saya mengenal seorang mas Yoris (panggilan saya kepada pria yang lahir di 5 Agustus 1972 dan pernah mengeyam pendidikan akuntansi ini). Haha.. setelah flashback, ternyata ceritanya lucu juga loh!

Jadii.. waktu itu pertama kali berinteraksi adalah saat menghadiri roadshow “Black Innovation Award 2012” #BIA2012 (kompetisi desain produk kreatif) di salah satu kampus di Bandung. Saya juga agak-agak lupa persisnya bagaimana, tapi twit teman saya ini akhirnya cukup mengingatkan kejadian di hari itu:

capture-20170812-232859

Fani jelas lebih g4oL dari akoohh

Haha, dat was mee! Waktu itu aku beneran gak tau Yoris Sebastian itu siapa. Cuma kayaknya sih waktu itu langsung main nyapa aja karena emang ngerasa pernah ketemu XP Kalau gak salah di salah satu pertemuan kecil BCCF (Bandung Creative City Forum) yang di tahun itu masih diketuai kang Ridwan Kamil (loong time ago, sekarang aja kang Emil udah mau jadi gubernur ^^). Waktu itu saya cuma nebak mas Yoris temennya kang Emil, udah. Sampai saat ketemu lagi di #BIA2012 dan dia jadi pembicara sebagai salah satu juri, then I thought “Owwkayy…”. Dan secara beruntungnya saya juga menang kuis di hari itu, sehingga bisa dapat bukunya dan jadi mulai mengenal mas Yoris dari hasil buah pemikirannya dalam tulisan.

76081e546e8611e1989612313815112c_7

Di #BIA2012. Review bukunya “Keep Your Lights On” ada di link ini.

Lama berselang saya tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bertatap muka. Hingga akhirnya di tahun 2014 saya pindah ke Jakarta dan (lagi-lagi) secara beruntung terpilih oleh Samsung mendapatkan business coaching bersama seorang Yoris Sebastian, di acara yang bertajuk #CaptureYourBigness. Dari situlah awal mula saya mengenal gayanya dalam berbisnis. Kala itu mas Yoris masih menjalankan creative agency-nya OMG CONSULTING, sambil juga mengelola sebuah hotel/resort di Bali dengan konsep yang berbeda. Makin menarik.

IMG_5682

Selected participant for #CaptureYourBigness.

Paska #CaptureYourBigness, intensitas meningkat karena kami jadi saling follow di twitter dan berteman di Facebook, sambil saya juga berlangganan tulisan mingguan mas Yoris di website pribadinya yang selalu tayang di hari Senin, sehingga diberi nama #ILoveMonday (sama seperti program rancangannya dulu saat menjabat sebagai GM Hard Rock termuda di Asia). Tulisan-tulisannya jadi pemantik nalar saya bagaimana dia bisa membangun image dirinya sekreatif itu. Sampai di tahun 2016 kami bertemu lagi, dan dia menjadi mentor sekaligus juri saya di kompetisi bisnis berbasis teknologi #INNOCAMP2016. Hyah~

IMG_9767

#INNOCAMP2016. Dapet hadiah sebagai “The Most Relevant Personal Story” saat sesi karantina.

Yaa begitulah kira-kira kisahnya. Sekilas gambaran cerita untuk sedikit menjustifikasi tulisan saya berikut ini.

Dari semuanya itu, poin-poin berbisnis ala mas Yoris yang saya tangkap ialah:

  • Bagaimanapun luasnya pengetahuan kita, pastikan kita tetap punya core competence yang bisa terus dibangun. Mas Yoris bisa muncul sebagai konsultan di berbagai bidang, dari mulai desain, BUMN, teknologi, bisnis, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya, karena dia membangun core competence bukan berdasarkan jenis industri, tapi justru berdasarkan skill yang dibutuhkan, yaitu “creative thinking”. Hal ini menginspirasi saya untuk akhirnya memilih core competence yang ingin dikuasai.
  • Memaksimalkan bisnis sampai dua buah saja, lalu membuat rasio 70:20:10. 70 untuk yang primer, 20 yang sekunder, dan 10 sisanya untuk mencari ide-ide baru.
  • “Orang banyak nyari bisnis yang untungnya gede. Gw pengen bikin bisnis yang ruginya susah”. – Yoris Sebastian
  • Jangan terjebak dengan slogan “Go Bigger”. OMG Consulting (sejak tahun 2007) menjaga jumlah timnya tetap sedikit tapi bisa tetap berkembang.
  • Sebisa mungkin bangun bisnis yang walaupun berkembang, penggunanya bertambah jutaan, tapi resource kita bisa tetap minimum. Karena itu..
  • Harus bisa bayangkan seandainya bisnis kita besar, itu akan seperti apa. Berapa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan. Kalau ternyata malah akan buat diri sendiri menderita ya untuk apa.
  • Disiplin dengan jadwal. Termasuk dalam undangan menghadiri acara. Walaupun sebenarnya bisa saja mengisi banyak seminar dimana-mana, tapi dia selalu membatasi kuantitasnya per bulan (biasanya hingga sekitar 8 acara), karena jadi pembicara pun butuh riset dan cerita-cerita otentik yang baru.
  • Untuk pebisnis-pebisnis pemula, awal proses bisa dimulai dengan bertanya pada diri sendiri: “Who Am I?”, menelisik dan mendefinisikan elemen-elemen dari diri kita. Karena kredensial kita bisa jadi datang dari hal-hal bawaan, seperti lahir dan tinggal dimana, passion, image, dan juga pergaulan dan bentuk lingkungan.
  • Visi boleh besar, tapi mulailah dari orang-orang di sekeliling yang memang kenal.
  • Patenkan unique brand: Penting! Di tahun 2016 mas Yoris bahkan sudah mematenkan istilah #GenerasiLanggas yang telah dicetuskan oleh timnya, sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata #millenials.
  • Do your incubation right.
  • Tagline yang selalu didengungkan: “Think outside the box, but execute inside the box”. Kreatif itu boleh (dan seringnya harus) tapi jangan sampai keblinger. Dalam bisnis tetap harus relevan dan menghitung cost & benefit-nya. Karena bagaimanapun objektifnya adalah meningkatkan omset dan memperbesar profit.

 

Sedangkan beberapa pendapat saya sendiri terkait personal mas Yoris dan caranya bekerja:

  • Orangnya humble dan sangat terbuka dengan ide-ide baru dari orang lain, termasuk dari kawula muda. Karena toh pada akhirnya “experience can prove the greatness itself”.
  • Menarik juga melihat mas Yoris selalu peduli dengan orang-orang yang sudah dia beri mentorship. Biasanya jika ada mentee-nya yang menarik perhatian, mas Yoris berusaha tetap meng-update progress-nya dan mempelajari apa yang bisa dihasilkan.
  • Pintar me-leverage prestasi. Daftar pencapaiannya sering disampaikan secara halus di momen yang memang sesuai secara konteks, sehingga bisa meningkatkan kredibilitasnya di bidang spesifik.
  • Menulis buku adalah cara yang sangat powerful untuk membangun branding dan memperkuat kapabilitas.
  • Kadang saya berpikir branding personalnya terlalu kuat, hingga beresiko untuk perusahaannya jika suatu waktu tiba-tiba harus ditinggalkan. Maka semoga legacy-nya selalu ada, terutama pada para punggawa tim.
  • Berpikir kreatif itu memang harus selalu dilatih.

Nah.. demikianlah kira-kira yang saya dapat dari perkenalan selama ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Untuk kalian yang juga kenal mas Yoris, menurut kalian gimana? Tinggalkan komen di bawah ya! Bisa juga berbagi cara berbeda kalian dalam menjalankan usaha. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! ūüėÄ

 

Menulis cepat di Sabtu siang di daerah Jakarta Selatan,

sambil posting foto di Instagram untuk program #LanggasToEurope

 

PS: Tulisan ini juga dibuat dalam rangkan memberikan selamat ke OMG Consulting yang sedang berulang tahun ke-10. Uwooo, ihiyy! Happy birthday ya! Semoga semua tim-nya makin kreatif dan sejahtera ūüėÄ

Ngobrol Bareng CEO GE Tentang Job Hopper

1529878_10204353449891953_6789690541724118329_o (1)

Pas Infrastructur Green Summit di Jakarta

 

Job hopper = kutu loncat di industri kerja (Kamus Besar Haniwww, 2017)

 

Sebenernya sih fenomena job hopper memang bukan hal baru, apalagi di kalangan anak muda. Berdasarkan data, di generasi kita, yang pindah dari satu kantor ke kantor lain karena berbagai alasan jumlahnya lebih banyak. Mungkin karena memang masih ada keleluasaan dan kesempatan dibanding dengan yang sudah berumur. Terutama kalau sudah berkeluarga, orang jadi punya lebih banyak pertimbangan jika harus mempertaruhkan posisi yang mereka punya.

Nah… untuk temen-temen muda yang ngejalanin bisnis, mungkin sempet dan masih sama-sama ngerasain dilema yang tumbuh dari persoalan ini. Kita-kita yang punya usaha rintisan, belum punya nama besar, apalagi jika disandingkan dengan perusahaan multi-nasional, ada dinamika tersendiri dalam mendapatkan “pekerja” yang berkualitas. Belum selesai dengan urusan kualitas, remunerasi, dan fasilitas, eh sekarang, dengan booming-nya millenials, kita juga jadi punya tambahan tantangan lain nih, karena katanya siih, millenials itu cenderung tipikal yang “demanding”, lebih banyak tuntutan, dan jadinya lebih gampang ngerasa gak puas. Sedangkan pilihan dirasa mereka banyak, jadi “bosen” dikit aja bisa langsung bikin pengen pindah ke lain tempat. *Sigh*

Tulisan ini sendiri distimulus setelah aku baca buku Generasi Langgas karyanya mas Yoris Sebastian. Sekilas dibahas di bukunya juga, standar millenials sekarang stay di satu kantor memang berkurang loh. Yang asalnya standar 4 tahun bekerja di satu perusahaan, dari perspektif mas Yoris sendiri, sekarang dua tahun pun sering dianggap cukup. Nah.. apakah ini terkait tingkat loyalitas? Atau memang semata-mata karakter manusia yang berubah secara kolektif?? Menurut kalian gimana?

Seketika itu juga aku pun jadi langsung inget satu nama: Handry Satriago. Yep! CEO GE (General Electric) Indonesia ini (one of my most favorite CEOs) sering kali menyampaikan kritiknya tentang posisi job hopper. Dari sejak lama. Makanya aku jadi penasaran nih, kalo liat kondisi zaman sekarang, bang Handry masih keukeuh kayak gitu gak ya? Atau jadi lebih fleksibel? Kira-kira apa ya yang dilakukan beliau untuk maintain para pekerjanya? Akhirnya aku tanyain langsung deh, dan dibales via email seperti berikut ini:

Screen Shot 2017-06-13 at 3.19.38 PM

Gaya nulisnya, bang Handry banget kan? ^^

 

Waaahh… ternyata bang Handry tetep konsisten sampai sekarang! ūüėÄ Berarti, hmmm… yang pasti job hopper gak punya harapan tuh untuk masuk GE, hahaha… Well, perhaps giving values to employees is the key. Dan umumnya memang harus dimulai dan direfleksikan oleh leader-nya dulu dan nilai-nilai yang dibawa. Easy to be said, not easy to be done. Tapi semoga kita bisa nemu cara masing-masing untuk handle ini yaa. Semangat!!

 

Sore hari di Kantor Staf Presiden Lt.4,

sambil nunggu acara bukber bareng Pak Deputi

 

NB: Postingan ini juga dibuat dalam rangka hari ulang tahun Mr.Handry Satriago yang entah ke-berapa. Selamat ulang tahun ya, bang Handry! Sehat selalu. Dan semoga bisa jadi ayah yang rock n roll buat si kembar :3

One Thing At A Time, Data Mining, and Kindle

IMG_5102

Ok, sorry for the photo

 

Guess what? I’m currently in the middle of my reading and choose to take a break just to write this post. I’m reading Data Mining – Practical Machine Learning Tools and Techniques (some people recommended this one, so I give it a try), written by the practitioners of WEKA, one of the¬†powerful softwares to mine data, and I expect this book is really practical just like mentioned in its title. I spent several hours to reach half of this book (around 250 pages) and I think it’s pretty fast, because I was not skimming, but really reading it comprehensively. Why so? How could I do that?

Recently, I’m practicing to apply a method, that may be very common to all of you, but not everyone doing it: “One Thing At A Time” method. Started when a friend of mine telling me something about healthy eating behavior. She said that, if we have to choose between bathing and eating, what should be done first, it’s better for us to do bathing first and eating afterward. Why? Because when doing food digestion, our body needs to focus and not distracted by any other activities. She even said that, bad digestion can produce toxic. So when we eat, it’s not recommended to double the job by reading books, watching movies, checking social medias, stalking your ex-es, or so on. And I think it’s also relevant generally. People nowadays are crazily obsessed by multi-tasking, like we have to accomplish so many things at a time. The question is: is it really work? I personally think that it is a toxic (at least for me). Instead of being a benefit, it usually becomes a threat. When we’re doing jobs and keep moving from one to another, most likely we end up by not finishing them all well. Or worse, none of them is finished. Well, some people might say that they can deal with that, but me, even without distraction, my mind is often branched far off the topic, so it’s best to get rid of all unrelated stuff. And to make it more powerful, I even wrote the sentence in a big sheet of paper and put it on my wall: ONE THING AT A TIME. Whuff~

So, done with the method and back to the book. I finally chose to take a break because after finish half of it, I found that this book is veryyyyyyy…….. useless ūüėź (I give the link below this post if you want to download the PDF and read it too). The authors waste my time by babbling about data mining application in different industries until page 90, which not necessary needed. And when they move into technical chapters, I found them not easy to understand, unless data mining is already in you (with that advanced statistics, complicated formula, and well programming skills), and you just read this book as a supplement. So, I think I will shift to another book: Mining of Massive Datasets, and decide whether this one is better or judge that these books are typical.

511pKebJTTL._SX258_BO1,204,203,200_

Lets see…

 

Talking about books, usually in weekdays I spend 1-2 hours for reading. But in the¬†weekend like this, I can spend so many hours only for consuming words and extracting information from books, and now I’m starting to worry. Not because of the reading, but the medium. You know, of course I do love physical books. But since my reading is dominated by English books (which are not cheap to collect them all physically, and not all of them are provided in near places either), my books now are mostly in digital form, and I read them all through gadgets. We can imagine, even without reading books on a¬†laptop, I spend my time staring at the screen for so long, for improving skills, coding, doing tasks, emailing, and other activities. And when I want to relax and doing what I love, which is reading, I still have to torture my eyes with shiny lights from LCD? Oh My….

So now I’m seriously considering about using Kindle. But because it is not officially sold in Indonesia, perhaps I have to find a way how to get it. Well, surely those local marketplaces are selling it, but, are there some issues to be concerned about? Or is it just okay to buy from the local seller with a¬†higher price? Will there be any trouble with US credit card payment? Oh, please, for any of you who have experience, do share with me, I will be¬†very appreciate it. Meanwhile, I’ll be using this laptop or smartphone and aching in tears when it takes too long. Huhuhu…

61shyF063PL._SL1000_

Craving for thisss!

 

 

In the mid-day, when all my eyes want to see are green leafs and prairie,

hope that I will never have to use reading glasses in my whole life

 

 

Download PDF:

Data Mining: Practical Machine Learning Tools and Techniques – Ian H. Witten & Eibe Frank

Mining of Massive Datasets – Anand Rajaraman & Jeffrey David Ullman

#BookReview Your Name Is Olga – A Compassionate Book About a Down’s Syndrome Girl

5102KY8eDhL._SX314_BO1,204,203,200_

Rate: 7/10

Judul aslinya “El Teu Nom √©s Olga” terbitan Spanyol. Aku dapet versi bahasa Inggrisnya di toko buku loak langganan waktu di Bandung. Isinya adalah kumpulan surat seorang ayah untuk anak perempuannya yang terlahir Down Sydnrome, yang diberi nama Olga.

Awal terbit, tahun 1989, setelah putrinya itu pun berusia 28 tahun, adalah masa dimana hal-hal seperti ini masih belum diterima dengan baik oleh para orang tua, informasi masih sangat terbatas, sehingga buku ini bisa jadi sangat menyentuh untuk banyak orang.

Alih-alih malu dan mengucilkan anaknya sendiri, beruntungnya Olga, dia punya kedua orang tua yang suportif, terus berusaha agar anaknya bisa tetap tumbuh cerdas dan bahagia, sambil belajar banyak tentang kehidupan melalui hari-hari yang mereka lewati, yang akhirnya dicurahkan dalam setiap surat yang ditulis sang ayah.

Penyebab Down Syndrome sendiri adalah karena kelebihan kromosom sehingga terjadi kelainan. Tidak melulu keturunan, tapi bisa juga karena berbagai faktor lain. “Menarik bukan, Olga? Karena kelebihan adalah yang justru menjadi sumber kekuranganmu”. Probabilitas terjadinya kelainan ini di dunia adalah sekitar 1:1000. Dan yang menarik di kisah ini adalah, orang tuanya tidak lantas mengetes diri mereka berdua karena tidak ingin bertendesi mencari tahu siapa salah satu yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan lalu memiiki rasa menyalahkan atas keadaan. Mereka justru lebih memilih untuk menerima dan berjanji untuk bekerjasama membesarkan putrinya itu.

Saat membaca, aku jadi terbayang bagaimana rasanya para calon orang tua yang sedang menunggu kelahiran anak mereka. Pantas saja jika ada masa dimana sudah tidak terlalu peduli lagi apa jenis kelamin sang jabang bayi, laki-laki atau perempuan, karena yang jauh lebih penting adalah bisa terlahir “sempurna” dan sehat seperti selayaknya.

 

Salam hangat dari Jakarta,

karena di tengah kesibukan pun harus tetap terus membaca

 

NB: Walaupun bukunya bisa dibilang cukup “tipis”, tapi aku post ini karena¬†udah janji sama diri sendiri untuk sebisa mungkin review dan nulis¬†soal buku-buku yang udah dibaca, biar gak lantas lupa tapi sedikit-sedikit bisa tetep¬†inget. Cobain deh! ūüôā

See my other book reviews and friend me on: https://www.goodreads.com/haniwww

My Review of “The Clash of Civilizations” by Samuel Huntington

 

Well, sometimes we read a book simply¬†because every body does. Just like me with this one. I read it because this article said that it’s one of books in the reading list of students in top campuses like Harvard, Columbia, Princeton, etc. So I gave Huntington a try.

This book tells about fundamental civilizations globally. Interestingly, by just reading this book, we can be more acknowledged with role of each nation in this world and how they affect each other (which make me also want to learn again about maps and upgrade my geographical skill!! Ha ha >,<).

By following the stories, we can observe that the fundamental source of conflict in this new world will not be primarily ideological or primarily economic. The great divisions among humankind and the dominating source of conflict will be cultural (region, ethnic group, religious groups, all have distinct cultures at different levels of cultural heterogeneity). Or as R.R.Palmer said, “The wars of kings were over, the wars of people had begun”. The next world war, if there is one, will be a war between civilizations.

“The West and The Rest”. This polarization are also emerging yet I don’t really support this. Our people should not be manipulated and utilized by certain purpose of irresponsible party. Remember what happen with Iraq. “The struggle against American aggression, greed, plans, and policies will be counted as jihad and anybody who is killed on that path is a martyr”. “This is a war”, King Hussein of Jordan argued, “against all Arabs and all Muslims and not against Iraq alone”. The question is.. “is that really true??”. Or… Just like Western leaders who claim they are acting on behalf of “the world community”, the very phrase that become a euphemism to give legitimacy to the actions of them.. Do you really think that is right?? Or with what happened in Indonesia.. when Ahok is suspected to do… well, never mind -.- (I don’t wanna talk about it).

We should think more clearly in seeing diversities around us and be a part of civilization that embrace all the differences with an objective and a good way. That’s the least what I learned from this piece of Huntington. Go read by yourself.

In the middle of (very) bad times,

and I’m reading book about conflicts, instead

 

(For other reviews: https://www.goodreads.com/haniwww)

Also read: Review of “Lean In” by Sheryl Sandberg

Otot Baca dan #KelasMenengahNgehe

resize-buat-blog

Dapet langsung dari dan ditandatangan mas Siwo pas beliau ke Bandung.

 

Ceritanya aku baru beres baca buku Consumer 3000, yang sebenernya udah mulai dibaca dari November 2012. Mennn, 4 tahun yang lalu!! Buset >,< Orang bilang buku bisnis & marketing itu cepet banget outdate-nya, karena saking dinamisnya bidang ini. But for the sake of finish what I started, aku tetep pengen nyelesein ni buku. Ya kali kali masih ada insight yang relevan dan bermanfaat. Perasaan sih (yaelah, perasaan :p) beberapa tahun yang lalu tu aku udah baca sampe halaman 100-an lah, tapi entah kenapa berhenti tengah jalan. Dan tiba-tiba semalem, pas aku baca ulang, bener-bener dari awal lagi, I can finish this in only one sitting! Alias bisa baca sekali dan langsung selesai! (257 halaman). Eitss, bukan skimming dan fast reading juga ya. Aku tetep berusaha bacanya secara komprehensif. I read word by word, dan bener-bener berusaha paham. Caranya gimana? Adalah dengan ngebayangin kita harus ngajarin orang lain lagi tentang apa yang kita pelajari. Sehingga mau gak mau kita jadi berusaha untuk kitanya sendiri harus bener-bener ngerti dulu. Apalagi aku emang pengennya, tiap abis baca buku, sebisa mungkin nulis resume atau ulasannya. Biar kita gak cuma mengkonsumsi, tapi juga berpikir dan memproduksi sesuatu.

So, balik lagi ke judul, kenapa sekarang aku bisa one sitting reading, hmm..¬†aku pikir ini cukup membuktikan tentang yang disampaikan oleh para neuro-scientist tentang apa yang disebut “otot membaca”. Jadii.. menurut penelitian mereka, singkatnya, membaca itu memang bukan termasuk kemampuan alamiah manusia. Beda dengan melihat, bernafas, ngomong, itu semua terjadi lebih natural. Sedangkan membaca, itu kayak kita lagi cardio, yang kalo otot-ototnya mau jadi, ya berarti kita butuh banyak exercise. Dan karena reading habit aku sudah jauh lebih teratur (I read every single day min.1 hour), rasanya kayak hari ke hari ototnya jadi lebih kuat aja kalo mau sprint, baca buku tebel, essay panjang, jadi gak gampang capek dan cepet berhenti tengah jalan. And I think it is very useful, since reading is one of important skills that make me survive in life until now. So, I really recommend you to do also your routine exercise, no matter the duration. Just keep exercising. There are uncountable sources of knowledge out there waiting for us to learn, dan baca buku itu bagaimana pun beda dengan baca artikel, berita online, apalagi sekadar status teman di media sosial. Literasiiii… penting! #keukeuh X’D

Lalu.. Kelas menengah ngehe! Haha…

Sebenernya buku Customer 3000 ini fokus ke pembahasan tentang fenomena kelas menengah di Indonesia yang lagi tumbuh aja. Yang menariknya masyarakat (terutama netizen) nyatanya udah cukup punya pandangan sendiri juga tentang karakter dari si salah satu kelas ekonomi ini. Dan banyak dari mereka yang mencuitkan pendapatnya dengan hashtag #KelasMenengahNgehe.

Berikut adalah beberapa twit” “lucu” terkait #KelasMenengahNgehe:

This slideshow requires JavaScript.

 

Sedikit banyak cuitan-cuitan di atas cukup menggambarkan tentang kondisi kelas menengah di Indonesia, yang memang mayoritas tinggal di perkotaan. Mereka adalah yang secara pendapatan tidak merasa lagi dirinya orang susah, kebutuhan primer sudah terpenuhi, sehingga gaya konsumsinya agak naik level, walaupun sebenarnya tetap berhitung untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi dengan pengeluaran paling sedikit. High-value oriented, kalo di buku #C3000 dibilang. Dan kenapa mereka sangat menarik sampe harus dibahas khusus? Adalah karena jumlahnya yang kini dominan, market potensial yang sedang tumbuh subur (kalo mau bikin bisnis baru, menarget kelas ini, pasarnya bagus!), tapi dengan karakteristik yang khas, dan perannya juga besar untuk membawa bangsa menjadi suatu kekuatan ekonomi di dunia. Pendapatan $3000/tahun per kapita adalah ambang batas suatu negara memasuki fase baru dalam perkembangannya, sehingga buku ini diberi judul Consumer 3000. Dan mas Siwo (panggilan Pak Yuswohadi, sang penulis) dengan lembaga risetnya ternyata sudah mempelajari fenomena ini dari tahun 2010 lalu. Cukup menarik pembahasannya dengan contoh-contoh konkret yang memang beliau temui dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masih bisa diperbaharui secara ilmiah di sana-sini. Setidaknya berikut adalah poin-poin yang bisa didapat:

  1. Dengan GDP >$3000 sebenarnya dari beberapa tahun lalu Indonesia sudah tidak bisa lagi dikatakan masih negara berkembang.
  2. Kalo ngikutin ADB (Asia Development Bank) tahun 2005 sih, kelas menengah adalah yang pengeluaran per kapita-nya $2-20/hari.
  3. Tapii..¬†“It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it’s to jump from middle income to a high-income economy”. Dan faktor penting penyebabnya adalah: SDM & RnD
  4. Semoga Indonesia gak kena Middle Class Trap kayak Malaysia, yang mentok sebagai negara berpendapatan menengah. Beda dengan Korea Selatan yang akhirnya berhasil bertransformasi menjadi negara maju baru.
  5. Kelas menengah akan jadi tulang punggung ekonomi Indonesia karena kekuatan konsumsinya. Proyeksi di tahun 2020 kita bisa jadi urutan tertinggi ke-8 di dunia, dan di tahun 2030 posisi ke-4 stlh Jepang, Jerman, dan Rusia.
  6. Kemajuan Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dunia (yang diproyeksikan masuk 7 besar di tahun 2050) tidak lepas dari kebangkitan kelas menengah kita.
  7. Kunci kesuksesan Inggris memimpin dunia abad 18/19 pun adalah karena mereka, “The Great England Middle Class”.
  8. Bedanya kelas menengah Indonesia & Cina: di Cina, golongan middle of middle class-nya yang dominan, dan banyaknya orang desa, sedangkan Indonesia masih didominasi kelas menengah bawahnya, dan rata2 orang kota.
  9. Kelas menengah Cina ternyata menarik. Mereka jadi makin rakus dengan merk-merk terkenal, bahkan mulai menggeser Jepang sebagai pasar terbesar barang mewah di dunia, banyak disebut sebagai “Chinese Dream”.
  10. Cinta produk lokal jadi makin penting. Karena kalo konsumsi domestik terserap oleh industri & barang-barang impor, yang maju berkembang ya bukan kita, tapi mereka.
  11. Karakter kelas menengah masih sama, fokusnya bukan semata-mata harga (seperti kelas bawah) atau justru brand (kayak kelas atas), tapi lebih banyak di value.
  12. Kenapa kelas menengah penting: 1.Ada kelas wirausaha baru, 2.Karakter konsumennya, 3.Mengurangi kesenjangan, 4.Demand barang naik, 5.Punya kekuatan politik.
  13. Kelas menengah naik, OKB (Orang Kaya Baru) makin banyak. Bukan orang kaya beneran, tapi yang bergaya kaya. Mereka yang konsumsi barang-barang/jasa bukan lagi karena kebutuhan, tapi kadang cuma pengen.
  14. Karena ngerasanya “gak hidup susah lagi”, shopping exuberance merajalela, apa yang dibeli bermnfaat atau nggak bukan jadi¬†isu utama mereka.
  15. Dengan makin umumnya kartu kredit, KPR dll, budaya konsumtif dan budaya ngutang makin tumbuh dan berbahaya, bisa bawa Indonesia ke krisis kayak di AS.
  16. Golongan yang lebih cerdas, akan merubah banking behavior-nya. Saat dana berlebih, tidak sekadar menabung, mereka akan mencoba berinvestasi lewat berbagai pilihan produk, seperti saham, reksadana, properti, emas, dll.
  17. Beberapa industri yang tumbuh subur = perbankan, kecantikan, kesehatan, MAL (dimana Jakarta juga adalah kota dengan mal terbanyak di dunia).
  18. Mereka sangat erat dengan narcism dan kebutuhan akan Social Experience.
  19. Peran sentral kelas menengah: 1.Sebagai konsumen, 2.Sebagai pelaku ekonomi, khususnya entrepreneur pencetak lapangan kerja, 3.Pelaku politik, mendorong demokrasi.
  20. Catatan untuk pemasar yang membidik pasar ini: make horizontal mobile marketing. Bukan cuma broadcast tapi raise engagement. Get permission, don’t interrupt.

Nah.. begitulah kira-kira tentang kelas menengah kita. Untuk yang tinggal di kota, pasti sangat menyadari eksistensi¬†mereka di tengah-tengah kita. Yang jelas, buat aku pribadi sih, setelah baca buku ini dan buku-buku sejenis yang lain, manfaatnya adalah bisa maksa diri untuk lebih berkaca aja, bikin mawas diri biar lebih cerdas dalam mengelola mindset dan prioritas keuangan. Supaya gak jadi korban zaman, apalagi jadi beneran “ngehe”, sampe merelakan hidup susah demi gaya hidup (keliatan) mewah. Karena sesungguhnya yang penting bukanlah penampilan, tapi laporan keuangan sungguhan dan isi buku tabungan, ya nggak?? Dan cerdas berinvestasi! Duuh.. PR banget nih. Semangat!!!

 

Siang hari, sambil agak kelaparan di kantor,

tapi semoga makin pinter bedain keinginan dengan kebutuhan

#BookReview The Ocean At The End Of The Lane: When An Adult Is Just A Grown-Up Kid

img_1221

What impression do you get from the cover?

Yeay! A book for this month! (at the very verge of the month)

It’s so hard for finding reading time recently, so even finished reading the 180 pages short novel (not thick nor dense) feels like an accomplishment >,< #sad

Actually it was my first Neil Gaiman’s book, I’ve never read his work before. I think I heard his name quite a lot, but I didn’t sure what genre he usually write. So I didn’t expect much what the story would tells about.. fiction? mystery? drama? another world? or what? in the first chapters, I just let him surprise me…

But then I really surprised. The book was mix of them all, hahaha.. After read other people’s review, they just call it a “Gaiman’s genre”.

Opened with a middle-aged man (whose name is never mentioned – not even once) revisiting the place where he used to live with his parents and sister when he was seven. Then the place starts to bring back a strange sequence of memories as seen through the eyes of a young boy. So can u imagine? The narrator was the grown-up man, trying to tell haunting events through a kid’s perspective. Interesting.

Personally, besides the what-so-called fantasy part, it reminded me of things that children know and adults no longer understand and remember. We usually see things differently, so does how we do things. I remember when I was a kid, I confused seeing my mother and my sister crying.. I though that “hey, you’re adults.. you supposed to be mature enough to face anything in this world. You’re not me. I’m a kid, and only kids who allowed to whine and cry”. (but I didn’t say it directly to them, anyway). So many thoughts are changing.. but I always find that the way of thinking when we were kids are very exciting. I also can so relate with the boy character, the kid who lived in books more than he lived anywhere else. Even until now, I can say book is my sanctuary, the only place that can make me feel safe. People like us could drowned in the imaginary world, and even always observed surrounding and wondered how if the story that the book tell was really happened? Adults follow path, kids explore. And Im eager to capture all those states.

After all, I think it’s a kind of book that you have to read in one sitting. The creepy yet beautiful setting of Sussex, completed by British English that has specific sense of language, will bring you to your own exploration. And I guess I’ll be looking for another Gaiman’s after this.. Any idea?

(friend me on Goodreads for other books review: https://www.goodreads.com/haniwww)

[BukuBaru] Filosofi Agile & Panduan Scrum

masih bau kertas, siap langsung disampul :3

So, ceritanya beberapa bulan lalu diminta jadi proof reader buat buku temen, sang master of #SCRUM, ceo-nya Agile Campus, yang juga front-end software developer,¬†@RizkySyaiful. Kayaknya itu pas beberapa saat setelah aku nulis di blog¬†“Scrum tu apaan sik?“, metode yang kayaknya jadi happening terutama karena disebutin di serial Silicon Valley-nya HBO. Awalnya sih sama Scrum-nya sendiri antara tertarik gak tertarik. Tapi kalo untuk jadi pembaca awal dari draft buku orang lain, itu rasanya menyenangkan, hehe.. Selain permintaan testimoni juga ditujukan untuk sekalian mewakili generasi Y yang dekat dengan dunia digital startup maupun ekosistem bisnis pada umumnya.

Hmm.. Setelah dibaca, ternyata buku ini bukan cuma ngomongin Scrum, horee.. tapi juga manajemen organisasi, sistem, tim, proyek dan segala unsur yang para entrepreneur mesti ngeh kalo pengen scale up. Dijelasin pula berdasarkan pengalaman-pengalaman secara jelas dan efektif. (Seefektif algoritma prohemer sekelas bro Rizky :p)

Dan akhirnya sekarang ni buku udah cetak & terbit untuk umum, yay! Cukup hepi juga liat hasilnya. Semoga bisa bawa manfaat buat orang-orang yang baca yaa.. Dan makasih juga buat bro Rizky yang udah jauh-jauh bawain buku fisiknya ini buat Hani =D

Jakarta, bulan puasa

Repost dari postingan di Path aku, hhe..

PS: Untuk pemesanan & pembelian, bisa kunjungi website rizkysyaiful.com ūüėČ

FREE E-Book, Only for You

Hi, all!

It had been years since the last time i wrote here, haha.. Many things to do, and yea.. of course many things worth to share. But to manage the time to be effective is still a big homework for me. Anyway, I also write some posts in another blog, specifically in bahasa, while most of the contents are reshare information that (hopefully) will be useful for others, just to differentiate this web that I intend to be my own private sharing space which is also fully in (my-own-style-practical) English =p

Just like now, I didnt expect that I want to write today, but when I do, I can’t hold it.

If only you know, guys, I have a very long list of topics that I want to discuss about here, but perhaps those things will only truly written if I have a whole time of the world, really >,< Maybe I should lower my expectation of myself that I always have to write a long-comprehensive post, instead of make the short-shallow one. It only made me actually NEVER wrote, while at the same time, I keep posting on facebook page and tweeting! Why didnt I share here? The facebook posts and tweets might be drowned and disappeared, but blog posts will always remained and waited to be read by anyone (beside also as my own reminder). So.. here i am, trying to change my habit, exercising muscles again. Ready?

Fyuuh~ But¬†since it is gonna be the “warming-up” post, so let’s get started by the fun one xD

As the title above, I wanna give u a free e-book. No, not the illegal one. It permitted to be shared directly from the author. And know what? This is a pictorial book for kids, yay! ^,^/ Haha… For those who know me personally, must have known that I’m a huge fan of kids book. And for those who not, well.. now I told u that I am. I have become the admirer of this kind of book since around 2008, since somebody introduced me to the magical things that this could create. I even ever illustrate a serie of pictorial kids book, and it got me deeper to its world. No, no, please.. don’t get me wrong. It doesnt mean that I’m kind of people that surrender self to be trapped in¬†childhood. No. We may not¬†always easily judge people by only single thing like that. I read all kind of books, from technical journal to philosophy, history to psychology, drama to science-fiction, comics to detective novels, you name it¬†(except motivational books, maybe xP). But kids book has attracted me to find its¬†particularity. If we learn it well, this will lead us to explore about civilization, neuro-science, and even a thing that i called social-engineering. You can see a huge difference from people who¬†love reading since early age and not. How the imagination works and fantasy or fairytales from bed time stories affects human thinking, or even more, how this made us collectively to be a weak nation in this scientific competitive world. Sounds serious, eh? :p But it is.. Kids book is a serious stuff. We can discuss about it for days, if you don’t mind.. well, but i¬†know it’s not the time, haha.. We will do it later. I promise.

Sooooo… what exactly am I trying to share? :))

A good friend of mine had made a simple book like seen below:

What ju think?

At the first sight i see it, I thought it was made by an illustrator and it was on sale. But after I read my friend’s story, I just knew that it was her own made picture, and she really learnt from zero to made it. Amazing! I remembered the first time I hold a pencil to write a sketch and how hard this could be.. moreover to create a good¬†story that has an¬†end. So, to appreciate her effort, and also to poison people to simply reading, i want to help to share it to my circle. And with the kindness of hers, you guys may also reshare it to anyone u wish. Just several pages.. yet still sweet for me.

Soooo.. where’s the book, Haneeee…??

Haha, okay, okay, I’ll stop blabbering and just give you the link here :¬†http://www.4shared.com/office/cWQ7pO64ba/Emma_Shoes_Day.html

Hope you guys enjoy it as I am, and again, thanks to mba Nita Chandra for giving me a little push to write again, hihi..

Overall, such a quite short post, rite? :B See you next time, and.. have a nice day!

 

PS: I lost ALL my blog comments because unintendedly deleted along with the spams, huaaaa :'(( So please to leave any comments again just to adorn this quiet dark blog, hiks.

 

Sheryl Sandberg – Lean In (Part 3)

In the 2nd chapter: Sit at The Table, Sheryl slapped me with her blatant truth about psychological tendencies that woman have. Something that might seems obvious, but we often reluctant to admit (like the institutional obstacles are not enough -.-“)

As woman, we rarely think about deserving achievement, position, or even compliment. We often give lower scores to ourselves about anything, while men do the reverse. Eventhough we’re good at something, we usually haunted by insecurity that we’re not good enough, there’s still a lack of something, and so on. When somebody congratulates us for a good news that they heard, we feel that we already being fraudelent and fooled them. When a plan gone aint as we wish, we always search the bad side and drop into a great degree (compared to men, who even can take that so easily). And know what? To complete all those messy feelings, these mental problems for women could take very serious impact for a long time. Oh, well~

And yea.. anyway, I got a new term from this chapter, that is: Impostor syndrome – phenomenon of capable people being plagued by self-doubt. Coz, for example, even when a woman was offered an executive position in a company, while everybody thinks that she is the fittest person for it, she herself might think hundred times more than man to receive and say “yes, I’m ready”. Hufft~

I think everybody should know this. Be a woman and a leader is not easy. We really need to adjust our intellectual and emotional capacity. Me myself is gonna practice more each day.. to think slightly like a man.. just feel good about achievement, regardless to its imperfection.. give higher scores to myself and feel deserve about many great things.. to not so desperate when bad luck comes… courage to take risks and make any opportunities fit for us… enjoy the life, coz the ups and downs are unavoidable. Just let it flow, Hani.. just let it flow.. not go with the flow, but GROW with the flow.. coz your happiness is all depend on you.
Wish me tons of lucks. Cheers!